UKM, wisata kota

Hempasan Abrasi Ciptakan Wisata Mangrovesari Pandansari

Jembatan Cinta Mangrovesari
Doc pribadi, taken by Nizar

Abrasi mungkin memberikan dampak pada sebuah wilayah. Namun bergerak membuat wilayah tersebut menjadi hijau dan maju, adalah hal mungkin, bukan? Merehabilitasi, membudidayakan tanaman pelindung, mengembangkannya menjadi tempat wisata menarik, perjuangankah? Padahal tanaman mangrove pun bisa berfungsi sebagai pewarna alami pada batik, maupun sebagai bahan kuliner. Jadi pilih mana? Diam atau bergerak?

***

Mangrove di kejauhan.
Doc pribadi

Rehabilitasi Pesisir

Laju perahu bermuatan 60 orang ini cukup tenang. Mungkin karena adanya mangrove di sekitar yang membuat pertemuan arus antara pantai dan laut, tidaklah terlalu mengombang-ambingkan perahu kami. Deru mesin perahu bersahutan dengan ombak di kejauhan dan suara jepretan kamera pengunjung dalam perahu, berimbang dengan suara guide kami yang menceritakan mangrove.

Kegiatan rehabilitasi pesisir di Desa Kaliwlingi ini, sudah dilakukan sejak lama, bekerjasama dengan Direktorat Pesisir dan Lautan Kementrian Kelautan dan Perikanan. Dimulai dengan merehabilitasi sumberdaya hayati tahun 2009 dengan menanam bibit mangrove sebanyak 250 ribu meter di lahan seluas 50 hektare.

Tahun 2012, pemerintah kembali merehabilitasiย  sumberdaya hayati dengan 60 ribu bibit mangrove di lahan 6 meter hektare. Tahun yang sama, ditambahkan 11,461 bibit di lahan seluas 1,15 meter hektare.

Selanjutnya penambahan 25 ribu bibit dilakukan pada lahan 2,50 meter hektare. Sementara rehabilitasi hybrid engineering (pemecah ombak, tehnologi Belanda yang juga berfungsi sebagai alat pengendap lumpur) di lahan seluas 910 meter hektare dilakukan tahun 2015. Terakhir, rehabilitasi pesisir utara Jawa, pada tahun 2015, dilakukan penanaman bibit sebanyak 660 ribu di lahan 44 meter hektare.

Berbagai rehabilitasi itu dibangun karena abrasi atau erosi pantai yang menggerus beberapa wilayah Brebes.

Tahun 1995, sebanyak 1.100 hektare, abrasi merusak lahan tambak warga. Tahun 2000, abrasi memperparah hingga menggenangi rumah warga.

Desa Kaliwlingi dan Sawojajar, termasuk didalamnya. Tahun 2015, sebanyak 2.300 hektare lahan tambak di pesisir, rusak akibat tergerus abrasi. Selain itu, Desa Randusanga Wetan, Randusanga Kulon, Kecamatan Losari (Desa Limbangan dan Karang Dempel) merupakan titik lahan terparah abrasi di Brebes.

Abrasi tidak hanya akibat alam. Bukan hanya karena pasang surut air laut, gelombang dan arus besar pun bisa mengakibatkan kerusakan. Manusia juga menjadi salah satu pemegang penyebab utama abrasi.

Kini, berkat kerjasama warga merehabilitasi daerah pesisir, hutan mangrove pun menjadi tempat wisata dengan pengunjung terbanyak. Warga saling bahu-membahu menjaga lingkungannya dari penggerusan erosi pantai, agar lahan tambak dan usaha lainnya tetap tercipta dan terjaga kesimbangannya.

***

Blogger Semarang
Doc Baiiput

Berkunjung ke Mangrovesari

Kami menyusuri sungai, melewati deretan hijau berakar tanaman mangrove. Beberapa akar terlihat diantara air. Salah satu mangrove yang ditanamย  berjenis Rhizophora. Wisata mangrove ini terhitung baru dibuka, April 2016 lalu dengan 12 armada perahu.

Masuk ke mangrove trail, kita cukup membayar 15 ribu per orang dewasa, 5 ribu per anak (Senin-Sabtu) dan 20 ribu per orang dewasa, 10 ribu per anak (Minggu).

Menuju ke Desa Wisata Mangrovesari Dukuh Pandansari, Desa Kaliwlingi, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, kita harus naik perahu. Disediakan perahu dengan dua kapasitas, yaitu bermuatan 20 atau 60 orang di dermaga. Cukup 15 menit kita menyusuri sungai coklatnya.

Kami berada di jalur aman, karena laut jauh di kiri kami. Jajaran mangrove dan hybrid engineering menjaganya dari hempasan gelombang yang masuk.

Mendekati lokasi, dari tempat duduk saya di dek depan perahu, jembatan yang dibangun tahun 2017 itu, sudah terlihat. Pembangunan jembatan di awal, merupakan bantuan dari pemerintah, swadaya masyarakat, serta kerjasama lainnya.

Ya, sepanjang 700 meter pertama, jembatan dibangun oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Brebes. Selanjutnya, swadaya masyarakat. Mereka dibantu oleh Dinas Perikanan, CSR dan KLH, bersama membangunnya hingga kemudian, panjang jembatan menjadi 1,8 kilometer.

Gaya sebelum menyusuri jembatan 1,8 km Hutan Mangrove.
Doc by Kang Geri

Berjalan di jembatan harus berhati-hati. Tidak bisa terlalu padat juga melewati jembatan tersebut. Cukup untuk dua arah berpapasan.

Kapasitas kunjungan ke Mangrovesari pun dibatasi per harinya. Jika pada hari biasa, pengunjung sebatas 500-700 orang, maka lonjakan jumlah pengunjung, biasanya akan terjadi di akhir pekan atau saat musim libur tiba.

Animo masyarakat dan wisatawan terhadap tempat wisata di Brebes ini ternyata sangat tidak disangka. Minat pengunjung untuk bisa melihat dan mengetahui budidaya tanaman mangrove, berfoto, atau liburan keluarga di Mangrove Pandasari ini cukup besar. Bisa mencapai 1.500-2.000 pengunjung di hari minggu.

Bahkan di pergantian tahun pun, pengelola terpaksa sangat membatasi jumlah pengunjung, tidak lebih dari 5.000 orang. Adeuh, kalau sudah begini, mungkin susah ya menikmati alam di Mangrovesari. Padat pisan euy… meni riweuh ๐Ÿ˜€

***

Wisata dalam Mangrovesari

Lokasi mangrove ini tidak hanya sekadar berjalan seadanya. Ada banyak spot yang bisa kita manfaatkan sebagai tempat menikmati rindangnya tanaman yang menaungi kanan-kiri jalan, semilir angin disana. Tersedia kursi-kursi kayu panjang dimana kita bisa bersantai.

Jangan takut nyasar berjalan disana. Papan petunjuk yang ada sejak kita menyeberangi jembatan, sangat jelas kok. Begitu banyak pilihan, jalan mana yang akan Anda ikuti petunjuknya.

Berfoto di beberapa spot yang ada, melihat mangrove dari ketinggian di gardu pandang setinggi 10 meter dan 25 meter sembari menanti matahari tenggelam.

Gardu pandang 25 meter.
Doc pribadi

Oiya, untuk naik ke gardu pandang, tidak boleh lebih dari 10 orang. Jadi jangan lupa membaca papan petunjuk dan peringatan yang jelas tertera disana yah.. Jangan terlalu lama juga di atas gardu pandang. Bergantianlah pada orang-orang yang juga ingin menikmati suasana mangrove dari ketinggian.

Lokasi pemancingan pun ada, karena banyak ikan di sekitarnya. Bermain banana boat, bermain kano, dayung ataupun sekadar menyusuri sungai dengan perahu kecil pun, bisa dilakukan. Di sekitar dermaga, kadang juga terlihat pasir gusung. Adalah gundukan pasir putih pantai dengan kedalaman air tertentu. Biasanya sebatas mata kaki atau betis. Kita bisa bermain diatasnya. Seperti air pulau yang surut.

Anda pun tidak perlu khawatir jika ingin menikmati hidangan laut disana. Tersedia 60 warung makan dengan bale-bale.

Harga makanannya standar di tiap warungnya. Karena ada pengelola yang akan memantau agar tidak tampak berbeda jauh harga makanannya.

“Pemilik warung-warung makan di Hutan Wisata Mangrovesari adalah para petani tambak udang dan ikan yang terkena imbas abrasi. Mereka membuka usaha di hutan wisata mangroveย  itu,” kata Pak Auki, guide kami hari itu.

Eheemm!

Jika Anda ke Mangrovesari, berfotolahย  di Jembatan Cinta. Salah satu lokasi favorit para blogger saat itu, diantaranya ada jembatan bercat merah muda.

Dari Jembatan Cinta, kita bisa melihat ujung tanaman Mangrove dengan pertemuan laut di depan. Akan lebih mempesona bila melihatnya dari gardu pandang setinggi 10 meter yang berada dekat Jembatan Cinta.

Jembatan Cinta biasa juga dipakai untuk keperluan foto prewed, atau sekadar foto selfie maupun bersama keluarga dan teman.

Ya begitu deh. Kata Pak Auki, banyak pasangan yang mengabadikan gambarnya disana. Seperti salah satu pasangan blogger dadakan ketika itu, Nico dan dek Ujha yang menjadi objek foto Mia, mbak Tanti dan mbak Ika.ย Prikitiwlah semoga diundang yah ๐Ÿ˜

***

Diantara jajaran mangrove.
Doc by @jejakjelata

Kawasan Khusus

Hutan Wisata Mangrovesari dengan luas 253 hektare tersebut, telah ditanami 3,6 juta batang mangrove. Sementara 40 hektarenya dikelola oleh pemerintah.

Terdapat kawasan bagi ikan-ikan juga disana, namanya kawasan belayar. Di kawasan tersebut, banyak ikan-ikan yang bisa kita lihat keluar masuk lumpur tempat akar-akar mangrove berada.

Tempat habitat ikan belayar. Lumpur diantara akar mangrove.
Doc pribadi

Ikan-ikan ini masuk ke persembunyiannya, lucu. Ekornya akan beringsut lebih dulu agar masuk ke dalam lubang. Jadi ia akan berjalan mundur dengan kepala di atas, sembari mengincar ikan betina.

Ikan belayar ini, terdiri dari ikan salamander (betina) dan ikan glodog (jantan). Ikan glodog biasanya berkulit lebih gelap dibanding betinanya.

Selain ikan, kawasan ini juga difungsikan sebagai tempat berkembangbiaknya biota laut seperti kepiting dan kerang. Di sisi lain pun tampak kelompok burung-burung putih yang beterbangan.

Kawasan evakuasi yang baru dibangun.
Doc pribadi, taken by Nico

Kawasan selanjutnya adalah kawasan evakuasi yang sedang dibangun dengan panjang 10 meter dan lebar 5 meter. Berfungsi sebagai tempat berlindung jika terjadi sesuatu di saat berkunjung.

Nah, kawasan terpenting bagi pengunjung yakni, toilet. Wah, iya. Wajib nih!

Jangan khawatir. Anda bisa mencarinya di arah pintu keluar (bagian belakang), setelah melewati daerah konservasi. Di belakang sana juga warung jajan camilan kok.

***

Tanam Mangrove

Bagian mangrove yang biasanya ditanam.
Doc pribadi.

Sebagai pengunjung, kita juga dapat berpartisipasi dalam membudidayakan tanaman mangrove ini looohhh..

Caranya, kita bisa membeli bibit mangrove dan ikut menanamnya bersama kelompok. Per 10 batang mangrove muda, cukup membayar sebesar 15 belas ribu rupiah.

Nah, menanam mangrove pun tidak bisa asal tanam. Ada masa tanamnya di bulan Januari-Agustus. Karena pada saat demikian, air akan surut.

Berminat menanam mangrove? Ngga mau jadi salah seorang penyebab abrasi juga kan?

Bantulah alam agar kita tidak turut serta merusaknya. Jaga kondisi laut dengan menjaga kelangsungan ekosistemnya. Biar generasi penerus nanti, juga bisa melihat alam yang kita lihat sekarang. Mau kan? Ohh, terpenting, buanglah sampah pada tempatnya yah ๐Ÿ˜‹

Bagaimana, pariwisata Brebes, asik kan? Ayok berkunjung ke Hutan Wisata Mangrovesari. Luas banget loh. Bawa perbekalan camilan dan air minum. Ehh, sampahnya jangan buang sembarangan, please….(jie)

***

(baca: http://jateng.tribunnews.com/2017/05/10/mengenal-penjaga-sabuk-hijau-pesisir-pantura-dia-dijuluki-penyelamat-mangrove-dari-brebes )

(baca: https://daerah.sindonews.com/read/987945/22/ribuan-hektare-tambak-di-brebes-hilang-tergerus-abrasi-1428685157/ )

Persimpangan antara pengembangan wilayah mangrove dan wilayah konservasi mangrove.
Doc mbak Wati @hidayah_art

***

Kunjungan ke Hutan Wisata Mangrovesari, Dukuh Pandansari, Desa Kaliwlingi, Brebes.

Familiarization Trip bersama Blogger Semarang dan Kelompok Sadar Wisata Desa Kaliwlingi, December 2017.

Iklan

16 tanggapan untuk “Hempasan Abrasi Ciptakan Wisata Mangrovesari Pandansari”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s