wisata kota

Cheng Ho dalam Bingkai Merah Sam Poo Kong Semarang

Memotret dari batas pagar.
Doc pribadi.

Menjelajahi Semarang sebagai salah satu kota wisata, ada saja kaitannya dengan legenda ya? Sam Poo Kong, sebuah klenteng yang memberi inspirasi bagi berkembangnya berbagai legenda Kota Semarang, tanpa direncanakan juga menjadi daftar perjalanan saya. Sudah berapa kali ya main kesana?

***

Main ke Sam Poo Kong. Bareng lagi sama Dinda (BPI Jabodetabek), dan ditemani Reikha juga Den dari Backpacker Semarang.
Doc Dinda

Sam Poo Kong dan Kedatangan Cheng Ho

Langit masih saja putih hari itu, menemani perjalanan saya bersama Dinda Bekti (BPI Jabodetabek), Reikha (Backpacker Semarang) juga Den (Backpacker Semarang). Bulan-bulan menjelang akhir tahun, agak jarang mendapat langit biru. Atau memang Semarang sedang menikmati sendu merindu ya? Tapi gerah.

Klenteng ini tiap tahunnya mengadakan upacara ritual hari ulang tahun Sam Poo Tay Djien yang bertepatan tanggal 29 Lak Gwee penanggalan Tionghoa. Sam Poo Tay Djien adalah orang yang membangun Klenteng Gedung Batu (Sam Poo Kong). Upacara ritual akan diawali dengan pawai dari Klenteng Tay Kak Sie Gang Lombok menuju ke Klenteng Sam Poo Kong.

Disebut Gedung Batu, karena merupakan Goa Batu besar yang ada di bukit batu. Di dalam goa batu, diletakkan altar dan patung-patung Sam Poo Tay Djien untuk bersembahyang atau berziarah.

Kami memasuki klenteng yang didominasi warna merah ini. Tiap bangunannya, merah tersebut menjadikan cerah pada langit yang memutih. Pandanganku pun memerah, menangkap tiap objek di sekitar klenteng ini.

Hampir di berbagai tempat terlihat patung-patung bertema dan mempunyai kisah. Lampion-lampion merah pun tampak bergelantungan menambah kekentalan tradisi di dalam klenteng tersebut. Juga aroma dupa tentunya.

Lampion pencerah hari.
Doc pribadi

Klenteng Gedung Batu Sam Poo Kong ini, menjadi tempat persinggahan dan pendaratan pertama Laksamana Tiongkok bernama Zeng He/Cheng Ho yang disebutkan beragama Islam. Ia dan awak kapalnya yang sakit, beristirahat kemudian berlindung di sebuah goa di pantai utara Semarang.

Laksamana Cheng Ho melanjutkan pelayarannya dengan sebelumnya mengajarkan bercocok-tanam dan (kembali disebutkan) menyebarkan ajaran Islam. Perkembangan etnis terjadi ketika awak kapalnya yang tinggal di Simongan, kawin dengan penduduk setempat.

***

Klenteng Sam Poo Kong, utama. Khusus tempat berdo’a.
Doc pribadi.

Bangunan Klenteng Sam Poo Kong

Halaman Klenteng Sam Poo Kong ini sangat luas. Conbloknya memenuhi semua pijakan halaman. tak terkecuali di depan klenteng-klenteng yang ada di sana. Beberapa pohon-pohon kecil, tampak menghijaukan bagian dari klenteng.

Renovasi klenteng berarsitektur khas China ini, dilakukan sejak 2002. Pada saat saya kesana juga tengah dilakukan renovasi. Bukan perombakan, namun pembangunan patung besar.

Sudah keempat kalinya berkunjung, selalu saja berbeda. Waktu pertama datang, 2012 ketika hitchhike, hanya bisa melihat dari luar saja, karena waktu berkunjung sudah habis. Dua kali berkunjung, selalu kemalaman. Bisa benar-benar masuk ke dalam itu, di kunjungan ketiga dan keempat.

Kami berjalan-jalan di sekitar Sam Poo Kong. Dari arah pintu masuk, terlihat empat titik bangunan. Keempatnya adalah bangunan klenteng, yaitu Klenteng Dewa Bumi, Klenteng Juru Mudi, Klenteng Sam Poo Kong Tay Djien dan Klenteng Kyai Jangkar.

Fungsi dari masing-masing klenteng ini pada dasarnya sama, sembahyang dan memuja. Peruntukkan pada dewanya saja yang berbeda.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dari pintu masuk, sebelah kanan ada bangunan klenteng. Hanya orang-orang yang akan bersembahyang saja bisa masuk ke dalamnya. Dan untuk ke klenteng itu, kita harus membayar biaya masuk.

Klenteng tersebut adalah bangunan utama Klenteng Sam Poo Kong. Di belakang klentengnya, terdapat inskripsi tiga bahasa (Inggris, China dan Indonesia) yang bisa Anda baca untuk mengetahui kisah kedatangan dan perjalanan Laksamana Cheng Ho ke Semarang.

Warna-warni tampak lebih jelas di klenteng utama. Selain hijaunya pepohonan dan rerumputan, ada pula bunga-bunga. Belum lagi ditambah gemericik air dari kolam ikan yang bersihΒ  di depannya. Kolam itu membatasi antara klenteng tempat sembahyang dengan saya berdiri, hanya memandang dari luarnya.

Penasaran sih, tapi kalau masuk, terkesan mengganggu orang yang sedang berdoa. Karena hari itu, cukup banyak saya lihat orang yang masuk untuk memanjatkan doa.

Kemudian, klenteng yang juga lumayan besar, terdapat di sebelah klenteng utama. Tidak terlalu terlihat aktifitas disana, karena memang masih satu lokasi dengan klenteng utama. Pembatasnya juga sama. Saya hanya bisa memotretnya dari luar pagar.

Selanjutnya, klenteng di hadapan. Bangunan sederhana dengan pintu khas yang membentuk lingkaran pada atasnya. Di kanan kirinya terdapat dua patung singa penjaga. Penanda pintu masuk setiap bangunan China. Disini, ada tanda lingkaran bagi Anda yang ingin melakukan sesi foto atau selfie.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Diantara bangunan kedua dan ketiga, terdapat patung raksasa Laksamana Cheng Ho yang dibangun.

Bangunan selanjutnya yang juga tampak besar, terdapat banyak patung. Mulai dari pintu masuk, patung-patung tersebut terlihat berjajar menghias sekitar klenteng. Mungkin itu gambaran dari awak kapal Laksamana Cheng Ho. Pantas saja jika tempat itu dipenuhi pengunjung yang sebagian besar datang karena ingin berfoto.

***

Jam Kunjung

Lelah, gerah dan haus, kami pun berteduh di pohon-pohon rindang sekitar. Tersedia pula tempat jajan di dekat pintu masuk. Kalau buat pengganjal perut, lumayanlah bisa makan camilan atau jajan minuman disana.

Saya rasa, waktu kunjung terbaik jika Anda ke Sam Poo Kong ini, selain ketika langit biru dan udara segar, sore adalah juga yang terbaik. Anginnya semilir, adem, dan matahari tidak menyengat seperti siang hari. Diatas pukul 10, tempat itu akan ramai dan gerah. Sementara pohon-pohon rimbun hanya berada di dekat pintu masuk dan keluar.

Jadi, pastikan juga Anda membawa topi atau payung jika datang kesiangan ya? Juga bawa tumbler satu liter kalau perlu, biar tidak dehidrasi. (jie)

SAM POO KONG
Jl. Simongan Raya No. 129, Semarang, Jawa Tengah

Jam Operasional: 08.00-21.00
Tiket masuk ke area Sam Poo Kong, bisa cek di http://sampookong.co.id/tiket/

***

Benar-benar ngga lihat yang lain lagi kecuali asik dengan kamera. Maaf mikir buat foto tulisan soalnya.
Doc Den
Iklan

8 tanggapan untuk “Cheng Ho dalam Bingkai Merah Sam Poo Kong Semarang”

  1. Sebagai seorang laksamana laut, wajar kalau Cheng Ho dikenal di mana-mana.
    Di Surabaya, ada Masjid Cheng Ho, ada juga sebuah klenteng yang mengenang Cheng Ho. Sementara di Pasuruan juga ada Masjid Muhammad Cheng Ho. Namanya diambil ketika beliau sudah masuk Islam.

  2. Aku waktu ke sampokong tidak masuk ke dalam gua batu karena tidak boleh. Katanya hanya untuk mereka yang beribadah. Tapi kalau aku lihat foto-fotonya ada juga tuh blogger yang menulis. Mungkin blogger yang melaksanakan ibadah di dalam kali ya

  3. Sekarang di Sam Poo Kong juga sedang berlangsung acara festival tahun baru. banyak suguhan acara, seperti barongsai dan stan makanan.

    Semarang memang panas, tapi bikin rindu..hahhaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s