simple CULLINARY

Candle Light Dinner di Angkringan Cozy Pak Pinul

Yogyakarta bukan hanya sebagai salah satu destinasi wisata yang banyak dirindukan pejalan karena suasana kotanya yang tak biasa. Identik dengan kuliner yang juga membuat selera Anda sebagai penikmat makanan, takkan pernah terlupakan. Selain gudeg, angkringan Yogya juga mempunyai nilai tersendiri bagi sebuah rasa.

Tambahin kecap, terus dipanggang lagi. Sedap!
Doc Abbay, taken by me.

***

Angkringan Teplok

Belakangan, Yogyakarta selalu saja dirundung oleh hujan yang tak henti. Udara dingin membuat selera makan saya bertambah. Belum lagi pilihan-pilihan makanan khas Yogyakarta selalu menggoda pandangan mata untuk mencicipinya. Beruntung, saya mempunyai teman-teman yang bersedia mengajak saya mencoba beberapa kuliner yang terlihat biasa, namun lengkap di indera pengecap.

Angkringan berasal dari kata dalam bahasa Jawa ‘Angkring’ yang berarti alat dan tempat jualan biasanya dipikul. Namun pada perkembangannya, justru angkringan adalah sebuah gerobak dorong yang terdapat di ruas pinggir jalan. Angkringan biasanya menjual berbagai macam makanan dan juga minuman sebagai pelengkap.

Lampu teplok di tiap meja.
Doc pribadi.

Saat berjualan biasanya akan mulai sejak sore hingga dinihari dengan tertutup terpal atau plastik. Lampu angkringan biasanya tidak terlalu terang karena mengakomodasi penerangan tempo dulu. Hanya berupa lampu teplok atau semprong yang tertutup botol kaca diatas lampu sederhana.

Kalau sekarang, penerangan demikian sangat jarang digunakan. Kebanyakan, angkringan menggunakan lampu neon atau bohlam agar terlihat terang.

Bersama Akbar, saya memasuki sebuah pelataran luas dimana terlihat motor-motor yang di parkir pada lapangan hijau. Sebuah angkringan lumayan luas berdiri di hadapan. Angkringan ini, termasuk tempat makan favorit Akbar, karena ia memang tinggal di Yogya.

Tempat makan yang santai, tidak berisik, menikmati makan malam enak yang murah meriah kenyang, dan tentu saja tidak gerah, merupakan pilihan sederhana baginya. Ohh, lauk-pauk dan sayurannya juga tidak mengecewakan.

Hmm… sederhana yang mewah, agak sulit dicari ya?

***

Arah pandang favorit.
Doc Abbay, taken by me.

Pilihan Meja Ketiga

Pandangan mata langsung tertuju pada meja dan bangku panjang yang tertata di kanan-kiri luar sekitar angkringan. Per bangku bisa ditempati oleh tiga pasang berhadapan. Kursinya yang berwarna coklat kayu, ada pula bambu, terlihat nyaman. Terasa di desa, duduk di bangku nenek!

Bisa memilih duduk, karena terbagi tiga tempat. Beratapkan bintang dan bulan langsung, beratapkan tenda sebagai pusat angkringan ini, dimana semua makanan angkringan terletak di gerobak pada tempat kedua. Terakhir, beratapkan genteng berdinding kayu ala rumah Jawa yang sederhana.

Pilihan kami, akan selalu sama tiap kali datang ke Angkringan Pak Pinul. Meja ketiga.

Duduk di bangku ketiga teras kecil berdinding kayu dengan posisi sama. Mungkin alasannya, dapat melihat ke segala arah. Masih terlindung atap jika cuaca tak mendukung, langit cerah berbintang dan bulan pun tetap terlihat dari pilihan kami itu. Terpenting mah, lampu teplok itu, tetap ada diantara kami sebagai penerangan. Simple candle light dinner. Itu kalimat yang dituliskannya pada sebuah caption foto.

Ehh tapi, kami juga pernah duduk beratapkan bintang dan bulan sih, waktu janji temu bersama Mardiansyah dan mas Galih. Soalnya tempat langganan, sedang ada pengunjung yang duduk disana. Sekali-kali, ganti suasana duduk ya boleh juga kan?

***

Varian Makanan Angkringan

Mata saya mengerjab. Ajaib, masih adakah angkringan model itu di zaman canggih serba gadget ini? Angkringan sederhana yang tampak cozy  dan romantis hanya terlihat dari luar?

Terletak di daerah Wahid Hasyim, Yogyakarta, pancaran lampu dengan suasana pedesaan sangat kental terasa. Tertata rapi di atas meja dengan kotak sendok dan garpu di sisinya. Angkringan Pak Pinul namanya.

Saya memasuki pusat inti dari angkringan tersebut. Suasana tenang, ringan dan belum terlalu ramai yang datang makan malam disana. Sebuah meja besar dari gerobak menyediakan berbagai macam makanan. Aneka sate tusuk seperti telur puyuh, hati ampela, usus, kerang, bakso, jamur dan lainnya tersedia lengkap disana. Bisa dipanaskan dengan topping kecap jika Anda ingin menambah rasa manis pada lauk pesanan.

Tambahan lainnya berupa tempe dan tahu bacem, gembus, ceker ayam, dan gorengan pun ada. Lengkap tersaji dengan sambal pelengkap rasa beserta kerupuk tentunya. Makanan tambahan kesukaan saya.

Minuman seperti wedang, teh, jeruk, susu dan lainnya bisa dipesan langsung setelah Anda memesan makanan.

Uniknya lagi, biasanya kalau di angkringan, nasinya dibungkus kecil dalam daun berlapis kertas coklat atau koran. Di angkringan Pak Pinul ini, nasi tetap hangat berada dalam penanak nasi. Ya pastinya, nasi ini tidak ada dalam piring makanan saya. Penggantinya, biasanya saya minta diberi bihun atau mie. Kadang ya minta sayuran saja yang banyak.

Sebagai pengiring nasi, ada sayur gudeg, sayur pepaya, sayur kacang, atau sop dan juga mihun serta orek tempe khas nasi angkringan. Porsi besar yang cukup mengenyangkan makan malam Anda. Aneka sayurnya, tidak sama per harinya.

Pengiring makanan terpisah demikian, tentunya bisa memberikan pilihan bagi kita ingin lauk atau sayur yang mana sebagai pasangan makanan pokok. Harganya pun relatif murah. Saya makan puas hanya membayar 10 ribuan.

Saya memilih sayur pepaya, orek tempe, mihun, dan beberapa tusuk angkringan kesukaan saya, serta air jeruk panas sebagai teman minumnya. Memilih tempat di pojokan di bawah sebuah teras dengan tiga jajar bangku di depan saya. Dan posisi duduk, saya bisa melihat gerobak angkringan secara utuh. Romantis dengan sepeda pemilik yang ada disana.

Menikmati kisah makan malam yang tampak biasa, tetap terasa istimewa bagi saya. Istimewa dengan suasana ramah dan terasa sedang berada di pedesaan.

Langit cerah bertabur bintang dan bulan terang di atas sana, menemani kuliner angkringan sederhana saya malam itu. Sesederhana lampu teplok dan teman makan malam istimewa di samping ❤ ❤ ❤

Kalau kamu, suka makan di angkringan superb kota mana? Share ceritanya juga dong… (jie)

***

Tulisan ini pernah dimuat di media online sportourism.id
Editor: DSY
Menambahkan beberapa kalimat dan alinea, sesuai waktu menulis ulang
sebelum publish di blog.
Meja ketiga.
Iklan

13 tanggapan untuk “Candle Light Dinner di Angkringan Cozy Pak Pinul”

  1. Lho, masih ada toh yang pakai lampu teplok gini? Wadidaw. Menarik ini.
    Biasanya yang kayak gini tuh kentel suasana santainya. Ngobrol ngalor ngidul nggak jelas gitu enak jadinya. Haha.
    Sesuai peribahasa, makan makan nggak makan yang penting julid *eh

  2. Anakku jadi suka angkringan juga gegara ke Jogja tempo hari. Rasa dan ambience angkringan yang original emang ga tertandingi deh. Tapi kalo makannya pake lampu templok, aku yo mikir. Susah makannya kalo gelap-gelapan, maklum mata tuwahwahahaha

  3. Angkringan tuh malah jd trend lo saat ini. Sgala yg vintage n jadoel, kembali jd bagian gaya hidup.

    Aku sih pemakan segala, g peduli ma suasana. Asal kuliner legend, pasti aku jajal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s