simple CULLINARY

Si Empuk Mendo Batibul, Kuliner Sate Kambing Muda di Tegal

Sate mendo batibul, enaaaaaakk ~
Doc Ucrok, taken by me

Sate? Pasti banyak yang suka makan daging yang ditusuk-tusuk lidi ini. Kalau sate kambing muda? Mendo batibul? Mungkin saya yang baru mendengar kalimat itu. Jadi kuliner ini wajib coba dong yah? Yuk!

***

Sate Populer

Sate, kuliner populer di Indonesia.
Sumber Google

Mobil putih berisikan rombongan reuni sekolah tersebut, berhenti di depan sebuah rumah makan yang di dominasi cat berwarna hijau dan kuning di dalamnya. Mata saya mengarah pada daging-daging yang bergantungan di lemari kaca tersebut. Tusukan-tusukan daging yang dipotong kecil sudah membentuk jumlah tusuk yang dipesan pengunjung Wendy’s, rumah makan sate kambing muda ini. Siap panggang.

Sate yang berasal dari Jawa, Indonesia, dipanggang menggunakan lidi atau bambu diatas arang kayu. Selanjutnya akan dikipas-kipas, dibolak-balik untuk menghadirkan cita rasa dan aroma yang khas dari daging panggangnya.

Indonesia merupakan negara paling populer dengan hidangan nasional terbaiknya. Berawal pada abad ke 19 di Jawa, pedagang makanan di jalanan mulai dikenal.

Sate mempunyai berbagai jenis dan varian rasanya. Bumbu satenya diberi saus. Bisa saus kacang ataupun kecap. Penyerta lainnya berupa acar mentimun, bawang merah, tomat dan cabe rawit. Ada pula sambal ulek yang ditumpuk banyak pada porsi masing-masing sambal. Tergantung daerahnya. Sate bisa dimakan bersama nasi maupun lontong atau ketupat.

BacaSate

***

Rumah Makan Wendy’s

Rombongan reuni masuk melalui pintu samping berdinding oranye. Dari pintu masuknya terpampang tulisan Wendy’s, besar, terlihat dari luar. Saya orang terakhir yang memasuki ruangan tersebut.

Meja luar dekat lemari kaca.
Doc Ucrok, taken by me

Berada di Jalan Letjen Suprapto nomor 59, Pasar Sore, Tegal, Rumah Makan Wendy’s ini ramai. Pengunjung di hari libur sepertinya meningkat. Yang saya baru ngeh, ternyata rumah makan ini kerap dikunjungi oleh pejabat dan artis yang memberikan testimoninya, tertata pada dinding di ruang depan.

Terdapat dua ruang makan di sini. Tepat dekat meja kasir depan, berhadapan dengan lemari kaca berisi daging dan tempat panggang di luarnya. Sedangkan ruang kedua, berada di di belakangnya dengan dominasi bangku dan meja panjang oranye, hijau dan biru. Satu deretan bangku dan meja tersebut, cukup untuk 8 orang duduk berhadapan.

Jika di dalam penuh, bisa duduk di luar juga, di sebelah lemari kaca daging. Tersedia dua meja besar dengan kursi-kursi bulat disana.

Di ruang belakang, tersedia deretan teh poci yang terbuat dari tanah liat tertutup kantung teh poci agar tidak berdebu.

***

 

Sate Mendo

Sate kambing di Tegal, berbeda dari sate kambing lain. Potongan dagingnya relatif tebal dan empuk. Berpadu dengan lemak daging kambing, variasi dari tusukan pada sate kambingnya.

Kami memesan daging sate kambing yang dikenal dengan nama MENDO. Mendo adalah sebutan sate kambing muda atau sate kambing BATIBUL (bawah tiga bulan).

Mungkin batibul ini yang membuat daging kambing menjadi empuk ya? Masih tiga bulan umur kambingnya, bisa jadi dagingnya ngga alot (keras), kan? Belum tahu juga sih saya. Kan belum pernah makan sate kambing muda.

Biasanya saya tidak terlalu makan sate kambing kalau ngga kepengin banget. Ngga bisa gigit karena pakai behel giginya, waahahaha.. Selain itu, sate kambing kan cenderung susah digigt dan ditelan buat saya, sering kelolotan (nyangkut di tenggorokan), jadi ngga terlalu berminat pesan.

“Ejie mau pesan apa?” Ucrok bertanya karena memang ada pilihan lain pada menu yang tertera di dinding belakang kami.

“Ngga, nanti cicip saja,” kata saya.

Hahhahaa.. saya ngga kuat makan sate kambing dalam satu porsi yang biasanya berisi sepuluh tusuk. Suka keliyengan, pusing. Jadi saya memilih untuk mencicipi saja.

Nampan-nampan berisi pesanan kami, penuh dengan sate mendo berasap karena baru dipanggang, nasi hangat dan minuman teh juga jeruk. Gesit, para pelayan meletakkan di tiga meja panjang kami berada.

Sate mendo di Wendy’s tidak dilumuri kecap saat memanggangnya. Polos begitu saja. Aroma daging kambingnya juga tidak menyengat seperti sate kambing lain yang pernah saya makan. Minyaknya keluar dari daging dan gajih mendo yang tertusuk di lidi. Mungkin sedikit direndam garam agar tidak amis daging. Bersih.

Ucrok, pak supir dan saya, hanya memesan dua porsi sate mendo dalam satu hotplate. Untuk menjaga agar daging sate mendo tetap panas dan empuk, sajiannya ditaruh di atas wadah penghantar panas.

Dengan adanya hotplate ini, membantu gajih (lemak) yang ada diantara tusukan daging yang meleleh tetap lembut dan tidak lengket di langit-langit lidah. Cukup lama kami makan, sajian tetap ada dalam temperatur sesuai.

Penyerta sate mendo ini, piring-piring kecil berisi kecap dengan satu sendok makan penuh sambal ulek. Lalu ada irisan tomat dan bawang merah di piring kecil lainnya.

Kecap merk “Kambing” khas Tegal.
Sumber Google

Kalau kecapnya masih kurang, disediakan kecap botol ukuran besar buatan lokal Tegal di meja. Kecapnya merk Kambing, bergambar domba. Kental dengan manis pas dan aromanya enak. Apalagi dipadu sambal, uggkhhhh…

Kami mulai mengambil tusukan sate sambil sesekali ngobrol tentang sate ini. Ehh, tanpa terhitung, ternyata saya sudah sedikit mulai pusing. Mata saya melihat lidi-lidi yang sudah kosong dan terletak diantara piring makan kami. Haa??? Tusukan sate saya paing banyak! Aaakk.. pantas pusing, kebanyakan! 😀

“Habiskan makannya. Kan ngga makan nasi,” kata Ucrok melihat tersisa tiga tusukan lagi di hotplate.

”Ngga mau. Pusing. Kenyang, Crok…” meringis. Sembilan tusuk sate, saya makan dengan irisan tomat, bawang merah, dilumuri kecap dan sambal, membuat lupa daratan. Wah, wah.. porsi berlebih buat kepala saya ini. Sementara pak supir hanya kuat dua tusuk sate, selebihnya Ucrok.

Ihh padahal tadi cuma mau cicip, jadi makan banyak satenya gara-gara empuk. Lupa! bhahahhahha

“Paling nanti pada tidur semua di mobil. Sudah kenyang pada makan sate soalnya,” Ucrok nyengir.

Selain sate kambing mendo, di Rumah Makan Wendy’s tersedia pula, GARANG ASEM KAMBING, gulai kambing dan sop kambing.

Garang Asem ini disini, serupa dengan sop. Kuah beningnya diberi air perasan asam jawa dengan bumbu racik dapur Wendy’s. Aroma asam jawanya semerbak memasuki indera penciuman begitu terhidang di meja. Ditambah dengan adanya belimbing wuluh serta irisan cabai kalau ingin pedas. Menambah nikmat selera makan. Waaaahh.. ngences ini. Sedap!

Isiannya berupa daging kambing muda juga. Ada sedikit tulangnya. Seperti sop tulang gitu mungkin. Ngences sih saya nya, tapi belum tertarik pesan dan cicip karena sate mendo saja sudah cukup membuat bintang-bintang di sekitar kepala saya.

Teh poci Wendy’s
Doc Ucrok, taken by me

Oiya, jangan lupa memesan teh poci Tegalnya ya? Satu poci bisa minum sampai 3-5 gelas kecil yang disediakan. Teh pocinya enak dengan suguhan gula batu di dalamnya. Ngga terlalu manis. Pesanlah panas, karena akan membantu melancarkan sate kambing larut dalam perut dengan nyaman. Hhehheeh

***

Harga per Porsi

Daftar harga sate mendo batibul.
Doc Ucrok, taken by me

Kuliner sate mendo di Tegal ini wajib coba deh. Enak banget. Saking empuknya, sampai lupa kalau ngga bisa makan banyak sate kambing. Setelah berasa pusing, baru ngeh kalau sudah banyak tusuk daging sate yang saya kunyah.

Satenya ada dua macam. Sate campur dan sate daging polos/SP. Harganya juga beda sedikit kok.

Untuk sate campurnya, 5 tusuk seharga 22.000, 10 tusuk seharga 45.000, 15 tusuk seharga 67.500, 20 tusuk seharga 90.000. kemudian 25 tusuk seharga 112500 dan 30 tusuk seharga 135.000.

Sementara sate daging polos/SP, 5 tusuk seharga 25.000, 10 tusuk seharga 50.000, 15 tusuk seharga 75.000, 20 tusuk seharga 100.000, 25 tusuk seharga 125.000 dan 30 tusuk seharga 150.000.

Harganya amazing ya, kan? lebih mahal dari harga sate ayam atau sate kambing biasa. Meskipun sama-sama sate kambing, namun harga sate kambing mendo ini, jauh diatas rata-rata. Siapkan isi dompet kalau mau kuliner sate kambing ini ya? Atau patungan dengan teman, juga asik kok 🙂

***

Jam Operasional Wendy’s

Jika Anda berniat kesana, datanglah sebelum pukul 16.00 wib karena sate kambing muda ini, cepat sekali habisnya. Buka sejak pukul 10.00-16.00 wib. Sebentar saja dan selalu ludes. Saya sampai terlongong ketika bertanya jam operasional.

“Tutupnya jam berapa, pak?”

“Ini sudah tutup, mbak. biasanya sebelum jam 16.00 wib, sudah habis,” ujar si bapak berbaju hijau yang tengah membersihkan kaca tempat daging-daging tadi digantung.

Saya melihat arloji stainless di tangan kiri, baru pukul 15.10, tapi ia sudah merapikan tempat tersebut. Di meja luar pun, meja-meja sudah dibersihkan. Di ruang dalam, beberapa kursi dan meja pun sudah diatur.

Ahhh.. iya. Benar rupanya. Matahari masih tinggi, belum terlalu sore untuk menutup kedai, tetapi mereka sudah bersiap membersihkannya. Waaahh…. saya terlongo!

Heeeiitss, jangan sampai ngga kebagian kalau sudah mampir ke Wendy’s yaaaa..

Sate mendo Wendy’s ini punya cabang lain di Jalan Kapten Ismail nomor 5, Tegal, yang dikelola oleh anak perempuan Wendi dan menantunya.

Siapkan perut yang lapar, biar bisa cicip menu lainnya juga. Paling enak kalau kuliner mah, cicip-cicipan saja. Biar cukup ruang dalam perutnya untuk kuliner lain.

Heeemm… ada yang sudah ngiler sama sate mendo? Atur liburanmu ke Tegal gih, biar tahu rasanya si empuk mendo ini 😉 (jie)

Lupa darat! Kebanyakan makan sate mendo.
Doc Ucrok

***

Iklan

12 tanggapan untuk “Si Empuk Mendo Batibul, Kuliner Sate Kambing Muda di Tegal”

  1. Harga sate emang sesuai dengan kualitas daging sate itu. Untuk ukuran daging kambing muda aku sih anggap itu harga yang pantas. Terlebih citarasa lezatnya yang sesuai. Dulu aku pernah singgah di Tegal hanya mau merasakan Warung Tegal langsung dia Tegal hahahahah tapi aku gak menjumpai kedai sate Lezat ini lhoo heheheh *kayaknya bakal ulang deh ke Tegal lagi heheheheh

  2. Terkenal banget nih hidangan di Tegal! Sudah banyak teman cerita soal warung satu ini, akan tetapi saya kayaknya baru lihat kenampakannya melalui foto di tulisan ini, wkwk. Enak banget ya satenya? Jadi ngiler nih Mbak, hehe, tambah penasaran juga sama bagaimana daging kambing muda itu, apakah yang beda banget dari daging kambing biasa. Mudah-mudahan suatu hari bisa mampir ke sana deh. Mestinya sih bisa ya, secara Tegal kan nggak begitu jauh dari Jakarta.

    1. Ugkh rekomen pisan lah kak 😍🍢🍢

      Sate mendonya beda dari sate biasa. Kalau ngga suka, gabakalan lupa dong nambah ampe kebanyakan nyate. Wkwkkwk

      Cobain, kak. Endang gulindang ~

  3. kayaknya klo pulang ke rumah nenek harus disempet-sempetin mampir ke tempat ini 😀
    sate-sate tegal sejauh yang pernah dicoba emang rasanya bikin ketagihan. pasti sate ini juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s