simple CULLINARY

Bubur Blengong Gurih Berdaun Pisang

Mendengar kata bubur, rasanya biasa. Sebagian orang, mungkin, namun tidak bagi saya. 2 tahun belakangan, baru bisa makan bubur dan lontong setelah nasi tidak diterima pencernaan saya. Mencoba bubur-bubur, menjadi salah satu kesukaan saya. Ehh, ketemu bubur enak, padat dan bikin ngences di Brebes. Hari dimana kaki saya terhitung 1,5 bulan di Jawa Tengah, ketika ibu cemara memberikan sangu bubur sebagai bekal di jalan pulang ke Jakarta.

Bubur sedaaapp ~
Doc pribadi

***

Tidak ada yang aneh. Terdengar biasa. Terbuat dari beras juga. Dimasak dengan banyak air, diaduk lebih lama dari biasanya, agar lunak lalu menjadi bubur.

Makanan yang banyak terdapat di wilayah Indonesia ini, peruntukannya saja mungkin berbeda. Bubur bagi anak balita, orangtua maupun umum.

Varian isinya juga beda. Bisa ayam disuwir-suwir (dirobek sedikit-sedikit) atau telur, atau daging bebek. Sedangkan hati, ampela, usus, biasanya dijadikan tusuk sate. Pelengkap lainnya adalah kerupuk dan sambal sesuai selera.

Lalu apa yang berbeda dengan bubur Brebes?

***

Pandangan Pertama

Harus pulang!

Selain si mama yang tumben-tumbenan bolak-balik menelpon dan meng-sms saya di seminggu belakangan, ada jadwal mengisi materi yang juga harus saya penuhi di Bandung.

Mungkin karena hari tersebut, saya terakhir di rumah ibu cemara, ia menyuguhkan saya bubur khas Brebes. Ibu membeli 2 bungkus bubur putih polos dan sebungkus dengan isian tempe orek basah dicampur mie berbumbu.

โ€œEjie makan yang ada isinya yaahh.. Enak itu looh,โ€ ujarnya.

Ehh, saya belum pernah sih mencoba bubur dengan isian itu. Tapi mata saya kok lebih tertarik dengan bubur polos ya? Rasanya menggoda, kepengen langsung nyicip, mendadak lapar, dan sabar Ejie! Kita makan bersama yaaaaaa… Baiklah ๐Ÿ˜€

Ehhmm.. lalu, bungkusannya! Saya tertarik dengan bubur yang dibungkus beralaskan daun pisang dan kertas koran.

Heeiiiii! Sungguh saya baru melihat bubur yang dibungkus sedemikian rupa. Sepengetahuan saya, bubur kerap kali dibungkus menggunakan plasik, strerefoam, atau (bisa saja) membawa tempat makan sendiri. Pikiran saya langsung kepada, pengurangan pemakaian plastik juga sampahnya. Hhahhaha…. sounds great, right?

Unik dan buburnya tidak tumpah di daun itu.

***

Bubur Khas Tanpa Basi

Sangunya ibu cemara!

Huaaaa.. saya lapar. Jalanan macet, mata ngantuk, tapi lapar. Untung ada bekal bubur dari ibu.

Ketika saya makan bubur Brebes di satu jam sebelum tiba di pool bus Kampung Rambutan, bubur Brebesnya pun masih bagus. Artinya tidak rusak, tidak encer, tidak basi, masih harum, dan pastinya enak!

Dulu, mama pernah bilang, masakan yang tidak cepat basi itu, memasaknya benar-benar melalui proses baik. Dari mengaduk dan waktu memasaknya yang tidak hanya sebentar (ala kadar). Menunggu hingga buih-buih menggelembung sempurna di panci atau wajan, memasaknya dengan api sedang yang merata, serta tidak segera mematikan api kompor setelah buih menggelembung dan berbunyi, blubub.. blubuuuubb… jadi harus menunggu beberapa jenak agar masak sempurna.

Karena penasaran, saya bertanya pada ibu dan Astri soal bubur tersebut melalui japrian di salah satu media komunikasi online.

โ€œBu, bubur yang ibu buat sangu Ejie pulang itu, bahan atau bumbunya apa yah?โ€

Saya membeberkan beberapa alasan. Seperti review ๐Ÿ˜€

โ€œHhahahaha.. nok* Ejie sini, ke Brebes lagi. Nanti kita masak bubur,โ€ jawabnya dengan tawa yang saya hapal bagaimana ekspresi riangnya, meski kami jauh.

Menurut ibu, bahannya alami tanpa tambahan MSG. Yaitu beras, santan dan garam secukupnya. Proses memasaknya pun sederhana seperti memasak bubur pada umumnya. Hanya perlu direbus lama dan rajin mengaduknya hingga santan menyatu dengan beras tadi hingga lunak dan menjadi kental.

โ€œBiar harum dan enak, tambahkan daun salam pada saat merebusnya, nok Ejie,โ€ kata ibu.

Well, dapat resep asik nih kan dari ibu? :wink

***

Sarapan Nikmat Di Dapur Kecil

Pada saat makan bersama, Astri anak ibu cemara mengambil porsi bubur dengan isian. Saya mencicipinya. Enak.

Rasa tempe orek basah bercampur mie, sepadan dengan buburnya. Tidak mengalahkan satu dengan lainnya. Rasa buburnya kuat, kental, padat, tetap bisa dirasakan meski dengan isian. Sedap ~

Lalu porsi bubur polos saya. Pasangannya adalah kuah kuning bersantan ringan dengan isian irisan daun bawang. Tambahan lainnya yakni, kerupuk juga sate blengong.

Sate blengong adalah perpaduan keturunan antara bebek dan mentok (entok). Sate blengongnya terpisah dari kuah kuning dan bubur.

Gulai sate blengong
Sumber Google

Oiya, sate yang ibu beli itu, digulai kental. Bumbunya sampai melekat di sate-sate tersebut, pertanda masaknya rata, meresap hingga kedalam. Tetap dalam tusukan.

Satu tusuknya, lebih besar daripada sate ayam atau sate kambing sekalipun. Tentang sate blengong, nanti yah ceritanya ๐Ÿ™‚

Saya lebih memilih bubur polos dengan kuah. Lalu masakan ikan tongkol goreng ala ibu, lengkap dengan kerupuk. Saya tidak makan sate blengong, karena sudah mencicipi di awal berada di rumah itu. Hhahha biar bisa tahu rasanya bubur Brebes dan juga tidak menghilangkan rasa si blengong bila dicampur.

Buburnya pulen dan gurih. Mungkin itu yang bisa saya katakan. Harum daun pisang. Saya mencoba bubur polos saja, legit. Serasa makan kue nagasari. Ehh, atau kue tradisional dari tepung beras dengan santan kental di luar dan gula merah di dalam yah? Lupa euy namanya. Lumer di mulut. Enak ~

Sesendok, lima sendok, delapan sendok, umphhh… Hhahahaa tak terasa, suapan demi suapan, lancar penuh makna. Dalam tiap suapan, sensasi bubur polos dengan bahan sederhana, membekas kuat di seputar rongga mulut. Padahal, makannya dengan kuah loh โค

Menikmati sarapan bubur bercitarasa sambil bercerita banyak dengan Astri di dapur kecil ibu, kembali saya harus mengatakan, sedaaaaappp ~ โค

Hhahhahaa saya kok jadi ngences yah? Kepengin makan bubur dan ikan goreng ala ibu cemara euy. Kangen makan bareng astri juga.

Ahhh.. momen memang akan selalu dikenang ya kan? Termasuk bubur Brebes yang tetap saja membuat saya mengetik sambil berulang kali, menelan air liur. Ooh bubur Brebes, oohhh ~ ย (jie)

Satu tusuk sate blengong lebih besar dari sate ayam maupun sate kambing.
Sumber Google

***

Keterangan:

*nok = panggilan anak perempuan di Brebes, Jawa Tengah.

 

 

Iklan