The Beach

Berkunjung ke Pantai Buyutan, Mahkota Dewa di Geopark Gunung Sewu Pacitan

Pantai-pantai di Pacitan memang selalu membuat terpana. Belum banyak jumlah pantai yang saya kunjungi di sana. Tapi hampir rata-rata, pasir putih dan warna lautnya membuat kita hanya mampu terdiam. Bagaimana dengan Pantai Buyutan ini?

Me besides of.
Doc by Andy Mahfudin.

***

Langit masih berpihak pada kami saat itu. Masih membiru meski di kejauhan awan kelabu sudah menutupi sebagian langit cerahnya. Berharap kami berada di sana hingga matahari terbenam, menampakkan warna pink keorenan menuju gelapnya. Wish..

Kami menuruni kendaraan sewaan setelah di parkir dekat dua saung yang ramai oleh pengunjung keluarga Timur. Ya terdengar jelas dari logat dan intonasinya. Mereka bercakap-cakap tentang air laut, riak ombak, dan keceriaan anak-anaknya bermain di pantai. Senangnya πŸ™‚

Tadinya kami mau langsung turun melewati jalanan yang menukik berkelok tajam ke parkiran bawah. Pasir putih yang menutupi sebagian conblok, menghambur di jalanan tajam tersebut. Agak riskan rasanya turun dengan berkendara, mengingat mobil yang kami sewa bukanlah jenis manual. Jadi ya diputuskan untuk berjalan kaki turun ke pantainya.

Ketika kami masih menikmati pantai dari atas, Ninuk Sawitri sudah melesat mendahului kami turun ke bawah. Melihat langsung pantai dari bibir pantainya.

β€œNgga jauh kok turunnya. 10 menit. Bagus di bawah,” cerita Kaknuk –panggilan Ninuk– ketika saya bertanya yang dilihatnya di bawah sana. Waktu itu, kami sudah di saung tempat berteduh dari hujan yang mengguyur tanpa pesan.

***

Melihat Pantai Buyutan dari atas.
Doc Andy Mahfudin.

Mahkota Dewa

Jika kami (Andy Mahfuddin, Marta Ocha, Andri Priyono dan saya) bisa melihat karang dan tebing batu yang menjulang di tengah laut yang menjadi penanda Pantai Buyutan, maka Kaknuk melihatnya tentu saja lebih dekat dari kami.

Pantai landai berpasir putih, tampak eksotis dengan karang diantara air laut biru sepanjang mata memandang. Belum lagi saat senja yang mencapai batas cakrawala di kejauhan, seperti yang diceritakan teman sewaktu berkunjung ke pantai tersebut. Gulungan ombaknya terdengar hingga posisi kami di tulisan Pantai Buyutan di atas.

Air laut tepi pantainya tampak bening dengan batu-batu karang kecil di sekitar ketika sedang surut. Ketinggian airnya sebatas mata kaki atau betis orang dewasa. Biasanya dengan adanya batu-batu karang berpasir inilah, air menjadi bening hingga ke pantai. Batu-batu ini berjarak 5-7 meter hingga ke tempat yang agak dalam. Masih jarak aman bermain air di tepiannya.

Meskipun tidak terlalu berbahaya bermain di sekitar pantainya, tetap saja, menjaga keselamatan dari hempasan ombak sangat disarankan. Karang-karangnya tidak sebanyak pantai lainnya. Terpecah-pecah di beberapa tempat.

Pecahan karang besarnya, bahkan membentuk karang yang dimitoskan merupakan mahkota Dewa Narada dan juga bentukan perahu.

Terletak di dusun Tumpak Watu, Desa Widoro, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur ini, fasilitasnya memang belum memadai, tetapi pantai ini dikelola dengan baik.

Beberapa fasilitas umum seperti bale-bale, lapak jualan dan toilet bisa dengan mudah ditemukan. Penataan lokasinya pun rapi kata Kaknuk. Bisa kemping juga. Tempatnya asik. Apalagi kalau sambil menanti senja, ya ngga? πŸ˜‰

***

Penanda Pantai Buyutan, pecahan karang yang dimitoskan sebagai mahkota Dewa Narada.
Doc Andy Mahfudin.

Pemandangan Geosite

Tidak kalah menarik, pemandangan Pantai Buyutan dari atas pun menakjubkan. Di sisi kanan tampak tebing batu berketinggian puluhan meter yang diselimuti hijau. Rumput, ilalang, pohon, tumbuh dengan suburnya. Menutupi setiap jengkal tanah diatasnya.

Berdasarkan pengumuman UNESCO (19 September 2015) pada Global Geopark Network, Pantai Buyutan merupakan satu diantara 13 geosite yang termasuk dalam situs Geologi warisan dunia dari Geopark Gunung Sewu Geoarea Pacitan.

Pacitan bagian barat, empat kecamatannya adalah kawasan khusus karst (batu kapur). Kecamatan tersebut adalah Donorojo, Pringkuku, Punung serta Pacitan.

Geosite ini terdiri dari lima pantai (Buyutan, Klayar, Srau, Watukarung, Teluk Pacitan), dan empat goa karst (Goa Gong, Tabuhan, Luwengombo dan Luwengjaran). Selain itu, terdapat empat situs arkeologi pula, yakni Situs Song Terus, Bak Soka, Guyang Warak dan Situs Ngrijangan.

Di Pantai Buyutan, fenomena pengangkatan aktif di sepanjang pantai selatan, menghasilkan morfologi undak pantai setinggi puluhan meter.

Tanjakan batu dengan dengan bangunan unik di lepas pantai, merupakan sisa-sisa sebuah tanjung kecil yang hancur karena terpaan ombak dalam kurun waktu yang sangat lama.

Jika diperhatikan, tebing di sebelah kanan, turunannya agak landai dan menyentuh bibir pantai.

Sementara pemandangan di sebelah kiri pun, tidak jauh berbeda dengan tebing di seberangnya. Penuh dengan tanaman hijau yang tumbuh liar. Jika berada di bawah, tebing tinggi tersebut terlihat menutupi wilayah Pantai Buyutan di sisi kiri dan ombak yang langsung menghempas karangnya.

Pantai Buyutan juga dijadikan titik luncur tempat latihan bagi para atlet paralayang dan gantole. Keindahan pantai ini menjadi salah satu destinasi lintasan yang tidak dilewati para atlet ini. Hal ini dijelaskan oleh bapak di warung saung ketika saya menanyakan jalan lain ke arah tebing.

“Waktu awal tahun 2018, banyak atlet yang terbang dari situ, mbak…” ujarnya.

Hujan yang mengguyur wilayah bersantai kami di dekat papan huruf berwarna merah bertuliskan Pantai Buyutan, memaksa kami berlarian ke arah saung beratap rumbia itu. Aroma mie instan dalam kemasan menebar rasa lapar diantara rintik hujan.

Perjalanan kurang memuaskan, karena saya masih penasaran dengan cerita lainnya yang belum tergarap habis mengenai pantai ini. Ahh, kalau saja….

Baca Pantai di Pacitan:Β Pantai Srau

***

Jalur ke Pantai Buyutan

Menuju ke lokasi pantai, kami disuguhi pemandangan sawah dengan gubuk-gubuk yang biasa terdapat di persawahan. Hijau memenuhi pandangan mata.

Saran, bukalah kaca jendela mobilmu lebar-lebar, karena aroma laut dan sawah menyatu menciptakan rasa. Segar!

Sejujurnya kami mengikuti apa yang tertulis di google. Melewati persimpangan Goa Gong. Begitu kata tulisan-tulisan di mesin pencari.

Andy yang warga asli Pacitan tapi berdomisili di Bekasi pun, tidak terlalu hapal lokasinya, meski sebelumnya ia sudah pernah ke Pantai Buyutan. Sedikit nyasar, berhenti untuk memastikan tujuan dan bertanya pada penduduk yang ditemui, tidak ada salahnya sih. Namanya juga berpetualang.

Oiya, waktu itu kita masuknya gratis. Hanya bayar parkir kendaraan saja sebesar 5K. (jie)

Pantai di Pacitan yang mempesona.
Doc Andri Priyono

***

 

Iklan

10 tanggapan untuk “Berkunjung ke Pantai Buyutan, Mahkota Dewa di Geopark Gunung Sewu Pacitan”

  1. Tapi sekilas pecahan karang itu emang kayak mahkota ya. Indah juga πŸ™‚
    Palembang eh Sumsel deh gak punya pantai. Jadi kalau mau ke pantai ya melipir ke provinsi sebelah πŸ˜€

    1. Kalau lihat2 di blog yang ngezoom foto, iya juga sih, omduutt…

      ejie lama tinggal di Palembang. Puasnya makan aneka pempek, mie, martabak har, pindang, arrrgghhh semua kulinernya ngenceeess oooomm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s