LANDSCAPE, The Beach

Sunrise Sipit di Pantai Ngitun, Gunungkidul

 

Cakep kan yah?
Doc pribadi

Refreshing! That’s all we need after hammocker’s event at Tahura Bunder, Wonosari. Yeap, Beach is the answer to cooling down the soul. Sleeping in a hammock, see the sunrise, talking each other and get quality time for laughing.
Then, here we go! ❤

doc pribadi

Hore Mantai!

Sudah lama tidak melihat pantai? Sudah lama ngga lengket kena air asin? Sudah lama ngga balapan dengkuran sama suara ombak? Waks?!? Nah, nah… bobok kane dulu kita nang pantai yooow ^,^

Pantai berpasir lembut ini terlihat sepi pengunjung. Mungkin disebabkan tidak adanya angkutan umum yang kesana. Seperti kebanyakan pantai-pantai yang ada di Yogyakarta.

Akses menuju lokasi menjadi PR yang harus dipikirkan jika bermain di sekitaran pantai-pantai Gunung Kidul ini. Hampir dipastikan, kendaraan pribadi harus berada di urutan pertama dalam list. Paling tidak, motor.

Empat sepeda motor melaju dalam kecepatan sedang di malam hari. Kendaraan berisi teman-teman dari Solo dan Jakarta, yakni mas Bobi (maspih), Irma, Burhan, mas Tenol (masnol), dan Aycil serta bang Andi, Pitray dan saya.

Pantai santai dan lengang dipilih maspih dan teman-teman Solo agar kami bisa menikmati waktu bersama disana. Beberapa kali kami berhenti untuk membeli tambahan logistik serta beristirahat menjelang jadwal shalat.

Perjalanan memakan waktu tiga jam jika dilakukan dari arah wisata Taman Hutan Raya Bunder, Gunungkidul, Wonosari. Hal berbeda jika kita mengambil arah dari Yogyakarta. Jaraknya lebih dekat, satu setengah jam saja. Itu juga kalau kami tidak dalam keadaan letih mungkin. Hhhahaha…

Ehh, mbok ya jalan santai saja deh, sambil menikmati malam dingin dan gelap. Mau lihat apa yah, kecuali langit yang bertaburan bintang. Waahh.. bakalan cerah ceria pantai kita ini, kakak-kakak…. HUREY!

Berada di Sureng, Purwodadi, Tepus, Gunungkidul, Pantai Ngitun sejalur ke wisata Wediombo atau Pantai Pok Tunggal. Jalan utama yang beraspal, membuat kami menikmati udara malam.

Karena gelap, agak sulit menemukan papan penunjuk jalan. Kami bertanya pada warga yang berada di daerah tersebut. Ia menyarankan agar kami mengikuti plang hijau bertuliskan Pantai Pok Tunggal. Selanjutnya, jalur yang kami tempuh adalah jalanan menanjak berbatu.

Pembangunan akses masuk Pantai Ngitun dilakukan dengan cara swadaya dari masyarakat. Sebagian jalan sudah di cor, muat untuk sepeda motor arah datang dan pulang dengan jalan batu di pinggirnya. Ingat, cek dahulu kondisi motor, terutama ban bila bermaksud ke pantai ini. Soalnya, jalan seterusnya, bukanlah aspal mulus.

Selain motor, mobil pun bisa melalui jalan itu, asal pengendaranya gesit menyetir di badan jalan yang kecil dan berbatu.

Pada persimpangan jalan kesekian, barulah terlihat papan penunjuk jalan yang mengarah ke Pantai Ngitun. Mendekati pantai, kita benar-benar memasuki hutan yang penuh pepohonan di kanan-kiri jalan. Tidak ada penerangan kecuali lampu motor. Tak jauh dari masjid yang kami singgahi shalat, tinggal lurus saja hingga ke pantai.

Tetap tak mudah, karena perjuangan jalan berbatu kecil semakin banyak. Kami yang duduk diboncengan terpaksa turun untuk mengurangi beban pada tanjakan.

Sebenarnya, tidak sepenuhnya jalan tersebut berbatu. Membelah di tengah, terkadang rumput, tanah atau jalan rata tanpa kerikil. Jalanan demikian, lumayan membantu jika hujan. Kalau licin dari tanah merah, maka batu-batu tersebutlah yang membantu roda tetap berjalan lancar. Nah, tak jauh setelah turunan yang lumayan curam, kami pun tiba setelah melihat plang bertuliskan Pantai Ngitun di sebelah kanan.

Muka kucel, ngga apa yah? 😛
Doc pribadi, taken by Pitray

Ada warung-warung makan disana dengan pemiliknya yang sangat kental bahasa Jawanya. Tidak terlalu banyak sih. Hanya 2-3 warung seadanya saja.

Parkir yang lumayan luas, fasilitas kamar mandi bersih, beberapa pintu lengkap dengan toiletnya, serta duduk santai bercerita dengan penduduk yang ramah. Upps, kalau tidak ada orang Jawa asli diantara kami, mungkin saya benar-benar roaming dengan bahasanya. Waahahahah…

Cukup membayar Rp 10.000,- saja untuk berkemah, dan Rp 2.000,- sudah bisa mandi puas di kamar mandi bersihnya.

Yeap, Irma, Pitray dan saya, kami mandi! Gerah pisan euy… Secara di Tahura Bunder kan ngga sempat mandi selama event hammock itu. Mandi puas, yihaaa 😀

***

Stepping out
Doc pribadi, taken by mas Bobi

Air Sejuk di Pantai

Jangan salah, air bersih di kamar mandi itu, tidak payau. Segar seperti air mandi di kota pada umumnya. Tidak lengket di badan juga.

Dijelaskan oleh warga, ada mata air yang tak pernah berhenti mengalir ke pantai, sekalipun tengah musim kemarau. Warga sekitarnya menikmati air bersih tersebut untuk kebutuhan sehari-sehari.

Mata air yang berasal dari Sureng, dihubungkan oleh mahasiswa KKN UGM dari pipa ke pantai itu, dimana air muncul dari dalam bukit. Aneh kan, ada air sejuk bersih yang mengalir di wisata Pantai?

Heemm… begitulah.

doc pribadi

Malam panjang. Irma tertidur pulas di hammock merahnya, demikian pun Aycil. Bang Andi, maspih, masnol, Burhan, sibuk memasak, bercerita, mencoba gear baru DIY (do it yourself) peralatan memasak sambil tertawa ngakak entah apa itu yang mereka tertawakan.

Pitray dan saya sibuk men-set up hammock kami. Kali ini, tanpa flysheet. Gerah dan kepengin melihat sunrise esok pagi. Ingin merasakan angin pantai, mendengar debur ombak bersahutan.

Di ujung bibir pantai, air menyurut. Mungkin bila kami bermain kesana, sudah diatas dengkul surutnya. Entahlah, mataku sudah terlalu berat untuk menikmati pantai hari itu. Cukup mendengarkannya dari ayunan ini saja.

Tidur, tiduuuuurrr….. Selamat tidur Pitray. ZZzzzZZzz

***

Aycil dalam kegundahan, yahahuhuuu ~
Doc pribadi

Terlewat Sunrise

Pagi menjelang, jam 4 dinihari ketika sayup-sayup, saya yang tidur menggelantung bersebelahan dengan Pitray, mendengar suara mas Tenol yang membangunkan kami.

“Bangun, bangun, lihat langit diatas sana. Katanya mau melihat sunrise?” ujarnya.

Pitray terbangun, sementara saya yang sangat mengantuk berat, hanya melihat dari balik mata sipit ini.

Catatan langit dalam balutan memori saya adalah jingga pink merona berpadu kontras dengan langit bersih dinihari itu. Cukup merekamnya. Lalu pulas kembali. Ooh ~

Iya, benaran ngga punya foto sunrise cantik itu. Benar, saya tidur pulas karena ngantuk. Benar saya hanya sempat mengintip dari mata sipit dan sepat ini beberapa saat di pukul 04 dinihari ketika masnol memanggil. Benar, saya… sayaaa.. ihh -_-

Seingat saya, yang punya sunrise itu, masnol sih. Atau mas Bobi yah? Ihh.. lupa saya, ngantuk pisan. Huaaaaaa

***

doc pribadi

Ngitun dan Pencari Lobster

Pantai Ngitun di pagi hari sangatlah indah. Bersih, sepi serta tak ada pengunjung selain kami. Senangnyaaa 🙂

Kisaran pantai sepanjang 75 meter ini, berombak besar menghempas karang di bibir bukit karang. Air akan surut pada malam hari, sehingga kita bisa melihat bebatuan yang ada di dasar air dengan pasir yang membenamkan kaki jika bermain di pesisir pantainya. Namun air akan kembali naik ketika waktu menunjukkan pukul 08.00 wib.

Mata sudah melek, minum dan mencari sandal. Saya melihat Pitray yang sudah bermain air, menyusulnya. Irma entah sudah bermain atau leyeh-leyeh, saya belum melihatnya.

Kami bermain di sisi kiri dari arah hammock. Air laut masih surut, membuat Pitray dan saya bisa naik ke atas karang, menikmati pemandangan laut lepas di atasnya dan mengambil beberapa gambar disana.

Karangnya tajam, harus berhati-hati kalau tidak mau luka tergores karena licin. Dinding karang yang diatasnya ada saung dan bendera, tampak meneteskan air. Mungkin kalau air pasang, karang tersebut akan tenggelam dalam air laut. Makanya masih ada sisa-sisa tetesannya.

Sumber penghasilan warga disana adalah mencari lobster. Biasanya dijual murah ke pasar dalam satu ember kecil.

Untuk menangkap lobster, mereka menggunakan jaring yang diikat ke batuan dan menunggu lobster terjaring. Terkadang pun mereka berenang ke pinggir pantai mencarinya secara langsung. Kami melihatnya ketika air tengah surut. Selain itu, mereka juga berladang dan beternak.

Kata mas Bobi, di pantai ini ada larangan untuk menyalakan api unggun. “Biar pasir pantainya tetap putih, bersih dan tidak kehitaman terbakar. Jadi tetap asri.”

Ditambahkannya, jika ingin membuat api unggun, akan disediakan tong sebagai alas untuk membakar dengan membayar Rp 5.000 – 10.000,-.

Oia, di dekat bukit kanan depan, di tepi pantainya, ada sebuah karang hitam. Berbeda dengan lainnya. Karang ini terlihat gosong dan hanya satu-satunya. Diatasnya tertulis keras, “Dilarang berdiri diatas batu”. Ada cerita yang mengisahkan batu tersebut. Berhubung sudah lama, jujur saya lupa kisah di batu tersebut. Maafkan..
*fotonya cari dulu deh. lupa di folder mana 😀

doc pribadi

Selain pantainya yang bersih, kita juga bisa melakukan trekking ke puncak bukit yang jelas jalurnya. Dari sebelah kiri toilet, ada pemakaman di puncaknya. Dan bila dari bawah, akan tampak bendera diatasnya. Pemandangan akan sangat indah setelah kita melewati kebun disana.

Sayang, saya bangun kesiangan dan cukup malas melakukan trekking ke atas sana, meski ingin. Hhahhaha…. lain kali ngga boleh malas, Ejie. Kan sayang terlewatkan begitu saja momen yang jarang seperti itu. Hooho

Berhadapan bukit kiri, ada bukit kanan juga di depannya yang bisa kita daki. Jalannya lebih kecil dan rimbun tertutup pepohonan. Tetapi agak susah mencapai ujungnya untuk bisa melihat Pantai Ngitun dari atasnya. Pengorbanan trekking akan membuahkan hasil yang sepadan.

Jadi, kapan kita bisa main ke pantai dan ngegantung  bareng mereka lagi bang Andi, Irma, Pitray? (jie)

***

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Iklan

2 tanggapan untuk “Sunrise Sipit di Pantai Ngitun, Gunungkidul”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s