Hitchhiker Indonesia (HHI)

Etika Tidak Tertulis dalam Berhitchhiking

Yihaaaa.. Berawal dari obrolan iseng dari si kakak senyum bagus KATOM @nyokmlaku di jalur pribadi, ia mengajukan ingin hitchhiking . What? Dalam kota? Hitchhike siang hari bolong? OMG!

Kendaraan pertama
Doc pribadi

***

Janji #nyokmlaku

Dibangunin, ngantuk, dibangunin lagi, mandi dan telat! Bhahhhahhahaa maapkeun saya ya Katom.

Katom (Kak Tom) adalah panggilan saya kepada Tomy. Nama kerennya Tom Yoichi. Nama ig nya @nyokmlaku.

Ia adalah teman saya biasa jalan-jalan hore dengan meeting point di Warung Indah, Kampung Rambutan, dulu. Walaupun ngga kemana-mana, kadang kami duduk ngumpul disana juga bakal ramai. Soalnya ada teman-teman lain yang juga ada. Teman-teman mendaki.

Waktu itu, ketika Katom mengajukan hitchhike Jakarta, sebenarnya memang sedang libur lebaran. Enak, jalanan sepi dan ngga hingar-bingar seperti biasa. Lengang.

Sudah lama mengajukan, tapi tidak pernah rezeki hitchhike bareng. Akhirnya, saya meng-iya-kan ajakannya main di Jakarta.

Dulu, sama teman-teman Hitchhiker Indonesia, juga sering banget nih ditantangin dari mana ke mana sebatas wilayah kota tinggal. Dari tempat kerja ke tempat nongkrong, atau dari rumah ke tempat kumpul. Kadang juga dari tempat kumpul, pulang ke rumah kalau sudah kemalaman. Jaman transjakarta ngga sampai pukul 12 malam dan belum ada ojek online. Waahahahahh….

Btw, Katom dan saya akhirnya bertemu di mepo kesukaan, Kampung Rambutan pukul 10.30 wib. Ngaret banyak saya karena ngantuk.

“Kebanyakan main sama Ioh @rio.c.kusuma nih Ejie, jadi ngaret. Wahhahhhhaha…” Katom dengan cengiran pipi lucunya. Nyindiiiiirrr huaaaa…

Oke, foto itu adalah kaki saya dalam kendaraan pertama menuju Fatmawati. Asiiiikkk.. Kata Katom, anak baik, rezekinya baik. AAMIIN

Kendaraan 1
Doc pribadi

***

Kampung Rambutan ke Fatmawati

Tulisan awal, Sudirman. Tujuan kami memang mau kesana. 5 menit menunggu, Katom @nyokmlaku bilang, pakai yang Fatmawati. Tadinya saya (sok) ngeyel ngga mau nulis, akhirnya di pinggir jalan ya buat tulisan Fatmawati.

Hhahaha.. hitchhike malas saya sebenarnya. Maklum ngantuk dan kepengin kulineran saya, Katooooomm…

Bukan ngeyel juga sebenarnya, cuma saya ya memang buta peta dan ngga tahu arah. Bandel!
*yang ini pembelaan diri. Wakakkakk

Well, kurang dari 10 menit, kami akhirnya dapat kendaraan nih. Mas Post Black (entah nama aslinya siapa), mau ke arah Cileduk. Mobil doskih berhenti diantara Katom dan saya. “Ayok, mbak..” ajaknya.

Bllaa.. bla blaaaa kami naik.
Mas ini juga backpacker kalau dengar omongannya. Sudah ke Sumba dan Raja Ampat katanya. Sepertinya juga karena pekerjaan, ia kesana. Sambilan.

10 menit kemudian, kami berhenti di dekat masjid di Museum Basoeki Abdullah. Ngaso sebentar sambil posting dan menunggu adzan zhuhur. Ya biar nanti kalau sudah shalat, tinggal jalan-jalan #hitchhiking nya lebih semangat kan? Hehhehehe

Yuk, main!

PS:

Saya yang terbiasa bertanya jelas dahulu sebelum naik, memulai kebiasaan rutin saya. Tapi mas nya seperti mau buru-buru. Katom menangkap muka pongok saya dan bertanya setelah kami turun.

Katom yang “jangan malu yah..”
Doc pribadi

***

Hitchhiker Random Uhh!

Hitchhike kali ini, saya katakan super santai. Gimana ngga, saya bisa dengan santainya posting. Biasanya postingan dilakukan saat saya mengambil hitchhike jarak jauh, dimana setelah puas bercerita dengan pengendara, saya akan menuliskannya langsung sebagai catatan.

Namanya juga main. Sekali-sekali ngga punya tujuan pasti, boleh dooonnkk….

1 jam kami menunggu di Fatmawati tadi. Lama? Iya! Padahal banyak mobil keren berseliweran di depan katom @nyokmlaku dan saya. Tapi hampir tidak satupun yang mau berhenti. Entah kenapa dengan jalur itu. Secara logika, jalur itu bagus buat hitchhike.

2 kali kami berpindah tempat. Tangan kiri saya pegal, mana menguap terus. Ngantuk saya. Katom saja sudah berpeluh keringat itu. Heeheh untungnya ngga patah semangat katom.

“Jembrengin donk tulisannya..” Katom yang berdiri di depan, nyengir-nyengir.

Hhahahaa iya, kerja heh kerja. Biar sama rasa kan pegalnya 🙂

Menit ke 40, saya merasa harus mengganti tujuan kami. Sudirman akhirnya diganti tulisan BLOK M. Ya, sepertinya kalau langsung ambil Sudirman, terlalu jauh menurut feeling saya yang tetap tidak bisa menggambarkan arah mana kami akan berjalan. Ya maklum #butapeta saya ini ishhhh..

Lalu, ketika tulisan Blok M selesai ditulis, saya menjembrengkannya di tepi jalan raya. Katom tengah sibuk memposting sepertinya. Saya biarkan ia duduk di tempat aman.

Tolah-toleh, rasanya belum sampai 3 menit saya berdiri, tiba-tiba…

Ķiiww kiiiiwww.. nanti yah lanjutnya. Adzan memanggil nih. HHhhahhahha

Yeay dapat nih mobilnya om black.
Doc siapa? Lupa

***

Etika Berhitchhiking

Jika di kendaraan pertama, Katom melihat muka pongok saya, salah satu alasannya, karena pengendara tidak memberi kesempatan pada saya untuk menyatakan alasan. Mungkin karena saya terbiasa hitchhike sendiri, dimana keselamatan adalah utama bagi saya, jadi lobi di awal, penting (bagi saya).

Untung hari terang, saya mempunyai hitchhhike mate pula, jadi tidak masalah dengan muka pongok dan langsung naik kendaraan mas post black itu.

Terkadang, ada beberapa pengendara yang mengerti dengan hitchhiker seperti kami. Alasannya sudah diutarakan mas post black ketika berbincang di mobilnya.

Ia seorang traveler, pernah melakukan hitchhike juga di Indonesia Timur. Mungkin hal demikian yang menyebabkan ia tidak memerlukan alasan untuk mengajak kami dalam kendaraannya.

Tapi jika hitchhike sendirian, SAYA TIDAK AKAN LANGSUNG NAIK SAJA, tentunya. Kenapa? Simpel, SAYA PEREMPUAN.

Think Fast For a Minute
Sometimes we need to choose the right one for ourself. Not in a hurry, but think fast to make it happen.. Make ur own journey that makes u happier than ever 👣🎒 . Let’s play around, fellas ~ ejiebelula

Dalam berhitchhiking, ada beberapa etika tidak tertulis yang tanpa sengaja menjadi acuan. Diantaranya:

  1. Sopan santun. Indonesia dikenal karena keramahtamahannya. Di rumah, dalam keluarga, kita diajarkan sopan santun. Tata krama dijunjung. Jika kita berbicara sopan, tentu orang akan menghargai kita. Sopan bukan hanya cara berbicara saja, namun termasuk dalam tingkah laku. Demikian pula saat berhitchhiking. Sopanlah dalam bertutur dan bertindak.
  2. Berpakaian rapi. Usahakan pakaian sopan tidak seronok. Ya ngga perlu juga terlalu pakaian kondangan atau kantoran kok. Sesuai kebiasaan berpakaian saja.
  3. Pastikan bahwa kendaraan tersebut sesuai dengan arah tujuan kita. Di awal perjalanan sebelum memulai, kita sudah tahu tujuan, kan? Buatlah media sign dengan beberapa titik henti (kota/kabupaten) yang biasa dilalui sebelum ke tujuan akhir.
  4. Jangan pernah minta diantar ke tujuan. Kalau benar-benar tidak searah, ya jangan naik. Tapi kalau misalnya setengah dari perjalanan searah, bisa ikut kalau diizinkan si pemilik kendaraan. Ketika turun, bisa cari kendaraan lain yang searah.
  5. Ucapkan terima kasih. Penting loh walau sekadar ucapan saja. Dengan bercerita pun, kita sudah berterima kasih pada pengendara. Ehhmm.. tapi sebelumnya, kalau bercerita panjang, jangan lupa baca postingan karakter pengendara yah? 😉

BacaBelajar Baca Karakter Pengendara di Hitchhiking

Berbincang dalam kalimat awal (lobi), hukumnya wajib bagi seorang hitchhiker. Kita ngga mungkin asal naik kendaraan yang tidak searah, bukan? Kita juga tidak ingin terjadi apapun selama di perjalanan, bukan?

Ya, saya selalu mengatakan bahwa berpikiran positif itu penting. Tapi kelanjutannya adalah, mawas diri dalam perjalanan. Salah satunya, lobi. Dari lobi, insting kita akan bekerja dan menentukan langkah selanjutnya. Karena dengan mengindahkan hal-hal demikian, menurut saya, perjalanan akan semakin berwarna dan tentu saja, aman. Aamiin..

Ingatlah bahwa hitchhiker bukan sekadar asal melompat ke dalam mobil bak, lempar tas dan naik. Atau menghadang kendaraan di jalan, lalu lompat ke mobil terbuka, lalu jalan ikut kendaraan. Kalau mobil tertutup seperti kendaraan pribadi, bagaimana?

Bukan, hitchhiker bukan demikian. Kita, saya, kalian yang sudah pernah mengikuti event Hitchhiker Indonesia, akan semakin belajar menghargai orang yang memberi tumpangan pada kita. Menghargai tiap cerita yang terdengar dari perbincangan dua arah, mendapat pengalaman, serta pelajaran dari perjalanan yang kita lakukan.

Terpenting kita belajar berproses. Bahwa proses memberikan hasil bukan sekadarnya. Bisa dikatakan, berterima kasih karena kita mendapatkan pengalaman lebih ketika melakukan suatu perjalanan atau petualangan.

Ya pandangan orang tentu akan berbeda, bukan? Saya hanyalah seorang pencerita yang berkelana. Semoga di tiap petualangan, teman-teman punya kisah yang mengena dan bisa diceritakan pada kami yah 🙂

Kalau cerita saya melulu tentang hitchhiking, bagaimana dengan kamu? (jie)

Ke Fatmawati
Doc @nyokmlaku

***

 

 

Iklan

16 tanggapan untuk “Etika Tidak Tertulis dalam Berhitchhiking”

    1. pertanyaan negatif, jarang ejie jawab.

      kok mb tan bisa baca pikiran ejie?
      iyak, on pregress sudah ada di list menulis, mbak. hhehhe tunggu postingannya yah mb tan 🙂

  1. Kayaknya seru ya kalau bisa hitchhike dari rumah ke kantor, dari rumah ke tempat nongkrong 😁
    Pernah nolak kendaraan yang ngga searah dgn tujuan ngga, kak?

    1. Iya, Helen. Ya mau ngga mau, karena tantangan juga itu. hhehhe

      Pernah. Kalau yang sudah jelas tujuan aja ejie bingung, gimana ejie ikut dengan yang ngga searah? Huauaaaa nanti nambah nyasar, Heleeeeennn…. berabe saya 😀 😀 😀

  2. Dulu kalau melihat ada tulisan minta menumpang di tepi jalan, pikiran saya selalu orangnya sedang gak punya ongkos. Sekarang tahu hitchhiking, jadi begitu ceritanya. Petualangan yang penuh tantangan menurut saya

  3. Hitchhike ini baru komunitasnya atau sudah lama ? Sebagai hobby atau memang dilakukan setiap hari buat bepergian ? Maaf Saya belum begitu paham dengan konsepnya

  4. belum pernah hitchching, eh bener nggak sih tulisannya? wakakakkaka.
    tapi kayaknya pernah, tapi ya gitu cuma jarak deket. bukan numpang kendaraan, tapi numpang tdr.

    1. jauh atau dekat itu, yang menentunkan, kak. yang tahu tujuan, kan kita?

      urusan tidur mah, kalau merasa aman ya bebas aja. tapi lihat si empunya mobil juga. maksud mengajak biar ada teman bicara atau gimana? kalau numpang mobil bapak sendiri mah bebas, kak. wkwkkkw

  5. Ejie perempuan??? Kok saya ragu ya. Ahahaha

    Milih tumpangan mirip milih jodoh ya, harus searah tujuannya. Kalau beda tujuan ya gk bs. Ahaahah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s