UKM, wisata kota

Berburu Penganan Asing di Papringan (Part 2)

Menggemari makanan tradisional, khususnya penganan, saya termasuk addicted. Apapun, asal bukan nasi, bersahabat dengan perut saya. Terlebih di Pasar Papringan, banyak nama kuliner asing tertangkap mata saya. Penasaran?

Aneka penganan tersaji dengan tempat terbuat dari pring.
Doc by @bookpacker

***

Hari Papringan

Desa Ngadiprono yang terletak di Temanggung, mempunyai pasar wisata dan kuliner tradisional, Papringan. Pasar yang hanya ada di Minggu Pon atau Wage ini, buka dan beraktifitas hanya dua kali dalam sebulan (baca:ย Pasar Papringan)

Pring, uang bambu.
Doc mb Melissa

Belanja dengan menggunakan kepring, uang dari bambu, merupakan hal baru di desa tersebut.

Bersama teman-teman di Familiarization Trip Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah, kami menanti antrian kendaraan ke dalam Desa Ngadiprono dari perhentian terakhir di Desa Ngadimulyo.

Menempuh perjalanan sekitar 20 menit plus macet kendaraan ketika masuk dan ramainya orang berlalu-lalang. Pada hari tersebut, sesuai Minggu Pon atau Wage, Pasar Papringan dibuka untuk umum. Informasi dari Ibu Nane (Tour Guide Dinkop Jateng) mengatakan, jumlah pengunjung hari itu mencapai 500 orang. Wohoooo…

Ramainya pasar papringan.
Doc by @bookpacker

***

Denah Kuliner

Pungky, Ghana, Nana Pink, Hani, Mbak Melissa, Dini, Hana, Bu Nane serta Midori san, bertumpuk di satu angkutan umum. Kami masuk rombongan kedua yang ada disana.

Rombongan dibagi sesuai dengan kendaraan mana yang lebih dulu tiba di lokasi dari perhentian didepan. Ehh, sebenarnya bebas sih.

Kami mengambil antrian penukaran pring lalu mulai berjalan bergerombol. Sebentar saja, karena akhirnya berpencar mencari kebutuhan masing-masing orang yang berbeda dalam pengambilan sudut penulisan ๐Ÿ™‚

Denah lokasi kuliner Pasar Papringan.

Di kiri jalan pintu masuk utama (setelah antrian penukaran pring), ada papan besar putih yang menggambarkan denah lokasi. Kita bisa melihat, area mana yang ingin dikunjungi berikut jajanan apa saja yang tersedia.

Pada papan tersebut, ada paku warna sebagai informasi tentang kuliner. Warna merah artinya habis, warna kuning tinggal sedikit, lalu warna hijau berarti masih tersedia banyak.

Wuiihh… baca, pilih-pilih menu yang terpampang di denah kuliner, lalu berjalan menuju arah berlawanan dengan lainnya.

Kenyang toh?
Doc by @dimassuyatno

Saya mengambil jalur kanan ke area kuliner. Banyak makanan khas Jawa yang saya hapal. Kemudian berhenti di sebuah sudut.

Mencatat penganan asing yang jarang terlihat, atau saya hanya tahu yang umumnya saja ya? Baiklah, mari berburu penganan asing di telinga.

***

Siap Makan!

Kaki saya berhenti di lapak mbak Viro. Tiga macam penganan asing langsung saja masuk di catatan saya.

Ia menjual penganannya seharga 1 pring ( Rp 2.000,-) per iris/potongan. Adapula 1 pring dapat 3 bila bentukannya kecil.

Kipo (iki opo), penganan khas Kotagede, Yogyakarta. Terbuat dari tepung ketan dicampur santan, diisi unti kelapa dan gula merah, lalu dipanggang. Biasanya dibungkus daun pisang.

Ndas Borok (kepala borok), makanan asal Temanggung yang dikukus. Berupa parutan singkong dan kelapa. Diatasnya diberi gula merah sebelum dikukus, sehingga pada saat dikonsumsi, mirip kepala yang terluka karena menghitam terkena lumeran gula merah.

Glanggem. Waktu baca nama makanan ini, jadi teringat film Korea yang berjudul Jang Geum, hahhahh.

Glanggem ini berbahan dasar tape singkong yang dibalut denganย  tepung, lalu digoreng. Namanya asing bagi saya, tapi sering makan kalau mama yang masak penganan ini.

Sayangnya, di ketiga macam makanan ini, saya tidak beruntung. Semua habis tanpa sisa, jadi saya tidak bisa mengambil gambarnya, kecuali searching. Uuugkh, lapar!

Menyusuri sudut lainnya, saya pun melihat penganan lain dan berbincang dengan si empunya. Ibu Naseha, dan ketiga temannya. Mereka menjual camilan ringan juga, diantaranya:

Grubi Telo, berbahan dasar ketela sehingga memberi warna ungu. Adonan kuenya, dilumuri gula untuk memberi rasa manis. Kue tradisional renyah ini dipotong halus memanjang, dibentuk bola-bola kemudian digoreng.

Grubi Jadul, sama seperti grubi telo. Hanya saja, proses pewarnaannya menggunakan singkong lalu diberi gula putih atau merah.

Kedua grubi ini, mengingatkan saya pada camilan di Sumatera Barat yang juga terbuat dari ubi maupun talas.

Masing-masing grubi, dihargai 1 pring. Saya memilih grubi jadul gula Jawa. Rasanya gurih bercampur manis sedang. Sedikit kriuk bila digigit.

Penganan ubi.
Doc pribadi

Disisi lain juga ada Bandos. Eyang Sesti bersama cucunya yang datang dari Yogyakarta, menceritakan bandos pada saya.

“Makanan desa, nduk. Terbuat dari singkong. Pembuatannya, singkong dijemur sampai kering, masak diatas tungku. Makannya pakai kelapa parut dan gula merah, nak,” katanya.

Mungkin karena penganan ini dijemur, jadi agak kesat gitu rasanya. Harus didampingi air mineral sepertinya karena kering. Beruntunglah saya selalu membawa botol air minum sendiri, ngga repot cari air ๐Ÿ™Œ

Papan penganan bajingan berbahan dasar singkong ditunjukkan @pungkyprayitno
Doc by @albert_na

Ada lagi penganan yang paling banyak mendapat tanggapan karena namanya memakai kata Bajingan ๐Ÿ˜€ .

Bajingan kimpul, penganan ini terbuat dari singkong terendam dalam gula Jawa. Manis. Seperti kolak kalau melihat biasa.

Harganya 2 pring (Rp 4.000,-)

Bajingan Singkong, hampir sama, menggunakan bahan singkong, namun tidak direndam. Harganya 1 pring (Rp 2.000,-).

Selain penganan ringan, saya juga mencicipi susu kedelai gula merah. Enak euy, segar.

And the most popular is cassavas fermented! Hahahaha Serena (Italy) suka sekali dengan tape ketan ini.

Lite beer, she said. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

 

***

Alami

Hampir semua kuliner disana, untuk camilannyaย  menggunakan pemanis alami seperti gula pasir atau gula merah, gula Jawa. Sedangkan pewarnanya, asli dari buah ataupun dedaunan bumbu kue traditional. Misalnya ubi ungu, ketela, daun pandan, dan sebagainya.

Sementara makanan beratnya, memakai bumbu rempah asli olahan tangan ibu-ibu lokal Desa Ngadiprono.

Makanannya sehat. Sama sekali tidak memasukkan MSG maupun pewarna buatan.

Gimana? Ngga ragu memasukkan Pasar Papringan sebagai wisata dalam daftar perjalananmu, kan?

Jangan lupa membawa tas reusable kalau memang mau belanja disana. Atau belilah kerajinan tas keranjang yang tersedia. Bervarian kok harganya.

Selamat bersenang-senang mencicipi kuliner kesukaanmu yah…. Eits, ingat. Selalu menjaga kebersihan dengan membuang sampah pada tempatnya ๐Ÿ‘Œ (jie)

***

Jika berminat kesana supatepat pada hari pasarannya, bisa menghubungi nomor berikut untuk mencari informasinya:

Imam, 0812-80633044

 

Doc by @bookpacker

Kunjungan ke UKM Pasar Papringan, Desa Ngadiprono, Ngadimulyo, Kedu, Temanggung.
Familiarization Trip bersama Dinas Koperasi dan UMKM Propinsi Jawa Tengah, 17-18 November 2017.

#ProdukUKMJateng
#UKMJateng
#JatengGayeng

Iklan

8 tanggapan untuk “Berburu Penganan Asing di Papringan (Part 2)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s