wisata kota

Aura Kudus Kulon, Pandangan Toleransi Beragama dalam Arsitekturnya

Kuda besi itu berlari lumayan kencang. Melewati beberapa ruas jalan yang entah, tak begitu hapal. Ya, untuk pertama kalinya, kaki ini menjejak di wilayah Kudus. Bersama Imam, teman, Melisa, kami berpacu pada udara terik sekitar. Hingga ketika memasuki ruang lampau di kota, membuatku ingin kembali kesana. Kota yang berbeda.

Landmark Kota Kudus yang berada di Desa Kauman.
Doc pribadi.

***

Kudus Kulon

Pandangan mata terus saja melihat jalan lurus yang hanya sejalur, menurutku. Iya, belum pernah menjelajah seluruh kota tersebut. Pertigaan tampak di ujung jalan depan. Sebuah pasar, mungkin. Tapi aroma yang singgah di indera nalarku mengatakan bahwa kota ini berbeda.

Lorong kecil yang sebagian sudah dimakan usia, tampak dari lumut hijau di dinding bagian bawahnya. Jendela kayu lama bersahaja, warna coklat yang tentram, serta conblok rapi menyisir tengah jalan. Pintu-pintu unik dengan dinding-dinding putih tinggi, tertangkap olehku.

Lalu-lalang orang di depan sana dalam barisan seragam putih abu-abu, menambah rasa ketertarikan. Kota yang tenang tanpa hingar-bingar. Tergelitik, atau penasaran?

Kota Lama Kudus yang berada di Kulon, diketahui orang karena adat istiadat yang kuat dengan kehidupan keagamaannya. Kudus Kulon dulunya dikenal sebagai pusat pemerintahan.

Kudus berbatasan dengan Pati (timur), Grobogan dan Demak (selatan), serta Jepara (barat). Perkembangan Islam di Kudus, terjadi pada abad pertengahan.

Kota yang dulunya tumbuh dengan aroma dupa dan dipenuhi dengan Tajug (atap arsitektur kuno yang digunakan sebagai tempat bersembahyang umat Hindu) tersebut, berganti dengan adzan berkumandang, serta lantunan suara kalimat tauhid. Oleh Sunan Kudus, nama Tajug akhirnya diganti dengan Kudus yang berarti suci.

Penyebaran agama Islam di Kudus, berpedoman pada filosofi keselamatan hidup dunia dan akhirat. Gusjigang, adalah berkhidmat pada pekerti luhur -bagus- (gus), bertekun pada ibadah dan ngaji (ji), dan berniaga dengan ridha illahi (gang).

Meskipun bukan penduduk asli Kudus, dan merupakan keturunan dari Sunan Ngudung yang berasal dari Al-Quds, Palestina, Sunan Kudus menjadi panutan. Ia membawa perubahan disana dengan melakukan pendekatan kultural dalam berdakwah.

***

Masjid berikut Menara Kudus.
Doc pribadi.

Menghormati Keyakinan Beragama dan Kultur

Imam memarkirkan kendaraannya di kiri jalan, depan sebuah toko. Tak lagi memperhatikan keramaian di depan sana, penglihatan ini sudah menempuh warna coklat bata di hadapan. Terbatas pada pagar, mungkin bisa dikatakan seperti itu. Coklat dan hijau sedikit, menambah hangat pemandangan.

Dari arah pandang parkir motor, terlihat gapura Paduraksa. Biasa disebut Lawang Kembar. Gapura ini tampak mengapit masjid yang berada di sisi dalam. Kami memasuki pelataran masjidnya.

Gapura Paduraksa atau Lawang Kembar di pintu masuk utama.
Doc pribadi.

Ada tiga pintu masuk ke Menara Masjid Kudus. Pintu utama di Lawang Kembar yang langsung mengarah ke masjid. Pintu kedua dan ketiga berupa gerbang kecil setinggi 1,5 meter lainnya, menuju arah menara.

Pintu kedua.
Doc Imam Khanafi.

Terdapat Masjid Menara Kudus disana yang disebut dengan Masjid Al-Manar (Masjid Menara Al-Aqsa Manarat Qudus). Masjid ini berada di Desa Kauman, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Hanya menempuh waktu kurang dari 30 menit jika dari Alun-alun Kota Kudus.

Terlihat bahwa Sunan Kudus pun, tetap menghormati umat beragama dan budaya yang ada disana. Ia menggunakan budaya Hindu-Budha-Islam pada arsitektur bangunan di Menara Masjid Kudus.

Di Masjid, kita juga bisa melihat 8 pancuran air yang dipakai untuk berwudhu. Jumlah pancuran ini dimaksudkan ajaran Budha, yakni Asta Sanghika Marga atau Delapan Jalan Utama menjadi pegangan masyarakat waktu itu. Delapan Jalan tersebut  berkaitan dengan:

  • Sila (kemoralan): ucapan, perbuatan dan mata pencaharian  benar.
  • Samadhi (meditasi): upaya, perhatian, konsentrasi benar.
  • Panna (kebijaksanaan): pandangan dan pikiran benar.

Jika disambungkan, rasanya juga berkaitan dengan kita (Islam) yang beretika, pun ketika beribadah (shalat) juga demikian. Ya, itu opini saya. Boleh kan, penulis beropini? 😊

Di dalam masjidnya, juga ada 8 tiang kayu besar yang terbuat dari kayu jati loh.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Menara masjid tertua di Jawa ini dijadikan sebagai landmark Kota Kudus. Digunakan untuk mengumandangkan adzan dan memukul bedug pada saat bulan Ramdhan.

Kita juga bisa masuk ke dalam menara, jika ada izin dari petugas jaganya. Tempatnya memang tidak terlalu luas.

Hari itu, masjid tampak ramai, padahal kami berkunjung di hari Senin. Penuh anak-anak sekolah dan orang-orang berpakaian lengkap dengan kain sarung, kopiah dan baju koko. Yang unik, warga yang akan ke masjid ini, rata-rata bersepeda atau berjalan kaki. Motor dilarang parkir di pelataran halaman masjid.

***

Pintu masuk ke arah makam Sunan Kudus.
Doc pribadi.

Makam Sunan Kudus

Meskipun panas oleh udara yang belum bersahabat dengan kulit, namun tidak menyurutkan langkah kaki saya ke bangunan di kiri Menara Masjid Kudus. Bersebelahan dengan masjid, kita bisa menyambangi makam Sunan Kudus. Beliau merupakan salah satu Wali Songo penyebar agama Islam di Jawa yang bermukim di Kudus.

Setelah gapura di depan, kita akan melewati pintu di depan, kemudian menyusuri ke bagian dalam yang berupa jalan setapak. Semua bangunan dan gentengnya, juga menggunakan bata. Padanan serasi dengan langit cerah. Senang melihat warnanya.

Di dalamnya terdapat makam-makam berpusara putih. Makam Ja’far Shadiq paling sering diziarahi. Katanya, ada makam yang panjangnya tidak seperti ukuran biasa kita didalam sana. Mungkin itu makam Sunan Kudusnya ya?

Sunan Kudus wafat pada tahun 1550 Masehi pada saat sedang shalat berjamaah. Makamnya banyak diziarahi oleh pendatang dari seluruh penjuru negeri.

Seperti Pak Ade (Bogor) yang datang bersama keluarganya, “Saya hanya ingin berziarah, berdo’a, mbak. Tahu tempat ini juga dari keluarga. Kebetulan berdomosili di Kudus. Sekalian berwisata.”

Saya ngga masuk ke dalam makam Sunan Kudus. Selain ramai dan antri penuh (banyak banget yang berseliweran ketika saya memandang dari gapura luar), saya juga sedang dalam kondisi belum bersih. Jadi enggan masuk. Cukup melihat dari luar saja, sudah puas kok. Mungkin lain waktu, berkesempatan masuk kesana. Hhhehhehe

***

Jaga Sikap

Sudah selayaknya jika mendatangi tempat beribadah atau tempat suci dalam agama apapun, pakaian yang dikenakan haruslah sopan dan tertutup. Demikian pula di seputar Menara Masjid Kudus di Desa Kauman ini.

Atau seharusnya, dimanapun kita berada, menjaga sikap adalah hal bijak yang bisa kita lakukan, bukan? Tidak untuk orang lain saja, tetapi bagi diri pribadi.

Jadi jalan-jalan bukan sekadar haha-hihiii hore atau mengambil gambar saja, kan? Banyak hal yang bisa kita gali dan bertambah wawasan dengan mendatangi satu tempat wisata.

Emm, untuk yang mau berpendapat tentang tempat ini silahkan saja. Pun jika tidak semasukan dengan tulisan saya. Sudut pandang, boleh berbeda loh..

Kalau sudah begini, kita mau jalan kemana lagi ya? (jie)

***

Kudus One Day Trip by me.
Guide Imam Khanafi, a journalist at that time, last position as editor in a newspaper, and father to his daughter, KAF.

 

Pelataran halaman masjid.
Doc Imam Khanafi.

Sumber:

 

 

 

Iklan

2 tanggapan untuk “Aura Kudus Kulon, Pandangan Toleransi Beragama dalam Arsitekturnya”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s