Hitchhiker Indonesia (HHI)

Belajar Baca Karakter Pengendara di Hitchhiking (Part 1)

Berawal dari ajakan teman-teman yang kepengin mencoba hitchhiking. Penggiat hitchhike yang mereka tahu berkeliaran di sekitar wilayah mainnya, saya doangan apa yah? Ahahhha. Ya oke deh, mari kita berkumpul meluapkan rasa penasaran teman-teman. Yuklah, hitchhike 😉

Tim gabungan karena pertemanan.
Doc Linda

***

15 Jadi 9

Hitchhike adalalah istilah keren dalam menumpang. Kalau dulu, katanya nama gaulnya, BM. Artinya saya juga ngga kurang tahu sih. Hanya tahu, menumpang. Itu saja.

Ya, komunitas Hitchhiker Indonesia yang ada sejak 03 Maret 2012 ini, sudah beberapa kali mengadakan kegiatan hitchhiking secara berkelompok. Kali ini, saya melakukan kegiatan hitchhike gabungan beberapa komunitas dan independent. Tidak melihat dari komunitas mana, kami melakukannya karena ingin.

Baca: tentang Hitchhiker Indonnesia

Titik poin kami pertama, sebenarnya di tempat makan cepat saji, RS. UKI, Cawang. Entah kenapa jadi bergeser ke sekretariat Backpacker Jakarta yang memang tidak jauh dari tempat bertemu. Sekret itu soalnya tempat main yang bikin mager (malas gerak), wkwkkwk…

Tadinya ada 15 orang yang mendaftar ikut hitchhike. Seperti biasa, kebanyakan mereka akan mundur setelah tahu kami akan memulai perjalanan malam hari dan segudang alasan lainnya. Ya gimana atuh, ngga bisa memaksa, bukan?

Terkumpul 9 orang, kami pun membagi 3 kelompok. Masing-masing beranggotakan 3 orang per kelompoknya.

Kelompok 1 terdiri dari Ramdhan Uchiha, Pae, Ramdhan BPJ.
Kelompok 2 terdiri dari Yayan, Ninuk, Tomew.
Kelompok 3 terdiri dari Linda, Haries, saya.

Sebelum perjalanan dimulai, kami di brief oleh Yayan, otak perjalanan hitchhike santai kali ini. Titik kumpul kedua di Bandung, serta tujuan akhir kami. Sementara saya, membrief beberapa hal yang wajib diketahui oleh teman-teman soal menumpang.

Lewat dari pukul 9, kami bergerak menuju tempat menunggu kendaraan di Tol Cawang. Tidak seperti biasanya, kami sudah diberitahu Yayan mengenai meeting point kedua setelah Jakarta adalah Bandung. Sementara titik akhir kami adalah Lembang, Bandung. Tentu saja media sign kami pada akhirnya bertuliskan Pasteur, Lembang, Bandung dan lainnya yang searah.

Masing-masing mulai beraksi mencari tumpangan keberuntungannya. Rasanya tidak terlalu memperhatikan, kemana kami berpencar. Semua sudah sibuk dengan kelompoknya.

***

Kendaraan 1 cerita Jepang.
Doc Linda

Kendaraan 1 Jepang

Kami berada di titik menunggu kendaraan yang sama, tol Cawang. Tim kadan @kapten__nemo lebih dahulu mendapat kendaraan. 2 menit kemudian, sebuah mobil (agya) berhenti depan kami, kelompok 3. Ngobrol, bla bla blaa… naik!

Logat dan penampilannya, langsung bisa ditebak @har13z yang ternyata sama berasal dari timur. Intonasinya halus, dan bisa menebak kami. Kesamaan daerah, membuat Haries yang duduk di depan, lancar bercerita. Lalu pengalaman kerja si bapak, membuat Linda pun dengan mudah terlibat obrolan dengannya. Sementara saya menyimak sambil sesekali pun mengobrol bersama. Waks, @linda_marumsky dibacain huaaaaahahhaha…

Nah, kerjasama kelompok yang begini, pas banget. Karena kedua teman saya rajin bercerita, tugas sayalah yang melaporkan perjalanan pada Arif yang berada di grup sebagai tim pemantau.

Selain itu, pentingnya catatan dan posting di sosial media pun menjadi rekam jejak yang wajib agar tetap diketahui posisi terakhir kelompok.

Syaiful Muhidin, pengendara mobil Agya tersebut, mempunyai 3 anak (SMA, kelas 4 SD dan 4 tahun). Ia menetap di Jakarta sejak tahun 1994, lalu memutuskan pindah Bekasi tahun 2006.

Pemilik kendaraan berplat B 1289KIB ini, merupakan anak ke 5 dari 9 bersaudara berasal dari NTT. Menikah di Jepang sebelum pulang ke Indonesia.

Disana ia ikut pelatihan onderdil dan memasang mesin (1996) pada salah satu merk kendaraan sejak tahun 1994. Selama 6 tahun tinggal dan bekerja, akhirnya ia kembali ke tanah air. Banyak hal yang kami dapatkan dalam pembicaraan dengan pak Syaiful selama perjalanan, terutama mengenai semangat dalam bekerja.

Karena tujuan si bapak ke arah Bekasi dan memang berencana pulang, kami diturunkan di tol Bekasi Timur. Alhamdulillah, satu kendaraan menuju Bandung, selesai.

***

Seat Back, Privillage

Kendaraan kedua, mobil Pak Asep.
Doc Linda

Pintu tol Bekasi Timur ini, untung-untungan sebenarnya. Agak serba salah menunggu disana, kalau malam. Paling enak tuh, kalau hari terang. Karena banyak yang tujuan ke Bandung. Entah mau berangkat kerja, maupun yang sekadar jalan-jalan menuju luar kota.

Baca: Hitchhike Request

Alasannya, sedikit gelap, kalau menunggu di belokan sebelum pintu tol terlalu jauh. Menunggu di dekat pintu tol nya juga ngga bisa, karena menurut petugas tol (dulu), tidak boleh menunggu kendaraan di dekat pintu tolnya.

Alasan lainnya, banyak sekali kendaraan taxi berbayar disana. Tapi ya jangan berburuk sangka, karena dibalik kebutuhan mereka mencari nafkah, keberuntungan terkadang mengiringi. Seperti kami ketika itu.

Kendaraan kedua kami, mobilio putih berplat B 1104 KRB. Pak Asep, berasal dari Lampung, doyan banget cerita tempat wisata Lampung.

Ia melihat kami yang berdiri memampangkan tulisan, NUMPANG. Dihampirinya Haries, satu-satunya laki-laki di kelompok kami dan bertanya, “Mau ke Bandung?”

“Iya, pak,” Haries menjawab sekenanya.

“Kalau saya dapat 5 penumpang lagi, kalian boleh ikut mobil saya,” ujarnya.

“Tapi kami numpang, pak,” jawab Haries kembali.

“Ngga apa. Berdo’a saja, saya cepat dapat penumpang, biar kalian bisa ikut,” wajahnya tegas tanpa senyum.

Mungkin ada 25 menit kami menunggu disana. Tiba-tiba si bapak kembali menghampiri dan mengajak, “Ayok naik. Sudah pas nih. Tapi kalian duduk di belakang ya?”

Kami saling memandang seolah mencari persetujuan. Kemudian bergegas mengikuti langkah si bapak ke kendaraannya. Sesuai permintaannya tadi, kami duduk di belakang, bertiga. Mobil kami berjalan, memasuki ruas gerbang tol.

Dalam perjalanan, Pak Asep banyak bercerita. Ia juga bertanya kenapa kami menumpang. Pertanyaannya lebih banyak diarahkan kepada Haries.

Hampir di setiap kesempatan saya berhitchhiking, membaca karakter pengemudi, menjadi pengalaman lain yang saya dapatkan dari bercerita maupun sekadar menyimak pembicaraan. Sangat terlihat kalau pak Asep, sedikit bertanya pada perempuan. Linda dan saya tidak terlalu ikut campur berbicara, kecuali jika ditanya oleh si bapak.

Pada akhirnya, ia pun mengatakan alasan kenapa ia tidak terlalu mengajak perempuan bercerita. “Saya lebih suka bercerita dengan laki-laki ketimbang perempuan, mbak. Ya mungkin karena asing. Perempuan kadang bisa ngeles kalau ditanya. Sementara laki-laki, lebih kepada logika. Menjaga aman, mbak. Maaf ya kalau merasa tidak nyaman,” kalimatnya mulai sedikit bernada teman.

Wah, karena si bapak rupanya senang bercerita (atau cari teman cerita di perjalanan), Harieslah yang banyak memegang kendali obrolan. Linda terkantuk-kantuk di kiri saya. Ia agak mual. Masuk angin sepertinya. Sementara saya menyimak obrolan sembari terus chit-chat dengan tim pantau dan memposting.

Ehh, si bapaknya teh keren. Cerita dari keluarganya, tiba-tiba menjurus pada traveling yang ada di Lampung, beliau tahu.

Cerita Pahawang, mitosnya, kepemilikan, tentang hewan-hewan laut. Katanya, umpan kepiting dan rajungan adalah tape dan kelapa parut. Dari pembicaraan mereka, kami diundang buat jalan-jalan dan makan kalau sekiranya kesana. Benaran? Ahahhhah ngga tahu juga sih. Kata si bapak, perjalanan di Lampung “lebih berat” daripada di Jakarta.

Tahun 1992 ia tinggal di Bekasi. Anaknya 5, paling besar kuliah di Politeknik Unila. 3 laki-laki, 2 perempuan.

Ia memberikan tips. Menurutnya, berdiri di pintu tol Bekasi Timur, jangan perempuan yang di depan, tetapi lelaki. Alasannya, akan sulit dan kemungkinan tidak diberikan tumpangan. Entah alasan lain karena apa, mungkin berkaitan etika.

“Nanti turun di Pasir Koja yaaaa..” katanya di sela-sela pembicaraan.

Ngga apa. Kemana pun tujuannya, yang penting, jalur yang kami inginkan sudah mendekati titik. Jadi, JANGAN PUTUS HARAPAN untuk terus berusaha mencari rezeki yah. Khususnya rezeki kendaraan tujuan kami.

***

Numpang bus?
Sumber Google

Baca Karakter Pengendara

Pada kenyataannya, tidak semua pengendara mau membuka obrolan kepada lawan jenis. Sifat menelisik orang asing, akan dengan sendirinya timbul, tanpa disadari. Meskipun niatnya membantu, tetap saja kan? Hhheheh…

Seperti pak Asep di kendaraan kedua kami. Ada beberapa alasan yang mereka (pengendara) katakan. Diantaranya adalah soal keamanan, karena asing, dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Jadi bukan hanya kita sebagai orang yang menumpang saja ingin menjaga keselamatan, pengendara pun demikian.

Baca: Hitchhike Ujian Identitas

Menurut saya, belajar membaca karakter pengendara saat hitchhiking itu perlu. Semakin sering berhitchhike, maka akan semakin bisa membaca karakter pengendara, calon kendaraan serta bagaimana kita di kendaraan nantinya. Melakukannya bisa dengan lobi di awal obrolan, kontak wajah (atau mata) ketika menawarkan bantuan memberi tumpangan, maupun ketika bercerita di kendaraan.

Tidak serta merta kita akan begitu saja dengan mudah meng-iya-kan naik di sebuah kendaraan. Seiring seringnya melakukan hitchhiking, maka insting kita akan bekerja. Merespon setiap kalimat, kontak yang terjadi, serta obrolan kemudian. Semua akan terlatih dengan sendirinya. Pada saatnya, kita akan bisa merasakan bahwa calon kendaraan yang menjadi tumpangan tersebut, aman atau tidak bagi diri kita dan teman sekelompok.

Melakukan hitchhiking berkelompok, artinya kita juga harus saing menjaga, memberi kesempatan pada teman untuk beristirahat dan bergantian bertugas serta melaporkan. Masing-masing dari anggota kelompok, akan dengan sendirinya menyadari apa yang harus dilakukan ketika berhichhiking. Sepertinya naluri berbagi tugas, akan muncul 🙂 .

Di sisi lain, kenali karakter pengendara melalui dua tipe. Pertama, tipe mencari teman yang tertarik berbicara. Atau tipe fokus pada jalur, tapi ingin berteman dan berniat menolong tanpa bercerita banyak.

Hargai mereka dengan tipenya. Karena apapun itu, niat baik akan selalu mengiringi jika Anda pun penuh berpikiran positif. Jangan ragu melakukan sesuatu, karena positif akan membawamu pada hal-hal baik. Terutama bagi seorang hitchhiker.

Selamat menunggu lanjutan cerita saya yaaahhh…. Salam Jempol, Hitchhiker 😉 (jie)

Me at the other side of Bandung.
Doc pribadi, taken by Ceuhay.

***

Iklan

12 tanggapan untuk “Belajar Baca Karakter Pengendara di Hitchhiking (Part 1)”

  1. Seru ya ternyata acara jalan dengan menumpang seperti ini. Jadi tambah banyak ceritanya Dan kita pun dapat cari teman baru dengan ngobrol-ngobrol dalam perjalanan. Dan aku yakin kalau sendirian butuh keberanian yang besar untuk melakukan ini

  2. Unik yaaaa Hitchiker ini…. hhmmmm …. baca uraian kisah nya jadi tahu banyak hal juga . Tapi aku mau kasih masukan. Kalo posting kendaraan ada baiknya Nomor Polisi kendaraan di Tutup. Takut jadi incaran pihak pihak jahat ( takutnya). Btw lanjut kisahnya Share lagi yaaa… aku suka dengan kisah yang terjadi saat berkendara

    1. Nomor polisinya yah, kak?
      Sebenarnya malah wajib posting kalau di HHI. Dan kami selalu izin apakah boleh posting atau ngga. Dan si pllat itu untuk catatan kami naik kendaraan terakhir dengan nomor mana.

      Tapi ada baiknya juga mungkin agak disamarkan yah di fotonya? Siap, kak. Mungkin ejie belajar bertahap.

      Makasih saran dan blogwalkingnya, kak Indra 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s