Hitchhiker Indonesia (HHI)

Bukan Rencana, Tapi Pola Hitchhike yang Mengalir

A sign, yuhuuuu
Doc pribadi

Katanya, ngga ada yang namanya kebetulan. Benar juga sih. Berkali-kali merasakan hal itu ketika melakukan perjalanan dalam bertualang. Mengalir, mungkin seperti itu. Meneruskan dan melanjutkan, akan lebih baik untuk menyelesaikannya. Pun saat hitchhike tak disengaja yang begitu saja terpola dalam pikiran. Rezeki selalu ada ~ 🙂

***

Sumber google

Bawa Media Sign?

Ban motor @misbah3395 bocor ketika saya bersama teman-teman @hammockers_purwakarta selesai kemping munggahan seminggu sebelum bulan Ramadhan tiba. Iseng saja main jempol dan tertangkap kamera oleh Kang Kosim, @hammockers_sbg .

Bermula dari beberapa ketidaksengajaan yang saya lakukan saat packing barang-barang sebelum berangkat. Tulisan NUMPANG DONG berikut kertas kosong dan spidol, saya selipkan di kantong carrier.

Lalu berikutnya, main jempol iseng di @badega_gunungparang pun menjadi pemicu hitchhike selanjutnya ketika akan pulang ke Jakarta.

***

Being A Hitchhiker Tak Sengaja Jempolan

Rumah @heallvina yang selalu saja membuat malas bergerak. Air sejuk, rumah bersahabat, keluarga yang asik.

Senin (14/05), saya dan @travellermales bertujuan pulang ke Jakarta. Pukul 11.42 wib, pamit pada ibunya @heallvina . Sudah janjian dengan @wijayadinatakusumah92 bertemu di Stasiun Purwakarta. Kami akan naik angkot ke stasiun.

Terik. Gang SMA Sukatani, membuat kami lumayan lama menunggu kendaraan. @travellermales dan saya berniat pulang ke Jakarta siang ini.

Panas, gerah, alergi debu, batuk, takut tertinggal jam keberangkatan kereta, iseng saya mengajukan ucapan ke Afri, “Hitchhike yuk, Fri ke stasiun..”

Kelamaan menunggu angkot hijau yang tak kunjung lewat di depan kami, Afri menjawab, “Ayuklah. Bebas, kak Ejie…”

Bersambut!

Kami bergegas berjalan mencari tempat adem di bawah pohon rindang, membentangkan tulisan numpang, dengan target MOBIL PRIBADI. Tujuan kami? Stasiun Purwakarta dooonng.. hiihihi. Saat itu tidak ada tambahan tulisan tujuan kemana, seperti biasanya. Karena arahnya sudah benar, ke stasiun kereta. Paling hanya bilang ke pengendara tujuan menumpang itu. Simpel sih…

Saya mengarahkan tulisan numpang yang selalu siap di tas karena alasan kebiasaan tanpa sadar (sepertinya). Susah, kalau sudah NIAT hitchhike di tempat. Pantang berhenti rasanya. Apalagi jalur khusus dimana saya belum pernah membuat garis pada jejak catatan hitchhike.

“Mana yang duluan saja kali ya, Fri. Kalau ada angkot, naik. Kalau dapat tumpangan kendaraan, ya naik juga kita. Setuju?” tanyaku.

“Okeee… yang mana saja,” jawabnya santai.

Kami berdiri di depan salah satu minimarket depan gang rumah vina. 15 menit. Debu pasti, karena banyaknya truk yang lewat di depan.

Travelmate!
Doc @travellermales

Kenyataan berkata lain? Yeap!

Sebuah mobil Avanza silver berhenti tak jauh dari kami. Terlihat jelas bahwa pengendara yang berjilbab di dalamnya, menoleh ke arah berdiri kami. Menghampiri, bertanya, menjelaskan, and voila! We’re inside of her car 😄 Alhamdulillah.

Target terkunci. Tujuan berbelok. Ibu Tuti yang memberikan tumpangan pada kami, berencana menuju ke Kosambi, Karawang. Ajakan pun mengalir dari si ibu. Lirikan, tanya dan diskusi kecil tanpa arti pun, membuat kami pada akhirnya memutuskan, ikut si ibu ke Karawang. Segera berkabar kepada Owie dan Vina, bahwa kami tidak jadi ke stasiun, tapi hitchhike ke Jakarta.

Menjaga etika bahwa kami bukanlah pejalan yang asal menumpang, memperkenalkan diri adalah baik. Setelah bertanya tujuan akhir perjalanan, kami saling tukar cerita. Wiihh.. ternyata dulu semasa kuliah, ibu Tuti ini juga sering melakukan hitchhiking.

Hal seperti ini, kadang membuat beberapa pengendara mengerti dengan para hitchhiker yang berusaha mencari tumpangan perjalanan. Karena pada kenyataannya, mereka pernah melakukan hal yang sama.

“Saya dulu numpangnya malah ramai, mbak. Sepulang kampus, mau main ke suatu tempat pun begitu. Bawa-bawa carrier,” ceritanya semangat sambil tetap fokus ke jalan. Ugkhh.. Bu Tuti yang akan menuju ke Kosambi bersama Nazwa anaknya, mempunyai usaha Wedding Organizer dan kerap merias pengantin ini, ternyata petualang juga yah? Nyambung dong cerita kami. Asik!

“Tapi yaaa, tidak asal memberikan tumpangan, mbak. Ada insting yang menyatakan bahwa saya aman memberikan tumpangan saat ini pada mbak dan mas,” lanjutnya.

Hal yang sama juga berlaku pada saya, bu. Beberapa perjalanan mengajarkan saya agar selalu waspada ketika melakukan hitchhiking. Kontak awal pembicaraan sebelum naik kendaraan, merupakan hal terpenting bagi saya. Kalimat, mimik, dan gesture tubuh, sangat menentukan apakah saya akan naik kendaraan tersebut, atau berdalih mencari alasan lain. Tidak hanya berlaku ketika hari terang, malam pun, saya akan lebih ketat terhadap insting di awal. It’s all about the art of hitchhiking.

Hatur nuhun ibu cantik nya.. sudah membuat kami tiba di Karawang, lebih cepat. Sehat dan sukses selalu dengan usahanya, bu.

Ibu Tuti yang memberi tumpangan dari Purwakarta.
Doc pribadi

Selanjutnya? Otak bandel, arahan jempol tak terarah pun mulai menggelitik untuk terus melanjutkan perjalanan dengan hitchhiking.

Ya kapan lagi kan? Jalur Purwakarta ke Jakarta, belum pernah saya tempuh siang hari. Tantangannya jauh lebih tinggi looh. Kenapa? Ya kan selain panas, dilihat orang banyak pula dengan berbagai pertanyaan, “Ngapain numpang?”

Kalau sebaliknya, malam hari, sudah lumayan sering, ehehehe.

Yap, pemantau pun koordinasi langsung dengan @ninuksawitri yang sudah sering mengikuti perjalanan spontan ini. Deuh maafkan yah Kaknuk ✌😹 .

Kami terus menentukan titik henti sesuai jalur yang saya dapatkan dengan bertanya. Tak terkecuali Afri yang pasti membantu saya saat BUTA PETA linglung bereaksi! Maklum, ngga tahu jalan saya mah.. haahahhhah

🚐 Purwakarta-Karawang Timur, 35 menit

***

To the next, yooow..
Doc @travellermales

Hitchhike Karawang-Cikarang

Makan, bang ~
Doc pribadi

Kami memutuskan beristirahat, shalat dan makan siang. Di masjid, ada bapak cuanki yang ngetem. Isi bensin perutlah kita. Lapar.

Setelah istirahat dirasa cukup. kami berjalan ke arah minimarket bergaris merah kuning. Berteduh dari sinar matahari siang yang bercengkrama ceria di atas kepala.

“Nanti kita naik ke arah jembatan atau gimana, Fri, kalau ada mobilnya?” tanyaku karena kurang paham jalan.

“Naik. Tapi mobilnya kencang-kencang nih,” kata @travellermales sambal memampangkan tulisan numpang.

Mata saya menyipit, mempelajari arah mobil datang. Tiga jalur. Kanan bagi mobil yang kebanyakan berada di jalur ngebut, karena memang arah tujuan luar kota, lurus saja. Sedikit saja yang mengarah di tengah dan jalur lambat, belok kiri. Ya ngga salah juga kalau kendaraan di sana pada ngebut. Kan tadi Afri bilang, kita akan ke arah jembatan, artinya naik.

Positif thinking, heeyy… Berharap saja akan ada kendaraan berhenti, Friii..” seruku diantara suara laju kendaraan.

Untuk menghilangkan waktu menunggu, kami bertukar cerita menumpang. Iya, Afri, Ramdhan dan Kuple, baru saja menyelesaikan perjalanan menumpangnya di Jawa Timur. Sedap ya?
*ngences

Beberapa kendaraan yang pernah saya naiki, lewat di depan kami. Lalu bercerita tentang kendaraan berbayar seperti bus AC, ekonomi, mobil Pariwisata, dan lainnya yang pernah memberi tumpangan.

“Yang benar? Ada gitu yang mau kasih tumpangan kendaraan berbayar?” tanya Afri.

Second hitchhiking.
Doc pribadi

Deuh, deuh, Afri… mata saya sedang ngeker bus ini. Ehh, bus putih bergaris merah, berhenti di depan kami. Menawarkan naik sampai Cikarang. Numpang? Don’t ask me, why did it happen? Ngalir aja udah ~

Huaaaaa… Rezeki seperti apa yang terucap tanpa sengaja dari obrolan kilas balik. Alhamdulillah.

Terima kasih pak supir dan Kang Epan, kernet yang memberi tumpangan pada kami.

🚃 12.05-12.12 wib nunggu tumpangan kedua.

***

Shilhoutte of us. Alasan sih, backlight mah yang benar 😀
Doc pribadi

Hitchhike Cikarang-Bekasi

Kami turun di Terminal Cikarang. Berjalan beberapa ratus meter, mencari tempat teduh, namun tak juga ada. Matahari sore sedang mengarah pada posisi dimana kami berdiri. Silau.

Sebuah elf berhenti, menanyakan tujuan kami. Pak Guntur, pengemudi Elf yang sudah melihat kami dari seberang jalan. Ia mengambil jalur dimana kami berdiri, lalu memberhentikan kendaraannya.

Dari seberang jalan, ia juga melihat tulisan numpang, dan sudah berniat untuk mengajak kami dalam kendaraannya.

“Ayuk ikut, nak. Sampai Bekasi,” ujar si bapak yang sudah 15 tahun bolak-balik mencari penumpang dengan trayek sama.

Saya bertanya pada @travellermales , meminta persetujuan, “Ngga apa. Ayuk saja,” katanya.

“Boleh, Pak?” tanyaku mengulang ucapan di awal.

“Iya, boleh, nak. Ngga apa.”

Mobilnya lega. Kami mencari duduk di bangku paling belakang dengan tujuan Bekasi. Sudah semakin dekat, Afri dan saya berbincang santai sambil sesekali menjawab pertanyaan si bapak  diantara macet, debu dan sinar matahari sore yang berhembus bersamaan angin gerahnya. Untung sudah mandi air segar di rumah @heallvina tadi. Jadi aman.

Tinggal di Kampung Baru, Tambun, bapak yang bekerja sejak pukul 12 hingga tengah malam ini, berkisah tentang kebaikan.

Filosofi hidup, saling tolong-menolong, kehidupan di depan, “jika” ada keluarganya yang mungkin membutuhkan tumpangan, serta beberapa cerita lainnya tentang seorang bapak, menurut saya, manusiawi dengan tumpangan yang ia berikan pada kami.

Catatan waktu:
15.27 wib, sampai di Terminal Cikarang
15.45 wib, Elf, go to Cikarang-Bekasi

#menujupulang boleh pakai HEHE nya bg bee @bwk_1991 yak ngakak 😹😹😹 .

***

Stasiun KA Bekasi, menuju pulang.
Doc @travellermales

Touchdown Stasiun Bekasi

17.07 wib, our last checkpoint. Bekasi railway station. We decided to end the hitchhiking, Purwakarta to Bekasi.

Perjalanan akan membuatmu dewasa dalam berpikir dan mengambil keputusan. Membuka wawasan luasmu, juga pintu kecilmu serta intipan jendela kamarmu. Buatlah garis ceritamu dengan perjalanan, kawan. Mungkin dengan cara berbeda. Karena tiap garis, memiliki kisahnya masing-masing untuk dituliskan. Nikmati saja prosesnya yaaaakk 😆

Lakukan karena ingin, bukan karena terpaksa.
-ejie-

See yaaa in another spontaneous hitchhike 🚗💨💨

SALAM JEMPOL 👍 (jie)

Starting point, depan Gang SMK, arah rumah Vina.
Doc @travellermales

***

Iklan

8 tanggapan untuk “Bukan Rencana, Tapi Pola Hitchhike yang Mengalir”

  1. Aku jg sering modal jempol , krn punya sensasi tersendiri …
    Dan skrg sudah gk lagi modal jempol krn temen2 nya manja dan penakut 😪

  2. Romantis benar kegiatan hitchhike itu ya. Selain mendapat tumpangan, mendarat di tempat-tempat tak direncanakan, akhirnya ketemu teman-teman baru. Dan gak lupa juga mengumpulkan seribu cerita 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s