Traveller

Melihat Goa Ponggolo Zaman Perang Diponegoro

Pilihan wisata di Agrowisata Bhumi Merapi.
Doc by M Akhbar Ardhani

Objek  wisata tak hanya menawarkan tempat dan pemandangan indah, aroma sejuk maupun warna yang menentramkan pandangan mata saja. Beberapa tempat yang dikunjungi, terkadang memacu adrenalin, rasa penasaran yang besar karena ingin mengeksplor. Dan belum tentu juga, tempat tersebut seperti yang diharapkan.

***

Janji Temu

Hari cerah dengan angin lumayan kencang. Wiiiww… Kembali, saya lupa euy membawa jaket. Ya ngga mungkin bolak-balik, kan? Janji bertemu di Hargobinangun, Pakem, Sleman, dengan Pak Wasita (Dinas Pariwisata Sleman), sudah dijadwalkan. Hup! Ayo lanjut, ngeeengg….

Kami berencana ke satu tempat wisata yang lumayan jauh menurut saya. Hhahah, entahlah. Yogya dan Sleman ini, kalau mau kemana-mana, harus sedia kendaraan. Soalnya tempat wisatanya, lumayan berjarak euy… Rata-rata tempat yang saya kunjungi, agak susah kendaraan umum.

Kami sampai tepat waktu. Sudah ada Rino, guide Agrowisata Bhumi Merapi yang siap mengantar kami berkeliling. Demikian juga dengan Pak Wasita yang berpakaian batik hari itu. Puas bercerita, Pak Wasita, Rino, Abbay dan saya pun berkeliling.

Ke arah Goa Ponggolo
Doc by M Akhbar Ardhani

***

Bertemu Orang-orangan Sawah

Terletak di Jalan Kaliurang Km 20, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta, tempat wisata ini mempunyai luas area 5,2 hektare. Banyak wisata yang bisa Anda lihat disana.

Wisata ini tidak hanya diperuntukkan bagi pejalan yang menyenangi kegiatan outdoor. Ada wisata yang bisa mengajak keluarga dan anak-anak juga. Heem.. tapi, kali ini kita membahas lingkup kecil bagian eksplore saya ya 😉

Kami melewati halaman luas di kanan jalan. Ada banyak orang-orangan sawah disana. Bukan sawah, hanya tanah lapang. Bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Sekitar 10 menit berjalan santai dari pendopo utamanya. Jalannya berpasir dan sedikit berkerikil.

“Pagi tadi, disini ada acara. Seperti syukuran karena akan memasuki masa panen raya. Orang-orangan sawah kan biasanya ada di sawah. Ini semacam festival dan juga bersyukur dengan panen padi yang bagus tahun ini,” Pak Wasita menjelaskan.

Orang-orangan sawah, tidak hanya petani Indonesia saja yang memakainya. Hampir di seluruh dunia yang mempunyai lahan sawah, menyertakan dan membuat orang-orangan sawah.

Fungsi dari orang-orangan sawah ini adalah untuk menghalau burung atau hama lain agar tidak merusak biji, tunas, buah yang ditanam di area tersebut.

Orang-orangan sawah (scarecrow) merupakan replika manusia yang menjaga sawah, ladang ataupun kebun. Bentuknya ya tidak hanya replika orang saja, tetapi juga hewan seperti burung, tikus, bale-bale, apapun itu yang bisa mengusir hewan pengganggu tanaman.

Yang menarik adalah replika berbagai orang-orangan sawah ini, menggunakan barang-barang bekas, plastik tidak terpakai, bungkus makanan instan dan sachetan. Dilengkapi juga dengan topi dan kain sarung.

Orang-orangan sawah juga dilengkapi dengan bunyi-bunyian yang diikatkan pada replika. Gunanya, ketika replika digoyangkan dan berbunyi, maka hewan-hewan pengganggu akan pergi.

***

Sudah di Goa?

Goa Ponggolo, 200 tahun lalu dan masih baik kondisinya.
Doc by M Akhbar Ardhani

Kami menyusuri kembali jalan berkerikil dan lumayan berdebu. Maklum, Yogya hawanya sedang panas dan berdebu ketika itu, walau kadang juga hujan tak menentu.

Kanan-kiri kami masih penuh dengan rumput hijau yang tinggi. Pak Wasita tidak ikut meneruskan perjalanan bersama kami, karena beliau ada janji temu dengan lainnya.

Di kawasan Agrowisata Bhumi Merapi, terdapat tempat wisata lain yang bisa dijelajahi, yakni Goa Ponggolo. Ngga jauh sih jalannya, tapi lumayan berkeringat. Cukup 10 menit saja deh dari tanah lapang tadi.

Ikuti turunan jalan, kita akan tiba di lautan hijau. Opps, rumputnya banyak maksud saya.

Bersama Rino, sang guide, saya dan Abbay mencoba menelusuri  wisata alam ini. Menuju lokasi wisata, kalau mau mengundang adrenalin, kita bisa menyewa jeep dengan kisaran harga 300 ribu. Tersedia dua pilihan jeep dengan ukuran 5 dan 7 orang penumpang.

Kalau sudah berbicara jeep, yang akan dikunjungi, tidak hanya satu spot saja, tapi beberapa sesuai paket yang ada. Seru ya, kan? 🙂

Belum terlalu banyak yang mengetahui akan keberadaan goa ini. Bisa jadi karena tempat yang masih terbilang baru. Belum dieksplor banyak oleh pengunjung juga.

“Untuk penjelajahan dalam goa, tim Agrowisata Bhumi Merapi sudah melakukan penjelahan gua tersebut. Pintu goanya ada di dekat Kali Kuning. Jika menyusuri dalamnya, pintu keluar berakhir di dalam Agrowisata,” jelas Rino.

Dari jalan utama yang berpasir dan berkerikil, kami memasuki tempat jalan bertapak batu yang tersedia di kiri jalan. Tapakannya mengharuskan kita melangkah melebar bagi kedua kaki, karena batu pijakan yang cukup berjarak. Diantaranya tumbuh rumput liar yang menghijau.

Kami naik ke arah atas. Sebuah tangga terlihat dari tempat saya berdiri. Ada sekitar 20 an anak tangga terbuat dari batu dengan pegangan. Tangga tersebut sengaja dibuat, karena memang dulu, jalurnya masih alami dan tertutup alang-alang.

Goa Ponggolo dibuat pada saat perang Pangeran Diponegoro (1825-1830). Goa ini dibuat oleh manusia. Guna goa saat itu adalah sebagai tempat untuk bergerilya dan bersembunyinya simpatisan Pangeran Diponegoro. Para simpatisan itu, berlindung di bawah tanah dari serangan tentara Belanda.

Mempunyai  panjang goa sekitar 350 meter dengan diameter  1 hingga 2,5 meter, kita bisa menelusuri goa yang berbentuk setengah lingkaran ini. Ketinggian air jika sedang pasang, mencapai 1,3 meter. Jadi sangat tidak disarankan ketika debit air naik, kita menjelajah di dalamnya.

Dikatakan Rino yang mendapat informasi mengenai goa dari tetua Kampung Dusun Sawungan, Goa Ponggolo  merupakan nama pasangan suami istri yang membuat goa itu. Goa ini sudah berusia 200 tahun. Waaaahhh…

Sewaktu saya dan Abbay mengunjungi goa itu, kondisi ketinggian air sedikit surut. Gelap dan tidak ada penerangan di dalamnya. Di pintu masuk, Abbay melihat ada banyak kotoran bekas buang air besar yang berasal dari kera ekor panjang.

“Di sekitar sini, masih banyak hewan-hewannya, mas. Seperti elang Jawa, kera ekor panjang, burung puyuh, ular kobra, dan lainnya,” kata Rino.

Ehh, kok kecut yah kalau ikut menyusuri goa yang masih banyak habitat hewannya? Kan jadi ingat susur Goa Lalay di Sawarna, Banten. Huaaaaaa..

Bagian dalam Goa Ponggolo
Doc Agrowisata Bhumi Merapi

Kondisi dalam goa didominasi oleh area becek dan genangan air. Sedikit sekali pijakan tanpa air jika ingin menelusuri di dalamnya. Pengap dan aroma bau ruang yang lembab, merupakan hal yang memang kerap dirasakan di dalam goa maupun ruang tertutup.

Dari tempat saya berdiri, di ujung goa, terlihat cahaya tanda bahwa goa ini tidaklah terlalu jauh. Ahh yang benar? Jangan-jangan itu hanya pantulan cahaya saja. Salah llihat saya kali yah?

Nah, untuk masuk dan menyusuri Goa Ponggolo ini, kita harus reservasi terlebih dahulu. Selanjutnya akan di briefing oleh tim mengenai perjalanan dalam goa. Kelengkapan seperti headlamp/senter, helm pengaman, life jacket pun akan disediakan.

Sebaiknya pakailah sepatu karet (seperti booties) agar menghindari kaki dari benturan. Paling sederhana, gunakan sandal gunung yang bersol karet.

Mata saya menerawang seisi pintu masuk yang didominasi dengan tanah keras dan tumbuhan ini. Lawa-lawa terlihat di pintu masuk, menunjukkan sangat jarangnya goa tersebut dikunjungi.

Diperkirakan air yang menggenangi  goa berasal dari Kali Kuning yang berada tak jauh dari pintu masuk Goa Ponggolo. Terdapat pula tiga saluran udara sebagai sumber oksigen di dalam goa.

Goa Ponggolo kini difungsikan sebagai area outbond dengan wisata minat khusus yang dikelola oleh Agrowisata Bhumi Merapi. Selain itu juga, aliran airnya digunakan sebagai saluran irigasi sawah sekitar.

Umm.. ada yang minat ke goa 200 tahun ini? Kira-kira, kalau ditantangin ikut menyusuri Goa Ponggolo, berani ngga ya saya? Hhehehehhe (jie)

Pintu masuk dilihat dari jalan Tebing Kali Kuning, Sleman.
Doc by M Akhbar Ardhani

***

One Day Trip Dinas Pariwisata Sleman, November 2016.
All documentation belongs to M Akhbar Ardhani

Tulisan ini sudah pernah publish di Sportourism.id
Ditulis kembali sebagai dokumentasi dengan editing dan penambahan tulisan.

 

Iklan

6 tanggapan untuk “Melihat Goa Ponggolo Zaman Perang Diponegoro”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s