NANJAK penuh rasa

Bogor: Sore Asik BPJ di Puncak Batu Roti

On top of Puncak Batu Roti
Doc by Inggit Prilasari

One Day Trip ke Puncak Batu Roti di wilayah Cikampak, Ciampea, Bogor, punya cerita tersendiri buat saya. Jalan yang macet, jajan-jajan, angkot yang ramai, jadi penunjuk jalur di tujuan karena sudah pernah kesana. Lalu, cerita dan foto asik diantara sore dan mendung disana bersama teman-teman Backpacker Jakarta.

***

Sebelumnya, baca:Β Treking Puncak Roti_Part 1

Pemandangan dari puncak.
Doc Wina

ODT Kesorean

Jika sebelumnya saya hanya berjalan sendiri ke Puncak Batu Roti, kali ini bersama teman-teman Backpacker Jakarta (BPJ). Cukup lumayan riweuh euy perjalanannya, karena kami terbentur dengan Bogor yang hari itu mendadak macet dikarenakan beberapa kecelakaan mobil yang terjadi.

Yang ada, di setiap kendaraan yang kami sewa, hampir semuanya peserta turun, jajan, makan, jalan kaki demi tidak hanya duduk diam di dalam mobil saja. Seru? Ahhahah… gitu deh πŸ˜€

Kami tiba agak sore setelah sebelumnya main ke Bukit Bintang, Bogor. Cuaca mendung membuat kami berjalan-jalan santai menunggu mood sang langit yang seolah memaksa kami berleyeh-leyeh di Bukit Bintang.

Rasanya sudah pukul 16.00 Wib kami tiba di kawasan Puncak Batu Roti. Parkir mobil, beberapa peserta ada yang sholat dan jajan. Lalu kami treking ke lokasi atas. Dekat. Melewati perumahan, pekuburan, gerbang bertuliskan bukit karst, jaring yang berganti dengan ban-ban buat istirahat bergantung, warung diantara pohon jati, dan naik ke atas, tempat pendaftarannya.

Karena hari sudah sore, beberapa yang sudah siap, melanjutkan naik duluan. Ulut, teman Backpacker Jakarta yang menguasai Bogor, memberi izin pada saya untuk menunjukkan jalur soft trekingnya, karena sebelumnya, saya sudah pernah kesana.

Sementara Sultan Muhammad Yusuf, CP BPJ, mengikuti teman-teman di tengah. Ninuk Sawitri, CP BPJ lainnya didampingi Ulut, berada di posisi belakang. Biar sekalian sweeper deh.

Jalurnya ya seperti di tulisan pertama saya. Kerikil berbatu, tanah merah, sedikit pohon. Lumayan gerah dan panas sih… Jadi gunakanlah topi atau payung untuk melindungi selama perjalanan yah.

***

Tambahan Pegangan

Awal kesana dulu, masih sepi, belum terlalu rapi. Datang lagi, sudah lumayan. Datang kembali bersama BPJ, sudah ada penambahan disana.

Tambahan yang saya lihat di jalur kanan ke atas:

  1. Pohon yang hanya satu di kiri atas (dulu), sekarang sudah ada tambahan 3 pohon, di jalan (tengah-tengah). Lumayan buat pegangan saat turunan.
  2. Jalur tangga tanpa merubah bentuk. Dulunya hanya jalur biasa saja, nanjak tanpa ada undakan. Sekarang sudah ada undakan dengan kayu sebagai penahannya.
  3. Pegangan tangga. Dulu ya boro-boro mau pegangan ke siapa atau apa juga ngga ada. Sekarang sudah enak, ada pegangan tangga bercat hitam terbuat dari besi diantara undakannya. Lumayan, ngga merosot lagi kalau turunan.

Notes, sejujurnya, saya menikmati perjalanan sehingga lupa foto-foto buat tulisan. Jadi saya ngga punya euy foto tambahan yang terlihat itu. Maaf yah? πŸ˜‰

Kami jalan mengikuti alur. Jelas kok jalurnya. Sedikit berubah jalur luas menyempit ketika belokan kiri yang ditumbuhi oleh tanaman liar. Masih cukup dua orang jalan bersisian.

Iring-iringan kelompok ODT BPJ, terbagi menjadi tiga dalam kelompok dengan jarak jalan berdekatan. Bagusnya ya seperti ini. Supaya ngga terlalu numpuk juga diatas, mengingat tempatnya yang tidak terlalu luas.

***

Foto bareng kejepit
Doc Suherman

Puncak Batu Roti

Waktu kesana sendirian, saya bertanya pada Pak Musa (orang lokal yang menjaga disana), kenapa dinamakan Puncak Roti?

Menurutnya, alur batu dimana kita memanjatnya itu seperti roti. Coba deh teman-teman perhatikan bidang datar pada roti. Ada jalurnya juga katanya. Dan bidangnya pun ngga datar. Dan dua belahan batu yang terpisah di puncak, seperti roti gitu katanya. Kok saya malah mikirnya roti sobek isi coklat keju yah? Aahahahhah… Yah, penjelasannya seperti itu sih.

Kami tiba di atas, persimpangan antara tempat kemping dan arah puncak. Arahkan dulu ke bagian kempingnya. Siapa tahu ada yang mau foto-foto disana. Atau ingin lihat goa nya ke arah mana. Saya menunjukkan spot foto yang bisa digunakan teman-teman untuk mengambil gambar.

Ke arah goa di wilayah kemping ground.
Doc by Setya

Puas berfoto disana, dan per rombongan sudah mulai memenuhi spot awal, saya mengajak beberapa teman yang sudah sampai duluan, naik ke puncak.

Dari persimpangan, kami mengambil jalur masuk dan mulai memanjat bebatuan karst. Tiba di puncaknya, saya sarankan berfoto agar bisa bergantian dengan teman-teman lainnya. Karena tempatnya ngga terlalu luas buat semua bisa naik keatas.

Pemandangan dari atas Puncak Batu Roti, kita bisa melihat Kota Bogor. Beberapa kubah masjid tampak mengecil dari ketinggiannya. Angkot hijau mentereng kami pun, terlihat dari atas. Juga lapangan bola yang dilihat Dio dan Setya sebelum naik tadi.

Dulu saya hammockan disana bareng Toeyoel, teman Bogor Hammockers.
Doc pribadi

Arah belakang, tampak bukit dengan pepohonan lebat. Disana letak Goa AC yang bisa kita tempuh juga jika datangnya tidak kesorean. Karena menurut bapak yang jaga, tidak baik menjelajah sore menjelang malam kesana. Beberapa kepercayaan setempat, tetap harus kita hargai, bukan?

Nah, di belakang kiri arah duduk, terlihat kerukan tanah. Kata Ulut, kerukan itu dari dia masih sekolah, tapi Alhamdulillah, tidak menghabiskan lahan pegunungan yang ada. Semoga ya tidak bernasib sama seperti Gunung Hawu di Bandung yang terus-menerus dikeruk. Ataupun pegunungan yang habis dikeruk seperti cerita Cile (Hammockers Sukabumi) ketika mengajak saya berjalan-jalan di Sukabumi.

Anyway, kembali kepada kita juga sih. Ingin bisa melihat alam yang asri hingga bertahun-tahun kedepan, bukan? Sayangi mereka, dimulai dari tidak membuang sampah sembarangan. Atau bisa juga dengan mengantongi sampah yang sudah kita hasilkan pada saat hari berjalan-jalan. Kantongi dulu, buangnya nanti kalau ketemu tempat sampah. Bisa, kan? πŸ˜‰

***

Saran

Oiya, saran saya kalau ke kawasan Puncak Batu Roti, pakailah lotion anti nyamuk. Apalagi di awal masuk pepohonan jati, nyamuk hore banget itu ketemu darah segar 35 peserta BPJ, kan? Ahahhah

Saran kedua. Saya selalu diajarin, kemanapun melangkah, sepatu adalah yang terbaik sebagai pelindung kaki. Meski berkerikil, tetap saja ada bebatuan besar tajam yang kadang nyangkut di kaki. Ibaratnya, kalau masih mau berjalan jauh, gunakan sepatu untuk kebaikan kaki, biar aman.

Saran ketiga. Bawalah barang seperlunya saja. Misal, air minum (dalam tumbler lebih baik). Meski jalur pendek, tetap saja, air minum penting bagi sebagian orang. Lalu cemilan, boleh juga. Tapi karena di Puncak Batu Roti ada monyet yang kadang sering keluar pada saat pengunjung datang, lebih baik jika Anda menyimpan cemilan dalam tas dan tidak memberi makanan apapun pada hewan liar.

Saran keempat, bawalah selalu headlamp/senter dan barang EDC. Berguna meski Anda berjalan siang atau sore. Masukkan dalam list EDC (Every Day Carry) Anda.

Well, selamat menikmati akhir minggu kembali ya, teman-teman ❀ (jie)

***

Syukur Alhamdulillah bisa mengunjungi tempat ini kembali.
Doc by @tengkuadhiet BPJ

ODT bersama Backpacker Jakarta

HTM:
Sight seeing, IDR 5K per person
Camp, IDR 10K per person

Puncak Batu Roti, Cikampak, Ciampea, Bogor, 10 Maret 2018

Iklan

6 tanggapan untuk “Bogor: Sore Asik BPJ di Puncak Batu Roti”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s