UKM, wisata kota

Sudah Makan Duri Bandeng Istichomah?

Semarang Kota Kuliner juga? Rasanya hampir semua kota memiliki makanan khasnya yang wajib coba. Sayang sekalli kalau kita tidak mencicipinya, bukan? Selain lumpia, Semarang juga dikenal dengan bandeng prestonya. Seperti apa ya kalau berkunjung langsung ke sentra pembuatannya?

Bandeng presto, oleh-oleh Semarang.
Doc pribadi.

***

Bandeng Presto

Deru suara dari mesin vakum terdengar kencang di ruang berukuran 3×3 itu. Dua orang pekerja tengah memasukkan kemasan plastik dalam mesin serupa kulkas kecil berwarna perak, setinggi pinggang saya. Menutupnya, menekan tombol yang ada, lalu mesin mengeluarkan suara. Tiga detik kemudian, tutup mesin dibuka, kemasan bandeng telah rekat tiap sisinya.

Sudut letter L di pintu kanan masuk, dipenuhi dengan tumpukan kotak kemasan ikan bandeng presto yang didominasi hijau, kuning dan merah. Di rak sebelahnya juga terdapat botol sambal beberapa rasa. Kemasan klip dari stik kalsium bandeng berwarna dasar biru memaksa mata mengarah padanya. Dan yang paling menarik mata dan menggugah selera, sajian berbahan dasar ikan bandeng, tersaji di meja depan. Ahhh…

Sajian aneka olahan dari ikan bandeng New Istichomah.
Doc Erina.

Kali ini, cerita One Day Trip bareng Blogger Semarang dan Dinas Koperasi Usaha Mikro Kota Semarang, mengunjungi sentra pembuatan ikan bandeng presto. Biasa dikenal dengan duri lunak.

Ikan sedap ini, sudah berbumbu (bawang putih, kunyit dan garam-tergantung resep rahasianya juga). Tulangnya empuk dan tinggal dipanaskan saja bila ingin memakannya sebagai lauk. Makanan siap saji yang ramah kok. Tanpa MSG dan asli buatan lokal Semarang.

Menurut Wikipedia, bandeng presto pertama kali dibuat oleh Hanna Budimulya, asal Pati, Jawa Tengah, tahun 1977.

Presto adalah memasak dengan cara diuapkan menggunakan air yang bertekanan tinggi, terkunci rapat dalam panci sampai airnya mendidih. Uap air inilah yang memasak makanan dalam panci.

Pembuatan dan pemasaran bandeng presto, awalnya dibuat hanya dalam lingkup kecil saja. Lalu mengalami perkembangan dan mulai banyak yang melirik usaha ikan bandeng tersebut. Sekarang bandeng presto menjadi oleh-oleh khas Semarang.

***

Bersama bapak Petrus dan ibu Istichomah.
Doc pribadi, taken by mas karyawan.

Usaha Bandeng Istichomah

Setelah berkunjung ke Semarang Kreatif Galeri, rombongan kami bergerak ke Jalan Drorowati Raya, Krobokan, Semarang Barat. Kami menuju ke rumah industri bandeng presto New Istichomah, dimana Petrus Sugianto dan Istichomah, adalah pasangan suami istri pemilik merk dagang tersebut sejak 2007.

Pengusaha bandeng yang asli Yogya ini, awalnya seorang nelayan di sekitar daerah tinggalnya. Karena banyak hasil tangkapan ikannya, akhirnya di tahun 1997, ia mulai belajar mengolah ikan-ikan tersebut dan memikirkan usaha bandeng. Kemudian ia pun mencoba membuka usaha bandeng khusus presto.

Tahun 2007-2008, Petrus mendapat pembinaan dari SKPD dan Dinas Koperasi, Dinas Kelautan juga Dinas Perindustrian dan Perdagangan Semarang serta UNES. Banyak langkah yang dilakukannya. Termasuk menjadikan bandeng presto buatannya mempunyai kandungan protein yang baik dan memenuhi syarat agar tidak berkurang saat proses pengolahan dilangsungkan.

Ia juga mengupayakan agar usaha bandeng prestonya masuk dalam kategori penjualan yang legal. Akhirnya ia pun bisa mempunyai CV, SIUP, sertifikat halal juga kelengkapan lainnya.

Profile Bapak Petrus sebagai ketua cluster Bandeng Semarang.
Doc pribadi.

Produk usaha yang dihasilkannya ini mencakup bandeng duri lunak (presto) LTHPC (Low Temperature High Pressure Coller), otak-otak bandeng, bandeng asap, bandeng tandu (tanpa duri), tahu bakso, stick kalsium, pepes bandeng, dan kerupuk kulit. Dalam sehari, produksi bandeng prestonya bisa mencapai 200 kg.

Petrus dalam kesempatan kunjungan kami kesana, mengatakan bahwa, memasak menggunakan LTHPC, mampu menjaga protein ikan sebesar 24,98 persen. Panci LTHPC ini juga mengurangi 0,5 persen kerusakan kecil pada saat proses pemasakan. Ikan yang dimasak dalam panci pun, bisa muat banyak tanpa merusak kondisi ikannya.

UKM yang berbasis lingkungan dan sosial ini, tidak serta merta membuang duri dan kulit ikan begitu saja. Untuk bandeng tandu (tanpa duri), duri ikannya dimanfaatkan membuat stik kalsium bandeng. Sedangkan kulit ikannya pun bisa dibuat menjadi kerupuk kulit.

Sementara produk inovasi lainnya yang merupakan pelengkap dari usaha bandengnya, bisa dihasilkan sebanyak 150 kg per minggu. Ada juga aneka macam sambal seperti, sambal kering, sambal bandeng, sambal terasi, dan sambal teri.

***

Mengolah Bandeng

Tempat pembuatan bandeng prestonya tidak memungkinkan (kecil) kami untuk turut melihat prosesnya. Namun proses pengepresan kemasan bandeng presto bisa dilihat, karena alatnya memang diletakkan di ruang depan.

Pembuatan dan pengolahan bandeng presto dilakukan dengan memilih ikan dengan kondisi bagus, lalu dicuci dan diberi bumbu. Bandeng presto produksi Istichomah ini, tidak direndam lama layaknya kalau di rumah, kita akan memasak ikan.

Selanjutnya, direbus selama 2 jam 15 menit hingga aroma yang dihasilkan dari bumbu tercium. Untuk merebus, dilakukan pengaturan kontrol dengan memakai panci LTHPC.

โ€œMerebusnya cukup dengan api sedang saja, agar matang merata,โ€ kata Petrus.

Setelahnya, pengovenan selama 15-20 menit dengan suhu 80-100 derajat. Fungsi pengovenan adalah untuk mengurangi kadar air yang dihasilkan oleh rebusan ikan.

Penjelasan mesin vakum oleh karyawan New Istichomah.
Doc pribadi, taken by mas karyawan.

Pemvakuman merupakan langkah selanjutnya agar ikan bandeng yang akan dipasarkan menjadi kedap udara dan bisa tahan sesuai masa kadaluarsanya. Pemvakuman ini tidak membutuhkan waktu lama. Sekitar tiga detik saja dengan merekatkan (mempres) kemasan plastiknya di mesin vakum. Satu kali vakum, bisa 4 kemasan saja yang dimuat di dalamnya.

Kelebihan lain dengan melakukan pemvakuman adalah, ikan bandeng presto akan mempunyai masa kadaluarsa yang cukup lama. Jika tidak didinginkan dalam frezzer, masa kadaluarsanya 15 hari. Sedangkan jika disimpan dalam ruang pendingin, bisa tahan sampai 2-3 bulan kedepan.

Untuk satu kemasan ikan bandeng Istichomah, berisi 2 ekor ikan, dengan berat kurang lebih 500 kilogram, seharga 40 ribu rupiah. Sedangkan berat 1 kilogram, seharga 80 ribu rupiah.

Pemasaran bandeng presto New Istichomah ini sudah meliputi daerah Batam, Jakarta, Bekasi, Bogor, Tangerang, Pasuruan dan Malaysia. Dengan 4 karyawan serta bekerjasama dengan istrinya, Petrus melebarkan usahanya dengan membuka kesempatan kepada reseller pasar tradisional. Ia juga memasarkannya dengan memasukkan ke 5 UKM lain di Semarang.

Untuk pemesanan luarย  kota, bisa kontak langsung di 024-7643-2317 atau 0813-9094-8222 (HP) serta 0822-4373-4586 (WA). Bisa juga kllik website www.semarangbandeng.com atau www.milkfishprestolthpc

***

Sajian Bandeng presto goreng. Doc by bang Den.

Menghilangkan Bau pada Ikan

Naah.. sedikit tips untuk Anda yang ingin mengolah ikan air tawar ini. Yaaa.. ini sih berdasarkan pengalaman masak yang tidak seberapa dan ajaran mama saya soal memasak ikan looh ๐Ÿ˜€

Sebelum diolah, dihilangkan dahulu bau amis atau lumpurnya. Caranya, bersihkan ikan dibawah aliran air bersih. Kemudian bisa mengolesi badan ikan dengan cuka dan didiamkan 15 menit, selanjutnya cuci bersih.

Cara lain, gunakan garam yang dicampur dengan air juga kunyit (bila tidak pakai kunyit pun tak apa). Rendam selama kurang lebih 30-45 menit agar bumbu meresap dan bau hilang.

Emm, bisa juga air garam dicampur dengan perasan jeruk nipis. Ugkhh itu sedap pisan euy! (ngences -_-ย  ). Jika tidak ingin terlalu asin, rendaman ikan tersebut, bisa dicuci kembali sebelum memasaknya.

Ehh, kata mama saya, bisa juga dengan mengolahnya memakai bumbu rempah yang kuat. Asal tidak menghilangkan rasa si ikannya. Biar seimbang antara ikan dan bumbu. Selamat mencoba yaaahhh.. jangan lupa ajak saya makan ikannya juga dong ๐Ÿ˜‰ (jie)

In front of milksfish, Bandeng Presto New Istichomah.
Doc pribadi, taken by Gus Wahid.

***

Kunjungan ke Home Industry Milkfish New Istichomah
Jl. Drorowati Raya No. 29 B, Semarang, Jawa Tengah-50141

One Day Trip bareng Blogger Semarang dan Dinas Koperasi Usaha Mikro Kota Semarang, 04 Desember 2017

 

 

 

Iklan

6 tanggapan untuk “Sudah Makan Duri Bandeng Istichomah?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s