UKM, wisata kota

Limbah Mangrove Hiasi Motif Zie Batik Semarang

Minat konsumen pada seni kerajinan batik tulis dan cap, mengalami perkembangan. Pewarna alami dari limbah tanaman, memiliki peminat sendiri dengan terbatasnya jumlah bahan yang dihasilkan. Motif dan warna pun berpengaruh besar pada jenis batik yang ada. Dampak pewarna alami, mempunyai nilai ekonomis tinggi. Tidak hanya di Indonesia, penggemar batik di luar negeri pun menyukai batik limbah ini.

Limbah propagule mangrove.
Doc pribadi.

***

Tentang Batik

Batik dikenal pada Kesultanan Mataram, Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Pada zaman Kerajaan Majapahit, batik dikenal sejak akhir abad 18 atau awal abad 19.

Batik secara manual dikenal pada abad 20, yakni batik tulis yang masih terus ada hingga sekarang.

Sedangkan batik cap mulai dikenal setelah Perang Dunia I, berakhir pada 1920. Meskipun hanya digunakan oleh raja, pemerintahan dan pembesar saja, akhirnya, batik pun mulai keluar dari lingkungan tersebut. Hingga meluas kepada rakyat pada umumnya.

Bahan-bahan pewarna yang digunakan pun terbuat dari tumbuhan dan soda. Soda terbuat dari soda abu dan garam dari tanah lumpur (baca: https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_batik_di_Indonesia).

***

Warna Batik

Pewarnaan sintetis atau kimia, menguntungkan banyak pihak. Baik dari perajin batiknya, perusahaan pewarna juga konsumennya. Dengan menggunakan pewarna sintetis, batik yang diinginkan, bisa diproduksi dengan cepat dan bisa didistribusikan dalam jumlah yang banyak.

Warna yang digunakan pada batik dengan pewarna sintetis.
Sumber Google

Sementara, pewarna alami, sangat terbatas jumlahnya. Bisa dipahami, karena bahan-bahan yang diperlukan berasal dari tumbuh-tumbuhan.

Hal ini berkaitan dengan proses pengerjaannya. Misalnya, proses mewarnai yang berulang agar mendapatkan warna yang diinginkan, pengolahan warna sebelum digunakan sebagai pewarna batik, dan terbatasnya varian warna-warna yang dihasilkan dengan warna tertentu.

Kulit manggis yang jyga pewarna alami. Bisa digunakan pada batik.
Sumber Google

Selain itu, dalam perawatannya, batik dengan pewarna alami pun tidak boleh dicuci menggunakan mesin dan jangan dijemur langsung di bawah sinar matahari langsung (sama seperti batik pewarna sintetis/kimia).

Lalu bagaimana para perajin batik yang menggunakan pewarna alami bertahan untuk tetap berproduksi?

Yang dilakukan, biasanya para perajin batik dengan pewarna alami, turut membudidayakan tanaman kebutuhan pewarna alami bagi batiknya. Adapula yang bekerja sama dengan warga atau pemilik tumbuhan yang bisa menghasilkan pewarna alami batik. Mereka melakukan penghijauan dan penanaman kembali pada tumbuhan yang dibutuhkan.

Mempertahankan pewarna alami batik meski sulit, tetap saja para perajin memikirkan kelangsungannya. Khususnya pada mereka yang mengolah dengan pewarna alami. Batik jenis ini, diminati oleh orang-orang yang menggemari pewarna alami. Kesan tersendiri yang tertangkap, jelas berbeda dengan pewarna sintetis.

***

Kampung Malon, Gunungpati.
Doc by Kuspriyatna

Limbah Mangrove

Tanaman mangrove banyak terdapat di pesisir Semarang. Zie Batik Semarang yang digawangi oleh pasangan suami istri, Marheno Jayanto dan Zalzilah, merupakan salah satu perajin batik yang menggunakan pewarna alami, yaitu mangrove. Mereka adalah perajin batik asal Depok yang akhirnya bermukim di Kampung Malon, Gunungpati, Semarang.

Tanaman Mangrove.
Doc by Mb Wati (@hidayah_art)

Mangrove adalah tanaman pesisir pelindung pantai yang berfungsi menjaga hempasan laut dari penyebab abrasi. Hasil dari proses mangrove, digunakan untuk melengkapi warna-warna pada batik yang diproduksinya.

Bahan yang digunakan pada mangrove mempunyai nilai ekonomis tinggi dengan memanfaatkan  limbahan mangrove kering yang sudah jatuh. Mereka tidak menggunakan maupun merusak tanaman mangrove yang masih utuh.

Biasanya, para petani tambak yang lokasinya berada di dekat pesisir, sering mengeluhkan sampah dari mangrove. Ketika panen mangrove, sampah dari tanaman mangrove yang kering cukup banyak. Dulu sampah-sampah tersebut selalu dibakar begitu saja. Namun dengan adanya perajin batik, limbah sampah mangrove tersebut, bisa digunakan sebagai bahan pewarna pembuat batik.

***

Warna Mangrove

Menurut Marheno Jayanto yang akrab disapa Heno, propagule (buah) mangrove mempunyai zat warna tinggi pada tekstil.

Heno mengatakan, “Kami menggunakan Rhizophora Appicullata, limbah buah mangrove penghasil warna coklat. Limbahan mangrove ini, bisa menghasilkan warna coklat dengan variasi warna unik serta lembut, tidak setegas warna coklat pada pewarna sintetis/kimia.”

Warna-warna alami lain yang dimanfaatkan sebagai pencampuran dalam Zie Batik adalah kayu mahoni (menghasilkan warna coklat muda), indigovera (menghasilkan biru), dan kulit buah joho/jalawe (menghasilkan warna kuning). Disamping itu, pencampuran dua warna alami pun bisa menghasilkan warna lainnya. Misal, indigo dan kulit buah yang bisa menghasilkan warna hijau.

Jalawe, pewarna alami yang juga dipakai oleh Zie Batik Semarang.
Sumber Goolgle

Dikatakan Ifa (anak pasangan perajin batik, Heno dan Zie), di rumah batik Zie, untuk membuat warna alami, mangrove kering tersebut haruslah direbus dan dijadikan ekstrak.

“Untuk fiksasi (penguncian daya lekat pewarna pada kain) supaya menguatkan warna batik tidak mudah pudar, yaitu menggunakan tawas, tunjung (garam alami), kapur maupun cuka. Pewarnaannya memang tidak akan setegas atau secerah jika kita memakai pewarna sintetis, namun warna yang dihasilkan, mempunyai karakter tersendiri,” jelasnya ketika saya bersama teman blogger mengunjungi ruang produksi Zie Batik.

Membuat batik dengan pewarna alami membutuhkan proses yang cukup lama. Mulai dari menggambar pola, mencanting, mencelup dan mengeringkan dengan cara dijemur.

Proses panjang terutama terjadi dalam proses pewarnaan. Pencelupan warna harus dilakukan berulang-ulang dan dijemur. Hal ini dimaksudkan agar warna yang diinginkan, benar-benar terserap pada pori-pori kain. Proses menjemur pun tidak dilakukan dibawah sinar matahari langsung, agar warna alami yang diinginkan tidak berubah.

Beberapa motif sederhana, tidak membutuhkan waktu yang lama dalam pembuatannya. Misalnya pashmina, pembuatannya memerlukan waktu 1-2 hari untuk mendapatkan hasil maksimal.

Zie Batik dengan mangrove, tidak terlalu didominasi banyak warna. Penggunaan warna kainnya berupa gradasi, ataupun warna-warna senada yang mendekati sehingga memberikan ciri tersendiri.

Motif di batik mangrove ini, melihat alam sekitar. Selain tanaman mangrovenya, ikan glodog yang hidup di air pada hutan mangrove pun dijadikan motif Zie Batik.

***

Varian Penggemar Batik Mangrove

Bersama Pak Heno.
Doc pribadi, taken by Gus Wahid.

Peminat Zie Batik Semarang bukan hanya Indonesia saja, tetapi juga dari luar negeri. Indonesia, kebanyakan menyukai warna-warna batik natural seperti hijau dan coklat.

Sementara Jepang, menyukai batik dengan dominasi warna indigovera, dimana warnanya akan menghasilkan biru. Menurut mereka, indigo terkesan elegan dan bangsawan.

Beda pula dengan negara kincir angin, Belanda. Para wisatawan Belanda, lebih menyukai Batik Legenda yang juga diproduksi oleh Zie Batik. Batik Legenda adalah batik yang mengisahkan tentang cerita rakyat, sejarah atau berupa cerita pewayangan.

Rate harga pewarna alami ini berkisar antara 200 ribu hingga 5 lima juta, bahkan belasan juta rupiah. Waw!

Ehhm, ngga semua batik disini mahal kok. Ada juga yang harganya 100 ribu rupiah. Mungkin membelinya tergantung pemakaian batik untuk dipakai pada kesempatan seperti apa.

***

Bu Zie dan Pak Heno, pemilik Zie Batik.
Doc by Kuspriyatna

Menambah SDM Perajin Batik

Bukan hal mudah memperkenalkan batik dengan menampilkan motif-motif baru yang kini banyak dipergunakan oleh perajin batik. Apalagi dengan tehnik pewarnaan alami dari tumbuhan di sekitar yang bisa dijadikan bahan pewarna pada batik.

2004 adalah tahun dimana Zie Batik mulai memantapkan langkahnya dalam dunia kerajinan kain khususnya batik di Semarang.

Pada saat itu motif batik Semarang belum terlalu banyak. Untuk memudahkan orang mengingat cenderamata batik dari Semarang, akhirnya diambillah ikon Semarang sebagai motif batik, diantaranya Tugu Muda dan Lawangsewu.

Kendala terbesar dalam seni kerajinan batik adalah menambah jumlah perajin batik. Regenerasi merupakan hal yang cukup sulit dilakukan.

Sulitnya membina agar dapat menumbuhkan jiwa sebagai SDM yang tekun mendalami sebagai seorang perajin batik merupakan permasalahan yang harus ditanggapi. Kisah yang banyak diceritakan oleh pasangan pemilik Zie Batik di Kampung Malon, Gunungjati ini merupakan satu diantaranya.

Bersama Dekranasda Kota Semarang, tahun 2006, Zie Batik mengadakan pelatihan batik bagi 20 orang dari berbagai kecamatan di Semarang. Pelatihan ini, dimaksudkan agar memperkuat Sumber Daya Manusia dalam berkerajinan batik.

“Menjadikan seseorang sebagai perajin batik itu lumayan susah. Dari sekian banyak yang dilatih batik, hanya 1-2 orang saja yang benar-benar berminat dan mempunyai ketertarikan besar mengembangkan seni kerajinan batik. Sisanya lebih kepada menjadi pengusaha batik (menjual batik),” kata Zie, nama yang dilekatkan pada merk batiknya.

Tidak hanya itu saja, kedua perajin batik ini, dulu juga mengajar batik di beberapa daerah, seperti Semarang, Demak, Purworejo, dan Kendal. Bahkan ada yang belajar langsung datang ke kediaman mereka di Kampung Malon.

Pada keinginan terdalamnya, mereka tetap berharap, bahwa akan ada generasi penerus yang mau belajar, berlatih dan mengembangkan seni kerajinan batik.

Semoga ya? Apalagi batik dengan pewarnaan alami yang ramah lingkungan. Keterlibatan pemerintah dalam hal penyediaan prasarana, tentunya juga berperan penting dalam terciptanya SDM perajin batik. Serta kerjasama para perajin batik dalam pembinaan dan pelatihan pun, selanjutnya akan membuahkan perajin yang berkualitas.

Nah, sudah menentukan, batik manakah yang akan Anda pilih sebagai cenderamata atau akan dipakai sendiri sepulang dari kunjungan ke Zie Batik? Jangan lupa, pilih yang terbaik sebagai salah satu koleksi Anda yaaa ❤ 😉 (jie)

Cerita batik dengan ibu Zie.
Doc Bang Den/Kuspriyatna

***

Kunjungan ke Home Industry Zie Batik
Kampung Malon, Kelurahan Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah
0852-9001-3753 (HP) / 0857-4021-4000 (WA)
IG: @ziebatik_semarang

One Day Trip bareng Blogger Semarang dan Dinas Koperasi Usaha Mikro Kota Semarang, 04 Desember 2017

Iklan

Satu tanggapan untuk “Limbah Mangrove Hiasi Motif Zie Batik Semarang”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s