wisata kota

Menjenguk Duplikasi Payung Masjid Nabawi di Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid Agung Jawa Timur denganarsitekturnya yang indah.
Doc pribadi

Masjid ini begitu luas dibangun. Berkarakter kuat. Kalau berkunjung ke Semarang, mampir dan luaskanlah pandangan Anda di Masjid Agung Jawa Tengah. Saran waktu berkunjung, paling asik pagi hari, atau setelah jam makan siang. Kenapa? Biar tidak panas dan bisa menikmati pemandangan indah dari ketinggian Al Husna Tower. Penasaran?

***

MAJT dengan payung yang tertutup.
Doc pribadi

Masjid Berarsitektur Tiga Negara

Hari itu, Semarang sungguh cerah (baca: terik) sekali. Bus orange mentereng kami melaju, membawa rombongan blogger dan vlogger Indonesia-Malaysia ke arah Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).

Berada di Jalan Gajah, Gayamsari, Sambirejo, Semarang, Jawa Tengah, bangunan Masjid Agung Jawa Tengah yang diresmikan pada 14 November 2006 oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono ini, bergaya arsitektur Jawa, Arab dan Romawi.

Ir. H. Ahmad Fanani sebagai arsiteknya membangun masjid tersebut diatas tanah seluas 10 hektare dengan luas bangunan induk untuk shalat 7.669 meter persegi.

Bangunan utamanya beratapkan limas, khas bangunan Jawa yang diujungnya dilengkapi kubah besar berdiameter 20 meter. Keempat menaranya memiliki tinggi 62 meter di tiap penjurunya, dan satu buah menara terpisah dari bangunan masjid setinggi 99 meter.

Di pelataran masjidnya, memiliki 25 pilar bergaya Athena Romawi. Kaligrafi pilar menyimbolkan 25 Nabi dan Rasul. Sedangkan pada gerbang tertulis 2 kalimat syahadat. Di halaman luas masjid ini, tepat di depannya, terdapat pula 6 payung elektrik berukuran raksasa yang bisa terbuka di saat tertentu.

Sementara di gerbang masuk utama, kita sudah disambut dengan 5 tulisan yang ada pada bahan stainless steel. Tulisan tersebut merupakan 5 Rukun Islam, yaitu Syahadat, Shalat, Shaum, Zakat, dan Haji.

 

Memiliki tempat yang luas, ungu dan krem adalah warna dominan yang akan lebih dahulu terlihat dari kejauhan. Lalu warna putih dan bata berikutnya. Kalau langit biru cerah dengan awan putih, warnanya akan cantik sekali.

Baca: https://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Agung_Jawa_Tengah

 

***

Payung Penyejuk

Atap yang terbuka, Subhanallah..
Doc pribadi

Panas memang. Tapi yang namanya masjid, selalu saja membawa kesejukan. Setelah brief sebentar, kami dibebaskan untuk mengeksplore tiap sudut Masjid Agung Jawa Tengah.

Beberapa menghambur mencari celah bagi tulisan-tulisan yang akan diketengahkan pada masing-masing blognya. Sebagian menanti saat bisa ikut jam kunjung ke menara tinggi yang terpisah dari bangunan utamanya.

Ada pula yang menjelajah hingga ke lantai bawah seperti yang diinformasikan oleh mbak Nofri, guide kami yang asik. Saya malah baru tahu kalau masjid itu, ada lantai bawahnya juga loh. Lainnya, cukup menikmati pemandangan, udara sejuk adem dari bawah empat menara serta asik duduk di bawah payung elektrik yang saat itu terbuka payungnya.

Payung? Heeemm.. ya.

Beruntung sekali kami hari itu bisa melihat payung terbuka pada menara-menara tersebut. Khususnya buat saya. Biasanya pecicilan, penasaran, jalan kesana-kemari. Kali itu tidak. Langkah kaki cukup tenang. Saya hanya mengikuti arah melangkah hingga melihat mas Gio dan mbak Nofri yang ternyata menunggu informasi untuk bisa naik ke menara 99 meter itu.

 

Kedatangan saya yang ketiga kalinya, baru sekarang bisa menyaksikan payung terbuka. Subhanallah… senang sekali. Seperti melihat.. do’a saya yang belum kesampaian hingga kini.

Jadi teringat dengan beberapa postingan teman-teman yang sudah pernah ke Madinah. Masjid Nabawi. Payung teduhnya duplikasi Masjid Nabawi. Deuh… Kapan? Terdiam beberapa jenak dalam langkah itu. Lalu sedikit do’a terselip dari pandangan tertunduk saya. Aamiin Aamiin Aamiin Ya Allah… Cukup IA yang tahu saja, bukan? 🙂

Payung raksasa elektrik ini, tingginya 20 meter dengan diameter 14 meter.

Dijelaskan mbak Nofri, payung itu hanya akan terbuka pada hari Jum’at, dan hari besar Islam. Untuk membukanya, membutuhkan tenaga hidrolik. Dan kalau payungnya terbuka, bisa menampung hingga 10 ribu jamaah. Whoaaaa… amaze yaa.

 

Jadi bisa terbayang kan? Ketika payungnya terbuka, dan meneduhi kami yang kegerahan? Sejuk dan adem! Alhamdulillah.

Wajar dong yah? Hari yang terik, harus menjaga sepatu dan sandal teman-teman ganteng yang sedang melaksanakan shalat Jum’at di bangunan utama masjid. Payung penyejuk ini melindungi kami. Angin sepoi-sepoi memenuhi ruang bercerita ketika kami berteduh dibawahnya ❤

***

Menara Al Husna

Lihat saja dulu, siapa tahu nanti “jodoh” lagi, ya kan? 🙂
Doc pribadi

Kenapa dinamakan demikian?

Menara tersebut memiliki tinggi hingga 99 meter. Seperti 99 nama-nama Allah, Asmaul Husna. Makanya disebut dengan Al Husna Tower.

Terdapat 19 lantai di menara tersebut. Pada bagian dasarnya, ada Studio Radio Dais (Dakwah Islam). Di lantai 2 dan 3, dimanfaatkan sebagai Museum Kebudayaan Islam.

Dari ketinggian Al Husna Tower ini, di lantai 19, kita bisa melihat pemandangan Kota Semarang. Mungkin kalau malam, bisa melihat city light ya? Pasti indah dengan kerlap-kerlip lampu di kejauhan. Soalnya tersedia 5 teropong disana untuk mengintip Kota Semarang dari balik lensanya. Asik, kan?

Selain digunakan sebagai gardu pandang, di lantai 19 ini juga tempat rukyat hilal.

Satu lantai di bawahnya, terdapat restoran yang lantainya bisa berputar 360 derajat.

“Bukit, rumah, pemandangan, tempat wisata, semuanya akan tampak. Jadi kita melihat Kota Semarang bisa dari berbagai sisi,” ujar mbak Nofri.

Deuh, tiga kali kesana, belum sekalipun bisa berhasil mencocokkan waktu untuk melihat pemandangan Kota Semarang dari ketinggian menara 99 meternya. Semoga ada kesempatan lagi nanti.

 

***

Bedug Raksasa

Bedug ditandakan dengan masuknya waktu shalat bagi umat Islam di wilayah setempat. Secara umum, menjadi pertanda  bagi adanya suatu kegiatan atau alat komunikasi pada suatu hal.

Di halaman luar masjid, kalau kita berdiri menghadap pintu gerbang utama, ada pula bedug raksasa yang terpajang disana. Bedug ini mempunyai ukuran panjang 310 centimeter dengan diameter 220 centimeter.

Replika bedug raksasa ini dibuat oleh santri dari sebuah pesantren di Banyumas. Informasi ini pernah diceritakan oleh teman Backpacker Semarang saya, mas Jul. Waktu kesana tahun 2016 kalau ngga salah, saya juga belum berhasil masuk ke dalam masjidnya. Pun menara Al Husna. Mungkin nanti yah? Semoga 😀

Bedug raksasa buatan santri.
Doc pribadi

***

Selain sebagai tempat beribadah, halaman masjid ini juga kerap dipakai sebagai sarana berolahraga pagi dan sore hari. Juga beraktifitas sosial bersama teman dan keluarga.

Komplek bangunan masjid ini, juga terdapat auditorium yang biasa dipakai sebagai tempat acara pameran atau pernikahan. Ada pula ruang perpustakaan dan ruang perkantoran.

Ternyata di MAJT ini, juga dilengkapi wisma penginapan berbagai kelas. Deuh, jadi semakin penasaran kepengin bisa menikmati senja di masjid ini. Lalu melihat lampu Kota Semarang di menaranya, menanti senja tenggelam dalam peraduannya.

Tanya, kapan lagi bisa kesana?

Berprasangka baiklah, maka akan luas pintu rezeki untukmu..

Selamat menanti senja dan malam bermandikan lampu disana, jie… Nanti. ahahahhahhh (jie)

Alhamdulillah.. bis melihat payung teduhnya.
Doc @disgiovery

***

Familiarization Trip Semarang Hebat 2018
Bersama Dinas Pariwisata Kota Semarang, Blogger, Vlogger Indonesia-Malaysia
4-5 Mei 2018
Dalam rangka HUT ke 471 Tahun Kota Semarang

Iklan

14 tanggapan untuk “Menjenguk Duplikasi Payung Masjid Nabawi di Masjid Agung Jawa Tengah”

  1. Wahh, temen-temen sempet ke MAJT pas hari Jumat ya. Senangnya.
    Aku sering lihat postingan baik itu tulisan atau gambar MAJT pas payung terbuka gini. Pengen banget tapi belum kesampaian 😦
    Eh ternyata MAJT pesonanya nggak cuma pas payungnya terbuka. Ada banyak tempat yang bisa dijelajahi. Mantap

    1. Iya, bener kak.

      Ke dalam keknya asik juga. Ada al-qur’an raksasa. Ejie belom liat euy. Sama pengen liat interior dalam masjid juga, kak. Kalau baca2, seru euy..

  2. Salah fokus dengan “menjaga sepatu dan sandal teman-teman ganteng yang sedang solat Jumat”.. Aku kok jadi baper gajelas, hahahaha. Maapkeun kakaa salfoknya 😉😉

    1. Hahahah
      Ya ndak apa, mb. Katanya kalau shalat Jum’at kan semua lelaki jadi ganteng, kak.

      Ikhlas, mb.. ikhlaaass jaga sendal doangan mah. Yang penting mah selalu bahagia. Aamiin..
      *ga nyambung wkwwkkkw

  3. Bagus kak Ejie, besok besok pas mau lebaran kyknya perlu ke sini lg biar tahu kerjanya tim hilal… Soalnya kan jarang2 ada masjid punya menara buat hilal…

    1. huayaaahhh… diblogwalkingin masden.

      tengkyu somat, mas. siap insha Allah mampir kalau ada kesempatan. biar bisa lihat bagian dalamnya juga itu sama hilal 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s