wisata kota

Kisah Legenda Telaga, Goa, dan Batu Tulis Dieng

Telaga Pengilon sisi lain yang berwarna. Gambar diambil tahun 2013 saat langit cerah.
Doc pribadi.

Kawasan Wisata Dataran Tinggi Dieng, tetap mempunyai daya tarik bagi para wisatawan. Selain telaga yang mempunyai keunikan pada warna airdan legendanya, di kawasan ini terdapat pula beberapa wisata goa. Batu tulis yang menyerupai Semar pun, merupakan tempat ruwatan bagi anak gimbal Dieng.

***

Kabut, mendung dan telaga yang tosca.
Doc pribadi

Telaga Warna yang Mempesona

Langit terlihat putih. Mendung dan kabut, membuat Taman Wisata Alam Dieng ini menjadi lebih sejuk. Udara memang dingin di Dieng, demikian pula ketika rombongan reuni yang Ucrok dan saya bawa. Hampir semuanya mengenakan jaket, lengan panjang, namun tetap gaya.

Berada di ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut, telaga yang berlokasi di Kawasan Tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah ini, dikelilingi oleh bukit-bukit yang melingkupi sekitar telaga. Pemandangan indah sekitarnya akan tampak dari ketinggian.

Keunikan alam, membuat telaga ini bisa berubah-ubah warnanya. Sulfur yang terkandung di dalam air telaga, membuat warna air telaga berwarna saat terkena pantulan sinar matahari.

Telaga Warna saat langit cerah. Memantulkan warna karena kandungan sulfur yang terdapat di dalam air.
Doc pribadi.

Terkadang warna yang timbul bisa tosca, hijau, biru, kuning dan pelangi. Berkunjunglah saat pagi atau siang hari, karena kabut belumlah terlalu penuh seperti sore hari.

Air telaga dimafaatkan juga sebagai irigasi untuk mengairi tanaman kentang yang menjadi komoditas utama disana.

Dari kisah yang melegenda, Telaga Warna Dieng ini terbentuk dari tangisan Prabu Suwartalaya yang didampingi permaisurinya Ratu Purbamanah dari Kerajaan Kutatanggeuhan bersama rakyatnya. Tangisan ini akibat perbuatan anaknya yang manja, Gilang Rukmini yang membuang kalung emas pemberian ayahandanya.

***

Danau Cermin di Kawasan Dataran Tinggi Dieng

Kami berjalan mengitari Telaga Pengilon yang terletak di Dataran Tinggi Dieng. Saat itu, airnya berwarna hijau. Dari pintu masuk, kami mengambil jalan ke kanan. Berhenti di spot pertama dan mengambil beberapa gambar sekitar.

Sungguh terlihat sedikit perubahan. Tiga spot foto dengan latar air telaga, menjadi favorit beberapa pengunjung. Beralas kayu, dan batang pohon yang menjulur ke arah telaga.

Telaga Pengilon yang dilihat dari Batu Ratapan Angin (Watu Pandang Dieng). Gambar ddiambil tahun 2013.
Doc pribadi.

Masuk ke Telaga Pengilon ini, sama halnya dengan masuk ke Telaga Warna. Berada dalam satu lokasi yang bisa dikunjungi. Hari libur panjang ini sedikit lebih ramai dari hari libur biasa. Untungnya tidak sepadat jalanan ibukota yang tak kunjung henti dari kemacetan.

Saya berada di urutan paling akhir dari barisan ibu-ibu dan bapak-bapak reuni sebuah sekolah di Jakarta. Menemani dan menjaga mbah (nenek) yang menitipkan gadgetnya kepada saya agar mengambil gambar dirinya bersama teman-teman reuni sekolah beliau. Sementara Ucrok teman saya, berada di barisan depan, menemani mereka yang asik berjalan sembari berfoto, bercerita dan lumayan gesit jalannya.

Di depan saya, ada Bimo dan ibunya. Mereka berjalan santai sambil sesekali bergandengan menikmati suasana Telaga Pengilon.

“Mamah nanti mau foto di orang-orang yang bergitar yah..” pinta mama Bimo ketika saya menyarankan ia berjalan menyusul barisan depan.

“Iya, bu..” jawab saya.

Telaga Pengilon, dalam bahasa Jawa berarti danau cermin. Tempat ini dipercaya oleh masyarakat sekitar, sebagai tempat instrospeksi diri yang melihat pada kedalaman hati seseorang dan menunjukkan sifat asli diri manusia.

Meski sedikit kabut dan mendung, tidak mengurangi keindahan pemandangan telaga di Kawasan Dieng ini. Doc pribadi.

Jika tidak sedang musim hujan, air di danau atau telaga ini, bersih dan bening. Ada kisah legenda yang melatarbelakangi Telaga Pengilon ini. Tentang dua ksatria yang membuat danau, serta sorang  Ratu dan Putri cantiknya yang membuat sayembara.

Banyak pohon endemik, akasia disana. Tumbuhan dengan warna-warna cerah, berada di kanan yang dipenuhi pohon. Serupa hutan, namun bisa tembus ke Batu Ratapan Angin dengan melalui anak tangga yang lumayan.

Di depan saya, tempat kami beristirahat selanjutnya, terdapat fasilitas musholla dan toilet.

Iringan melewati jalan setapak berupa conblok. Jalan ini membentuk lorong dari ranting dan batang pohon yang rendah, menghalangi pemandangan ke langit. Terlihat sedikit dari balik rantingnya.

Ada warung di ujung kanan jalan lorong ini. Lalu pandangan terbuka dan disuguhi pemandangan gunung dengan rerumputan yang menghampar. Mengikuti jalur saja, dan kita akan tiba di hutan lumut.

***

Jalan diantara goa-goa sekitar telaga.
Doc Ucrok, taken by ibu cantik

Tiga Goa

Memasuki kawasan hutan lumut, kita akan melalui tiga goa yang merupakan kesatuan dalam kawasan wisata Puncak Dieng.

Goa-goa yang terdapat di sekitarnya mempunyai kisah tersendiri. Selain Telaga Warna dan Telaga Pengilon yang menarik, goa-goa ini pun wisata yang bisa dilalui dengan sekali jalan. Menyusuri conblok yang kita lewati.

Iringan reuni sekolah angkatan lama yang terhitung sudah mempunyai cucu ini, mengitari telaga dan menjelajah goa-goa tersebut, meski hanya sampai di depan pintunya saja.

Tiga goa tersebut adalah Goa Semar, Goa Sumur, Goa Jaran.

Goa Semar (Pertapaan Mandalasari Begawan Sempurna Jati), sangat mudah dikenali, karena di depannya terlihat patung Semar. Ia seperti menjaga goa tersebut. Semar merupakan tokoh dalam pewayangan Jawa yang diciptakan oleh seorang pujangga Jawa.

Semar sendiri dalam pewayangan dikenal sebagai punakawan. Punakawan berasal dari kata pana yang berarti paham, dan kawan yang berarti teman.

Sosok Semar dikenal dengan sifat sabar serta nasihatnya yang bijaksana. Selain itu, ia juga menggambarkan  kehidupan manusia agar selalu ingat pada Yang Kuasa, juga dianggap memegakkan kebenaran dan keadlian dengan kain yang tergambar dari baju yang dikenakannya. Di kalangan spiritual Jawa, Semar dianggap sebagai simbol keesaan.

Di goa ini, orang biasanya melakukan semedi dengan tujuan keselamatan.

Goa kedua adalah Goa Sumur (Eyang Kumolosari). Sama seperti Goa Semar, sebuah patung berwarna kuning keemasan, berdiri di pintu kanan pintu goa.

Arca seorang wanita yang membawa kendi. Di goa ini, terdapat kolam kecil bertuah. Airnya dipercaya bisa menyembuhkan penyakit dan membuat kulit menjadi halus. Disamping itu, juga digunakan untuk upacara umat Hindu dari Bali untuk upacara Muspe dan Mabakti.

Airnya dikenal dengan Tirta Prawitasari. Dijaga oleh Eyang Kumolosari

Selanjutnya adalah Goa Jaran (Resi Kendaliseto). Dalam bahasa Jawa, Jaran berarti kuda.

Menurut kisah, seekor kuda beristirahat disana saat hujan deras. Ketika keluar, kuda tersebut berbadan dua. Dan akhirnya, masyarakat pun mempercayai bahwa jika ada pasangan yang sulit memperoleh keturunan, maka sang wanita bisa bersemedi didalamnya untuk memohon keturunan.

***

Batu Tulis dengan Batu Semar yang dipenuhi lumut pada badan batunya.
Doc pribadi.

Batu Tulis di Hutan Lumut

Hijau dan coklat, merupakan warna yang mendominasi lokasi ini selanjutnya. Kami melewati jajaran pohon-pohon, air telaga, batu-batu yang ditumbuhi lumut, goa dan tempat-tempat cantik lainnya.

Selain jalan setapak, kita juga akan melewati jalan tanah merah yang hampir keseluruhan batu-batuannya tertutup lumut. Sebaiknya mengunjungi tempat tersebut tidak saat musim hujan sih. Licin.

Wilayah Batu Tulis di hutan lumut.
Doc Ucrok, taken by ibu cantik.

Setelah melewati goa yang harum – menurut sebagian rombongan yang kami bawa, hidung saya sedang mampet ya ampun 😀 – kami tiba pada sebuah tempat yang agak lapang. Saat itu, rombongan berkumpul di satu titik. Ada batu besar dengan patung berwarna kuning di depannya. Serta sebuah batu, keterangan mungkin, di sebelah kanannya. Sebuah batu bertuliskan Legenda Batu Tulis.

Bentuk batu ini jika diperhatikan, sepintas menyerupai Semar, salah satu tokoh dalam pewayangan Jawa. Maka dari itu, disebut Batu Semar. Dipercaya oleh masyarakat sekitar, batu ini dulunya merupakan tempat bermeditasi bagi masyarakat Hindu. Di hari tertentu, ada sesaji yang diletakkan di depan Batu Tulis.

Selain itu terdapat pula arca Gajahmada yang berada pada peradaban Kerajaan Mataram Kuno dan Majapahit pun dekat dengan kepercayaan agama Hindu, ada di sebelah batu tersebut.

Batu Tulis yang terletak di pinggir Telaga Warna Dieng, berdekatan dengan Goa Jaran dan Goa Semar. Jika melihat dari kejauhan, batu tersebut tampak seperti bongkahan batu besar yang biasa saja. Tertutup oleh lumut hijau yang menempel di badan batu dan tanaman liar yang menumpang.

Dalam ruwatan cukuran anak gimbal Dieng, area Batu Tulis menjadi salah satu tempat prosesinya. Mereka akan dido’akan dalam ruwatan agar sukses dan mendapat kemudahan dalam belajar. Dijelaskan pula di batu tersebut, bahwa orangtua yang berdo’a memohon Pada Yang Kuasa mengenai kelancaran anaknya dalam membaca, akan terkabul.

Batu Tulis dan arca Gajahmada.
Doc pribadi.

***

Jika ditarik kesimpulan, Kawasan Wisata Dieng ini, memberikan penjelasan hidup yang saling berkesinambungan satu sama lainnya. Telaga, goa, dan batu tulis, wisata yang terdapat didalamnya.

Sikap manja tidaklah membawa kebaikan jika tidak diiringi kedewasaan pola pikir. Buatlah pilihan yang tidak merugikan orang lain maupun diri pribadi. Belajarlah untuk selalu berkata dan bertindak jujur (walau susah) di kehidupan sehari-hari. Karena pilihan kebaikan, sesungguhnya ada pada keputusan diri.

Segala keperluan dan kebutuhan, baiknya dilakukan bersama usaha, kerja keras, dengan tetap mengingat pada Yang Kuasa.

Heemm… kapan mau main ke Dieng kembali? Mungkin kesimpulan teman-teman, akan berbeda nantinya dengan terapan yang saya terima. Jangan lupa berbagi kisah yaaaahh.. (jie)

Telaga Pengilon di kawasan wisata Dieng.
Doc Ucrok, taken by mas guide.

 

***

Iklan

24 tanggapan untuk “Kisah Legenda Telaga, Goa, dan Batu Tulis Dieng”

  1. Jadi kangen ke Dieng lagi. huhuhu
    Dieng ini satu kawasan banyak “harta karun” tersebar. Candi Arjuna, telaga pengilon, termasuk Prau-Sikunir tersebar di beberapa titik yang nggak deket. perlu seminggu buat namatin. wkwk

  2. Baca tulisan ini kangen sama Dieng. Ke sana sudah lama sekali tapi beberapa tempat masih sama ya, masih terjaga keasriannya.
    Tulisannya lengkap euy dengan legenda tempat tersebut. Terus bacanya kayak nostalgia gitu deh.
    Nice…

    1. Mb donnaaaaaa
      Deuh dibaca mb anteng rasanya adem beneeeerrr… Semoga mengobati kerinduannya pada Dieng yah mb sayaaanngg 😘

      Masih harus belajar lagi ejie menyampaikan pesannya. Hheheh

  3. 2016 lalu aku dan suamiku ke Dieng setelah gagal inseminasi, buat refreshing, Dieng wisata murmer tapi indah dan banyak tempat yang bisa dijelajahi, aku pun 2hari satu malam di dieng waktu itu

    1. Teh Vita, kumaha damang??

      Dieng memang menenangkan yah teh? Selalu bikin adem hati dengan suasananya. Apalagi kalau malam. Bobok nyaman dalam selimut 🛀 wkwwkkkw dingin!

  4. Dieng? Pasti adem ya mbak?
    Wah danaunya indah banget, kalau gak musim hujan pasti lebih bagus lagi ya?
    Suka sama wisata2 yang ada cerita2 legenda2 yg melatarbelakanginya gtu TFS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s