The Beach

Kemping Fana Merah Jambu di Pantai Srau Pacitan

Yap, sunrise Srau! ❀
Doc Ninuk Sawitri

Pacitan, kota dengan julukan seribu goa ini, mempunyai pantai-pantai indah yang masih sangat alami. Pasir putih, ombak besar, air biru, hijau maupun tosca, sangat menggoda! Satu diantaranya adalah Pantai Srau. Ugkhh, sudah kangen aroma laut. Yuk, main! πŸ˜‰

***

Kami yang berlibur.
Doc Andy Mahfudin

Yogyakarta ke Pacitan

Kendaraan sewaan berisi lima orang beda karakter dari Jakarta dan Bekasi, melaju di siang terik hari itu. Kereta kami tiba pukul 09.00 wib di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta, kesiangan. Dua jam dari yang seharusnya pagi, kami sudah memulai perjalanan dengan sejumlah itinerary santai yang tidak terekam di otak.

Tujuan utama setelah sampai di Yogyakarta adalah mengisi perut yang sudah sangat lapar. Berhenti di salah satu warung mie bakso yang menurut kami, rekomen. Kenapa? Soalnya bakso kejunya enak banget πŸ˜€

Melanjutkan perjalanan ke Pacitan, berhenti di salah satu masjid dan menunggu kedua teman ganteng kami sholat Jum’at. Setelahnya mencari pom bensin, mandi, sholat bagi para wanita dan lalu jalan kembali.

Berada di Dusun Srau, Desa Candi, Kecamatan Pringkuku, Pacitan, kami menjelajah Pantai Srau yang memiliki tebing tinggi dan batu karang di setiap pantainya. Tiap karang, megingatkan saya akan cerita Desa Rammang-rammang di Makassar.

Pada karang yang terlihat, selalu tertanam kisah, bahwa dulunya dataran tersebut merupakan bagian dari bawah laut. Sebab itulah karang-karang tersebut tampak di daratan, kini.

Sore itu, saya bertemu Pak Ponimin yang sudah tinggal selama 40 tahun di sekitar Pantai Srau. Ia menceritakan tentang tiga pantai berbeda yang ada di wilayah pantai tersebut.

Ketika akan difoto, ia berujar, “Mbak, jangan difoto. Malu saya. Kalau cerita saja, ndak apa,” sambil menutupi mukanya dengan handuk biru yang menggelantung di badannya sejak kami bertemu.

Orang lokal yang tidak terlalu ingin difoto, sangat jarang. Ia lebih senang membagi cerita Pantai Srau dengan saya, dibanding dipotret. Baiklah, saya akan bercerita disini.

Senja sudah mulai memanjakan mata. Kami mengitari pantai yang terbagi menjadi tiga bagian ini sebelum memutuskan akan kemping dimana.Β Keempat teman saya, sudah mulai menaiki tangga di area ketiga Pantai Srau, yakni Pantai Nggampar dan Pantai Duto.

Ehmm.. sudah tidak sabar mengejar langkah mereka dan melihat senja kembali ke peraduannya.

***

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pantai Srau, Spot Sunrise Kece

Butuh waktu empat jam, berkendara dari Yogya ke Pacitan. Langit cerah ketika kami memasuki gerbang Pantai Srau ini. Jalanan rapi beraspal dengan hijau di kanan kiri jalan.

Petugas gerbang memberhentikan mobil dan memberikan tiket masuk seharga IDR 5K per orang. Cukup murah masuk ke pantai tersebut untuk sekadar bertandang, maupun bermalam.

Dari pintu masuk, kita akan menjumpai pantai pertama yakni Srau.

Kami memutuskan kemping di pantai pertama ini yang dikenal dengan Pantai Srau. Tempatnya lumayan luas dengan jajaran warung di belakang deretan pohon kelapa. Ada gazebo beratap biru tempat berleyeh-leyeh disana.

The gazebo
Doc Ninuk Sawitri

Fasilitas kamar mandi juga ada. Hanya saja saat itu air di kamar mandi Pantai Srau area pertama, sedang mati. Jadi kalau mau ke toilet, kami ke area dua.

Jika kita menghadap laut, maka di sisi kanan, terlihat bukit dimana kita bisa melihat keseluruhan pantai dari atasnya. Tersedia dua gazebo beratap merah juga disana. Di sekelilingnya terdapat pohon-pohon hijau yang kontras memperlihatkan gazebo bercat krem itu.

Untuk naik ke atas, tersedia tangga rapi yang sudah di beton. Kita bisa naik dengan aman untuk menikmati suasana sore hari, mapun matahari terbenam dari bukit di sebelah kanan tersebut.

Di sisi kiri, terlihat bukit-bukit lain yang menjauh. Pohon menghias di sekitarnya.

Kalau ingin melihat fajar menyingsing, sisi utama dari Pantai Srau ini, merupakan spot yang terbaik. Cukup mendirikan tenda atau menggantung hammock saja, kita bisa bisa bermalam menikmati milkyway di sepanjang langit pantai. Lalu paginya, menantikan matahari terbit. Indah.

Pasir pantainya lembut, berwarna putih kecoklatan. Antara pasir pantai tempat kemping diberi pembatas, agar air laut tidak naik saat pasang. Terkesan basah, air laut di Pantai Srau dengan ombaknya, menghantarkan buih-buih hingga ke bibir pantai. Kaki akan memblesek (masuk) ke dalam ketika menjejaknya, gemas!

***

Srau yang memikat ❀
Doc Andy Mahfudin

Pantai Wayang, Sisi Kedua Pantai Srau

Berada di sisi sebelahnya. Belok kanan dari sisi pertama, ikuti jalan beraspal dengan pohon kelapa di kanannya. Begitu turun kendaraan, terlihat dari balik rimbunan tanaman berakar, pantai berpasir putih dengan air laut biru dan gulungan ombak di kejauhan.

Pantai Wayang adalah sebutan Pantai Srau area kedua. Jika teliti, area pantai ini ditandai dengan batu penanda bertuliskan Situs Pantai Srau yang terpahat, di kiri jalan. Lalu tempat berteduh dengan keramik hijau beratap merah, menyerupai halte bus.

Tentang Srau
Doc Andy Mahfudin

Menghadap laut, kita akan melihat gugusan karang yang ditumbuhi tanaman. Di kanan pantai tampak cekungan bukit dari pantai sebelah, Pantai Duto. Di tengah, terlihat dua buah karang juga, terpisah dan kecil. Kemudian di kiri, karang panjang. Mungkin kalau mendekat, bisa tiga kali lebih tinggi dari tubuh saya.

Dikatakan Pak Ponimin, di pantai tersebut terdapat karang panjang yang tengahnya bolong. Mungkin kalau dilihat dari ketinggian, kita bisa mengerti mengapa pantai tersebut dikatakan Pantai Wayang.

Pantai Wayang, bagian dari Srau.
Doc Andy Mahfudin

Jika dilihat lebih teliti, di pantai ini, dari pangkal batu karang yang memanjang dengan karang bolongnya ini, terlihat seperti kepala buaya atau penyu ya? Berkali-kali saya memperhatikannya secara langsung, karena sedikit merasa aneh. Namun akan tampak jelas jika kita melihatnya setelah difoto.

Karang panjang menyerupai buaya atau penyu ini, panjang hingga ke ujung karang. Di tengah pada karang bolongnya terlihat seperti bagian perut yang mengangkat. Air laut mengalir diantara karang bolongnya. Hijau dan tosca dengan putihnya ombak yang menghantam sisi luar karang.

Warna air lautnya sangat jernih, sehingga membuat mata terlihat segar ketika pagi hari setelah menanti sunrise, kami bermain disana. Langit membiru dengan bentuk awan yang jelas. Pasir pantai putihnya begitu lembut. Berbulir hingga terasa di jemari.

Karena ada larangan yang menyatakan bahwa Pantai Srau tidak untuk mandi-mandi di laut, maka tidak seorang pun dari kami yang mencoba berenang. Meski di pinggiran pantainya.

Hempasan ombak terlihat kencang diantara karang. Tidak ingin terjadi apapun kan, ketika sedang berlibur? Jadi cukup memandang, menikmati pemandangan dan aroma lautnya, serta menyimpannya dalam-dalam pada sudut hatimu saja tentang keindahan laut di depan mata.

***

Bukit diatas Pantai Nggampar.
Doc pribadi

Sunset Pantai Nggampar dan Pantai Duto

Area ketiga merupakan spot favorit para penyuka senja. Dari arah Pantai Wayang, area kedua, Anda tinggal mengikuti jalur beraspal. Posisi pantai ketiga, terlihat setelah kita melewati fasilitas kamar mandi berpintu empat. Ada musholla juga disana. Beberapa warung tampak tutup di area ini. Tidak ramai seperti di area pertama. Mungkin karena tidak terlalu ramai yang kemping di area ini.

Disini, juga terlihat tempat berteduh. Beberapa tanaman berakar, terlihat disana. Pohon kelapa pun terlihat di sudut kanan pantai ini. Cocok pula bagi Anda yang ingin kemping hammock atau tenda. Pasir pantainya luas.

Di penghujung pasir pantai berkarang, terdapat pantai lagi dengan bangunan serupa homestay atau penginapan. Sepi, tidak ada orang yang kelihatan lalu-lalang disana.

Andy Mahfudin, Ninuk Sawitri, mendahului menaiki tangga di sisi kiri untuk mendapat pengambilan gambar yang bagus. Marta Ocha diikuti Andri Priyono mengekor di belakang mereka. Sementara saya masih asik mendengarkan Pak Ponimin yang antusias bercerita pantai-pantai di area Srau ini.

β€œAda dua bukit di atas sana, mbak. Terdiri dari karang-karang yang menyembul dari bukitnya. Senja disana bagus. Karena melihatnya dari atas, kita bisa juga menikmati Pantai Duto. Senjanya juga bisa terlihat dari Pantai Nggampar ini juga kok,” terangnya sembari menunjuk langit di atas kami yang mulai berpendar jingga berpadu biru dan merah jambu.

Dikatakannya, wilayah Pantai Srau ini, terbagi-bagi pantainya. Saya mulai menghitung pantai-pantai yang disebutkannya.

β€œKok ada empat pantai disini, Pak? Kenapa yang pertama disebut Srau? Padahal kalau dihitung, empat pantai yang bapak jelasin?” tanya saya.

β€œSemuanya disebut Pantai Srau, mbak. Hanya pembagiannya saja. Sudah begitu sejak saya tinggal disini,” katanya. Heemm… baiklah. Saya pamit menyusul teman-teman yang mulai menghilang dari pandangan.

Tangga mengarah ke atas, lalu sepanjang mata memandang, jalanan bukit yang saya lewati ini, benar-benar layaknya cerita Daeng Beta di Desa Rammang-rammang. Batu-batu karang tersembul dari dasar bukit berumput ini. Sebaiknya berhati-hati juga sih jalan disini. Beberapa pijakan batu, goyang.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Cekungan-cekungan di Pantai Srau ini, membentuk pantai-pantai seperti yang diceritakan oleh Pak Ponimin. Benar, di kiri jalan padang bukit ini, terdapat pantai juga. Pantai Duto namanya.

Tidak ada jalan yang menunjukkan bisa menyusuri pantai bawahnya. Hanya batu-batu. Kelihatan dengan air yang langsung menyatu dengan bibir pantainya. Pasir basahnya terlihat dari atas, membentuk batas antara air bening berpasir coklat, dan air laut yang berombak. Kontras. Sedang surut dan mungkin hanya sekitar mata kaki atau betis orang dewasa kalau berjalan di bawah sana. Entahlah..

Pantai Duto diapit oleh dua bukit. Memanjang di kiri dan agak meninggi di kanan. Pada sudut kanannya, menyambung dengan bukit cekungan dari Pantai Nggampar.

Padang bukit yang luas. Sekitar 5 menit saja jalan, kaki telah sampai dimana keempat teman saya sibuk menatap senja bergulir. Mereka mengambil gambar dari berbagai sudut.

Di depan kami, jajaran batu-batu karang hitam membentang hingga ke bagian bawahnya. Menjulang sebatas paha, dan leher saya. Hati-hati biar ngga terpeleset dan jatuh terkena goresan dari batu karangnya.

Saya melihat sisi kanan bukit dan segera saja berjalan naik ke atasnya. Sampai di atas, tampak Pantai Nggampar yang luas. Tidak ada dataran luas diatas. Kaki saya hanya bertumpu pada batu datar. Kira-kira setengah langkah saya saja. Tidak bisa bergerak ke arah lainnya. Tidak ingin beresiko salah injak batu yang menyebabkan pijakan tidak stabil.

Diatas sana, selain batu karang hitam, hanya ada tumbuhan merambat yang ada disela-sela batu. Tumbuh subur agar tak hanya hitam menghiasi.

Sebentar setelah melihat diatas, dan mengarahkan pandangan pada kedua belahan pantai berbeda, saya turun, bergabung dengan teman-teman di bawah.

Warna merona masih berpendar indah di sekitar langit wilayah Pantai Srau. Dari kuning, jingga, biru dan merah jambu, hingga meredup meninggalkan kesan syahdu pantai ini. Adzan maghrib terdengar di balik bukit yang terbawa pada hembusan angin dan ombak Pantai Srau. Lampu-lampu dari sinar senter dihidupkan, menerangi langkah-langkah kaki kami kembali ke tempat kemping di pantai utama. (jie)

Bersantai di Srau.
Doc Andy Mahfudin

***

 

 

Iklan

12 tanggapan untuk “Kemping Fana Merah Jambu di Pantai Srau Pacitan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s