NANJAK penuh rasa

Petilasan Terpisah di Gunung Padaringin

 

Eksotika Bandung memang tidak ada habisnya untuk dikulik. Kota cekungan layaknya mangkuk ini, dikelilingi oleh jajaran pegunungan. Ada banyak gunung yang bisa dijelajahi disana. Salah satunya ketika Dadan dan saya melakukan sosial ensiklopedia Gunung Bandung di Pangalengan.

View dari sekitar Gunung Padaringan sebelum muncak.
Doc pribadi

Gunung diantara Kebun

Gunung-gunung di Bandung memiliki kisah untuk diceritakan. Banyak hal pula yang kadang terkandung didalamnya. Bisa berasal dari kisah rakyat, sejarah Bandung, maupun berhubungan atau memiliki keterikatan antara satu gunung dengan lainnya.

Gunung tak hanya bagi para pendaki, tetapi gunung juga sebagai tempat berwisata keluarga pun, ada. Seperti apa misalnya?

Kebanyakan gunung di Bandung, dikelilingi oleh hutan bervegetasi lebat, perkebunan, bambu dan sebagainya.

Gunung Padaringin yang terletak di Desa Warnasari, Pangalengan, Bandung dikelilingi oleh perkebunan dengan dominasi perkebunan teh. Padahal tidak hanya teh saja yang ada disana, kebun jeruk pun ada meski jumlahnya tidaklah sebanyak teh.

Kebun teh di awal perjalanan sebelum naik ke Gunung Waringin.
Doc pribadi.

Gunung Padaringin ini disebut pula dengan Gunung Waringin 2. Tadinya, Dadan dan saya hanya bermaksud berjalan-jalan sembari mencari data demi kebutuhan pemenuhan sosial ensiklopedia yang dimotori oleh satu kelompokย  penjelajah gunung-gunung di Bandung.

Kami menelusuri perkebunan teh di wilayah Desa Warnasari. Tanpa sengaja kami melakukan soft trekking ke Gunung Padaringin. Yaaahh.. memang kakinya pada gatal tuh kalau trekking tanpa rencana ๐Ÿ˜‚

Untuk mencapai gunung tersebut, bisa dilakukan dengan mengendarai motor melalui jalan perkebunan tehnya. Sepanjang perjalanan, mataย  disuguhi oleh pemandangan hijau di kanan-kiri. Barisan kebun berjajar rapi. Sesekali pohon menjadi pembingkai diantara kebun dan jalan.

Hanya berkisar sepuluh menit saja tanpa perlu membawa backpack berat. Jika trekking dari bawah memakan waktu sekitar 1 jam.

Hati-hati saja kalau naik motor. Tanah merah yang licin dan batu-batuan hampir mengisi setengah perjalanan menuju ke puncak.

Di titik tertentu, kami berhenti, lalu memarkir kendaraan. Sebaiknya tidak usah berkendaraan motor bila hujan. Ada rumah terakhir di sebelah kanan sebelum tanjakan tajam di pertigaannya.

Parkir motor dulu euy ๐Ÿšฒ๐Ÿ’จ๐Ÿ’จ
Doc by Dadan

Yusuf, seorang petugas kebun teh Afdeling Warnasari yang telah bertugas selama 2 tahun disana mengatakan, ada makam atau petilasan yang terdapat di puncak gunungnya. Makam tersebut berada diantara tumbuhan teh yang ada. Ia sendiri belum pernah naik ke puncaknya.

Eheem! Bagaimana mau menahan ke-kepo-an berat tentang gunung jika tidak menjelajahinya? ๐Ÿ˜‡

Berkat penasaran, kami akhirnya naik dan meneruskan perjalanan hingga tempat yang dimaksud.

***

Puncak Padaringin.
Doc pribadi, taken by Dadan.

Petilasan Lodaya

Sebuah pemandangan indah terhampar disana. Tampak jajaran kebun-kebun teh dibawah. Karena langit berawan, kami memarkir kendaraan dan mulai mencari posisi trek log yang ada. Mencari posisi puncak, dan petilasan yang diceritakan olehย  Yusuf.

Menuruni lereng diantara pohon teh yang ditebang karena telah dipanen dan dipetik, saya harus berhati-hati. Karena tidak ada rencana mendaki, jadilah saya berpakaian apa adanya.

Pada belokan pertama setelah tebasan pohon teh, kami menemukan tanjakan dengan papan plang bertuliskan Pos 3. Ehh, saya sedikit heran karena tidak melihat pos-pos sebelumnya. Mungkin karena kami memulainya tidak dari perkebunan bawah, makanya tidak melihat plang lain yang mengisyaratkan Pos 1 dan 2.

Kami menelusuri jalan yang ada. Landai namun sedikit mendaki.

Jalur rapat. Tanaman menjuntai menghalangi jalan setapak yang kami lalui.

Diujung jalan, tampak tanah agak lapang dengan banyak aneka bunga hutan berwarna-warni. Bunga-bunga Kecil didominasi warnaย  orange, kuning juga ungu.

Dalam hitungan menit, kami tiba di puncaknya.

Sebuah rumah tak terurus berwarna coklat dengan bale-bale yang sudah tidak terpakai lagi, berada di kiri arah datang, terlihat di depan saya. Ada pohon dengan lubang besar di kanan saya.

Beberapa meter di depan saya, terlihat sebuah rumah terkunci berhorden hijau. Sepi. Tak tak ada seorangpun yang kami jumpai disana. Hmpff.. angin semilir menyertai kehadiran kami. Jangkrik pun memberikan nyanyiannya. Dingin yang sunyi! Ahh…

Puncak Mamang Lodaya.
Doc by Dadan

Petilasan pertama yang kami temui, yakni Surya Pandeta atau dikenal dengan Mamang Lodaya, mungkin berada di dalam rumah tersebut.

Kami mengecek beberapa bagian dari dataran tersebut, mengambil gambar dan memutuskan segera turun mengingat langit yang semakin kelabu.

Potong kompas ๐Ÿ˜ฐ
Doc by Dadan

Dadan kembali mengajak saya melalui jalur potong kompas. Kebiasaannya ini, selalu mencoba jalur menggelitik ๐Ÿ˜ต๐Ÿ˜ช๐Ÿ˜‚

Sejumlah baret kembali menghiasi tangan dan kaki. Oleh-oleh duri tanaman yang menempel pada jari maupun lengan tak lagi kuhiraukan. Iya, kami menerobos semak-semak agar tak perlu memutar jalan ke Pos 3 kembali.

Kami segera mengarah ke parkiran motor dimana pemandangan indah terlihat. Udara segar, ole!

***

Perkebunan teh terlihat dari arah petilasan kedua, Nyai Pohaci.
Doc pribadi

Petilasan Pohaci

Petilsan kedua kami temukan berada diantara hijaunya pepohonan teh. Petilsan yang (juga) tidak terlalu terurus, karena bangunan yang menaunginya pun di beberapa bagian sudah terlihat rapuh dan rusak.

Ada yang menarik ketika saya sampai di sisi kiri bangunan. Sebuah bunga merah terang tumbuh subur disana. Hanya satu tangkai saja.

Menurut peziarah yang kami temui, disana bersemayam di makam tersebut, Eyang Nyai Pohaci Sanghyang Sri.

Cerita tentang Nyai Pohaci ini dihubungkan dengan Dewa Ular (Antaboga), Batara Guru di masa pra-Hindu dan pra-Islam ketika itu.

Berkaitan pula dengan padi, sawah serta kesuburan di Pulau Jawa dan Bali.

Dari ketulusan, kebaikan lalu kesuciannya, tumbuhlah tanaman bermanfaat bagi manusia. Nyai Pohaci inipun dikenal dengan dewi tertinggi di dunia agraris (baca:ย Nyai Pohaci ย )

The view ๐Ÿ˜
Doc pribadi, taken by Dadan

Gunung berketinggian 1.666 meter diatas permukaan laut (mdpl) ini, tidak hanya berlaku bagi para pendaki. Pada sisi bagian bawahnya, bisa dimanfaatkan sebagai tempat berlibur bersama keluarga. Berjalan disana pun tidak akan membosankan, karena mata akan disuguhi oleh pemandangan indah sekitar perkebunan.

Satu hal yang harus diingat, selalu jagalah kebersihan, etika memasuki sebuah tempat, dan jagalah ucapan baik. (jie)

***

Penulisan Padaringin atau Padaringan, akan diralat selanjutnya.

Iklan

16 tanggapan untuk “Petilasan Terpisah di Gunung Padaringin”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s