Ekspedisi GUNUNG, NANJAK penuh rasa

Jalur Tertutup dan Plang Sembunyi di Gunung Malabar

Pemandangan sebelum pendakian dimulai.
Doc Pribadi, taken by Ken

Masih jelas diingatan bahwa dulu pernah ikut naik lima Gunung Bandung bersama teman-teman kesayangan di Ekspedisi 7 Gunung Bandung, berdasarkan Tatar Ukur Jelajah Gunung Bandung. Bukan karena ingin menaklukkan, tapi karena seringnya naik gunung-gunung di Bandung, memang selalu merindukan. Selain itu, naik gunung bersangkutan pun menambah khasanah cerita gunung karena sambil sosped juga. Dan gunung ini, merupakan salah satu gunung diantara tujuh gunung yang masuk dalam Tatar Ukur. Gunung Malabar.

***

Baca: Zig-zag Gunung Masigit

Pegunungan di sekitar Gunung Malabar.
Doc pribadi.

Mendaki Gunung

Ada ratusan gunung yang terdapat di Bandung. 700 gunung, percayakah? 🙂

Informasi yang ada, sebegitu banyak memang hamparan jajaran pegunungan yang ada. Dan beberapa gunung yang sudah terjelajah dengan teman-teman kesayangan ini, kami mendatanya dalam program Enskilopedi Gunung Bandung (EGB).

Biasanya sambil mendaki gunung disana, kami melakukan Sosial Ensiklopedi (Sosped). Bertanya, bercerita dengan penduduk setempat mengenai kisah, asal-muasal pegunungan tersebut, kepercayaan penduduk sekitar terhadap gunung yang ada di sekitar, observasi langsung, dan lainnya yang bisa menggali untuk informasi gunung yang ada. Semua itu dilakukan agar kami mendapatkan data valid yang mendukung keberadaan gunung tersebut.

Salah satu ketertarikan saya mendaki gunung-gunung di Bandung, adalah bukan sekadar mendaki. Tetapi melakukan hal-hal tersebut diataslah yang membuat saya senang melakoninya. Bukan sekadar ingin kemping di gunung, bukan sekadar ingin menaikinya saja, bukan sekadar tiba di puncak lalu turun, bukan sekadar mencatat jalur yang ada juga. Bukan, bukan sekadar itu.

Mendaki gunung dengan membawa sejumlah cerita yang bisa dituliskan, atau dikisahkan, jauh lebih berarti bagi saya. Setidaknya saya mempunyai cerita yang tidak sama (menurut saya) dengan teman satu perjalanan pendakian (mungkin). Ada nilai wawasan lebih yang saya peroleh.

Mendalami sesuatu, mengerti dan memahami, lama-kelamaan akan menjadi satu porsi tambahan dalam perjalanan saya yang tidak biasa. Tiap orang pasti punya keinginan dan niat tersendiri dalam perjalanannya, bukan? Demikian pun saya.

Belajar yang tidak hanya dari bangku sekolah. Perjalanan tentu akan mengajarkan sesuatu pada kita, nantinya. Semua akan bermuara pada satu titik pemahaman yang kita sendiri akan mengerti. Setidaknya, itu yang saya percaya 😉

***

Sebelum pendakian. Titip kendaraan di rumah warga.
Doc Dadan.

Remedial Gunung

Daerah Pangalengan di Bandung Selatan, mempunyai beberapa gunung-gunung yang bisa dijelajahi. Gunung-gunung di Pangalengan karena terletak di daerah dingin, maka akan bernuansa lembab.

Baca:  Gunung Mandalawangi

Salah satu gunung dalam jajaran 7 Gunung Bandung berdasarkan Tatar Ukur yaitu Gunung Malabar. Gunung ini merupakan gunung kedua dari penjelajahan tersebut, November 2015. Berada di ketinggian 2.341 meter diatas permukaan laut, gunung ini berlokasi di Desa Margamulya, Kecamatan Pangalengan, Bandung Selatan.

Waktu itu, saya bagian dari ekspedisi 7 Gunung Bandung ini, terhitung sebagai orang yang ikut karena ingin menulis. Iya, saya anggota yang telat datang karena murni kesalahan informasi dari saya. Maklum, saya kerja jadi terlewat informasi mengenai kapan pendakian dimulai 😀

Hasilnya, 5 gunung dari 7 gunung yang dijadwalkan, saya ikut. Dua gunungnya, saya remedial. Gunung Malabar ini, termasuk remedial saya.

***

Satu jam pertama sebelum perkebunan.
Doc Dadan

Gunung Malabar dan Kisahnya

Gunung Malabar ini, menurut Kang Pepep (penulis, penggiat, pemerhati Gunung Bandung), sebenarnya masuk di empat kecamatan, yakni Banjarsari, Arjasari, Pangalengan dan Pacet. Salah satu ekspedisi pendakian saat itu, Gunung Malabar.

“Pendakian Gunung Malabar paling dekat, melalui Kecamatan Pacet dan Pangalengan,” kata Kang Pepep.

Di kesempatan lain, saya ikut dengan Dadan, Bu Wiwit dan Ken menjelajahi jalur yang diambil oleh tim 7 Gunung Bandung, lewat Kecamatan Pangalengan. Gunung Malabar disebut pula sebagai Papanggungan, atau Puncak Besar/Gede, karena mirip panggung yang melebar dan besar.

Kisah menarik tentang keberadaan gunung ini, diceritakan oleh Pak Nandang, warga Desa Cinyuruan, kaki Gunung Malabar. Dikatakannya, dahulu, hanya ada satu-satunya rumah disana selain terminal delman dan kandang kuda. Untuk mengenali peninggalan tersebut, ada lubang yang dianggap sebagai tanda dari bangunan rumah Belanda.

“Mendaki ke atas, bisa tektok kalau mau. Asal jangan turun malam. Masih rawan karena masih ada hewan buasnya,” ujar Pak Nandang.

Iya, di kawasan tersebut, masih ada macan tutul yang berkeliaran. Sekali waktu,  hewan peliharaan warga, hilang. Katanya, dimakan macan tutul, karena ada warga yang pernah melihat hewan itu di gunung, ketika harus mengambil kayu maupun berkebun. Jadi tidak disarankan untuk mendaki malam hari.

Kami memulai perjalanan dari perkebunan bawah yang memakan waktu sekitar satu jam. Melewati hutan pinus dan pohon karet rasanya. Batangnya putih-putih kurus. Entahlah.

Terdapat bale-bale dan rumah warga di atas sana yang berkebun wortel, kentang dan kol. Sementara bale-bale dipakai sebagai tempat menyimpan pupuk kandang dan tanaman.

Perkebunan luas inilah yang menjadi titik awal pendakian kami. Namanya dataran peda. Tempat istirahat yang bisa bersantai dengan terpal biru sederhana.

Jalur trekingnya sendiri, dibatasi oleh pagar tanaman  dari batang  kayu dan pepohonan. Mungkin orang tidak akan menyangka, jalur pendakian akan lewat sana, karena memang tertutup hutan dan rapatnya vegetasi.

Mengingat tempatnya yang lembab dan penuh tumbuhan berduri, saran:

  1. Gunakan baju lengan panjang, celana panjang dan sarung tangan.
  2. Pakailah topi.
  3. Gunakan trekpol.
  4. Bawa barang secukupnya.
  5. Bawa EDC (every day carry).

***

Kebun sayur, sebelum masuk jalur pendakian.
Doc Dadan

Potong Kompas dan Plang Sembunyi

Saking jarangnya orang yang datang ke gunung ini, jalur pendakiannya tidaklah terlalu kelihatan jika tidak mempunyai catatan terakhir dari trek log pendakian sebelumnya. Untungnya, Dadan sudah menyimpan catatan mang Yadi Mulyadi (salah seorang pencetus JGB), jadi kami mengikuti jalur pada GPSnya (kalau ada sinyal) meski terkadang kami tidaklah selalu menemukan jalur karena tertutup. Disini, insting dan kebiasaan akan berperan. Demikian yang terjadi pada Dadan.

Seperti ini ketika kami menempuh jalur di dalam hutannya.
Doc Dadan

Jika jalur sudah tidak terbaca, biasanya kami membaca dari tanda-tanda yang ada. Tanda-tanda dari Wanadri yang ada di pohon, pita string line, jalan setapak, juga sesekali melihat pada aplikasi offline panduan yang sudah ada di gadget Dadan.

Yang bikin nyeri buat lutut saya adalah pendakian kadang harus memotong kompas, alias menempuh jalur vertikal. Bisa dibayangkan seperti apa kan?

Tanjakan terus ke atas, dengan tumbuhan duri yang sesekali mampir menempel di lengan baju, atau tanpa sengaja menggores pipi. Huahh! Itu sakit, tapi entahlah, semakin memacu adrenalin karena mau ngga mau, kita pun jadi ikut belajar membaca jalur seperti apa yang tengah kita hadapi dan harus ambil.

Saya juga jadi akrab dan mulai ikut melihat alam di sekitar. Seperti memperhatikan tanda, melihat pohon, jalur yang dilewati, juga jalan setapak. Ehh, tiba-tiba saya jadi menyukai karena bisa pintar membaca sekitar. Walau pada kenyataannya, saya seringkali nyasar kalau di darat. Maksudnya kalau tidak sedang berkegiatan alam seperti ini. Ahahahha…

Oiya, jangan harap ada pemandangan selain hutan yang rapat yah? Kalau ngga hijau, ya coklat. Kadang kalau sudah berada di tempat yang agak luas, baru deh terlihat langit biru dengan awan putihnya 🙂 Itu pun ngga lama, karena kita sudah harus siap merunduk, memanjat, melompat, pada jalur-jalur vertikal Gunung Malabar. Siap, kan?

Tiga jam kemudian, kami tiba di dataran yang sedikit lega. Banyak bekas tebangan disana. Seperti tempat istirahat. Padahal kalau dilihat, tidak terlihat jejak ketika kami berjalan tadi. Atau karena kami tidak menemukan jalur sebenarnya ya?

Baca: Gunung Bukittunggul

Gunung Malabar dengan plang dari JGB.
Doc Dadan

Kami memeriksa sekitar, memastikan bahwa kami berada di puncak gunung sebenarnya. Dadan mengecek trek lognya, bahwa kami sudah dijalur tepat. Hanya saja, kami tidak menemukan plang bertuliskan Puncak Malabar.

Saya juga ingat dari foto summiter 7 Gunung Bandung, tempatnya tidaklah terlalu luas, namun terdapat pohon besar yang dijadikan plang nama gunung. Tempatnya rapat tumbuhan dan tidak lapang.

Mondar-mandir, tapi tidak ketemu. Akhirnya kami beristirahat, bermaksud makan siang, sholat dan duduk santai sebelum berencana turun.

Dadan yang penasaran, mengulang mencari. Ia memeriksa foto summiter dengan seksama. Melihat ke sudut yang ada di belakang kami beristirahat. Memperhatikan tanda dan pohon yang ada di arsip foto yang mendekati ciri-cirinya.

Lalu ~

“Ini plangnya. Ketemu nih plang JGB bertuliskan Puncak Besar Malabar,” setengah berteriak, senang.

Suara Dadan menyemangati kami. Berdiri dan ikut menghampiri Dadan. Iya, kami mengabadikan diri disana. Menyatakan senang dan bahagia pada puncak yang tertutup rapat oleh pohon rimbun.

Dadan yang tahu saya biasanya ngapain, menunjukkan sebuah tempat lumayan buat kebiasaan saya. Di dekat pohon berplang Gunung Malabar.

“Itu, Jie. Bisa buat sujud syukur,” ujarnya.

Iya, kebiasaan saya yang selalu ada sejak mulai mendaki, beberapa tahun lalu. Beberapa orang yang selalu menemani saya di belakang, kebanyakan paham dengan kebiasaan ini. Dan mereka tanpa diminta, akan dengan tulus memberikan tempat bagi saya menekur. Alhamdulillah, terima kasih, sahabat.

Bukan sekadar naik untuk tiba di puncaknya saja. Ingatlah, ketinggian diciptakan, untuk menjaga kita juga dari musibah di depan. Imbanglah antara di atas dan di bawahnya. Bersyukurlah bahwa kita masih diberi nikmat untuk melihat keindahan dari puncak tertentu, walau puncak tidak selamanya berupa indah sejauh mata memandang. Namun indah juga bisa berupa pelajaran yang kita peroleh selama proses menujunya.

Semoga setiap perjalanan, memberi kisah bagi diri (pribadi setidaknya) yang bisa dishare kepada lainnya.

Jangan lupa untuk tidak menyampah di tempat yang telah kita kunjungi ya? Kantongi jika tidak menemukan tempat sampah, lalu buanglah di tempat seharusnya. Tetap jaga kelestariannya yaaa 😉 (jie)

Baca: Gunung Burangrang

Alhamdulillah. Done, 6 gunungnya. Masih sisa 1 lagi. Terima kasih, tim…
Doc Dadan, taken by Ken

***

Iklan

8 tanggapan untuk “Jalur Tertutup dan Plang Sembunyi di Gunung Malabar”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s