wisata kota

Kawasan Sejarah Nan Romantis di Kota Lama Semarang

Bangunan di sekitar Gereja Blenduk yang juga berkarakter bangunan Eropa.
Doc pribadi

Mengenal Semarang dulu dan kini, tak akan ada habisnya. Kota dengan berbagai etnis ini, memberikan ciri tersendiri dalam ruang wisatanya. Giat Pemerintah Kota Semarang dalam wisata sangat pesat. Kota ini, juga menyimpan banyak pesonanya. Termasuk di Kawasan Kota Lama Semarang. Hhaha.. Ketemu jalan romantis diantara lampu gedung di sana 😉

***

Semarang di Masa Lalu

Gedung Jiwasraya di depan Gereja Blenduk dengan lampu yang bergantian warna.
Doc pribadi

Siapa yang rindu Semarang? Saya? Sangat.

Perkembangan kota dari masa ke masa yang membuat saya pun bisa betah disana dalam hitungan bulan. Tahun 2012, saat perjalanan Backpacking Race yang diadakan oleh Greenpeace, membuat saya harus mengambil tulisan tentang rob di sana.

Baca: Ransel Semarang (Backpacking Race) 

Selanjutnya rangkaian hitchhiking yang menjadi passion saya pun, membuat saya kembali bermain, meneruskan rindu pada Semarang. Pada akhirnya, Semarang tak hanya sekadar rindu, namun juga merasa diterima. Punya sahabat dan keluarga yang tiba-tiba saja memenuhi ruang dalam sudut bermain. Heemmm…

Baca: Hitchhiking by myself, Jakarta-Semarang

Kota yang diawali dengan diangkatnya Ki Ageng Pandan Arang sebagai Bupati Semarang oleh pemerintahan Kasultanan Demak ini, termasuk dalam lima urutan kota terbesar di Indonesia setelah Jakarta, Surabaya, Medan, dan Bandung. Banyak tempat wisata yang bisa kita kunjungi.

Berada di dekat Pasar Johar, Semarang, Masjid Agung Semarang atau Masjid Kauman, merupakan masjid tertua yang memiliki sejarah. Masjid ini juga peninggalan pusat pemerintahan kadipaten saat itu.

Dalam sejarahnya, masjid ini pun menjadi satu-satunya masjid yang mengumumkan kemerdekaan bangsa Indonesia secara terbuka setelah beberapa saat diproklamirkan. Kejadian ini dilakukan oleh Alm. Dr. Agus, salah seorang jamaa’ah Masjid Agung Semarang yang harus dibayar mahal akhirnya.

Perkembangan Semarang juga terlihat dengan difungsikannya Pelabuhan Semarang sebagai pusat dagang dan penyiaran Agama Islam pada masa Kesultanan Demak.

Gedung tinggi pun mulai bermunculan di Semarang. Semodernnya Kota Semarang, tetap saja, saya merasa keunikan yang berbeda bila berada disana. Ada hal-hal yang membuat saya terus saja ingin datang dan kembali. Beberapa ajakan ke Semarang, maupun solo backpacking atau solo hitchhiking, kerap saya lakukan demi memenuhi penasaran.

Dengan luas 373,70 km atau 37.366.836 Ha, keanekaragaman Semarang, menjadi salah satu pemicu bagi saya untuk berkunjung dan menjelajah. Beberapa campuran penduduk etnis seperti Jawa, Arab, Tionghoa serta keturunan, lengkap. Mayoritas kehidupan beragama yang ada pun ikut bervariasi. Makanya begitu banyak pilihan wisata yang bisa Anda pilih jika ke Semarang.

Salah satunya dengan ajakan dari Dinas Pariwisata Kota Semarang bersama blogger-vlogger Indonesia dan Malaysia beberapa saat lalu.

Malam itu, kami berkesempatan menikmati jalan diantara lalu lalang menuju kawasan Kota Lama Semarang yang pada abad ke-16, Portugis datang dan membangun pemukiman di sekitar Sungai Berok. Kawasan Kota Lama Semarang juga pernah ditempati oleh Belanda pada tahun 1646 dan membangun Benteng bernama De Vijfhoek.

***

Teh Nita yang menikmati romantisme Kota Lama Semarang.
Doc @kulkasgendong

Kota Lama Semarang

Malam begitu menggoda. Kerlip lampu-lampu kota selalu saja mampu membuat mata tak berhenti menatapnya. Jadi teringat ketika Mas Adjoel, Mas Cepi, Mas Pandah Aldi, Zilla dan Mas Azhim, teman Hammockers Jawa Timur mengajak saya berjalan-jalan di kotanya, Surabaya. Hanya lampu-lampu yang membuat saya selalu saja antusias. Entah mengapa.

“Ejie jauh-jauh dari Jakarta, cuma mau lihat lampu?” itu salah satu celotehan bingung mereka.

Hahahhaa…. Ya ngga apa, kan? Keunikan selalu saya temui ketika datang ke satu kota. Demikian pula dengan Semarang, dimana bus yang membawa blogger dan vlogger ini, melaju diantara lampu-lampu di Kota Lama Semarang.

Disebut Outstadt atau Little Netherland, area Kota Lama Semarang ini, terlihat dari gedung-gedung yang dibangun pada zaman Belanda. Karakter bangunannya sangat kuat dengan bentuk bangunan Eropa tahun 1700-an.

Luas Kawasan Kota Lama Semarang lebih kurang 31 hektar dan Kawasan Pengaruh lebih kurang 9 hektar. Detil bangunan tampak pada ornamen, ukuran pintu dan jendela, kaca berwarna, atap yang unik, dan ruang bawah tanah.

Kami turun di sekitar Taman Srigunting. Dari sana berjalan ke tujuan dimaksud.

Sembari berjalan, saya berkesempatan memotret beberapa bangunan lama yang tetap terlihat megah dengan pesona bangunan lama pada masanya. Diantaranya adalah:

Gereja Blenduk

Gereja Blenduk yang selalu menjadi pusat foto bagi para pejalan.
Doc pribadi

Gereja GPIB Immanuel Semarang berbentuk heksagonal (persegi delapan) ini, dibangun tahun 1753. Terletak di Jalan Letjen Soeprapto Nomor 32 memiliki arsitektur bergaya Pantheon. Gereja ini dipugar tahun 1894 oleh HPA de Wilde dan Westmaas (Belanda).

Karena kubah perunggunya yang mirip irisan bola, maka orang menyebutnya, mblenduk.

Selain digunakan untuk tempat beribadah, gereja ini juga dipakai sebagai tempat wisata.

Jam operasional:

Senin-Sabtu: 09.00-16.00 Wib
Minggu        : 13.00-16.00 Wib

HTM, IDR 10K per orang

Taman Srigunting

Taman Srigunting merupakan titik kumpul bagi para pejalan yang ingin memulai menjelajah. Taman instagenic yang kerap dijadikan area berfoto ini, berdekatan dengan Gereja Blenduk.

Awalnya bernama Parade Plein, karen tempat ini digunakan sebagai tempat latihan baris-berbaris tentara Belanda. Juga sebagai tempat berkumpul warga, pada akhirnya.

Rindang, banyak bangku taman, kerlip lampu yang kembali menggoda saya, beberapa spot foto menarik, wisata kuliner pun ada.

Jam operasional: 24 jam

HTM, gratis.

 

 

Pasar Klitikhan

Di sekitar Taman Srigunting, beberapa booth tampak menarik dikunjungi. Anda bisa berkunjung ke bagian barang antik dan kuno di sana, menarik buat saya. Semakin antik dan kuno, maka akan semakin mahal harganya. Kemampuan menawar Anda, diuji di sini. Biar seperti sedang ujian semesteran, wkwwkkwk..

Di lokasi tersebut, kita bisa menjumpai berbagai barang antik seperti televisi seperti punya nenek saya, setrika besi yang berat, radio, motor zaman om saya, kamera polaroid, uang kuno, lukisan, dan lainnya.

Juga yang menyajikan buku-buku bacaan. Hahahaahha, baru mau mampir memenuhi undangan hati yang tergelitik, suara mbak Nofri sudah memanggil.

“Ejie, naik. Ayo, biar istirahatnya cepat,” ujarnya sembari tersenyum. Ya gimana atuh… senyumnya tour guide kami yang ramah ini bikin ngga tega menolak walau tatapan pamit pada si booth buku, menjadi salamku padanya. Lebay! Bodo! Pen baca 😀

 

 

Semarang Kreatif Gallery

Ruang pameran ajang promosi kreasi berbagai UMKM, hadir disekitaran Gereja Blenduk juga. Area luar bagi pedestrian ini, dikemas apik bagi para pejalan. Disediakan bangku dan meja untuk beristirahat.

Tematik juga, karena ada bola-bola batu yang dilukis dekoratif yang menarik sebagai tempat berfoto dan menghilangkan penat.

Baca: Semarang Kreatif Gallery

Gedung kuno yang digunakan oleh PT Telkom ini, menampung banyak hasil kreasi dan kerajinan tangan berupa tas, baju, kain batik, sepatu, pernak-pernik, dan sebagainya.

Terdapat Keris Cafe juga di dalamnya yang menyatu dengan gallery. Menyediakan kue tradisional, kopi bergaya cafe. Tempatnya juga asik buat berfoto loh.

Interior Keris Cafe.
Doc pribadi

Old City 3D Art Museum

Sajian lukisan 3 dimensi ini, akan membuat Anda merasa berada di tempat sesuai pilihan didalamnya. Pengambilan sudut gambar yang kece, akan membuat Anda kadang  berada di kondisi berbahaya. Banyak pilihan kok.

Jam operasional: Setiap hari 09.00-21.00 Wib.

HTM: IDR 50K per orang.

3D Art di Kota Lama Semarang yang terletak di dekat Semarang Kreatif Gallery.
Sumber Google

***

Nah, sudah bisa menentukan mau kemana saja selama di Semarang, khususnya berjalan-jalan di Kawasan Kota Lama Semarang? Banyak tempat menarik lainnya yang bisa Anda kunjungi saat kesana. Sendiri, bersama geng kumpul, maupun saat bertugas kerja hore-hore, tetap sama asiknya.

Bagi yang suka menulis, sekali tepuk pun, bisa dapat banyak bahan hanya dengan berjalan kaki menikmati lintasan jalan di sana. Plus, romantis bisa jalan seru dibawah lampu-lampu menggoda yang terlihat pada gedung-gedungnya. Huehehehehh… kangen ❤ (jie)

***

Pintu masuk Keris Cafe di Semarang Kreatif Gallery.
Doc pribadi

 

Iklan

20 tanggapan untuk “Kawasan Sejarah Nan Romantis di Kota Lama Semarang”

  1. Deskripsi detail dan foto yang bagus bagus, saya menikmati tiap kata dan detil foto nya. Good work
    -sail morotai-

  2. Kalau ke Semarang kurang lengkap rasanya jika tak mengunjungi kota lama. Nuansa masa lalunya selalu ngangeni. Apa lagi kalau ditambah mencicipi makanan asik di cafe, terus melipir mencari Wingko Cap Kereta Api…Idaman..

  3. sering ke Semarang, tapi belum sempat ngubek-ngubek kawasan kota lama ini. cuma sekedar melintasinya saja.
    kayaknya lebih asyik kalau ditemenin ejie nih. Yukss lahh

  4. Gue suka Semarang, tapi sebagai orang yang udah lama tinggal di Bandung nan sejuk, gue nggak tahan lama-lama kelayapan di Semarang hahaha. Panas.

    Seru juga ya eksplor Kota Lama malem-malem, dapet foto yang beda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s