wisata kota

Rindu Kawah Sikidang, Dulu atau Sekarang?

Kawah Sikidang ketika langit cerah.
Doc pribadi

Penampakannya tetap sama. Penambahan spot wisatanya yang berbeda. Perbedaan tahun, jelas terlihat di pandangan mata saya. Spot-spot kekinian, kini menjamur hingga ke kawasan berbelerang juga. Dimana kisah Pangeran Kidang dan anak gimbal bermula.

***

Kawah Vulkanik Sikidang

Plang masuk Gunung Api Dieng, Kabupaten Wonosobo
Doc Ucrok

Posisi kami belumlah terlalu dekat dengan pintu masuknya. Aroma belerang yang menyengat, segera memburu menghampiri indera penciuman tatkala kaki melangkah memasuki pintu masuk Kawah Sikidang. Cekungan kawah ini timbul akibat aktifitas gunung berapi di Dataran Tinggi Dieng.

Secara geologi, Kawah Sikidang ini terbentuk dari batuan andesit berwarna abu-abu kehitaman. Perubahan komposisi terjadi akibat larutan hidrothermal sehingga warna batuannya berubah menjadi putih kekuningan.

Pemunculan panas bumi yang berkembang pada Kawah Sikidang antara lain:
1. Fumarola, merupakan manifestasi/pemunculan panas bumi yang berupa semburan air dan uap air. Suhu semburan berkisar 50 derajat celcius dengan luas semburan sekitar 1 meter.

2. Mudpool, merupakan kolam berisi lumpur panas berwarna coklat-abu-abu tua pekat. Bersuhu 80 derajat celcius dengan luas kolam berkisar 4 meter. Lumpur panas berasal dari pelarutan batuan oleh larutan geothermal yang besifat asam.

3. Solfatara. Kehadirannya ditandai dengan semburan panas berwarna putih dengan suhu sekitar 40 derajat celcius yang berasosiasi dengan batuan terliterasi berwarna putih dan endapan sulfur berwarna kuning.

(Sumber: Papan Informasi Kawah Sikidang, dokumentasi foto pribadi).

Semenjak kendaraan kami memasuki kawasannya, bila kita tidak sigap, berbondong-bondong para penjual masker mengerubuti agar membeli penutup hidung tersebut.

Kalau tidak membawa masker, mereka sedia menjualnya. Tiga lembar masker seharga IDR 5K. Cukup murah, sekalian membantu usaha mereka, para penjual lokal, kan?

Kepulan asap putihnya yang membumbung, menyapa kami dari kejauhan. Meskipun aktif, kawah ini masih aman untuk dikunjungi. Hanya sebaiknya, para pengunjung disarankan untuk tetap berhati-hati dan memakai masker agar tidak terlalu menghirup asap belerang tersebut.

Pengunjung bisa melihat aktifitas vulkanik berupa semburan lumpur coklat abu-abunya di bibir kawah tersebut dalam batas yang diizinkan. Semburan air dan asapnya mengandung belerang yang tinggi.

Gumpalan belerang di kawah.
Doc pribadi

Suhu di permukaan utamanya bisa mencapai 80-90 derajat celicius. Lokasinya cenderung landai, namun jangan terlalu dekat dengan kayu pembatasnya, karena akan berbahaya.

Kawah vulkanik aktif ini letaknya bisa berpindah-pindah. Orang menyebutnya sebagai kijang yang melompat.

Kidang dalam bahasa Jawa, berarti kijang.

***

Sikidang waktu itu
Doc pribadi

Legenda Sikidang dan Anak Gimbal

Kawasan Dataran Tinggi Dieng, memang mempunyai banyak tempat wisata yang diminati pengunjung. Kawah Sikidang merupakan satu diantaranya.

Kawah yang terletak di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa tengah mempunyai kisahnya sendiri, di zaman itu.

Legenda Pangeran Kidang Garungan yang berbadan manusia dan berkepala kijang ingin meminang seorang putri bernama Shinta Dewi, sangat terkenal.

Pangeran Kidang, terkubur pada sumur galiannya sendiri karena sang putri yang tidak ingin dipinang dan mencari akal untuk menimbun sang pangeran.

Akibat sang putri yang mengingkari pinangannya, sang pangeran bersumpah, bahwa keturunan Shinta Dewi akan berambut gimbal pun, menjadi kisah unik dari Dataran Tinggi Dieng.

Kisah anak gimbal menjadi daya tarik tersendiri. Menurut adatnya, rambut anak gimbal tidak boleh dipotong sebelum si anak memintanya. Ritual pemotongan rambut anak gimbal, biasanya dilakukan di Komplek Percandian Arjuna, Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara, tiap tahun.

***

Kawah Sikidang Dulu

Waktu yang berbeda, tahun yang bertambah, spot wisata di sekitar Kawah Sikidang pun mengalami perubahan. Perubahan terlihat jelas.

Tahun dimana saya berkunjung di waktu lalu tidaklah sama. Pintu masuk Kawah Sikidang kini ada huruf besar yang tertampang bertuliskan SIKIDANG.

Pintu masuk dengan tulisan SIKIDANG yang besar.
Doc pribadi

Dulu, pintunya biasa saja. Malah kesannya luas banget. Pemandangannya pun enak diilhat. Langit cerah, putih menghampar di sekeliling. Beberapa penjual belerang ada disana. Mereka menjual belerang yang dipercaya bisa mengurangi penyakit gatal-gatal, eksim, kulit seperti kadas, kurap dan panu, hanya terlihat beberapa saja.

Selain bubuk, belerang juga dijual masih dalam bentuk serupa bongkahan batu kecil. Berwarna sedikit kekuningan. sederhana, hanya berbungkus plastik untuk bongkahannya. Dulu harganya sekitar IDR 3K-10K.

Kawasan wisata Kawah Sikidang ini, dulunya masih penyewaan kuda, permainan sepeda dan motorcross. Sekarang sepertinya tidak terlihat. Apalagi kudanya.

Alunan musik yang masih ada hingga sekarang. Musik kreasi dengan memanfaatkan barang bekas.
Doc pribadi

Satu hal yang membuat saya merasa sama adalah musik yangg tetap mengalun ketika kaki mulai menginjak tanah yang berlapiskan belerang. Kuning kehijauan dan abu. Asap dari kawah pun terlihat memenuhi langit sekitar.

***

Mamah Depil di Sikidang.
Doc Ucrok, taken by me

Spot Foto yang Menjamur

Kini, sejumlah spot foto kekinian, hadir disana. Spot foto meliputi bunga matahari, lambang hati, jembatan kecil, motorcroos, mobil jeep, tulisan Dieng. Ada pula patung hewan seperti panda, gorilla hingga berfoto bersama kawanan burung hantu. Yang suka terbang dengan flying fox pun ada. Tinggal pilih suka spot foto yang mana.

Kawah Sikidang jejak masuk.
Doc pribadi

Per spot yang ada, kita bisa berfoto dengan tarif IDR 5K. Ada beberapa spot berdekatan yang bisa berfoto dua spot, tarifnya IDR 5K. Jadi ya tergantung siapa yang menjaga tempat tersebut.

Seperti pak Wasir yang mempunyai spot burung hantu dengan latar pohon kering serta pemandangan Kawah Sikidang di belakangnya. Ia menerapkan tarif berfoto dengan dua spotnya saja, IDR 5K.

Namun, jika berfoto dengan burung hantu, dikenakan 5K per spotnya. Jumlah fotonya bebas, tidak ditentukan. Asal jangan lupa saja, kalau banyak antrian yang ingin mengambil gambar dengan burung hantunya.

Spot burung hantu ini, paling diminati pengunjung.

Ada dua tempat untuk berfoto bersama burung hantu. Selain dengan pak Wasir dan teman-temannya, bisa juga di spot burung hantunya tempat mas yang anteng berkacamata. Hhahaha saya lupa namanya. Rata-rata para pemilik burung hantu ini, enggan kalau diambil gambarnya. Mereka tidak mau dengan sengaja dipampangin wajahnya.

Saya tanya, “Kalau tidak sengaja ikut terfoto saat memotret teman, bagaimana, pak?”

“Kalau tidak sengaja ya silahkan saja, mbak. Toh saya pasti sedang melayani tamu, bukan ingin sengaja berfoto,” ujar si bapak bertopi lebar yang mengelus Caca, burung hantu berjenis Bobo Sumatranus yang bertengger di lengannya.

***

Jajanan Lokal

Tidak dipungkiri, tempat wisata adalah lokasi dimana kita bisa membawa pulang berbagai macam buah tangan bagi orang terkasih di rumah. Entah makanan, souvenir, maupun hanya sekadar foto, tentu akan membuat cerita tersendiri.

Selain melihat kawah vulkaniknya, berfoto di spot foto yang menjamur, kita juga bisa jajan senang oleh-oleh dan souvenir khas Dieng di sekitarnya.

Banyak kok. Ada carica, kentang Dieng yang terkenal pulennya, tempe kemul, purwaceng, terong belanda, jambu, topi khas Jawa, dan lainnya.

Walau banyak jajanan, entah mengapa, saya merasa tempat tersebut kurang tertata rapi kiosnya. Dulu rasanya tidak begitu euy

***

Sikidang Dulu Dalam Ingatan Saya

Mungkin saya termasuk orang yang sedikit kolot yah? Saya memang lebih menyenangi pemandangan Kawah Sikidang, dulu. Ketika saya pertama kali kesana setelah turun gunung tektok triple S.

Ya, Dieng adalah jajaran bonus yang diperoleh ketika main berkunjung bersama Ky Merah, Errore dan bapak supir setia keluarga Ky yang rajin menjemput kami setelah mendaki di Jawa Tengah.

Dua sahabat menggunung.
Doc pribadi

Masih jelas di ingatan saya, bahwa Kawah Sikidang dulu, sangat menarik. Tidak penuh photobooth yang ramai. Orang hanya berpusat pada kunjungan ke kawahnya. Mencari tahu tentang legenda yang berkembang disana, melihat aktifitas penduduk sekitar yang mencari penghasilan dari wisata kawahnya.

Dulu, masih ada loh penjual telur yang bisa memprakekkan memasak telur rebus di sela-sela air yang keluar dari cekungan-cekungan kecilnya. Telur-telur itu dimasak dalam kantung plastik bening. Atau ada juga yang memasak menggunakan panci, meletakkannya diatas air mendidih dengan asap putih halus di beberapa titik yang tampak. Bukan di kawah besarnya itu.

Kami tidak terburu-buru jalan-jalan di sekitar sana. Menikmati tiap langkah yang ada. Melihat berkeliling kawah yang sarat dengan aroma belerang. Meski begitu, pemandangannya tampak alami tanpa banyak spot-spot kekinian yang terasa sempit.

Kalau diperhatikan, bermain flying fox di tempat demikian bukankah bisa tidak aman bagi para pengguna permainannya yah? Kita kan ngga tahu berapa lama waktu yang dipunya sling baja flying fox itu bertahan terhadap udara dan kandungan asap belerang yang ada disana?

Wkwkwkkk waktu itu belum jilbaban deh 🙂
Doc pribadi, taken by Errore

Atau mungkin, kalau boleh berkata, pemerintahnya bisa dong menertibkan, kerjasama atau bagaimana deh dengan kondisi Kawah Sikidang sekarang? Bukan berarti menarik minat pengunjung, segala sesuatu diperbolehkan ada disana yang justru menurut saya mengurangi nilai natural yang ada di tempat wisata tersebut.

Terkadang, tidak semua tempat terasa bagus dengan penambahan-penambahan yang ada. Membuatnya tampak alami, bukankah artinya turut melestarikan alam juga?

Lalu, bagaimana pendapatmu yang sudah berkali-kali ke tempat wisata yang sama, namun merasa tidak cocok dengan penambahan yang ada?

Saya bukan asli orang Jawa Tengah, tapi beberapa kali, saya lekat dengan Jawa Tengah. Terkait jalur main saya yang juga bolak-balik antara Bekasi-Jakarta-Jawa Tengah. Jadi, bolehkan peduli dan mengungkapkan rasa?

Membangun bukan berarti harus melihat, mengikuti dan diam saja, bukan? Mengungkapkannya melalui tulisan, saya rasa, kita juga turut peduli pada tempat wisata yang menurut kita berpotensi dengan kealamiannya. Jadi bagaimana seharusnya kita bersikap? Salam lestari, sayangi bumi dan tempat wisata ❤ (jie)

At that time
Doc pribadi, taken by Ky Merah

***

Iklan

8 tanggapan untuk “Rindu Kawah Sikidang, Dulu atau Sekarang?”

  1. Sikidang. Aku belum tahu kawasan ini. Juga belum sempat main ke kawasan Dieng hahhahahaha …. kunonya gueeee wkwkwkwkw btw aku paling suka tandang ke pesona alam gitu …. kalo di lampung ada banyak kawasan gheotermal atau panas dan uap bumi gitu. Yang ini juga menarik buat didatangi langsung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s