The Beach, wisata kota

Kerang Tiram dan Spot Foto Daur Ulang di Pulau Cemara Kecil Sawojajar

Β Merintis pulau baru sebagai tempat wisata, banyak yang harus dikerjakan. Mulai dari bersih pulau, mengusahakan pohon penghias, spot foto, warung, dan lainnya. Perjuangan sepadan dengan hasil yang diperoleh? Let see..

Pulau Cemara
Doc Dek Ujha

***

Menuju Pulau Cemara

Berkunjung ke wisata baru, tentu membuat penasaran. Kok bisa pulau kecil ini dikelola oleh warga lokal? Mereka mengupayakan apa saja supaya pulaunya tidak sekadar menjadi tempat wisata idola jaman now?

Puas berwisata di Hutan Wisata Mangrovesari, kami melanjutkan perjalanan ke pulau berikutnya di Desa Sawojajar. Kami melalui jalur plawangan. Dimana jalur tersebut merupakan pertemuan antara arus pantai dan laut.

Melewati jalur air dari Hutan Mangrovesari Pandansari.
Doc pribadi

Lokasinya tidak jauh dari Hutan Mangrove Pandansari. Perjalanan jalur air ini, mencapai waktu 30 menit. Dua perahu kecil membawa teman-teman blogger dan media, menyeberang kembali, menikmati lantunan ombak di sisi deru mesin perahu.

Perahu yang saya naiki, bisa menampung 12-15 orang. Ada teman-teman Blogger Semarang Isul dan dik Ujha, Astri dari Pulau Cemara, Fahmi, Agie, dengan ketiga temannya dari Ranto Canyon, juga Pak Munasir dari Pokdarwis Pulau Cemara. Eh, sama bapak perahu juga di kemudi belakang 🚀. Teman-teman blogger lain, naik di perahu yang satu lagi.

Saya mengambil posisi duduk di bangku paling depan perahu bercat biru itu. Di sebelah kanan, duduk Pak Munasir, Ketua Wana Lestari Desa Sawojajar, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes. Perbincangan ringan tentang riak ombak yang membasahi kami di perahu kecil, menjadi pembuka dari cerita Pulau Cemara Sawojajar.

***

Pulau Cemara diantara mendung dan senja.
Doc pribadi.

Penanaman Cemara

Desa Sawojajar, termasuk salah satu desa yang juga terkena abrasi beberapa tahun lalu. Bersama Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata), warga desa melakukan rehabilitasi kampung, dimulai dari menanam mangrove yang menjadi tanaman pelindung pantai.

Pulau Cemara sendiri, awalnya hanya berupa daratan kecil dengan panjang seluas 120 meter yang membentuk pulau. Pulau ini ditemukan oleh para nelayan yang bekerja mencari ikan, atau kadang mengaso di pulau tersebut.

β€œDulunya, Pulau Cemara hanya berupa gegara (gundukan) pasir yang tidak terlalu luas dan belum ada apapun,” kata Pak Munasir.

Pulau yang tidak begitu jauh dari rumah penduduk Desa Sawojajar, memang tidak bernama. Warga berinisiatif untuk menjadikannya sebagai tempat wisata dengan menanami pohon cemara.

2011 dengan iuran bersama, warga desa mencoba menanam bibit aneka pohon, termasuk mangrove. Mereka masih membaca kondisi pulau dan cuaca. Karena bibir pantai langsung bersinggungan dengan air laut, tanaman masih sangat sulit beradaptasi. Tidak patah semangat, mereka mencoba beberapa pohon yang cocok untuk ditanam di pulau kosong tersebut. Walau begitu, tetap saja tergerus oleh hantaman ombak laut.

Pak Munasir menjelaskan, β€œAngka cemara yang hidup tidaklah banyak dari percobaan penanaman. Hal ini dipengaruhi juga oleh air asin dan penggerusan tanah pantai. Jadi kadang, pohon yang kita tanam itu ikut hanyut bersama air laut.”

Tahun 2014, warga mulai mengajukan pada Pemerintah untuk bantuan 4 ribu bibit pohon cemara dan 70 ribu bibit mangrove. Hal ini dilakukan bukan hanya untuk penghijauan di sekitar pulau kecil, tetapi juga merehabilitasi pesisir dari penggerusan pasir pantai.

Menurut Pak Masuri, ada tiga jenis cemara yang bisa dan tahan hidup di sekitar pantai, yaitu cemara laut, angin dan udang.

Cemara laut merupakan tanaman dengan percabangan halus (batang muda), sementara batang tuanya tebal, kasar dan beralur. Warna cemara angin tidak terlalu hijau, tetapi mengarah coklat keabuan. Rindang untuk tanaman di sekitar pantai.

Sedangkan cemara angin, daunnya memanjang dan tipis. Cemara ini tingginya mencapai 8-10 meter. Batangnya kecil, namun kuat terhadap angin pantai yang kencang serta tidak membutuhkan perawatan khusus. Cemara ini membutuhkan sinar matahari penuh.

Cemara udang mempunyai daun berujung lanci dengan batang besar dan keras. Kebanyakan tumbuh di Pantai Lombang, Sumenep, Madura. Cemara ini diyakini berasal dari China.

Kemudian di tahun 2016, bantuan bibit diterima dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Bantuan tersebut berupa bibit pohon kelapa, pohon cemara, pohon nangka dan pohon mangga.

Bibit cemara dan kelapa, ditanam di area sekitar pulau kecil. Sedangkan bantuan pohon buah, ditanam di daratan. Diantara ketiga cemara diatas, cemara anginlah yang bertahan hidup dan tumbuh di pulau tersebut. Suburnya cemara di pulau itu, akhirnya disebut dengan Pulau Cemara.

***

Tangga bambu.
Doc by mbak Tanti @mechtadeera

Pasir Hitam dan Delta Sungai

Langit masih cerah ketika itu. Perahu kami merapat ke tangga bambu tempat perahu berlabuh. Dua perahu biru menurunkan penumpangnya, kemudian berpencar diantara pohon cemara yang masih jarang-jarang itu.

Sisi kiri dari turun perahu, hijaunya pohon cemaranya lebih banyak walau tidak terlalu rapat. Tidak terlihat pasir putih layaknya pulau pada umumnya. Pasir pantai disana hitam, lembut dipijak bila dekat bibir pantainya.

Menurut Astri, mahasiswi Pariwisata penggiat Pulau Cemara, Pantai Utara, pasir pantainya hitam. Tidak tampak batu karang juga disana. Tidak adanya karang, membuat air laut dalam gulungan ombak, akan secara langsung mengarah ke pantai Pulau Cemara.

β€œPulau tanpa karang juga bisa membuat air di sekitarnya kecoklatan, mbak,” ujarnya.

Air sebenarnya tidaklah berwarna. Ia hanya menyerap cahaya, kemudian merefleksikannya. Warna air biasanya disebabkan oleh tanaman yang ada di dasarnya serta endapan yang terbawa didalamnya.

Warna air laut, ditentukan oleh sedimentasi (proses pengendapan material oleh media air, angin, es atau gletser di cekungan) yang dibawa oleh aliran air. Coklat pada warna air, merupakan endapan dari air sungai, sehingga membuatnya menjadi keruh.

Air sungai yang berwarna coklat, juga bisa disebabkan oleh curah hujan yang membuat masukan endapan dari pinggiran sungai lebih banyak, karena tanahnya yang tergerus. Bisa jadi karena Pulau Cemara letaknya yang dekat dengan delta (muara sungai) di mulut sungai.

***

Berwisata di Pulau Cemara

Terdapat warung yang menjajakan makanan disana. Beratapkan bambu dengan dinding anyaman coklat sederhana.

Jika para lelaki bermata pencaharian sebagai nelayan, petani tambak serta membawa tamu-tamu berkunjung ke Pulau Cemara, maka para wanitalah yang berjualan makanan di warung-warung pulau. Sebagian lagi bertugas menerima tamu di pintu masuk Pulau Cemara.

Kerjasama baik menurut saya. Pembagian kerja merata antara para bapak dan ibu disana. Sehingga semua berperan serta membangun desanya. Oiya, perahu-perahu sewa yang kita naiki, semuanya adalah milik pribadi warga Desa Sawojajar loohh…

Perahu yang jiga dijadikan spot foto.
Doc pribadi

Banyak spot foto kekinian disana. Semuanya kreasi warga desa. Beberapa spot, dibuat dengan memanfaatkan barang bekas daur ulang. Seperti botol yang dijadikan seperti bunga, ban-ban bekas yang dimanfaatkan sebagai pot bunga. Akar, ranting pohon, motor dan perahu yang tidak terpakai pun, dijadikan sebagai tempat berfoto.

Tersedia pula fasilitas musholla dan toilet lengkap. Air bersih pun sudah masuk disana.

β€œDisini kita juga punya air bersih. Mengerjakan air bersih ini bersama. Terpasang 35 pipa sepanjang 6 meter untuk air bersih. Jadi bagi yang menginap, ngga usah khawatir. Airnya bisa dipakai bersih-bersih kok,” jelas ibu Siti Mualimah, salah seorang Pengelola Pulau Cemara yang juga berprofesi sebagai guru.

Dikatakannya, para pelancong pun bisa menginap. Mau pakai tenda atau tidur di bale-bale yang ada pun bisa. Heem.. paling kita wajib lapor di pendaftaran awal kalau memang mau bermalam di pulau.

jika air agak surut (siang hari), kita bisa juga melihat gundukan pasir pantai yang masih menyatu dengan Pulau Cemara. Kadang membentuk huruf U dan harus mengitarinya jika ingin tetap berjalan di pasir pantai tanpa berbasah-basahan.

Pemandangan dari Pulau Cemara ini cukup lengkap. Jika langit cerah, kita bisa melihat Gunung Ceremai di kejauhan, sunset yang indah, serta burung-burung trinil dan belibis yang beterbangan dalam kelompok yang banyak.

Pulau Cemara juga kerap dijadikan tempat persinggahan hewan bersayap putih ini. Terkadang, mereka menemukan telur-telur burung yang ditanam di pasir pantai. Mungkin karena hangat ya buat mengeram telur-telurnya agar menetas dengan baik.

Dari pantai Pulau Cemara, kita bisa melihat Pulau Hantu dan Pintu Gaung yang berada tak jauh darisana. Kecil tapi berbobot nih wisatanya kan? πŸ˜€

Pintu Gaung tampak dari Pulau Cemara.
Doc pribadi.

Masuk ke Pulau Cemara, cukup membayar 15 ribu rupiah saja untuk pergi pulang dengan perahu milik warga. Bisa seperti kami yang lewat jalur air dari Hutan Mangrovesari. Atau masuk dari pintu utama di Desa Sawojajar.

Dari Alun-alun Brebes, naik kendaraan hingga ke pertigaan Pasar Desa Sawojajar. Setelah melewati jembatan, di kiri jalan arah ke perumahan Sawojajar, terlihat plang bertuliskan Pulau Cemara, belok kiri. Ikuti jalan lurus saja hingga bertemu papan petunjuk Pulau Cemara di kanan jalan. Belok kanan, jalan kembali hingga ke Dermaga Kali Coban.

***

Kuliner Pulau Cemara

Ada yang menarik disana. Di waktu tertentu, akan dengan mudah ditemukan banyak kerang darah, kerang inser dan kerang tiram. Kerang tiramnya besar dan biasa dijadikan hidangan seafood di warung-warung makannya.

Kerang tiram, kuliner paling favorit disana. Dihidangkan dengan cara dipanggang, sebagian dijadikan saus tiram. Sedaaapp ~

Kerang tiram bisa dengan mudah ditemukan di tanaman pinggir pantai. Dekat warung yang pondasinya langsung ke pantai, kerang tiram, inser maupun kerang darah sering bersembunyi. Sayangnya, pas kami kesana, kerang-kerang sedang tidak bermain di Pulau Cemara. Karena sehari sebelumnya, pulau tersebut kena badai kencang euy… Sedih hiks, lapar 😦

Kerang tiram yang sudah tidak ada cangkangnya, dijual 20 ribu per kilogram. Sedangkan yang masih ada cangkangnya, bisa mencapai 50 ribu per kilogram. Lumayan mahal ya?

Ada juga sayur anglur. Daunnya kecil dan tumbuh liar juga di Pulau Cemara ini. Biasanya dijadikan sayur urap yang ditaburi dengan parutan kelapa yang diberi bumbu. Pecal juga menjadi menu andalan disana. Enak! Ehh, pedas huaaaa….

Ugkhhh.. sedap kan? Gimana, sudah lapar? Sama, saya juga! Hhahahhaha

Yuk, yuk, berlibur ke Pulau Cemara. Siapa tahu, pas kesana, sunset cerah menyapa kita. Ehmm, kita? πŸ˜€ Well, tetap menjaga lingkungan agar selalu bebas sampah yaaaahh.. (jie)

***

Catching the sunset
Doc by @hidayah_art

Kunjungan ke Pulau Cemara, Desa Sawojajar, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes.

Familiarization Trip bersama Blogger Semarang dan Kelompok Sadar Wisata Desa Sawojajar.
09 Desember 2017.

#PariwisataBrebes
#PulauCemaraSawojajar

 

Iklan

6 tanggapan untuk “Kerang Tiram dan Spot Foto Daur Ulang di Pulau Cemara Kecil Sawojajar”

  1. Pulau cemara mantap,sering klau pas hari minggu suntuk di rumah pasti langsung ke pulau cemara seharian.ngopi dngn di temani semilir angin laut,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s