UKM, wisata kota

Pasar Papringan, Belanja Pakai Uang Bambu (Part 1)

Warna tanah dan tumbuhan memenuhi seluruh pandangan. Kesan adem dari hijau tanaman, lalu hangat dari coklat tanah serta pedesaan. Lekat disini, Pasar Papringan. Yuk, main kesana πŸ˜†

Suasana pasar dengan aneka jajanan khas desa.
Doc by @bookpacker

***

Bertukar Uang di Papringan

Dahulu, jika ingin membeli sesuatu, dilakukanlah barter. Kegiatan tukar-menukar barang kebutuhan ini dilakukan dengan bertemu secara langsung.

Setelahnya, pertukaran mulai mengenal nilai mata uang.

Adanya pertukaran, sebagai akibat pembayaran atas terjadinya pembelian sekarang dan nanti dengan dua mata uang berbeda.

Kini, jaman now πŸ˜‚ , ada yang khas dari sebuah sentra wisata dan produk UKM di Desa Ngadiprono, Ngadimulyo, Kecamatan Kedu, Temanggung.

Sebuah pasar khas terbentuk dari ide kreatif penduduk lokalnya. Mereka menciptakan Pasar Papringan, pasar dimana bambu tumbuh dengan subur. Papringan memanfaatkan tanaman bambu sebagai bahan utamanya di tanah seluas 2.500 meter persegi.

Mereka pun memakai bahan bambu sebagai alat tukar-menukar uang dan belanjaannya. Uangnya disebut kepring (Jawa: bambu).

Pring, money made from bamboo
Doc pribadi

Jika Anda ingin merasakan suasana desa, mencicipi makanan yang bahkan asing di telinga, mencari kuliner yang (mungkin) hanya ada di pelosok saja, jawabannya mainlah ke Temanggung. Tepatnya ke Desa Ngadiprono.

Untuk belanja disana, kita diwajibkan menukar mata uang dengan pring. Ya, alat tukar-menukarnya berupa mata uang pring. 1 pring nominalnya Rp 2.000,-.

Pastikan Anda menukarnya cukup agar bisa puas belanja disana. Heem.. kalau ditakar mau jajan apa saja, cukupkanlah. Kalau penasaran dengan isi pasarnya, bisa berkeliling dulu sebelum menukarkan uang rupiah dengan pring. Percayalah, ngga menjamin sama mata yang lapar melihat banyak jajanan disana looh.. aahaahha terbukti di saya soalnya.

Penukaran rupiah ke uang Bambu.
Doc by @bookpacker

Nah, pada papan pengumuman berupa tampa (ayakan beras) yang juga terbuat dari bambu, bila pring sudah ditukar, tidak bisa dikembalikan lagi.

Jadi kalau berlebih, bagaimana? Habiskan belanja, beli souvenir atau bikin kalung, gelang, gantungan kunci. Lucu juga loh kalau masih tersisa dan dibuat pernak-pernik.

Atau ya nanti kesana lagi deh sama teman-teman lain biar bisa jajan-jajan. Kalaupun disimpan, selayaknya mengkoleksi mata uang negara lain kan? Ehh, tapi jangan kebanyakan bawa pulang pring ya? Soalnya mereka menggunakan pring untuk bertransaksi jual beli πŸ™‚

Tempat penukaran uang di Pasar Papringan, ada di 3 area, yakni pintu masuk utama, area playground dan di dalam area jajan penganan/kuliner.

Antrian penukaran uang.
Doc Melissa

***

Jalan, Jajan, Ngemil, Repeat

Pasar kreasi penduduk lokal ini yang diinisiasi oleh Komunitas Mata Air dan Spedagi ini, terkesan adem. Menurut saya loohh..

Papringan hanya beraktifitas di Minggu Pon atau Wage, menurut penanggalan Jawa saja. Buka dan beraktifitas hanya dua kali dalam sebulan. Seperti pasar musiman.

“Tradisi orang Jawa, berbelanja atau berdagang hanya dilakukan pada hari tersebut saja. Terutama kalau Pon atau Wagenya, pas di hari libur bertani atau bercocok-tanam,” jelas Fauzan, staf Pemasaran Dinas Koperasi UKM Jawa Tengah yang turut di Familiarization Trip (18/11).

Saya rasa, sebagai orang yang tidak mengkonsumsi nasi, jalan jajan ngemil di pasar ini, mengasikkan. Bagaimana tidak? Saya bisa mencicipi berbagai kuliner yang ada. Repeat, yeay!

Deretan penggila cassava fermented dengan @sere_turc dan @parah1tasatiti
Doc by @wahidunited

Sebagian adalah penganan dan minumanΒ  tradisional yang biasa saya temui seperti es dawet, susu kedelai merah, tape ketan, bubur kacang hijau, rujak, teh, jeruk, wedang ronde, klethikan, dan lainnya.

Bagi penggemar makanan berat, tersedia pula makanan khas lainnya seperti lontong mangut, sego abang, sego kuning, sego jagung kuning/putih, gudheg, kupat tahu, soto, lesah, gulai ayam kampung, serta nasi rames.

Hhhahahha… bakal kenyang, toohh?? Yeap! Jadi kalau mau kesana, sebaiknya siapkan lambung penuh agar bisa mencicipi segala makanan kesukaan Anda.

Ohh, jangan lupa, siapkan juga kepingan kepring yang cukup, agar puas berbelanja.

***

Main enjot-enjotan.
Doc by @charisfuadi

Mengenalkan Permainan Masa Kecil

Banyak hal di Papringan ini yang mengajak kita merunut kisah ke belakang. Ingat cerita bapak ibu, om, tante, kakek, nenek, yang merasakan masa kecilnya? Mereka bermain kelereng di halaman rumah atau permainan tempo dulu lainnya yang kini sudah tergerus oleh era digital.

Menikmati permainan demikian, mungkin sekarang hanya bisa dinikmati di layar persegi panjang saja. Benar, ngga ya?

Nah, di area bermain, ada permainan congklak, enjot-enjotan yang biasanya ada di TK, main karet, ayunan, enggrang, dan beberapa alat panjat terbuat dari bambu. Seru kan?

Area wajib kunjung lainnya di dalam Pasar Papringan, adalah perpustakaan. Biliknya berupa rumah keong yang berisi buku-buku bacaan bagi anak-anak.

Selain itu, terdapat pula wisata river tubing Sungai Progo serta pijat refleksi pun ada disana. Sama saja kok pembayarannya. Tetap menggunakan pring. Lengkap yah πŸ˜‰

***

Eco Green Wisata

Jika diperhatikan, hampir disetiap kita belanja, tidak terlihat plastik sedikitpun. Pasar Papringan ini mengusung konsep Eco Green Wisata.

Tas keranjang, hanya 2 pring saja. Terjangkau Kan? 😊
Doc by @albert_na

Untuk keperluan belanja, mereka menyediakan tas keranjang yang bisa dibeli seharga 2, pring, 4 pring atau 6 pring.

Di setiap lapak penjual, mereka menyediakan gelas, sendok, pincuk (wadah yang terbuat dari daun pisang), piring. Selain gelas kaca, ada juga yang terbuat dari batok kelapa dan tanah liat. Demikian pun piring, terbuat dari bambu dan dialas daun pisang.

Di sudut-sudutnya disiapkan tempat sampah terbuat dari bambu.

Kurang bersahabat apalagi Pasar Papringan Desa Ngadiprono ini? Terkonsep baik, walau belum semua tertata seperti denah lokasi yang terpampang besar di kiri jalan pintu masuk. Masih hitungan baru dibuka, wajar saja jika harus ada yang ditambah untuk kebaikan desa wisata ini bukan?

Kedepannya, diharapkan desa ini akan berkembang dengan konsepnya yang semakin baik. Menambah pemasukan bagi penduduk lokal, karena di setiap aspeknya, diturutsertakan.

Misal, ibu-ibu di bagian penjualan, sementara para lelaki di bagian antar jemput. Anak-anak, tanpa paksaan, mereka menari mengisi acara menghibur pengunjung yang datang.

Lucu dan gemas. Soalnya anak-anak menari dengan sederhana, menggunakan pakaian bermain sehari-hari. Riang.

Umm… apalagi yang ditunggu? Packing dan mainlah ke Desa Ngadiprono ini. Jangan lupa, atur lambung Anda agar bisa makan sepuasnya. Sudah hapal kan kuliner yang saya tuliskan tadi?

Peralatan sederhana yang terbuat dari tanah liat dan bambu.
Doc by @bookpacker

Oh iya, jangan lupa mampir juga ke pusat souvenirnya untuk berbelanja buah tangan bagi handai taulan di rumah. Ada bermacam barang keperluan rumahtangga dan permainan anak-anak disana loh..Β  πŸ˜‰ (jie)

***

Kunjungan ke UKM Pasar Papringan, Desa Ngadiprono, Ngadimulyo, Kedu, Temanggung.
Familiarization Trip bersama Dinas Koperasi dan UMKM Propinsi Jawa Tengah, 17-18 November 2017.

#ProdukUKMJateng
#UKMJateng
#JatengGayeng

Iklan

9 tanggapan untuk “Pasar Papringan, Belanja Pakai Uang Bambu (Part 1)”

  1. Menarik juga. Konsepnya sih sebenarnya kaya konsep beberapa foodcourt di Jakarta ya. Bedanya kalau di Jakarta, uangnya ditukarkan ke bentuk kartu belanja dan sisa uangnya bisa ditarik kembali. Berarti kalau mau mampir ke sini harus liat tanggalan Jawa ya? Supaya pas di hari pasarannya ….

    1. Nah, bener tuh. Beda tapi sama. Hanya di Papringan, tidal bisa menukar kembali pring nya.

      Baca tulisan selanjutnya yg part 2 aja. Ada kontak yg bisa dihubungi kalau ingin bertanya hari pasarannya jatuh kapan 😊

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s