Plot Summary

Review Film: Traffik

Saya tidak berpikir negatif tentang pom bensin, sebelum menontonnya. Apalagi dengan cara traveling saya yang kadang menggunakan cara hitchhike. Salah satu tempat ramai yang tidak sulit untuk mendapatkan kendaraan, bisa di tempat tersebut. Waspada adalah segalanya.

Traffik
Credit to om Google

***

Spoiler

Film yang diangkat dari kisah nyata karya Deon Tylor (juga penulis naskah skenario film ini), menceritakan tentang Brea (Paula Patton) yang nyaris menjadi korban dari perdagangan manusia (trafficking).

Seorang reporter sebuah media cetak bernama Brea, dipecat dari pekerjaannya setelah tulisan korupsinya berdasarkan data asli yang diperolehnya, ditulis ulang dengan gaya berbeda. Ditulis ulang atau dicuri ya tulisannya? Saya memahami ini sih, karena latar belakang jurnalis yang saya punya.

Ia tidak sejalan dengan atasannya yang mengatakan bahwa tidak semua gaya bahasa akan disukai oleh pembaca. Mungkin maksudnya memperhalus tulisan dengan sedikit menyembunyikan maksud dari alur cerita, karena Brea menuliskan berdasarkan fakta dan data yang ia punya.

Bersama kekasihnya, Brea yang berulangtahun, diberikan hadiah mobil hasil rakitan John (Omar Epps), pergi berlibur ke sebuah villa milik Darren (Laz Alonzo), temannya ke daerah pegunungan California Utara. Mereka melewati sebuah pom bensin dan mengisi bahan bakar.

Ketika Brea berbelanja ke minimarket di pom bensin tersebut, seorang laki-laki dengan sengaja menabrak dan menumpahkan minuman pesanan John. Ia pun ke kamar mandi untuk membersihkan pakaiannya.

Seorang perempuan dengan tatapan kode meminta tolong yang sudah melihatnya sejak di dalam minimarket, masuk ke toilet. Wanita itu pun dengan sengaja memasukkan telepon selular ke dalam tas Brea.

“Hari kemerdekaan, 4 Juli,” ujar wanita itu tanpa Brea paham maksudnya.

Singkat cerita, mereka tiba di villa Darren dan menikmati akhir sore sebelum Darren dan Malia (Roselyn Sanchez)datang ke villa yang membuat mereka terkejut.

Pertengkaran diantaranya, terjadi diawali oleh dering telepon selular satelit yang bukan milik Brea atau lainnya. Mereka menebak nomor kode untuk membuka telepon dari obrolan tak sengaja Brea di kamar mandi pom bensin.

Saran melihat foto, ternyata membuat mereka melihat foto-foto para gadis yang dipukuli dan akan  diperdagangkan. Jiwa reporter Brea tergelitik. Ia berencana membuat tulisan dari foto-foto tersebut, lalu menelepon polisi. Namun Darren bersikeras agar tidak menelpon dari villa karena pekerjaannya akan terancam.

Pertengkaran itu membongkar kisah pertemanan mereka dan membuat Malia memutuskan untuk pulang ke rumah. Darren mencoba menahannya, namun gagal.

Selanjutnya perbincangan terjadi antara Darren dan John di teras kolam renang. Brea dengan segera mengunggah foto dan beberapa file yang melibatkan banyak pihak ke telepon selularnya.

Beberapa saat kemudian, bel rumah berbunyi dan saat melihat tamunya yang tak lain adalah wanita di pom bensin. Wanita itu meminta agar teleponnya dikembalikan dan berharap Brea tidak membuka kode telepon. Brea bermaksud menolongnya. Kejadian selanjutnya bisa ditebak, bahwa mereka sudah berada dalam bahaya.

Brea, John, Darren mengejar keluar rumah, dan kaget melihat rombongan yang ditemuinya di pom bensin siang tadi, ada di depan villa. Akhirnya rombongan itu menjadi musuh yang harus dihindari.

Darren ditembak, Brea dan John berusaha menyelamatkan diri. Brea mencoba mengirim file melalui computer tetangga yang menolong. Naas, tetangga ditembak, John yang menyelamatkan Brea pun akhirnya meninggal tanpa sempat memberikan cincin pertunangan yang baru diketahui Brea ketika mengambil kunci mobil yang diselipkan dalam kantong John.

Selanjutnya ia menyelamatkan diri atas permintaan John sebelum meninggal. Namun Deputy Sally Marnes (Missi Pyle) yang membantunya di pom bensin pun ternyata bagian dari trafficking tersebut. Sally menembak rekannya dan membuat laporan palsu tentang kematian rekannya.

Bagaimana kelanjutannya? Selamatkah Brea? Siapa dan kejadian tak disangka apa yang dilihat Brea saat tertangkap? Lalu setelah keluar, apa yang membuatnya terkejut kemudian?

Coba nonton yaaa… hhehehehh

***

Tryin to find a help.
Credit om Google

Kacamata Awam

Tadinya ngga sengaja menemukan judul film ini ketika melihat-lihat film di google.

Agak takut menonton film horror saya ini. Karena merasa ada scene dimana saya mengira TRAFFIK adalah film horror. Sewaktu di mini market, lalu ketika John dan Brea mengira ada yang mengantar pesanan makanan ke villa di malam hari.

Sejak film berdurasi 1,5 jam dimulai, pada menit ke 15 sudah membuat saya deg-degan. Reporter, pom bensin, tempat berlibur, rombongan bermotor, truk kuning panjang dan lelaki yang melihat Brea ketika menelpon.

Entah karena pakaian Brea yang mengundang, atau suasananya sudah menunjukkan akan terjadi sesuatu. Begitu pula salah satu motor yang mengejar mobil John dan Brea. Hingga melihat villa yang sepi dari tetangga dan jauh dari jangkauan mana pun, termasuk jaringan telepon.

Film berjenis thriller dan merasa agak horror ketika menontonnya ini termasuk agak lambat jug plotnya. Satu jam lebih. Cukup lama masuk ke aksi Brea untuk berpikir apa yang harus dilakukan setelah Malia memberitahunya agar jangan menatap mata para penjahat.

Di sisa menit barulah terlihat bagaimana Brea dengan kekuatan yang ada, menghadapi kejadian yang menimpanya.

Jika orang yang hapal teknis pembuatan film atau benar-benar pereview film, mungkin mereka akan berbicara banyak soal kekurangan pembuatan film tersebut. Atau melihatnya dari para pemain juga pendukung film dan lainnya.

Terlepas dari kurang terangkatnya sisi seorang reporter, sebagai orang awan, saya melihatnya dari penonton yang kerap melakukan perjalanan seorang diri, khususnya hitchhike.

Mungkin sampai detik ini, jika akan dan bisa hitchhike ke luar negeri, hal yang saya lakukan pertama kali adalah mencari travelmate yang sudah pernah backpacking ke Negara pun. Setidaknya ia bisa menjadi teman bertukar pikiran seandainya melakukan hitchhike.

Jujur, karena terbiasa melakukan hitchhike di Indonesia dan berpikiran positif, saya tidak memikirkan kejahatan sejauh itu. Walau saya tahu, bahaya selalu ada dimanapun. Bahwa pom bensin bisa menjadi tempat kejahatan tak terduga. Berjumpa dengan orang dari berlatar belakang berbeda dimanapun.

Ahh… sungguh, saya masih menginginkan traveling dengan cara hitchhike. Barat untuk suatu tujuan tak tertahankan, dan Timur, untuk tulisan tak terbatas. Dan keliling dunia, mungkin menjadi keinginan dan mimpi selanjutnya. Aamiin.
*dare to big dream

Berkaca pada film ini, WASPADA pada hal-hal sekitar kita, WAJIB. Instinc, switch your mind with positively, it’s a must. Walau saya tahu, itu sangat sulit. Dan teman adalah segalanya yang akan memberikan bantuan pada kita. Mengerti teman, akan kita dapatkan seiring dengan perjalanan berlangsung.

Deuh, berat yak?!? 😉

Selamat menonton. Selamat memberi penilaian pada film ini, dan tetap BERHATI-HATILAH dimanapun Anda berada. Semoga Allah selalu menjaga tiap langkah kita. Aamiin… (jie)

***

Not a film reviewer, just likes watching movies. But don’t like watching horror film. 
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s