simple CULLINARY

Lontong Artis di Lorong Sempit Kebon Karet Bandung

Berbicara soal kuliner di Kota Kembang, Bandung, rasanya tidak ada habisnya. Begitu banyak pilihan makanan yang terus tumbuh mengikuti perkembangan kuliner yang ada. Entah dari hasil kreasi, maupun mengadopsi dari sumber makanan lama yang sudah ada. Mempertahankannya, mungkin itu hal yang dilakukan oleh Bandung. Khususnya soal kuliner.
Jadi, icip kuliner apa saya kali ini?

Paduan lengkap dalam mangkuk penuhnya beserta teh hangat.
Doc pribadi.

***

Gagal Pulang dan Sarapan Lontong Kari

Rencana kepulangan ke Jakarta sudah terpending dua kali. Entah apa yang menyebabkan kaki saya kembali tertahan di kota sejuk ini. Masih kangen mungkin? Hhahhha..

Pagi yang cerah, kereta yang ternyata tidak ada di jadwal pagi itu, matahari yang menampilkan sinar hangatnya, membawa vespa unik Kang Gelar ke sebuah gang sempit di Gang Kebon Sawit. Tidak terlalu jauh dari Stasiun Bandung, kami mengarah ke Jl. Otto Iskandar Dinata, Pasir Kaliki, Cicendo, Bandung.

Vespa biru di parkir di depan gang kecil. Kios-kios di sekitar masih tutup. Sedikit tidak yakin dengan pilihan Kang Gelar untuk mampir ke lontong kari ajakannya. Sepi.

“Kang, masih pada tutup gitu?” tanyaku dengan muka polos yang masih tertutup helm coklatnya.

“Orang ngga ada yang menyangka kalau di lorong sempit begini ada tempat makan yang biasa didatangi artis, Jie. Belum pernah, kan?” katanya.

“Belum..” jawaban ngambang tetap cengok. Sepi. Mau lihat apa disini? Kiosnya masih tutup semua. Sepi. Hanya semilir udara sejuk pagi saja mengalir pada gang kecil tersebut.

Kang Gelar berjalan mendahului saya. Kalau diukur jarak antara kios ke dinding , selebar saya merentangkan kedua lengan, di lorong itu. Di kanan saya dinding bercat biru kuning, sedangkan di kiri saya, beberapa petak kios-kios kecil berjajar. Kios ber-rolling door, entah berjualan apa.

Heemmm.. banyak kata sepi yang saya tuliskan. Kenyataannya memang demikian. Padahal hari sudah menunjukkan pukul 06.30 Wib. Sangat berbeda dengan kota dimana saya berkegiatan sehari-hari yang penuh dengan manusia dan kendaraan serta macet juga asap. Di Bandung ini, pagi hari masih lengang. Selengang lorong ini.

Lima menit saja berjalan dari parkiran di depan. Saya kira, warung bercat dinding kuning di kiri itu, tempat makan lontong karinya. Saya melongokkan kepala, melihat dinding keramik birunya. Isinya, serupa warung makan begitu. Terdiri dari meja dengan kursi panjang, dan kasir di kiri tempat saya berdiri. Tersedia kaleng kerupuk, beberapa botol berisi kecap, garam, merica dan mangkuk acar juga sambal.

Ehh, tapi si akang teh, tidak masuk ke sana. Kupalingkan wajah, melihatnya memasuki sebuah ruang di kanan jalan depan, lalu mengikutinya.

***

Semangkuk Lontong Padat

Sebuah ruang panjang berukuran 3×5 meter, mungkin. Berdinding merah. Meja dan bangku bundar kecoklatan yang ada, berkeliling membentuk huruf U mengitari ruangan tersebut. Saya menaruh carrier di lantai sambil mendengarkan penjelasan Kang Gelar tentang lontong kari di lorong.

Ia menunjukkan foto beberapa artis yang terpampang di dinding keramik, serta pernah makan lontong kari di sana. Sebut saja Pak Bondan yang sering mereview banyak kuliner di layar kaca, Adjie Pangestu, Benu Buloe, Surya Syahputra dan lainnya.

Ya, selain lontong karinya yang terkenal karena berada di lorong sempit, artis yang sarapan pagi di sana pun cukup lumayan. Makanya hingga kini, kuliner ini tetap bertahan dan dicari. Alasan bagus untuk mencicipinya, bukan? 😉

Pesanan lontong kari  tiba di meja putih kami, berikut dua gelas teh tawar hangat yang masih mengeluarkan uapnya. Aroma karinya merasuki indera penciumanku. Rongga perut yang lapar, sudah memanggil untuk segera mengunyah lontong berikut isinya. Ahh, ences akutuuuu…

Lengkap dan membumbung isi mangkuk di hadapan saya!

Satu mangkuk penuh berisi lontong, kacang goreng, suwiran daging ayam, tetelan (gajih/lemak berdaging), daging sengkel, telur serta kentang rebus, siap disantap. Garnishnya diberi bawang goreng dan kerupuk emping.

Tambahan saja sih kalau ingin memberikan rasa pedas, tersedia sambal. Ada pula acar mentimun dan potongan jeruk limau sebagai pelengkapnya. Sudah sangat lapar, saudara-saudara!

Kalau menuliskan saja, air liur memenuhi seluruh ruang dalam mulut, bagaimana harus menjelaskan detilnya? Maaf, bisa ngences ngga kelar-kelar ini saya? -.-‘

Kuah kari di Bandung ini, berbeda rasanya dengan kuah kari khas Sumatera yang kental, kuat, pekat, lekat aroma rempahnya. Kalau di Bandung, rasa kuahnya lebih light dan sedikit manis tanpa meninggalkan rempah dengan bumbu racik rahasianya Demikian pula dengan bumbu racik ala keluarga H. Engkos dan Hj. Eti ini. Jadi bagi Anda penggemar masakan Sumatera, mungkin akan sedikit beradaptasi rasa dengan lontong kari di Bandung. Hhehhe

Aku ya orang Sumatera, tetapi kalau ke Bandung, selalu suka makan lontong karinya. Mencoba makanan sama tapi berbeda, juga memberikan khasanah pada lidah, agar tidak terus-menerus mencicipi makanan yang sama. Iya kan?

***

Penuh di Akhir Minggu

Sudah dirintis sejak tahun 1966 oleh H. Engkos dan Hj. Eti yang semula berjualan di pinggir Jalan Otto Iskandar Dinata. Kalau di akhir minggu, tempat ini biasanya ramai pengunjung.

Per harinya, mereka bisa mempersiapkan hingga 250 porsi mangkuk. Di akhir pekan porsi bertambah menjadi 350 lontong kari. Oh iya, per mangkuknya seharga Rp 15.000,- sudah lengkap padat dan makan kenyang.

Kalau pesan kuliner ini, tidak bisa setengah porsi. Jadi, jika berencana makan di tempat tersebut, jangan sarapan di rumah, yaaa.. Bakal begah perutnya euy >_<

Mencari lokasi lontong kari di lorong sempit, tidak terlalu sulit. Cukup mencari kediaman Gubernur Jawa Barat saja di Kebon Karet, Bandung, tidak jauh dari perempatan lampu merah juga. Sejak 1999, mereka mulai aktif berjualan di lorong yang tidak jauh dari Gedung Pakuan tersebut.

Jam operasional warung lontong kari ini mulai pukul 07.00-20.00 Wib. Namun sepagi tadi, ketika kami di sana, warung bersih ini sudah buka. Jadi jangan khawatir bagi Anda yang ingin mampir sarapan di lontong kari itu, bisa segera melipir mencoba kuliner yang sudah terkenal sejak lama.

Lalu, kapan kita menyudahi mulut yang penuh dengan keinginan makan kali ini? BRB bongkar lemari dapur, masak yuuukkk masaaakkk… lapar, kakaaaakk ~ (jie)

Lontong kari di lorong sempit, Bandung.
Doc pribadi.

***

Iklan

20 tanggapan untuk “Lontong Artis di Lorong Sempit Kebon Karet Bandung”

  1. aku catetin nih poin-poinnya, biar kalo ke bandung tinggal ngikutin aja. hihi. asik kan~
    setauku memng di bandung ada yg jual lontong kari dan banyak. dan biasaanya ku beli yg dipinggir jalan gitu. hihi.
    makasih ya kak infonya..

  2. Dari penampakannya sih bikin ngiler pake banget, cuma pe er nih kalau mau ke sana, harus ada temennya biar gak cengok. Btw, suasananya unik ya, lorong panjang gitu dengan jejeran kios warna gonjreng hehehehe

    1. Mba Dooooooonnnn…
      Ehehhehe iyak. Ajak teman, biar makannya ga “sendiri” banget huaaaa 😀

      Etapi kalau baca buku mah, enakan sendiri. Tenang. Aahahahha gada hubungannya yak? Biarin mba, yg penting kenyang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s