UKM

Cepon, Anyaman Bambu Desa Gunung Tajem

Ibu Lili, perajin anyaman cepon yang tengah mengajari saya.
Doc Agie, taken by Iqbal.

Wadah nasi terbuat dari bermacam bahan. Nama, bentuk dan warnanya pun berbeda. Satu diantaranya adalah kerajinan anyaman bambu yang biasa dipakai di kampung, bahkan sudah merambah ke restoran. Dikenal dengan nama bakul, wadah ini pun bisa multifungsi.

***

Bakul yang sudah jadi dan setengah jadi.
Doc Agie

Aneka Bakul

Kebanyakan orang menyebutnya wadah nasi atau bakul (Indonesia). Sementara di Sunda, bakul disebut dengan cepon atau boboko. Ukurannya lebih kecil dari bakul biasa.

Bakul biasa, ukurannya lebih besar. Tergantung peruntukannya juga. Bakul multifungsi bisa ditaruh sebagai wadah apa saja. Misalnya sayuran, beras, buah-buahan, tempat ikan di pasar, tempat menangkap remis atau ikan bagi nelayan, asesories, dan lain-lain.

Bakul zaman sekarang, macam-macam bahannya. Ada yang terbuat dari stainles steel, mika, enamel, alumunium, plastik, atau kaca.

Kalau dulu, terbuat dari tanaman bambu. Dianyam sedemikian rupa membentuk wadah dengan cekungan. Kadang dibuat dengan beberapa warna dalam satu wadah, tetap menggunakan bambu. Pewarnanya bisa buatan, bisa pula sintetis.

Sekarang maupun dulu, bakul beranyaman bambu, tetap diminati. Tidak hanya untuk kebutuhan rumah tangga saja, bakul juga banyak digunakan oleh restoran-restoran terkemuka, khususnya yang bernuansa alami. Atau juga yang dalam menunya mengedepankan selera nusantara.

***

 

Belajar Menganyam Cepon

Saya dan Astri, mengunjungi salah satu desa kerajinan bambu bersama teman-teman dari Ranto Canyon. Kami melewati banyak gabah yang terhampar di jalan. Berlapis terpal putih dengan ibu-ibu bertopi caping yang menyapu hamparan gabah, meratakannya supaya terkena sinar matahari.

Jalan naik-turun di Desa Salem rasanya sudah tidak asing lagi bagi saya yang beberapa hari tinggal disana. Udara segar, hijau di sekitar dan kini kunjungan ke pembuat bakul atau cepon (boboko) pun terasa menyenangkan. Seperti Pangalengan, Bandung. Ahh, kangen.

Agie, Beko dan saya datang paling belakang. Iqbal, Irfan, Tedy dan Astri sudah tiba terlebih dahulu. Astri bahkan sudah mulai belajar menganyam pada seorang ibu yang duduk santai di teras kayu depan rumah.

Astri dan Iqbal yang sudah belajar mengayam.
Doc Agie.

Hampir semua warga Desa Gunung Tajem, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, berprofesi sebagai penganyam bambu, pembuat cepon atau boboko. Kerajinan turun-temurun ini sudah beranak-pinak sejak zaman nenek dari neneknya ibu Lili, ibu yang mengajarkan Astrid dan saya menganyam hari itu.

Desa Gunung Tajem merupakan sentra pembuatan dan kerajinan anyaman bambu. Tanaman bambu banyak tumbuh di desa tersebut. Beruntung saya memilih tawaran yang diberikan Iqbal untuk berkunjung ke desa ini. Melihat, sekadar berbincang, juga belajar menganyam pasti cukup diantara waktu main yang pas-pasan.

Tangan-tangan lincah ibu Lili bergerak cepat menganyam bambu yang akan dibuatnya menjadi cepon. Kalau dihitung, ada 10 tumpuk cepon setengah jadi dikerjakannya. Polos, berwarna juga bermotif. Ada tiga motif yang dibuat olehnya. Satu motif sudah sering dikerjakan, dua motif lainnya, hasil kreasi ibu Lili.

Dalam 1 jam, ia bisa membuat dua buah cepon. Terkadang ia membuat cepon setengah jadi, menjadi beberapa buah. Karena menurutnya, bagian awal memulai agak sulit.

“Kok mata saya siwer ya, bu?” cepon yang baru seperempat jadi, agak membuat saya kewalahan. Saya tidak membuatnya dari awal, tetapi meneruskan cepon ibu Lili. Jadi teringat belajar paracord, dimana saya belajar di Surabaya sebulan agar bisa paham.

“Ibu ngga bosan?” tanya saya.

โ€œNdak bisa bosan, mbak. Tetap saja nanti harus diselesaikan. Kalau bosan, kerjakan yang lain saja dulu,โ€ ujarnya tersenyum malu-malu. Sederhana, ibu Lili yang mengenakan daster batik dengan rambut dikuncir terus saja menganyam, menyembunyikan jawaban malu-malunya.

Kata ibu Lili, kalau kita sudah pernah membuat rumah ketupat, tehniknya hampir sama. Hanya ini lebih banyak bambu-bambunya. Pusing juga kalau belum terbiasa ๐Ÿ˜€

Ibu Lili biasa membuat 50 cepon dalam 1 bulan. Ia menjualnya dengan harga 8K IDR per ceponnya. Membuat kerajinan cepon, haruslah telaten agar menghasilkan cepon rapi siap pakai.

***

Ada hitungannya.
Doc Agie, taken by Iqbal

Proses Bambu Cepon

Mudah saja bagi orang-orang yang telah terbiasa membuat cepon. Namun, jika kita termasuk yang baru belajar, cukup rumit juga mempelajarinya. Hitungan 2-2-1 untuk anyamannya, bikin saya kelimpungan. Harus sabar sih. Apalagi kalau sudah pakai pola motif.

Bagi pemula seperti saya, membuat cepon mungkin bisa 1 bulan. Tapi kalau telaten, belajarnya bisa 1 minggu. Lebih cepat dari biasanya. Itu pun harus menguasai tehnik dasarnya dulu. Gunanya sebagai panduan awal dalam membuat motif lain.

Karena di Desa Gunung Tajem banyak bambu, biasanya perajin anyaman membeli dari para petani atau penjual bambu. Per pikul bambu, harganya hingga 70K IDR dengan panjang 5 meter.

Satu buah bambu bisa membuat 5 cepon.

Sebelum digunakan, dilakukan beberapa proses pada bambunya:

  1. Bambu dipotong menjadi beberapa bagian.
  2. Diamplas, dijemur agar bambu kering. Terutama wilayah lubang bambu yang biasanya lembab dan dingin.
  3. Setelah kering, bagian luar, beberapa di beri pewarna untuk variasi cepon.
  4. Jemur kembali bagian bambu yang diwarnai.
  5. Lalu bambu diserut sesuai ukuran cepon, tergantung kebutuhan dengan ukuran yang sama.
  6. Bambu sudah mulai bisa dianyam.

Banyak bentuk kerajinan bambu yang bisa dihasilkan selain cepon. Misalnya caping, tampah, kipas, tikar, dan lainnya.

***

Menganyam cepon.
Doc Agie, taken by Iqbal

Istilah Dalam Bakul atau Cepon

Modal utama selain bambu, tali dibutuhkan juga dalam membuat cepon. Fungsinya sebagai pengikat antara serutan bambu, agar kuat.

Wengku adalah tali pengikat paling atas untuk pinggirian cepon.

Soko adalah pondasi cepon yang juga terbuat dari bambu, diikat juga dengan tali setelah sebelumnya dipaku kecil agar kokoh.

Tali-tali ini biasanya berwarna kuning. Mudah dikenali jika kita melihat kerajinan anyaman bambu.

Nah, kalau Anda sedang liburan ke Salem, mampirlah ke Desa Gunung Tajem. Siapa tahu berminat belajar membuat cepon. Mungkin juga mau membeli cepon-cepon karya warga disana untuk keperluan di rumah atau restorannya.

Oh iya, mereka juga bisa membuat wadah hantaran sesuai permintaan. Siapa tahu dalam waktu dekat, ada yang butuh kerajinan anyaman untuk hari besarnya. Berbagi rezeki pada buatan lokal, ngga ada salahnya kan? (jie)

Belajar membuat cepon.
Doc Agie, taken by Iqbal

***

Iklan

4 tanggapan untuk “Cepon, Anyaman Bambu Desa Gunung Tajem”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s