Traveller

Meteor Flinstone dan Senja Mendung di Gunung Karang Majalengka

Wana Wisata Gunung Karang
Doc pribadi, taken by Dinda

Batu-batu besar, seribu goa, menanti senja diantara mendung, tahu sumedang, dan panjatin wilayah Flinstone. Tempat yang seru untuk bercerita? Ya, Majalengka yang tengah bergeliat dengan tempat wisatanya, kian asik buat dikunjungi. Sebuah tempat wisata yang menyediakan tempat kemping pun, sedang dirapikan. Yuk, ikut menjelajah.

***

Jika langit cerah. Foto diambil ketika Dinda kesana saat menggantung hammock.
Doc Dinda

Akses Gunung Karang

Berada di Blok Pancurendang Tonggoh, Kelurahan Babakan Jawa, Kabupaten Majalengka, saya dan Dinda menyusuri Kota Majalengka, menuju tempat bermain baru. Dinda Permana (Hammockers Majalengka), mengajak saya ke Gunung Karang. Sekitar 15 menit dari rumah Reza Ezot di Babakan Koda.

Berkendara motor ke Gunung Karang ini, kami melewati perumahan penduduk. Lumayan berkelok-kelok. Kalau disuruh mengulang jalan tanpa teman Majalengka, mungkin saya tidak akan ingat. Meni riwueh pisan, poho euy..

Lalu ketika jalanan sudah mulai menanjak, kita hanya menjumpai pepohonan saja di kanan-kirinya. Waktu itu karena sedikit kemarau, pohon-pohonnya kalau ngga gundul, ya berdaun kuning. Agak jarang-jarang. Kehijauan mulai tampak ketika jalanan sudah mulai mendekati pintu masuk. Suasananya lumayan sejuk menuju kesana.

Di sepanjang jalan, beberapa tempatnya, bisa melihat Majalengka dari atas deh. Saya sempat merekam dan memotretnya. Apesnya, itu foto belum sempat di simpan, memorinya ambyar! Waakakakka..

Sementara, kalau mau menuju ke Gunung Karang ini, akses kendaraan umum belum ada. Jadi selain punya teman di Majalengka, sebaiknya ya harus sewa kendaraan deh. Oiya, jalannya juga agak berbatu (kerikil) menuju ke atas. Persiapkan kendaraan Anda sebaik-baiknya ya, kalau memang mau main ke Gunung Karang.

***

Lokasi Kemping

Tanda selamat datang sudah terlihat. Batu besar sebagai penanda, bahwa Gunung Karang merupakan pusat batu-batu. Saya jadi teringat dengan Gunung Nglanggeran di Gunung Kidul.

Gunung Karang merupakan tempat wisata baru yang dikelola oleh warga lokal. Wilayahnya masih berada di Perhutani. Sama seperti cerita Becici.

Baca: Puncak Becici

Selain sebagai tempat wisata dengan bebatuannya, tempat ini juga boleh kemping kok. Hanya tempatnya tidak akan diizinkan di sekitar bebatuan di atas walau ada tempat memadai.

“Berbahaya, mbak. Itu hanya tumpukan batu-batu. Tidak ada pondasi yang menguatkan bahwa disana akan aman kemping, “jelas bapak berbaju hitam tersebut. Iya sih, saya juga teringat dengan cerita Daeng Beta tentang batu-batuan di Kampung Berua, Desa Rammang-rammang, Maros, Makassar.

Baca: 3 Wisata Lain di Rammang-rammang

Kalau mau kemping, disediakan camping ground dengan tempat luas dekat dengan pendopo. Fasilitas toilet memadai, musholla berupa gazebo kecil pun tersedia disana. Bisa menggunakan tenda. Tersedia juga banyak pohon bagi para penggantung ayunan kekinian (hammock).

***

Panjatan susah turun 😪😂
Doc Dinda

Panjat Batunya Flinstone

Kami tiba di pintu masuk. Sebuah pendopo luas terbuat dari kayu, berisi warga lokal didalamnya sedang berbincang. Tampak seorang bapak berpakaian hitam dengan ikat kepala khas Majalengka, mungkin, asik berbicara.

Dinda memarkirkan motor di halaman yang luas. Masuk kesana, cukup membayar retribusi sebesar 5 ribu rupiah per orang. Biaya parkir, 2 ribu per kendaraan roda dua dan 5 ribu per kendaraan roda empat.

Menurut info mereka, waktu saya kesana, beberapa hari sebelumnya, di tempat tersebut, habis mengadakan event Gunung Karang Mendunia. Seni budaya Majalengka, obor malam, tradisi juga kuliner Majalengka, digelar disana. Beberapa hiasan bambu masih terlihat.

Kami melewati tangga dan jembatan bambu yang ada. Di depan saya, plang yang terbuat dari kayu yang dicat hijau krem, bertuliskan Wana Wisata Seribu Goa, terpampang besar di hadapan. Batu-batu besar juga terlihat dari arah datang saya. Dinda mendahului berjalan di depan, memberi arah.

Mungkin karena sedang ditata, gundukan tanahnya masih terlihat gembur. Tanah merah. Kalau hujan, harus berhati-hati ini. Licin.

Saya mengikuti langkah Dinda yang sudah ke atas. Batu-batu semakin besar. Kami naik ke atas dan belok kiri. Sudah mulai terlihat tatanan rapi dengan hiasan. Sebuah bingkai foto besar dengan hastag ala sosial media di kiri atas, cukup menggoda untuk sekadar bergaya. Hhahha iya, saya minta difotoin Dinda.

Kami berjalan. Lapak-lapak warung kecil juga sudah mulai terlihat. Sekitar 3-5 warung tampaknya. Karena kami kesana bukan di akhir pekan, jadi tidak ramai. Hanya ada beberapa pasang muda-mudi saja terlihat. Mengambil foto di bagian spot foto yang terlihat sebagai rumah pohon.

Perjalanan dilanjutkan. Dan huah! Pandangan saya kini hanya melulu berisikan tumpukan batu. Kenapa ya, tiap kali melihat batu besar dan tumpukannya, selalu saja teringat dengan film Flinstone. Gunung Padang di tulisan saya.

Baca: Flinstone di Gunung Padang

Tempat lain yang juga membuat saya teringat akan batu besarnya adalah Gunung Nglanggeran. Batu yang berbeda, karena disana batunya lebih kehitaman dengan besar yang kurang lebih pun bervariasi. Terus ingat dia, huaaiiiyah!

Baca: Nglanggeran

Kata bapak di pendopo, batu-batu di Gunung Karang itu terbentuk dari pecahan batuan meteor yang jatuh ke bumi. Informasinya, batuan meteor tersebut sedang diteliti oleh para ahli. Otak kanak-kanakku, tetap berpikir bahwa meteor ini dari zamannya Flinstone yabadabaduuu ~

Gunung Karang disebut juga dengan Gunung Seribu Goa, karena banyak goa yang terdapat disana.

***

Gunung Ciremai yang terlihat dari Gunung Karang.
Doc pribadi.

Pemandangan Ciamik dan Senja Mendung

Dinda mengajak ke sebuah batu dimana kami bisa duduk santai. Waw, sudah menunggu teman-teman lain ternyata. Ada Andi, Odoy dan adeuh.. saya lupa euy satu lagi! Mereka sedang menunggu senja dan merekam langit dengan time lapse. Asik, minta! 😛

Kami istirahat dan makan tahu Sumedang bareng, bekal yang saya bawa, beli di belokan rumah terakhir sebelum nanjak. Dari posisi duduk kami, di belakang itu terlihat Gunung Ciremai. Awan sedikit menutupi pandangan sekitar Gunung Ciremai. Cukup jelas. Di depan bawah kami, terlihat lembahan. Saya lupa nih. Kata Dinda, disana juga bisa terlihat Gunung Tampomas. Tapi karena agak mendung, gunungnya ngga kelihatan.

Sudah kenyang makan, sementara menunggu teman-teman merekam langit, saya mengajak Dinda telusur bebatuan beda ukuran yang tampak dari posisi duduk kami. Kami berputar. Hoo, ternyata ada jalurnya. Saya tadi berpikir akan naik-turun, manjat batu-batuan. Oalaah.. salah nebak yah?

Lorong susah lewat bagi saya 😹
Doc pribadi

Heem, untuk ke batuan besar di seberang itu, kami melalui tumpukan batu yang membentuk lorong kotak. Ada anak tangga batu dan kayu disana. Dinda lewat. Saya?

“Din, tunggu! Ejie masuk ngga?” kok saya ngga yakin ihh…

“Bisa, Kak Ejieee….” ngakak dia. Sial benar. Waakakkka

Lah benar, bisa lewat kok saya. Masih cukup langsing, okeeeee..

Dinda di spot atas.
Doc pribadi

Wah, sisi bebatuan di sebelah depan ini, lebih bervariasi. Dinda naik ke atas dimana tersedia spot foto dengan pagar sederhana terbuat dari kayu. Sedangkan saya? Penasaran, saya manjat euy ke bebatuan besar yang susah turun akhirnya saya. Ampun deh! Dinda ngakak mulu lihat saya kesusahan.. huaaaaaa

Ya, soalnya kepengin berfoto di tempat yang beda sih. Kalau ingat itu, saya juga ketawa sendiri ini sambil ngetik tulisan 😛

 

Turun dari batu besar, kami mencari spot menggantung. Dinda pernah menggantung disana dengan pemandangan lembahan di bawah. Bagus. Kami mencari-cari spotnya. Begitu sampai, rupanya sudah tidak bisa digantungi euy. Semaknya juga sudah cukup banyak. Dan pohonnya terlihat rawan buat digantungi hammock. Batal deh melihat pemandangan yang diceritakan Dinda.

Ngga apa sih, ngga dapat menggantungkan hammock disana, walau sudah bawa. Tapi saya difotoin dengan senja mendungnya disana. Lumayan ihh pengobat rindu kan yah?

Dari ketinggian saya berdiri, terlihat aliran Sungai Cilutug yang bermuara ke bendungan Jatigede, Sumedang di bawah sana. Mengapit pepohonan dan lembah diantaranya.

Yap, saya menikmati senja mendung pada langit sendu diatas sana. Tak apa senja tidak seperti biasanya. Tak apa senja mengintip malu dari balik awan abu-abu. Tak apa sinar senja ragu menampakkan warnanya. Tak apa pendaran pink kemerahan diantara abu menampakkan kisah warnanya. Karena senja akan selalu disana menemani meski gelap menghampiri. Cerita senja bernaung dalam mendung pun, mempunyai makna, kan? Saya tetap menyukainya ❤ ❤ ❤

Bukankah perjalanan tidak harus sesuai seperti yang kita inginkan? Suasana, teman, proses dan moment yang berbeda, akan menghasilkan cerita yang berbeda pula, bukan? Dan berbeda itu, menjadi cerita saya kini.

Terima kasih ya, Gunung Karang. Langit senja dan Dinda juga teman-teman tahu Sumedang pengabadi senja mendung untuk menemani saya menjelajah Flinstone di wilayah berbeda. Nanti, kalau Ejie kesana lagi, kita main blusukan ke dalam Goa Keak-keak nya yah, Diiiiinnn… (jie)

Senja mendung di Gunung Karang.
Doc Dinda

***

Iklan

8 tanggapan untuk “Meteor Flinstone dan Senja Mendung di Gunung Karang Majalengka”

  1. Bebatuan itu sangat Instagramable yaaaa…. emang kalo jalan jalan ke tempat yang berhubungan dengan alam selalu seru dan gak pernah habis untuk spot photo. Betah berlama lama kalo wisata alam. Gunung Karang sesuatu yang menarik untuk nanti aku jadwalkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s