Traveller

7 Hitungan Bambu di Curug Cinini Majalengka

Majalengka menjadi salah satu destinasi yang juga masuk dalam daftar para pejalan. Bukan tidak sedikit yang mengupload wisata Majalengka khususnya terasering Panyaweuyan. Namun, bagi para penyuka air, curug adalah pilihan lain untuk bisa menikmati wisata alam disana. Satu diantaranya, Curug Cinini Nini.

Curug Cinini dari arah datang.
Doc pribadi

***

Mata saya sibuk merekam beberapa pemandangan yang menyesap jiwa. Udara segar dari hijaunya pemandangan serta langit biru ceria, tak lepas dari balik kacamata minus ini. Kaki saya duduk diam diatas kuda besi tangguh, menuju ke Curug Cinini Nini di Dusun Pamaringinan, Desa Payung, Rajagaluh, Majalengka. Lokasinya agak ke atas. Berada di selatan, daerah bawah kaki Gunung Ciremai, Desa Payung ini, sejuk.

Perjalanan dari rumah Reza Ezot, sekitar 30 menit berkendara motor jalan santai. Melewati bendungan air yang menurut Ezot (panggilan kepada Reza), tetap terus dijaga dan dilakukan perbaikan dibeberapa sisi.

‘’Bendungan tersebut juga kadang dipakai berfoto oleh para netizen, Jie. Jadi ramai. Apalagi kalau sedang weekend. Ugkhh.. ” Ezot bercerita diantara deru motor kami.

Bendungan/waduk Sindangpano ini, bisa dijadikan alternatif kunjungan wisata juga lhooo.. Cerita waduknya, nanti yah kalau saya balik main ke Majalengka. Hhahhaha..

***

Curug Sindok

Kami tiba di Desa Payung, tepatnya rumah Egy Friyadi, barang-barang yang tidak terlalu perlu dibawa, kami tinggalkan. Sepatu berganti sandal gunung, karena kami akan bermain air.

Ke arah Curug Cinini, kami berkendara motor kembali. Kali ini tanjakannya lebih tajam. Huaaaa… takut merosot dari motor euy saya, ketinggalan nantiiiii..

Motornya kami titip di rumah teman Egy, lalu soft treking adalah salah satu cara yang kami tempuh. Lewat (sedikit) hutan, jalur (sedikit) air, (agak) kebun nenek.

“Ehh, kok jalannya ngga biasa? Jalan tikus yah, Gy?” tanyaku.

“Iya, ini jalan pintas biar ngga kejauhan mutar. Jarang lewat sini. Biar Ejie ngga cuma dapat jalan lurus sedap aja, boleh kan?” hhahahhaa… boleh banget maaahh

Walau begitu, tetap saja, garuk-garuk karena ada beberapa tanaman yang tersentuh badan, otamatis gatal deh. Resiko? 😷

5 menit? Rasanya iya. Sebentar saja kami menerobos hutan kecil ala Egy, lalu tiba di Curug pertama, Curug Sindok atau disebut juga Curug Sendok.

Kondisinya, mungkin saat itu masih hitungan musim kemarau ya? Karena air di curug tersebut, sedikit.

Tak seperti layaknya curug lain yang dipenuhi bebatuan. Tidak terlalu banyak batu di curug ini, kecuali ketika baru sampai –di pijakakn kaki kami-, di jalan melipir ke arah curug kedua, lalu diantara jatuhan air curugnya.

Yang paling banyak terlihat di sekitarnya adalah rumput kering berwarna kuning. pemandangan ini ditambah dengan jatuhan dedaunan di air curug menggenang. Ehh, menggenang? Iya, karena airnya tidak memenuhi curug seperti biasa. Mungkin kalau kaki menjejak di dalamnya, hanya sebatas lutut jika berjalan sampai ke tengahnya.

***

Curug kedua bersama teman-teman.
Doc by Andy Mala.

Curug Kedua

Naik ke Curug kedua (saya lupa namanya), kami melipir ke jalan batu di kanan. Agak lebih lebar dari curug di bawah, kira-kira 5 meter.

Airnya lumayan banyak. Kalau masuk ke dalamnya, bisa sebatas paha orang dewasa. Cuma karena kondisinya juga banyak dedaunannya, kami tidak berencana main air di curug itu. Belum ada yang berminat nyebur.

Kalau dilihat, tempat itu, agak jarang dikunjungi orang, atau kami datangnya di saat orang tengah bekerja ya? Soalnya pengunjungnya memang hanya kami saja. Kebetulan Ezot juga sedang cek lapangan, jadi ya sekalian ikut main.

Sebenarnya, inti dari semua curug ini terletak di curug inti, paling atas. Kedua curug ini, hanya bagian dari Curug Cinini. Alirannya melewati kedua curug untuk kemudian mengaliri persawahan yang ada di Desa Payung. Karena dijelaskan Egy, air ini berasal dari mata air Gunung Ciremai.

Yap, kami bergaya di curug kedua ini. Buat tanda bahwa ada aliran curug juga loh di bawah Cinini.

***

Curug Cinini Nini

Ada kisah yang melatarbelakangi Curug Cinini Nini. Dimana dulu, pernah ditemukan tubuh seorang nenek (nini sebutan dalam bahasa Sunda) di lokasi curug. Sejak itu, curug dikenal dengan sebutan Curug Cinini Nini.

Kalau dengar cerita Egy atau lihat di om Google, cerita curugnya, hampir rata-rata mistis begitu deh. Saya lebih suka cerita nyata euy.. Ya Maklum, saya (lumayan) penakut dan bawaannya sering parno kalau diterusin. Hhheheheh

Makanya kalau mau cerita mistis, searching sendiri saja, owkeeey 😀

Dulu, Curug Cinini Nini yang berada di Dusun Pamaringinan, Blok Rebo ini, kedalamannya bisa mencapai 7 bambu. jika ditancapkan hingga ke dasarnya.

“Bisa 20 meter lebih ke bawah. Dalam banget. Mungkin itu salah satu faktor ditemukannya nini yang meninggal, menurut mitos. Kini berkisar 5 meter kedalamannya. Sudah banyak endapan pasir yang membuat curug tidaklah sedalam dulu,” terang Egy

Jika dilihat, air terjun Curug Cinini ini tingginya 5 meter. Jatuhan airnya hanya satu arah, tanpa ada jalur lain di sebelahnya.

“Kalau musim hujan, jatuhan air lebih deras,” tambahnya.

Dipercaya, air curug ini juga manjur sebagai air kesehatan. Airnya bersih dan dingin kalau kita mandi atau sekadar mencelupkan kaki saja. Mungkin karena curug ini terletak paling atas dan mendapat aliran langsung dari Gunung Ciremai, maka tempat lebih bersih.

Kata Egy, siapapun diperbolehkan memancing di curug ini. Banyak ikan-ikan sebesar telapak tangan yang kadang muncul ke permukaan. Heeemm.. bisa dinikmati sembari dibakar atau digoreng sendiri, piknik bersama teman atau keluarga. Wah, seru juga ya!

Suasana rimbun serta gemerisik angin terdengar dari daun bambu yang mengapit Curug Cinini. Sedikit kecoklatan karena tengah musim kemarau.

Banyak batu-batu besar di kanan-kiri menuju ke curug tersebut. Aliran air mengalir pun jelas berada diantara bebatuan yang mengarah ke bawah, membentuk kubangan. Jika kita melihat dari atas, aliran ke curug kedua pun tampak bagus.

Jika musim penghujan, air akan memenuhi batu-batu tersebut dan mengalir deras. Debit air di curug pun akan naik. Tidak disarankan main di sekitar curug jika musim penghujan tiba, untuk keselamatan.

Masuk ke curug ini, bisa melalui jalur lain di sebelah kiri, beda arah dengan jalan masuk kami tadi. Jalannya berupa jalan setapak dengan tanah merah kecoklatan yang dipenuhi jatuhan daun bambu. Jalan setapak membentuk tangga-tangga alami.

Jalan dari bawah ke atas tadi ngga lama kok. Total perjalanan 15 menit ditambah saat kami menikmati dan bercerita di setiap curug yang disinggahi.

***

Meditation 😘
Doc by Andy Mala

Tips Bermain di Curug

Agar bisa bermain aman selama di curug, gunakan dan bawa alat berikut:

  1. Sepatu karet (seperti booties) atau sandal gunung, jangan sekali-kali memakai sandal jepit, karena solnya kurang aman dan kadang slip juga mudah terpeleset.
  2. Pakailah baju cepat kering (dryfit) agar badan tidak selalu lembab terkena keringat dan percikan air curug yang kencang.
  3. Siapkan selalu jas hujan, webing serta headlamp, untuk berjaga-jaga dalam kondisi tertentu.
  4. Pilih pijakan batu yang tidak oleng, mengurangi kaki terpeleset atau terjepit diantara bebatuan sekitar curug.

Banyak curug di Majalengka, Jawa Barat yang bisa dieksplore lagi lhooo…. Tetap jaga kesehatan biar terus beraktifitas.

Selamat menikmati bermain curug, kawan. Selalu berhati-hati dan jagalah kebersihan sekitar, agar lingkungannya tetap asri juga sejuk 😉 (jie)

***

Adem 😉
Doc Andy Mala

Teman susur Curug Cinini:

  1. Egy Friyadi
  2. Aly Bilung
  3. Reza Ezot
  4. Andy

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s