Hammockers Indonesia

Komunitas Ayunan, Hammockers Indonesia

Hammockers Indonesia
Doc pribadi

Tidak banyak yang tahu mungkin mengenai terbentuknya komunitas Hammockers Indonesia. Bermula dari mengikuti informasinya di sosial media, kebetulan bersama teman Bandung Freedive dan BPI Bandung. Lalu mendaftar kolektif dan transfer bareng. Kesana pun hitchhike atas request Desah, dan berkumpul di acaranya yang langsung mengusung Gathering Nasional, membuat saya berada di lokasi menarik dengan komunitas unik.

***

Masih segar di ingatan, 06 Juni 2015, sekumpulan penyuka ayunan kekinian itu berkumpul dalam sebuah acara Gathering Nasional Hammockers Indonesia (Gathnas HI) di Cikole Downhill Track, Lembang, Bandung. Acara berlangsung selama dua hari, penuh hingga 250 peserta, panitia mendadak, produsen hammock serta penggiat alam dari penjuru Indonesia, hadir disana.

Bagaimana tidak, kami cukup membayar registrasi sebesar IDR 25K, bisa ikut kegiatan tersebut. Dapat souvenir, doorprize berlimpah, kemping seru, camilan tradisional, pengenalan hammock, main slackline, dan highline. Selain itu, kami juga belajar pengenalan navigasi darat yang tidak hanya teori namun juga praktek. Bahkan teman baru, yuhuuuu ~

Waktu itu, saya bahkan belum punya hammock sama sekali. Ketiduran di hammock Esa, pindah ke hammock Desah dan berakhir tidur nyenyak di tenda Bandung Freedive dan BPI Bandung. Hhhahah.. saya ngga kuat dingin soalnya šŸ˜€

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

***

Mengutamakan Keamanan

Di kesempatan tersebut, hari kedua, momen dengan hammock tower yang sangat safety, merupakan tingkatan tertinggi di dunia yang tercatat saat itu. Tingkatan 30 hammock tower Hammockers Indonesia, memecahkan rekor dunia negara sebelumnya, 18-20 tingkat (seingat saya). Heemm.. saya belum update lagi soal ini.

Keamanan hammock tower ketika itu juga tidak diragukan, karena Hammockers Indonesia menggandeng para Safety Master, slackliner, climber berpengalaman di bidangnya masing-masing. Semua alat dan perlengkapan telah dipersiapkan secara matang. Sehingga peserta yang naik di tingkatan 30 hammock pun tidak ragu.

Mengingat tingginya hammock tower tersebut, saat itu hanya 9 perempuan saja yang diperbolehkan naik. Itu pun akhirnya diturunkan hanya 7 (atau 5 yah?). Hal ini dilakukan setelah Lembang diguyur hujan deras selama 3 jam dengan posisi 4 orang pertama (laki-laki) telah naik di 4 tingkat teratas.

Huuuuaa… untung mereka orang-orang pilihan yang terbiasa dengan ketinggian, dan telah menggunakan alat pengaman memanjat. Subhanallah.

***

Tentang Regional dan Logo

Setelah Gathnas itu, akhirnya terbentuklah regional-regional di beberapa daerah yang mengajukan diri untuk membentuk komunitas hammock.

Ketika itu pengajuan dilakukan di forum salah satu sosial media secara terbuka. Hanya mengajukan ingin membuat regional dan membentuk grup chit-chat mengumpulkan teman-teman menggantung dengan wilayah tinggal berdekatan. Logo pun masih sangat sederhana dari HI, hingga akhirnya sekarang bebas membuat logo masing-masing.

Awal yang punya logo dengan kreasi, seingat saya, Hammockers Indonesia Regional DKI Jakarta (HI DKI). Mereka membuatnya karena kebutuhan acara hammock yang mengusung Sowan ke teman Regional. Ohh, atau Solo Hammockers yang saat itu juga aktif ya? Nanti tulisannya di update kembali deh.

Kemudian logo masing-masing hammockers pun berkembang.

Dari regional, saat ini yang berkembang dan bisa merangkul korwil-korwilnya adalah Hammockers Indonesia Regional Jawa Barat (HJB).

Bobok hammock
Sumber Google

***

Tidak Terikat Struktur Kepengurusan

Karena sifatnya komunitas, di dalam tubuh Hammockers Indonesia, tidak ada struktural kepengurusan layaknya organisasi. Hanya mengikuti jika kegiatan berlangsung, maka dibentuklah susunan pengurusnya.

Sebenarnya, semua kembali kepada masing-masing komunitasnya saja. Tidak ada aturan harus membentuk struktur di regional atau korwilnya. Karena pada dasarnya komunitas merupakan wadah berkumpulnya para penggiat kegiatan outdoor dari berbagai lapisan yang mempunyai kesamaan hobi.

Jika ingin, lakukan dan jalankan. Demikian pun yang tetap mengusung prinsip komunitas, ya monggo dijalankan. Bukankah perbedaan tercipta untuk mempertemukannya dalam kebersamaan? Ya itu menurut saya sih. Mungkin ada yang tidak sependapat dengan tulisan saya, sah saja.

Tidak sedikit juga yang bertanya mengenai hal ini. Mungkin akan saya jelaskan ya, jika berjumpa šŸ™‚ ngga keberatan kok saya. Silahkan saja mengajukan pertanyaan yang masih dalam batas pengetahuan saya tentang sejarah HI sejak saya ikuti di 2015 hingga sekarang.

***

Berjuang

Booth HI
Doc pribadi

Di kesempatan lain, saya juga menuliskan tentang sejarah hammock dengan sumber dari Jaka Ady, M. Fuad, Mardiansyah, dan Ryan Akbarulloh. Ada juga Pandji Witaryanto yang paling sering berdebat dengan saya, Galih Pratama, Bang Seul. Mereka adalah orang-orang terus mensupport saya dalam jatuh bangun di komunitas ini.

Di sisi lain, ketika banyak orang menyangsikan dengan beberapa ajuan berani saya ikut dan memasukkan HI di kegiatan-kegiatan komunitas, Rio Candra Kusuma, Mardi (lagi), Andi Haryanto (Parete), Yusuf Kurniawan adalah deretan orang yang selalu mendukung dalam berkegiatan.

Mungkin karena mereka berada di wilayah jangkauan terdekat domisili saya. Jadi ketika masa-masa berjuang itu, merekalah yang selalu membackup untuk kegiatan HI di awal dulu.

Kalau ingat keliling jalan-jalan berjuang sembari main ke hampir di beberapa regional, rasanya adeuh deh šŸ˜€

Ada beberapa tugas yang harus saya lakukan. Ada beberapa masa dimana saya harus membangkitkan semangat teman-teman yang mungkin iya, sedikit down. Namun juga ada beberapa yang justru tidak bisa tersentuh karena mungkin stuck, tidak bisa dibantu, kemudian tenggelam dengan sendirinya.

Sementara di wilayah Jawa Barat, dulu ketika HI DKI akan sowan, dari HJB (HI Jabar namanya semula) hanya 3 orang yang maju. Mereka adalah Mahesa Febrian, Gelar Alam Putra dan Nasir. Kami saling membantu dan berjuang.

Lalu ada Bagus Setiawan dan Afina Khoirunisa yang kerap bergabung bersama. Hingga akhirnya mulai bergabung teman-teman lain.

***

Ya itu cerita mengalir saya saja. Tiada maksud mendeskreditkan pribadi, pihak maupun golongan atau komunitas manapun. Hanya menyampaikan apa yang terpendam dalam otak butek saja.

Setidaknya saya menuliskan untuk menjejak. Apabila ada kesalahan dalam penulisan saya tentang Hammockers Indonesia beserta regional dan yang terkait didalamnya, saya minta maaf yah, wankawan. Mungkin ada yang mau menulis saran dan pendapatnya, silahkan. Boleh kok.

Nanti yah cerita lagi tentang lainnya. Ngantuk euy saya. Sampai berjumpa kembali yah..

See you at the next trees and keep safety yor hammock (jie)

Hammock esa, gaya dolo ~
Doc pribadi

***

Iklan

13 tanggapan untuk “Komunitas Ayunan, Hammockers Indonesia”

  1. Wah saya baru tahu ada komunitas nya sendiri.

    Dulu saya melihat pertama kali Hammock di Hutan Pinus Mangunan..saya mengira itu emang di gunakan sebagai gimmick suatu tempat.

    1. hai kk..

      kalau di tempat wisata, biasanya memang dipakai untuk gimmick yang disewakan. tapi ya ga rekomen untuk keamanannya, kak.

      kk bisa baca yg di becici, tulisan saya ketika main disana.

      terima kasih sudah blogwalking yah kak..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s