Hitchhiker Indonesia (HHI)

Hitchhike By Request Bareng Backpacker Pekan Baru

Dwi memanggil
Doc Belly

Hitchhiking ke Bandung, rasanya seperti mudik. Pulang kampung. Kenapa? Karena sering banget. Dari zaman event Hitchhiker Indonesia, latihan freedive tiap minggu sama Bandung Freedive, hingga bolak-balik main berminggu-minggu disana, kebiasaan ya hitchhiking. Sampai akhirnya ketika seorang backpacker Pekan Baru menelpon dan mengajukan, sangat berkeinginan mencoba hitchhiking. Ia tahu saya berdasarkan rekomendasi dari teman Backapacker Jakarta. So, what we do then? Check it out 😀

***

Doc pribadi

Friend by Request

Saya juga kurang paham, kenapa kalau ada orang mencoba memberi tantangan hitchhike, jika waktu, kesempatan serta rezeki berpihak, selalu saja saya meng-iya-kan. Iya akan berangkat. Iya akan jalan. Iya akan ber-hitchhiking.

Soalnya kalau diucapkan, keseringan ngga akan jalan nantinya. Malas saya ngomong doang. Jadi semua memang serba spontan. Tanpa pernah bisa memprediksinya. Tanpa pernah sempat merencanakannya. Let it flow, let it be free.

Masih bingung dengan hitchhiking? Intinya ya ke salah satu tujuan destinasi wisata dengan cara menumpang. Informasi lebih lengkapnya bisa baca di halaman about.

Baca: About Hitchhiker Indonesia

Mungkin kebiasaan memberikan kejutan kepada teman yang biasanya mengajukan ingin hitchhike (HH), saya jarang mengatakan tujuan. Apalagi kalau teman tersebut menyatakan, “Ejie, aku mau hitchhike, tujuannya bebas karena aku juga belum tahu mau kemana. Tapi aku sangat ingin tahu hitchhiking, Jie.”

Nah, asik, kan?

Kali ini akan menempuh jarak dekat yang rasanya seperti balik kampung dah. Kota sejuk yang selalu tak habis untuk di explore. Bandung. Teman baru yang menjadi partner hitchhike tersebut, namanya Belly.

Ia backpacker asal Pekan Baru yang sudah melanglang hingga keluar negeri karena menyelesaikan program studinya. Di waktu senggangnya, Belly kerap melakukan wisata ke beberapa kota atau negara semasa studinya di luar negeri.

***

Belly Bertanya

Belly in action
Doc pribadi

Seharusnya saya bertemu Yayan untuk bercerita ketika kami di Yogya. Ia mengatakan seseorang ingin bertemu saya dan tanya soal hitchhike, Tapi karena waktunya ngga pas, tak bisa bertemu. Yayan pun memberikan kontak saya pada Belly.

Dari rekomendasi Yayan, Belly akhirnya men-chatting saya. Chatting dan saya iseng bertanya ketika ia mengatakan ingin ngobrol banyak tentang hitchhiking.

Banyak bertanya, sedikit menjawab. Mungkin itu yang  saya lakukan ketika itu. Kenapa?

Melihat antusias seseorang, biasanya juga saya lakukan di chatting. Bisa ketahuan sih dari cara lawan mengungkapkan apakah ia tertarik mencoba hitchhike atau sekadar bertanya saja. Berasa kok bedanya 🙂 .

“Belly, sekalian mau coba hitchhiking, ngga?”

Hahhahahaa… sebenarnya siapa yang salah dari ucapan ya? Lah kan daripada bercerita, kalau waktu sangat luang dan bisa praktek, kenapa ngga? Tokh ia akan langsung bisa merasakan susah senangnya.

“Ejie naik bus atau HH?” first asking.
“Ejie HH, kan?” second time.
“Ejie, aku boleh telpon langsung?” boom!

Dan dering telpon itu adalah pemicu yang sudah saya tahankan sejak dua pertanyaan berlangsung. Akhirnya tak bisa dikekang.

Iya, jalan bareng dengan orang yang mencari sejak keberadaan saya di Surabaya, Yogya, Sleman, Solo pada akhirnya terjadi.

***

Jebakan Susah Tidur

Prepare
Doc pribadi

Sejak semalam, saya belum memejamkan mata sedikitpun. SPONTAN melakukan perjalanan selalu saja ada dalam catatan saya. Begitu juga kali ini.

Belly, backpacker Pekanbaru menelpon saya ketika masih di rumah bu dokter di Ciledug. Sedikit percakapan, tapi saya bisa merasakan aura semangat dalam tiap luncuran kalimatnya.

Pertanyaan saya cuma satu, “Blly, mau hitchhike mudah atau susah?”

Ia memberikan jawaban susah dan saya segera mencari tahu meeting point untuk hal yang ia inginkan. Basecamp @backpackerjakarta adalah tempat yang saya tentukan untuk bertemu.

Dinihari tadi pukul 02, saya masih memberikan pertanyaan jebakan. Mau susah atau mudah? For one last chance, ill give it to him. And he said, DIFFICULT!

Hhehehe maafkan saya yah, Belly 😉

***

 

First Met With @bellmountjourney

Meeting Point, 03.32 WIB

Backpacker Jakarta adalah tempat saya dan Belly bertemu. Saya menentukan tempat tersebut, karena dekat dengan pilihan Belly yang ingin mencoba hitchhike susah (ala saya).

Kategori susah dalam pandangan mata minus saya, karena berkaitan dengan menunggu. Bisa menjadi bosan bila kendaraan yang kita inginkan tak kunjung tiba. Bisa lama menunggu hanya karena salah pilih tempat, waktu yang tidak pas dan bermacam alasan lain.

Menunggu buat saya pribadi, bisa dihubungkan dengan kesabaran. Titiknya yakni, sampai dimana batas kesabaran kita dalam menunggu sebuah kendaraan bersahabat yang akan membawa langkah kita ke tujuan.

Jenuh sudah pasti jika kamu tidak bisa memanfaatkan waktu dalam penantian tersebut dengan baik. Maksimalkan saja apa yang bisa kamu lakukan ketika menunggu kendaraan.

Misalnya jika bersama teman, berceritalah. Waktu tidak akan terasa lama. Dan diantaranya bisa sambil memampangkan tulisan NUMPANG dan tujuan.

Tersenyum dan semangatlah selalu, karena modal kita melanjutkan perjalanan ada pada niat dan ukuran positif hati juga maksud berhitchithhike  🙂 .

***

Starting Point, 04.00 Wib

Boleh numpang?
Doc pribadi, taken by Kang Ading

17 menit kami menunggu dan akhirnya mendapatkan kendaraan pertama. Mayasari Bhakti B1041 nomor badannya.

Jujur, Belly bukan orang yang terburu-buru dalam mencapai kendaraan yang ia inginkan. Saya yang selalu bersemangat ketika melakukan hitchhike, bisa melihat seperti apa teman pejalan saya kali ini. Hanya dengan bercerita.

Ia santai dalam memandang hidup, tapi mempunyai tujuan. Menggebu dalam tiap ucapan yang ia lontarkan. Akan terasa ketika sedang berbicara mengenai sekolah, beasiswa dan hal yang berhubungan dengan itu. Beberapa kali dalam ber-hitchhiking, saya menemui orang dengan tipe seperti Belly yang semangat ini.

Ia mengambil S2 di India tahun 2014-2016 dan menyelesaikan studinya tanpa memakai wisuda. Tapi hingga kini belum mendapatkan ijazah walau sudah mendapatkan transkrip nilai.

Ada beberapa cerita India yang saya rasa harus di keep, just for me. Hehhhee…

Kami sampai di Pintu Tol Bekasi Timur pukul 04.24 Wib dan seperti biasa dooongg.. saya masih saja gagu dengan peta dan jalur jalan, “Ada dimana kita ini, Belly?”

Adeuh, maafkan saya lagi, yak? Kebiasaan jelek saya, sangat susah hapal dan ingat jalur.

***

Rehat yang Santai, 04.25 Wib.

Take a rest
Doc Belly

Teman baru yang menimbulkan banyak arti. Saya adalah pemerhati teman pejalan dalam hitchhiking. Mempelajarinya dalam tiap kesempatan dimana ia tidak malu bertanya pada kendaraan yang berhenti. Melihatnya dalam cara berbicaranya dan mendengarkan ketika ia bercerita tentang India, dan Indonesia?

Pada kalimat dalam chatting wasapnya, Belly menurut saya orang yang antusias. Dalam kenyataannya ia orang santai, anteng pembawaannya. Tapi bila berbicara, ia orang yang luas wawasannya. Tidak mengecilkan satu pihak, namun berusaha memberikan yang terbaik, tidak untuk dirinya, Belly juga memikirkan saya sebagai teman jalannya. Tidak melihat saya sebagai orang yang sering melakukan hitchhiking, tapi mendekat karena cerita. Berbagi. Nice one.

Saya mempertimbangkan jam subuh yang sejak tadi saya dengar kumandang adzannya. Di pintu Tol Bekasi Timur, kami akhirnya memutuskan beristirahat dan shalat. Setelahnya saya meminta waktu untuk memposting perjalanan. Memberi ruang pada pemantau untuk tetap “ada” pada kami berdua.

Cukup lama kami berhenti. Saya mengikuti langkah Belly, bukan mengekor. Keep on eye? Hhahahaa.. pelajari temanmu? Boleh dikatakan seperti itu kok. Kan belajar. Banyak hal yang bisa diperoleh dari orang baru, bukan? Wawasannya.. terima kasih Belly.

***

Doc Belly

Kakak Mau Kemana?

05.45 Wib

Dwi, gadis berbaju pink dengan senyum gigi putihnya tiba-tiba muncul di hadapan saya. Ketika itu, saya tengah meminta tolong Belly untuk memotret saya dengan tulisan NUMPANG. Kami akan bergantian berfoto.

“Kakak mau ke Bandung?” ia melihat tulisan berikutnya setelah numpang.

Saya kaget. Sedikit bingung dengan pertanyaan mendadak yang muncul. Bagaimana tidak? Saya yang biasanya mengajukan pertanyaan demikian pada kendaraan tumpangan saya, harus berbalik menghadapi kalimat saya sendiri.

Hhahahha…merasa bloon, saya cengok. @meiduwipuji masih tersenyum pada saya. Mata saya meluluh, ngeh dan segera beralih pada Belly yang sepertinya mengambil alih pembicaraan.

Iya, belum tidur sejak Selasa kemarin, membuat konsentrasi saya agak buram. Butuh bantuan Belly menetralkan suasana. Belly menanyakan beberapa hal termasuk mobil yang tadi dihampiri.

Senang deh Belly berbagi tugas pada saya. Ia belajar dari awal kami berdiri di Cawang. Saat yang tepat dimana Belly dengan cepat beradaptasi bagaimana cara berbicara dengan orang yang berkenan memberikan tumpangan. Apalagi, saat itu, kami ditawarin, bukan mencari. Waaahh.. rezeki!

“Mobilnya Mobilio putih, kak. Di depan bus itu,” Dwi menunjukkan jemarinya.

Kami akhirnya berfoto bareng bertiga sebelum berjalan ke arah kendaraan yang akan membawa kami ke Bandung.

HuĂ aahh.. rezeki memang tidak akan kemana. Perjalanan santai, tanpa beban, menikmati setiap proses yang terjadi, berdamai dengan rasa yang belakangan selalu mengikuti.

Ahh.. saya merasakannya sejak saat itu. Ketika satu waktu menjadi bersama. Ketika sabar menjadi hal yang tak terelakkan pada saya. Ketika denting mengalun pada malam dimana saya pada akhirnya bisa terlelap. Dimana saya menemukan pandangan malam yang mengarah pada saya. Dimana saya menemukan batik diantara kainnya. Ketika saya terpana melihatnya. Hhh… Lalu terjadi lagi pada pendakian Gunung Lawu Jalur Cetho minggu lalu bersama @hammockers.jakarta . Bahwa ada hal berbeda yang saya rasakan.

Hal yang membuat saya semakin menerima berbagai hal yang terasa kurang di diri, berkaca-kaca tanpa di duga. Atau membuat saya menginginkan tapi tak bisa, menjadikan saya bertahan dalam dingin karena mengingat jaket itu. Hal yang pada akhirnya membuat saya sakit perut tak tertahankan, tetapi saya melewatinya dalam diam tanpa seorangpun tahu. Saya belajar banyak pada hal-hal tak terduga pada sebuah hidup.

***

Ke RS tempat kakak Dwi akan melahirkan.
Doc Belly

Numpang Mobilio @meiduwipuji

05.47 Wib

Cihuuyy… akhirnya kami naik kendaraan Dwi yang kuliah di Unindra, Jakarta nih. Isinya keluarga yang sangat bersahabat dengan logat halus yang saya suka.

Pak Subakhi dan Ibu Muksiati adalah orangtua Dwi yang terbuka. Mereka akan menuju ke Rumah Sakit Muhammadyah Bandung melihat anak pertamanya yang akan melahirkan cucu pertama. What a wonderful world, right?

Saya dan Belly bercerita banyak di dalam mobil. Tentang komunitas @hitchhiker_indonesia saya, tentang pekerjaan saya, tentang kesukaan saya pada hitchhiking dan lainnya.

Pun Belly bercerita mengenai aktifitas, jalan-jalan yang ia lalukan, keunikan India, indahnya Indonesia dan hal-hal yang lebih touchy, i knew it.

And the best discussion is, when they’re blend all of the topic. About president, people, heritage and so on. It was amazing when i heard. I tried to listen to conversation while writing my blog. Nooo.. this post.
*psst i ask Belly to spell the words
.

Bell, i slept for a while, so im asking u. Emm.. and thanks for the different journey and story that u shared with me.. 🙂 (jie)

Mobil akhir yang mengantar ke Bandung.
Doc Belly

***

 

 

Iklan

2 tanggapan untuk “Hitchhike By Request Bareng Backpacker Pekan Baru”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s