Cultural Heritage, wisata kota

Pintu Kuno Klasik di Lasem

Apa yang terbersit jika Anda mendengar kata Lasem? Batiknya yang mempunyai warna khas? Teringat dengan Tiongkok Kecil, Kota Santri, Kota Pusaka dan semua tentang Lasem? Atau mungkin seperti saya yang justru belum tahu apapun tentang Lasem? Pengalaman dan petualang tiap pribadi, tentu berbeda, bukan? Berikut cerita tentang kota yang sangat ingin saya kunjungi kembali.

Pintu lainnya di Lasem.
Doc Anggun_diary

***

First Time

Pertama kalinya saya menjejakkan kaki di Lasem, Kabupaten Rembang. Lasem mempunyai daya tarik dengan Tiongkok Kecil atau biasa disebut dengan Pecinan.

Hari dimana kami berjalan-jalan disana, langit membiru cantik walau terik memang. Kota ini seperti mempunyai kekuatan magis yang membuat saya terlongong-longong dengan suguhan berbeda. Saya merasa, entahlah.. membuat saya jatuh cinta saat kaki turun loncat dari jeep teman disana ketika pertama kali melihatnya.

Ajakan @jejakjelata dimana saya memikirkan berbagai pertimbangan hingga akhirnya memutuskan, “I’m in, Mi…” Ngga NYESEL kesana. I even think my next destination on it.

Potensi wisata di Lasem, banyak loh. Juga terdapat patung Buddha Terbaring yang berlapis emas. Selain itu Lasem juga dikenal sebagai kota santri, kota pelajar dan salah satu daerah penghasil buah jambu dan mangga selain hasil dari laut seperti garam dan terasi.

Batik Lasem juga sangat terkenal karena cirinya sebagai batik pesisir yang indah dengan pewarnaan yang berani.

Tingkok Kecil
Doc pribadi, taken by Anggi

***

Pintu Kuno

Kaki lambat ini pelan menyusuri sedikit jalanan yang ada di sekitar wilayah kami berada. Siang itu, Mia dan teman-teman sedang berencana membuat satu paket tur jalan-jalan di Lasem. Jujur, saya ngga bisa duduk diam mendengarkan Mia yang berencana dengan teman-temannya. Mata minus saya menyusuri tiap jengkal halaman luas dimana kami duduk di bawah pohon rindang dengan kursi yang entah dibuat tahun berapa. Unik.

Saya mengajak Anggi, teman jeep handal yang ikut serta disana. Bersama Anngi, saya jalan ke tempat-tempat dekat di seputar Mia bercerita.

Saya memotret beberapa bagian yang menarik dalam pandangan mata. Mematutnya dalam sudut pandang, lalu berusaha mencari orang yang berlalu-lalang disana. Sepi. Daerahnya tidaklah seramai kota-kota yang biasa saya kunjungi. Apa mungkin karena kami datang di hari kerja yah? Hhhahahha..

Menurut saya, kalau mau jalan-jalan yang menyesap di hati, ya benar di saat demikian. Tidak ramai, sehingga kita pun ngga sibuk mengejar sesuatu yang kita inginkan. Santai.

Perhatian saya lebih kepada pintu-pintu yang ada di kota tersebut. Pintu dengan kusen kuno, kokoh dan mempunyai ciri. Mata saya tak lepas memandangnya. Mendekat melihat, memperhatikan pintu-pintu yang tampak.

Depan salah satu penginapan di Tiongkok Kecil.
Doc pribadi, taken by Anggi

Salah satu pintu yang juga menarik perhatian saya yakni, pintu sebuah rumah bercat dinding merah terang. Mencolok diantara dinding-dinding biasa lainnya. Kontras dengan warna langit biru siang itu. Ahh…. cakep!

Berlokasi di Gang Karangturi 4, dinding tersebut bertuliskan Tiongkok Kecil Heritage. Pemiliknya bernama Rudi Hartono, seorang pengusaha aneka perabot dan toko elektronik di Lasem. Tampaknya hampir semua orang mengenal pak Rudi.

Rumah yang didominasi merah ini mempunyai pintu utama di depan rumah yang bergaya arsitektur China. Pintunya terbuat dari kayu berwarna coklat, klasik. Kusen pintunya tinggi, hingga kita bisa melongok melihat apa yang terdapat di dalamnya (ya itu pun kalau kamunya juga tinggi melebihi ukuran tinggi pintu 😀 ). Terdapat dua bilah pintu layaknya film-film yang biasa saya tonton.

Ada dua singa yang mengapit diantaranya. Ehh, saya jadi teringat dengan teka-tekinya Suci Riffani tentang mana patung jantan dan mana patung betina. Hayoooo… ada yang tahukah? 😀

Pintu berwarna klasik yang membuatnya tak akan mati jaman. Ajaib? Padahal saya sering melihat pintu-pintu jaman lama di beberapa kota tua, tapi tak sampai sebegininya saya tertegun. Pintunya seakan bercerita pada saya. Berbisik? Mungkin juga.

***

Spot Foto Lasem

Daerah Tiongkok Kecil mempunyai banyak spot foto. Dinding-dindingnya mungkin terlihat biasa. Tapi dengan sudut pengambilan yang berbeda, gambar akan terlihat apik. Kacamata tiap orang berbeda, bukan?

Tidak terlalu riweuh juga, karena yang memotret pun, natural. Cukup jalan sedikit, nengok ke atas, tertawa ketika bercerita, atau sedang berjalan, jepretan tanpa sengajanya justru menarik buat saya.

Hal yang paling sering akan kita jumpai lainnya adalah sepeda-sepeda ontel. Kebanyakan yang mengendarainya adalah orangtua. Ya tidak terbatas juga sih. Sepeda kan umum dipakai siapapun. Hampir ketika saya berada di luar, beberapa orang tampak menggunakan sepedanya yang rata-rata sepeda jaman dulu. Mungkin kalau sore, jalan tersebut akan sedikit ramai dari biasanya yah?

Heemm.. Lasem memang memberikan cerita khas yang asik buat dikulik.

Jadi akan kemana lagi kita kalau mengunjungi Lasem? (jie)

Pintu Rumah Lama, unik.
Doc pribadi, taken by Anggi

***

Iklan

18 tanggapan untuk “Pintu Kuno Klasik di Lasem”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s