Hitchhiker Indonesia (HHI)

Belajar Mengendalikan Ego Ketika Berhitchhiking (Part 2 Edisi Lembang_END)

Catatnan tim hitchhike santai
Doc Pribadi

Bukan sekadar perjalanan tanpa makna, tetapi tersirat pelajaran dari tiap hal yang kita peroleh selama menjalaninya. Toleransi, masih banyak dijumpai di bumi pertiwi ini. Salah satunya ketika kelompok kami mengikuti hitchhike santai ke Lembang, Bandung.

***

Sebelumnya: Belajar Baca Karakter Hitchhiking

Numpang kereta?? Yakali bisa….
Sumber om Google

Sepertinya kami tiba terlalu cepat ketika itu. Pukul 02 dinihari sudah di daerah Pasir Koja. Sesungguhnya, saya sangat susah hapal jalan. Beruntung memang tiap hitchhike berkelompok, selalu dapat teman yang mengerti soal jalan dan daerah.

Perhentian kami di Mobilio, tiba di Leuwi Panjang, dekat terminal bus. Tadinya pak Asep akan menurunkan kami di Pasir Koja. Mungkin karena perbincangannya dengan Haries, ia pun mengantarkan kami ke Leuwi Panjang yang menurutnya tidak terlalu jauh dari meeting point kedua kami.

Nah, mengenai ajakan awal turun dimana, lalu berubah, kekuatan bahasa teman ini erat kaitannya dengan seni berkomunikasi dalam hitchhiking (kembali menurut saya). Makanya harus selalu berpikiran positif, agar keberuntungan selalu menyertai perjalananmu. Mau cara hitchhiking, backpacking, flashpacking, apapun itu, positif thinking lah 😉

***

Pak Undang yang mengajak dan mengatarkan ke mepo 2 di RS Hasan Sadikin, Bandung.
Doc Linda

(Bukan) Pak Undang (-undang Dasar)

Sejam lebih kami berhenti di Leuwi Panjang depan sebuah minimarket. Beristirahat melegakan badan juga kaki yang tertekuk duduk di deretan kursi paling belakang. Kami pun mencharge baterai hp, dan menunggu @linda_marumsky yang tiba-tiba mendadak bolak-balik toilet karena buang air. Benar masuk angin dia. Saya menggosok-gosok badannya, sementara Haries dengan gesit membelikan teh hangat ke seberang jalan.

Sedari Cawang Uki, saya sudah merasa tangannya hangat ketika menggandengnya saat menyeberang jalan. Ditambah angin kencang dari jendela terbuka di kendaraan kedua kami.

Hal seperti ini, kita pun harus menurunkan ego masing-masing. Dalam hitchhike, jika sudah hitungan berkelompok, tidak ada kepentingan mendahulukan ego sendiri. Semua harus berbagi. Susah dan senang. Menjaga agar selalu bersama, itu penting. Mungkin hal demikian juga berlaku bila kita melakukan perjalanan dalam kegiatan apapun. Saya belajar banyak dari kelompok kecil di Hitchhiker Indonesia, sejak 2012 lalu. Memperhatikan dan melakukan, tepatnya.

Sudah lumayan enak badan Linda, kami memutuskan pindah ke seberang. Sebenarnya ada yang harus dilakukan juga. Pikiran kami, biar cepat sampai di mepo kedua RS Hasan Sadikin, kami bermaksud mencari tempat agar Linda bisa beristirahat. Kalaupun kondisi Linda tetap ngga ada perubahan, saya lebih pilih naik kendaraan apapun, yang penting ia sehat. Sudah ngga mikir, harus hitchhike.

Berpindah ke sebuah rumah makan, kami mencoba peruntungan kembali. 10 menit, sebuah angkot menawarkan mengantar kami ke mepo 2 di Pasteur menuju Setiabudi. Berhubung Linda sedang ke toilet, kami tidak naik kendaraan tersebut. Lupa pula tanya namanya euy. Anyway, maaf dan terima kasih, bapak.

“Ries, kalau misal Nda tetap begitu (bolak-balik toilet), kita naik apa saja yang cepat sampai yah. Biar istirahat dia. Gimana?” tanyaku meminta persetujuan Haries.

“Iya, ngga apa, Jie. Boleh. Yuk, kita cari,” sepakat.

Untung Haries kalem. Ngga memaksakan juga dan bisa bernego. Peran Haries disini juga sangat membantu saya. Ia yang tipe pencerita, saya bagian perangkum hasil obrolannya untuk kebutuhan laporan dan postingan. Kami sepakat membiarkan Linda beristirahat dan duduk. Sedangkan kami tetap berdiri dan mencari kendaraan duluan mana yang datang. Berbayar atau bisa numpang, kami bebaskan.

Walaupun dekat terminal, belum tentu banyak kendaraan lalu-lalang. Sabar adalah kuncinya.

5 menit kemudian, Pak Undang yang tengah memarkirkan kendaraannya beberapa meter di belakang, melihat kami yang memampangkan tulisan.

Ia mendekat, sedikit bercerita dan menanyakan alasan dan tujuan kami.

Di tengah pembicaraan, “Temannya yang satu, sakit?” tanyanya sembari melihat Linda.

“Iya, pak.”

Ternyata, Pak Undang sudah memperhatikan semenjak kami di minimarket depan lalu menyeberang. Bla.. blaaa blaaa, berbincang 2 menit, lalu ia menawarkan mengantarkan. Alhamdulillah. Rezeki kami, tiba di tujuan serta Linda tak perlu lama menunggu perutnya yang sakit. Ia segera beristirahat.

Kami bermaksud memberikan sejumlah rezeki pada Pak Undang. Tapi memang ya, niat baik orang yang menolong itu, tidak bisa disamakan dengan nominal. Justru si bapak memberi kami nasehat sebagai orangtua. Emmhh, orang baik memang selalu bertebaran kan?

Karena sudah tiba di meeting point kedua, RS Hasan Sadikin, instruksi selanjutnya, bersama kami ke lokasi kemping di Gunung Putri, Lembang, Bandung Barat. Hanya kelompok 1 dan 3 saja yang ada di mepo kedua. Soalnya kelompok 2 dapat tembakan langsung ke Lembang. Dan mereka kembali dapat tumpangan shuttle bus menuju pintu Gunung Putri. Tuuuuhh.. rezeki tiap kelompok, berbeda, kan? Syukurilah ❤

***

Full team daun bawang, hitchhike-Jakarta-Lembang, Bandung, Agustus 2017.
Doc Yayan-Linda

Full Team

Tim Daun Bawang
Kenapa namanya demikian? Bisa cek di ig kaknuk @ninuksawitri untuk jelasnya.

Saya hanya mau cerita tentang mental juara tim-tim yang terbagi 3 ini. Seleksi alam itu pasti, dan mereka adalah orang-orang yang ternyata menjawab tantangan meski mungkin ada sedikit kekhawatiran tentang jadi atau tidaknya dilakukannya hitchhiking tersebut .

Waktu itu, di hari kegiatan hitchhike, saya pun baru bisa pulang ke Jakarta dari Bandung (juga), Jum’at dinihari (180817), hitchhike pulang. Hari sebelum kegiatan hitchhike yang berlangsung malamnya. Lalu malam yang sama hari dan tanggal, menunggu siapa saja yang bakalan hadir di meeting point yang sudah ditentukan, Cawang Uki (pindah ke sekretariat Backpacker Jakarta), dan hitchhike bareng mereka kembali ke Bandung.

Kalau mau nurutin @hitchhiker_indonesia banget, hanya sedikit info sebelum kegiatan yang dibagi. Tidak jarang malah orang pesimis mengikuti event hitchhiking. Apalagi info dan brief baru akan diketahui, 1 jam sebelum perjalanan.

Pergeseran terjadi, saklek tidak berbagi info ya ngga bisa juga. Makanya di grup, saya menshare info spot mencari kendaraan bagi kelompok 2 yang kesulitan mendapatkan tumpangan kendaraan (Yayan, Ninuk, Tomew).

2 tim mendapatkan tumpangan di sekitaran pintu tol Cawang, dengan kendraan pribadi di awal. Lalu variasi kendaraan menjadi cerita selanjutnya .

1 tim yang berputar arah, sedikit mengalami kendala, diarahkan ke lokasi favorit saya, pasar. Akhirnya mereka mendapatkan tujuan dengan satu tembakan langsung ke Lembang, Bandung, yang menjadi titik akhir lokasi kemping kami.

Dan, inilah kami, full team generasi terbaru dari kumpulan pribadi dan komunitas di Jakarta.

***

Menurunkan Ego

Dalam sebuah tim/kelompok, terkadang ada hal-hal yang harus diturunkan. Kita tidak bisa selalu mengedepankan ego menjadi tim terdepan, selalu berhasil dengan kendaraan nol rupiahnya, atau menjadi pemenang bagi segalanya.

Pada kesempatan saya melakukan hitchhike di beberapa event, maupun jalan pribadi yang hanya berisi 2 kadang 3 orang saja, seringkali saya harus banyak bersabar. Bukan itu saja. Niat yang tadinya kepengin ngegas bisa tiba di tujuan sesuai target, terkadang menjumpai kendala. Kalau sudah demikian, berdamailah dengan hasrat yang menggebu.

Menurut saya, letakkan posisi logika pada tempatnya. Ada hal-hal yang harus berdamai dengan keadaan dimana bukan sekedar ego saja membuat kita menang. Ada hal yang lebih mendasar, bahwa pertemanan, saling menjaga dan peduli dengan teman di tim, perlu. Disertai alasan dan logika, tentunya.

Beberapa kesempatan, ketika perjalanan hitchhike Jakarta-Yogya-Sleman saya dengan Pitray dan Retno, saya wajib mengambil keputusan beristirahat karena Pitray yang belum bergantian tidur sama sekali, dan Retno yang sepertinya harus meluruskan kaki. Saya pun demikian.

Baca: Hitchhike Istirahat

Hitchhike lain, saya dan Pitray yang mencoba jalur bawah di Pantura, pun pernah mengalami mengalah demi bersama. Ketika Pitray yang ngga enak badan tidak mau disuruh istirahat, tertidur di dekat kaki saya. Saya harus menurunkan ego ingin sampai saya kan, kalau sudah begitu?

Atau ketika saya dan Abbay yang mencoba hitchhike Yogya-Surabaya. Saya harus mengikuti kata Abbay, teman perjalanan saya. Ia memutuskan hitchhike berhenti di Ngawi saja, karena saya yang tumbang, sakit. Ya ngga bisa menolak, karena ia meihat saya tertidur sampai hampir terjatuh dari kursi tidur saya. Kalau sudah begitu, mau membantah apalagi?

Jadi saya hanya mengatakan, bahwa kebersamaan adalah hal mendasar yang penting dalam kelompok. Mendengarkan, berdiskusi, tidak egois dan saling menjaga, menurut saya adalah wajib. Supaya tidak ada yang merasa menang salah satunya, merasa lebih pintar dan lainnya.

Kerjasama tim jauh lebih bermakna, ketimbang menang, tetapi tidak bersama. Got the point?

Heemmm.. hitchhike ini, sangat sulit dijabarkan euy. Saya banyak merasakan, tapi tetap saja sulit mengungkapkan. Kek kangen dia itu, tapi dipendam saja gitu deh…. hhahahhahha  ❤ ❤ ❤

Semangat berkelana, hitchhiker.. (jie)

***

Jangan lupa tulis tujuan tumpangannya yaaahh..
Doc pribadi, taken by Mardi Nyo2, GBK #918

Terima kasih:
1. Yayan (om Joko) dan Ninuk (kak Rodiah) for make it happened
2. Semua tim yang berpartisipasi
3. Sekretariat @backpackerjakarta yang akhirnya menjadi mepo kami di awal sebelum keberangkatan hitchhike Jakarta-Bandung

 

Iklan

4 tanggapan untuk “Belajar Mengendalikan Ego Ketika Berhitchhiking (Part 2 Edisi Lembang_END)”

  1. Yup. Setuju banget.
    Saling menjaga itu penting. Klo kamu bisa menjaga partnermu, kamu sebenanrnya sudah ‘menang’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s