wisata kota

Panenjoan Salem, Wisata Foto Sunrise Apik dengan Awan Menggantung

Menanti mentari ❤
Doc Beko

Salem, Brebes, mempunyai banyak tempat wisata bagi para pejalan. Suasana sejuk selalu mengingatkan seperti berada di Pangalengan, Bandung, tidak bisa dipungkiri. Beberapa tempat pun menyajikan panorama asri pegunungan dengan spot-spot foto menarik. Salah satunya yang berada di Capar. Ehh, nikmati sunrise apiknya, ya! ❤

***

Main ayunan dulu ~
Doc Beko

Bukit Panenjoan

Wisata Bukit Panenjoan Salem yang berada di kawasan perbukitan sejuk ini, berada diantara hutan pinus. Adem. Itu yang terasa ketika kaki melangkah masuk kesana. Aroma pinus!

Kami berniat menanti mentari pagi di atas sana. Memagut putihnya awan yang disertai hangatnya sinar bergradasi kuning berhawa segar. Menikmati pemandangan penuh hijau di bawah sana. Hutan, sawah, perkotaan, tampak jelas dari ketinggian bukit ini.

Berada di Dukuh Babakan, Wanoja Salem, Kabupaten Brebes, pagi itu kami beriringan kendaraan motor menuju Bukit Panenjoan Salem. Melewati tanjakan, jalan berbelok, pepohonan nan hijau dengan udara sejuk pegunungan.

Seperti yang saya bilang, daerah itu mengingatkan akan Pangalengan, Bandung. Jadi selama perjalanan, tidak akan membosankan. Sekitar 15 menit dari rumah Teddy tempat kami menginap ke sana.

Pintu masuk yang terlihat seperti pos ronda berwarna coklat, masih sepi pagi itu. Iya, Astri dan saya, main kesana dengan teman-teman kreatif yang aktif menggerakkan teman-teman lokalnya membuat tempat wisata di daerahnya. Agie, Teddy, Iqbal, Beko, Irfan adalah teman-teman yang menemani kami mengexplore sejumlah tempat di Salem.

Pagi belumlah sempurna. Kami memasuki Panenjoan Salem, dimana lokasi spot foto sangat bervariasi. Agie dan Iqbal sudah mengambil posisi di gardu pandang depan, mendekati gumpalan awan yang tampak bagus jika di foto. Demikian pula Irfan. Sedangkan Teddy yang pelor (nempel langsung molor) mencari tempat untuk meneduhkan matanya dalam pagi sejuk. Hhahhaha… dia jagoan tidur memang. Jadi Beko lah yang menemani Astri dan saya berjalan-jalan.

Bareng Astri, teman asik berpetualang dari Brebes.
Doc Beko.

***

Explore Spot Foto Bukit Panenjoan

Dari pos registrasi, kaki melangkah melalui terowongan bambu yang baru dibuat. Lalu mata akan disuguhi oleh awan-awan putih di kanan yang masih saja menggantung, menyebar diatas pemukiman penduduk di bawah sana.

Pemandangan di kanan, penuh dengan deretan pohon pinus berlantaikan tanah merah yang rapi. Anak tangga berhiaskan bambu, membuat jejakan kuat penyangga tangga natural tanah tersebut.

Sementara pagi masih malu menampakkan sinarnya, saya menjelajah setiap sisi yang ada. Sisi atas, terdapat warung dan bale-bale bersantai. Masih tutup karena kami sangat kepagian. Pemandangan dari atas lagi, menurut Beko, bagus. Bisa luas melihat pemandangan di bagian langit berawan. Hamparan hijau terlihat jelas disana.

Pagi di Panenjoan Salem dengan langit memukau ❤
Sumber: @panenjoan_salem (@agie_zajuli)

Ya, Anda akan seberuntung foto tersebut jika langit berpihak pada hari dimana berkunjung merupakan waktu yang tepat. Para penyuka langit pun pasti akan menantikan saat-saat demikian, termasuk saya. Beruntungkah saya?

Panenjoan Salem, merupakan spot foto dengan pemandangan alam pedesaan yang masih asri. Kebanyakan orang akan menantikan matahari terbit dengan kabut-kabut yang masih menemani cuaca syahdu tiap harinya.

“Jangan terlalu pagi kalau mau menikmati matahari terbit maah… Belum akan muncul,” kata Agie.

Iya, satu hal berbeda dari yang biasa saya lakukan jika hendak menikmati terbitnya sang mentari. Kami bahkan sempat sarapan pagi bersama di rumah Teddy, ngobrol, dan mandi dong meskipun dingin. Suka euy air-air jernih  yang langsung dari mata air pegunungan. Menurut Iqbal, air di daerah itu memang aliran dari Gunung Ciremai langsung.

Dijelaskan Iqbal, sinar matahari baru akan tampak pada pukul 06.00 wib, disebabkan daerah tersebut memang selalu dingin tiap malam dan akan diliputi kabut menjelang dinihari. So, no hurry, yeap 😉

Cerita tentang dingin nih. Malam sebelum main ke Panenjoan, kami sempat duduk bercerita di sebuah warung kopi sederhana. Hhahaha.. tadinya saya masih kuat sama hawa sejuk di Capar. Menjelang pukul 22.00 wib, udara dinginnya mulai menusuk hati, ehh 😀 dan saya terpaksa harus menggunakan kain sarung Teddy untuk melapisi baju yang juga sudah memakai jaket. Dingin! Jadi wajar kan, kalau mentari pagi di Panenjoan Salem ini agak telat keluar dari peraduannya? 😀

Terasering persawahan, terlihat dari pandangan mata saya. Sejumlah spot foto kekinian pun mewarnai wisata Panenjoan Salem.

Beberapa spot foto yang ada seperti bunga matahari, lambang hati, gardu pandang dengan rumah pohon, bangku dengan televisi, ayunan ban, ayunan bangku, tersebar di beberapa bagian. Ada tempat bersantai dengan jaring lebar yang bisa memuat banyak orang. Bangku-bangku yang terbuat dari bambu dan ban-ban bekas pun tersedia.

Selain spot foto, pohon-pohon pinus juga banyak loh disana. Sekeliling mata memandang, berputarlah.

Jika Anda penyuka hammock, tentu tak akan lupa membawa serta hammock kesayangan kesana. bisa leyeh-leyeh santai di atas hammock sembari menanti fajar pagi diatas ketinggian bukit. Jangan khawatir, tempatnya sangat luas kok di Panenjoan Salem ini. Tinggal memilih mau menggantung dimana.

Ayunan jaring yang muat banyak orang buat beristirahat.
Doc Agie.

Oiya, kalau mau kesini, harga tiket masuknya Rp 7,500 (weekday) dan Rp 10.000 (weekend).

Jangan kesorean datangnya, karena mereka tutup pukul 17.00 wib. Kalau mau datang pagi lihat sunrise, coba saja bisa DM instagramnya @panenjoan_salem

Jaga selalu kebersihan yah? Tersedia tempat sampah kok di beberapa titik yang ada. Leave no trace, fellas 😉 (jie)

Duduk santai di ayunan bangku.
Doc Agie, taken by Beko

***

Iklan

16 tanggapan untuk “Panenjoan Salem, Wisata Foto Sunrise Apik dengan Awan Menggantung”

  1. wah foto saat senja itu bagus banget..
    murah juga yah, kalau di paralayang batu kemarin aja 15rb per orang, dan pemandangannya juga tak begitu bagus hanya hamparan kota batu dan terkadang juga tertutup awan

  2. Sukak gaya nulisnya Ejie. Sukak jg ketika Ejie yg org ibukota tp g pake lue gue…sering sedih jk liak temen daerah tp pakeknya loe gue, seolah gak pede klo di lokal ini punya potensi. Hihi…sek tak futsal sek

    1. makasih mas wahiiiddd…
      ejie ndak biasa ngomong gue lo, mas. ngga cocok buat ejie rasanya. jadi aneh kata teman-teman kalau pake gue elo.

      main ke daerah itu asik, mas… banyak ceritanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s