Cultural Heritage, Traveller, wisata kota

Pecinan Jakarta: Do’a Dalam Ruang Merah Vihara Dharma Bhakti

Vihara di Pasar Glodok? Kedengarannya sih, biasa saja? Heem.. mungkin kamu akan mendapatkan sisi lain setelah berkunjung. Kisah Phoenix, burung penghantar do’a, patung penjaga daaaaann… Yuk, main ke Glodok! 😉

Pintu masuk yang kami lalui ketika keluar.
Doc Murni @indohoy

***

Main di Jakarta

Siapa sangka, Jakarta banyak menyimpan tempat wisata bersejarah. Atau saya yang kurang mengeksplore Jakarta? Huaaaa 🙀

Iya, jujur begitu. Karena lebih banyak main keluar kota kali yah? Ahhahah.. umm, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali kan? So, let’s playing around Jakarta. Come on!

***

@nonafeli dan halte busway Glodok.
Doc by Murni @indohoy

Suci, The Guide

Jakarta, kota besar yang tak pernah padam berkegiatan hingga macet, tapi selalu saja dikangenin. Kalau pergi main lama dan pulang yang jarang, rasa itu muncul. Ehh, ada sisi lain yang ternyata baru saya ketahui dari pertemuan dengan teman lama, setelah on air di salah satu radio yang kerap mengulik kisah para traveler itu.

Adalah Suci Rifani, menjadi guide kami, para wajah-wajah baru berjalan-jalan bersama di bulan September ini. Wajah baru, karena hitungannya jadi 2 kali kami bertemu. Kamal, Feli, Susan, Fajar dari Iradiojakarta dan Maggi dari HardRockFM. Ada Peter, sepupu Feli.

Suci mengajak kami kuliner dan mengitari seputar Petak 9. Kami mengunjungi Glodok, tempat yang saya tahu hanyalah berupa pasar, tanpa tahu ada apa di sekitarnya. Perjalanan yang membawa kesan buat saya ketika memulainya dari Jalan Kemurnian, depan halte busway Glodok.

Kendaraan mudah serta terjangkau dari tempat saya, naik transjakarta. Janji temu di IRadio, lalu melanjutkan, turun di halte Glodok.

***

Vihara Dharma Bhakti Dibalik dinding.
Doc by Murni @indohoy

Phoenix dan Patung Penjaga

Dari sekian tempat kuliner yang kami kunjungi dan cicipi, Vihara Dharma Bhakti, merupakan penutup wisata kota kami hari itu. Berada di ujung jalan bercat dinding berwarna kuning serta merah diatasnya. Kontras dengan warna langit biru cerah siang itu.

Jika melihat vihara, yang terbesit adalah dupa, do’a, merah, dewa-dewi dan keemasan. Itu saya, entah kalau teman-teman.

Berlatar tempat berdo’a di vihara.
Doc by @indohoy
Taken by Peter

Kami masuk dari pintu samping, dimana terdapat kotak burung-burung di kiri pintu masuk. Kata Suci, burung-burung tersebut dipercaya bisa menghantarkan do’a dan keinginan kita kepada Sang Pencipta.

Begitu masuk, pandangan pertama yang terlihat yakni seorang bapak dan ibu yang memegang dupa, berdo’a di tengah halaman. Sebuah tempat beribadah berada tepat di hadapan dengan jajaran dupa tertanam dalam gentong di kiri.

Mata selanjutnya mengarah pada lampion-lampion merah yang menjadi warna pilihan di vihara ini. Berasa melihat film silat China nih saya 😄

Red lampions
Doc by @yesmagi

Pada kanan pintu masuk, terdapat lukisan burung phoenix. Dipercaya sebagai lambang kebajikan tinggi dan rahmat, kekuatan dan kemakmuran (yin yang). Burung ini selalu berenkarnasi, serta dapat hidup selama 500-1461 tahun. Phoenix memiliki warna indah pada tubuh, juga bulu panjangnya. Masyarakat Tionghoa lebih mengenalnya dengan nama Fenghuang, pasangan dari naga yang dikonotasikan sebagai jantan.

Ada tebak-tebakan dari Suci tentang dua patung singa yang mengapit tempat beribadah di luar itu. Kedua patung dicat berwarna hitam. Pertanyaannya, mana jantan dan mana betina? Eeeits.. hampir semuanya menjawab sama perihal jantan dan betina di posisi mana.

Mau tahu jawabannya  ngga?? Ikut saya jalan-jalan kesana lagi ayoklah. Nanti dikasih tahu deh. Aahahahahah..

***

Dinding berwarna merah dengan ruang do’a yang tidak untuk diambil maupun dipublish gambarnya.
Doc by @yesmagi

Ruang Merah

Diantara merahnya lampion, ada ruang khusus berdo’a dimana segala pinta dan keinginan dilakukan secara khusyu’.

Ruang berdo’a tidak bisa difoto. Mengingat orang yang beribadah membutuhkan waktu untuk berdo’a.

Feli, Kamal, Magi dan saya, diantar Suci, memasuki ruang do’a. Beberapa patung dewa-dewi terlihat ketika kami melangkah masuk.

Ada tiga tahapan do’a yang harus dilewati sebelum menuju kepada Dewi Kwan Im. Kita juga bisa ikut berdo’a dan meminta dengan melalui dewa-dewi yang ada.

Di tahapan terakhir, ada kotak berisi angka yang harus digoncang agar mengeluarkan satu kayu dengan nomor. Selanjutnya melemparkan dua buah batu.

Jika terbuka atau salah satunya terbuka, artinya do’a kita diterima dan bisa mengambil angka. Tetapi jika keduanya tertutup, artinya do’a kita belum diterima (tersampaikan). Hanya 3 kali lemparan batu saja yang bisa kita lakukan.

Dari 5 orang yang melakukan do’a, hanya Fajar saja yang belum tersampaikan do’a nya. Sedangkan Feli, Kamal, Magi dan Susan, mereka mendapatkan lembaran kertas atas jawaban yang menjadi do’a juga pertanyaan dalam hati 😊🙏

Hasil do’a yang diperoleh Magi.
Doc by @yesmagi

Berusaha lebih baik dalam berdo’a dan giat yah Fajar. Semangat 💪

***

Bagian vihara.
Doc @yesmagi

Kisah Vihara

Kalau dikulik, banyak kisah yang terjadi di vihara ini.

Klenteng ini dibangun pertama kali pada tahun 1650 dan dinamakan Kwan Im Teng. Kata Kwan Im Teng kemudian diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi klenteng.

Sebelum Perang Dunia II, kelenteng ini merupakan salah satu dari empat kelenteng besar yang berada di bawah pengelolaan Kong Koan, selain Kelenteng Kuan Im Tong, Kelenteng Ancol, dan Kelenteng Hian Thian Shang Te.

Merupakan klenteng tertua di Jakarta. Dibangun tahun 1650, seorang  Letnan Tionghoa bernama Kwee Hoen dan dinamakan Kwan Im Teng (觀音亭 , Paviliun Guan Yin). Letaknya di Glodok, sebelah barat daya kota.

Menurut sinolog Claudine Salmon, walau tidak ditemukan buktinya, kelenteng ini kemungkinan terbakar dalam peristiwa pembantaian etnis Tionghoa pada tahun 1740.

Kelenteng dipugar kembali pada tahun 1755 oleh Kapitan Oei Tji-lo dan diberi nama “Kim Tek Ie”.

Selama abad ke-17 tidak ada informasi yang jelas mengenai Kim Tek Ie.

Pada abad ke-18, seiring dengan perkembangan kota yang semakin pesat, Kim Tek Ie dikenal sebagai tempat ibadah masyarakat Tionghoa yang terpenting di Batavia. Setiap pemuja diterima dengan terbuka dan menjadi tempat ibadah yang banyak dikunjungi pejabat-pejabat. Seorang Mayor Tionghoa pernah menyumbangkan dana untuk pemugaran kelenteng.

💻 sumber:

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kim_Tek_Ie

***

  • Jadi, sudah berencana main ke Pecinan Jakarta kah weekend ini? Siapa tahu akan dapat cerita baru lagi kan? 🏇💨 (jie)

***

Iklan

2 tanggapan untuk “Pecinan Jakarta: Do’a Dalam Ruang Merah Vihara Dharma Bhakti”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s