NANJAK penuh rasa

Ada Lembah Jurasik di Gunung Patuha

Kabut mesra ❀
Doc Pribadi

Bandung yang berupa cekungan, dilingkupi oleh jajaran pegunungan di sekitarnya. Ibarat mangkuk, Bandung memang diliputi oleh gunung-gunung yang menjaganya. Tempat yang selalu berhawa dingin yang sejuk. Dan Gunung Patuha di Ciwidey, menjadi salah satu deretan gunung yang juga mempunyai kisah.

 

***

Letusan Pak Tua

Panorama hamparan permadani hijau dari perkebunan teh, daerah yang diliputi oleh pegunungan, memang menjadi salah satu dari sekian eksotisme Bandung.

Bandung Selatan seperti yang dikisahkan melalui lantunan lirik sebuah lagu, menceritakan Bandung di malam hari. Pesona kerlip lampu yang dilihat dari ketinggian, ditambah udara malam yang menelusup ke rongga jiwa, mengantarkan sejumlah kisah syahdu menarikan bait-bait perindu.

Sebuah gunung di Rancabali, Ciwidey, merupakan satu kisah yang mengantarkan Bandung Selatan masuk dalam cerita rakyat, berkaitan dengan Gunung Pak Tua, atau dikenal dengan nama Gunung Patuha.

Gunung ini muncul dari permukaan dan membentuk dataran baru di Ciwidey di barat dan Pangalengan di timur. Gunung Patuha termasuk salah satu gunung api yang muncul ke permukaan pada saat Dataran Tinggi Bandung masih berupaΒ  dasar samudera.

Mempunyai jejak dari Bujangga Manik, gunung berketinggian 2.386 meter di atas permukaan laut menurut Wikipedia ini, sedikit berbeda dari salah satu komunitas penjelajahan gunung di Bandung. Jelajah Gunung Bandung (komunitas pemerhati dan penjelajah Gunung Bandung), pada saat melakukan pendakian, ketinggiannya mencapai 2.445 meter di atas permukaan laut sesuai GPS dan peta rbi (informasi Adie Nofx).

Berada di kawasan wisata Ciwidey, Gunung Patuha adalah gunung kedua terbesar di Jawa Barat setelah Gunung Kendang. Gunung ini mempunyai dua kawah, yaitu Kawah Saat dan Kawah Putih.

Kawah pertama, Saat terbentuk setelah terjadinya letusan pada abad ke-10 di bagian puncak sebelah barat. Kawahnya mengering. Maka dari itu masyarakat menyebutnya Kawah Saat (Bahasa Sunda, saat=mengering).

Letusan kedua terjadi di abad ke-13 yang membentuk danau yang airnya berubah-ubah putih kehijauan sesuai kadar belerang yang terkandung, juga suhu dan cuaca. Kadang berwarna putih, maka disebut dengan Kawah Putih.

Kata Patuha mengalami sedikit perubahan dari patuka, berarti lereng yang menurun atau tebing curam. Asal-usul penamaan gunung ini berkaitan dengan kegiatan gunung yang pernah bergemuruh dan mengeluarkan api yang menurun dari lereng curamnya (diambil dari catatan JGB).

Baca:Β Gunung Patuha

***

Perjalanan dimulai
Doc pribadi

Hutan Lembab Cipanganten

Sudah kali ketiga, saya selalu berhalangan ikut menjelajah dan kemping di Gunung Patuha dengan teman-teman di Bandung. Tanpa direncanakan dengan waktu yang pas, kesempatan keempat, saya akhirnya bisa ikut melihat dan menjelajah gunung tersebut.

Ketika itu, Adie Nofx, Kang Ading yang tahu jalur, menjadi pemandu bagi kami lainnya. Tim Patuha kali itu terdiri dari Kang Vjay, Dadan, Yunita, Kang Mbok, Dewi Pelita, Mbak Indri, Sholahuddin, Dimas, Relly, dan seorang teman Nita (deuh lupa namanya) serta saya. Biasa deh, paling belakang ini mah kaki lambat πŸ˜€

Karena bermaksud kemping di Ranca Upas, maka kami menaruh barang-barang disana. Lalu memulai pendakian dari jalur Desa Cipanganten. Jalur ini mengitari Kawah Putih dari sisi lain.

Tumpukan pipa tua.
Doc pribadi

Kami melewati barisan perkebunan teh yang rapi, susunan pipa bertumpuk yang menghitam, rumput hijau menghampar, juga kebulan asap sebuah pabrik yang tampak di kejauhan. Sebuah sungai beraliran kecil yakni Sungai Cipanganten, kami lintasi. Oiya, kami juga melewati kampung terakhir sebelum benar-benar mendaki.

Ada kisahnya tentang Sungai Cipanganten ini, tapi saya ngga suka sih cerita yang mengganggu perjalanan. Jadi terus terang, saya ngga mau dengar ceritanya. Padahal Kang Adie mau ceritain. Hiiiiyy… say no to horor.

Perjalanan dari kampung terakhir ke gubug kecil seorang petani tempat kami beristirahat, sekitar satu jam. Kami rehat, karena waktu sudah menunjukkan dzuhur.

Si bapak mengizinkan kami beristirahat, shalat, menghangatkan tubuh di dalam dan makan siang disana. Karena gubugnya kecil dan sederhana, bergantian kami masuk. Hanya cukup delapan orang sudah sama si empunya rumah. Jadi enam orang lainnya bergantian menunggu di luar.

Gubug ini berada di kebun sawi dan kentang yang luas. Begitu banyak kentang, hingga beberapa teronggok begitu saja. Mungkin dipilih hanya kentang bagus saja yang dijual. Di hadapan saya menghampar pemandangan hijau di bawah. Di ujung kebun, tampak pohon-pohon kurus samar oleh kabut dalam gerimis kecil yang turun.

Kebun kentang dan sawi.
Doc pribadi

***

Bertemu Jurasik?

Kabut mulai turun dan mengiringi langkah kami. Perjalanan dilanjutkan dengan melewati kebun teh yang juga luas kemanapun mata dialihkan. Jalan diantara akar pohon teh juga agak menyulitkan ternyata. Untung saja tidak membawa beban berlebihan, jadi masih leluasa bergerak.

Nita dan dua temannya yang selalu ceria.
Doc pribadi

Perjalanan ke puncak Patuha melewati hutan yang masih sangat alami. Aroma hutan khasnya, udara lembab ditambah kabut hampir di perjalanan kami, baret yang tanpa sengaja mampir di tubuh oleh tumbuhan berduri, selalu saja ada. Belum lagi kadang terpeleset tanah merah yang kami jumpai.

β€œDeuh, nyesel pakai sandal gunung,” kata mbak berkuncir kuda, temannya Nita.

Ya, jangan pernah menggunakan sandal gunung kalau memang berencana naik gunung apapun menurut saya. Karena kita ngga akan pernah tahu kondisi seperti apa di lokasi yang kita datangi.

Hutan dan Gunung Bandung, kecil dan pedas. Suasananya kebanyakan masih asri dan alami sekali, karena hampir jarang didatangi orang. Kadang kami pun harus menebasnya karena jalur yang sudah tertutup, atau berjalan memutar. Jadi, sedia saja dengan perlengkapan mendaki yang tetap menjaga keselamatan.

Ada beberapa pohon tumbang yang terlihat sudah lama. Sedikit lapuk, atau ditumbuhi lumut dan tumbuhan yang menumpang. Hutan lembabnya mempunyai tumbuhan khas, diantaranya pakis-pakisan, bunga, buah-buahan, serta tanaman melingkar seperti luwing, melingkar ke dalam. Beberapa jamur juga tumbuh disana.

Adakalanya kami harus merangkak karena posisi pohonnya yang rendah dan tidak ada jalur lainnya. Dan untungnya lagi, kami tidak berniat kemping di puncak bayangan maupun puncak pas. Jadi masih aman merangkak.

 

Kami tiba di persimpangan. Oleh Jelajah Gunung Bandung, persimpangan tersebut dinamakan Lembah Jurasik. Teringat film Jurrasic Park? Ya, seperti itu kira-kira tempat tersebut. Ingat ceritanya yang hutan lembab dan penuh dengan pepohonan? Coba diputar ulang filmnya πŸ˜€

β€œLembah Jurasik, karena tempat ini menjadi pos ketika JGB mengadakan gathering. Lembahnya berada diantara Tebing Sunan Ibu (kanan) dan Tebing Sunan Rama (kiri) Puncak Patuha. Lembah itu menjadi tempat beristirahatnya para peziarah sebelum menuju ke punggungan Patuha, jelas Adie Nofx.

Satu jam dari Lembah Jurasik, kami menemukan tempat kemiping yang muat untuk lima tenda berkapasitas empat. Menuju ke tempat tersebut, kami melewati satu jalur panjang memutar (sepertinya). Jalurnya rapat dengan tumbuhan di kanan-kiri. Langit mendung terlihat di atas kami. Aroma tumbuhan yang khas hujan, sungguh enak dihirup. Segar!

Meskipun sangat jarang orang kesana, tapi terlihat ada bekas tempat api unggun yang tampak dengan sisa arang kehitamannya. Ada kayu yang sengaja dibuat setengah lingkaran. Bisa dijadikan sebagai bivak alam dan ditambahi flysheet atau terpal sebagai tempat berteduh. Cukup buat dua orang kalau dalam kondisi duduk.

Kami beristirahat sejenak karena selanjutnya akan melanjutkan ke arah Kawah Saat. Turunan cukup terjal dan lumayan, membawa beberapa dari kami kesana. Kawah mengering dimana pernah terjadi letusan gunung berapi dan datarannya merupakan dasar samudera.

Heeem, mau memijakkan kaki di tempat yang dulunya dasar samudera? Boleh, asal jangan lupa, tetap jaga kebersihan dan jangan buang sampah sembarangan yah? Kantongi sampahmu jika tidak menemukan tempat membuangnya, agar kelestarian tetap terjaga.

Nanti yah ceritanya saya sambung lagi. Lapar euy saya πŸ˜€ (jie)

Paling belakang, seperti biasa.
Doc Yunita

***

 

 

Iklan

6 tanggapan untuk “Ada Lembah Jurasik di Gunung Patuha”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s