Traveller, wisata kota

Pandang Kartono Merapi dari Jurang Jero Dlingo

Gunungkidul, Wonosari, merupakan tempat terbanyak wisata yang aku tahu. Tidak ada habisnya mengeksplore satu tempat saja. Setiap kedatangan, selalu ada informasi baru yang beredar. Seperti Jurang Jero, yang kami lewati tanpa rencana ini. Mampir!

Doc by @andymhdn

***

Siang itu berselimut mendung. Motor yang kami kendarai berjalan santai sesuai hembusan angin yang terasa pada kulit wajah legamku. Hhahaha.. iya, aku sungguh lama berada di Yogyakarta dan sekitar Jawa Tengah. Sampai Andy ke Jogja, aku belum juga kembali ke ibukota keramaian yang penuh sesak di Jakarta.

Kami mengarah ke Wonosari. Katanya mau main pantai dia, sudah janjian. Melewati gapura tinggi bertuliskan Gunungkidul itu, kami berhenti dan memotret beberapa gaya keisengan disana. Tentang aku yang berhitchhiking.

Gapura Gunungkidul
Doc @andymhdn

Usai mengambil gambar, kendaraan beroda dua itu lanjut naik ke arah tempatku dulu pernah menginap di rumah orang tua mas Lutfi (Dinas Pariwisata Wonosari), saat akan berkegiatan hammocking camp, 2016 lalu.

Pada persimpangan (lupa namanya) –tempat keluarga mas Nong, kakak dari mas Lutfi tinggal-, kami belok kanan ke arah Dlingo, melewati beberapa tempat yang tidak asing bagiku dan sebuah SMP Negeri. Posisi Jurang Jero, berada di sebelah kanan jalan.

Tadinya ragu-ragu masuk kesana, karena kami hanya melihat plang yang baru dibuat dari kayu bertuliskan Jurang Jero. Tidak begitu terlihat wisata apa pun kecuali sebuah warung sederhana, lahan parkir dan tanah merah yang sepertinya baru dicangkul dan dirapikan.

“Masuk dulu saja kita, ngobrol sama bapak itu. Daripada menyesal melewati tempat yang nantinya juga jadi booming, kan?” sedikit memaksa karena mesin motor dimatikan.

Agak sangsi malas-malasan sih aku, “Ayoklah…”

Sebelum masuk, Andy memotretku di papan nama Jurang Jero.

Motor diparkir, mataku menyapu sudut pandang yang terlihat dan berhenti pada seorang bapak berkaus singlet putih. Ia tersenyum dan menghampiri.

“Mbak mau lihat Jurang Jero? Mari saya antar,” si bapak menawarkan diri.

Ia berjalan mendahului sambil bercerita dengan kami mengikuti di belakangnya. Jalannya tidak terlalu lebar. Kurang dari 10 menit, kita tiba di lokasi. Masih berupa jalan baru yang ditata untuk kenyamanan pengunjung. Tanah merah, rumput hijau, bebatuan, masih hangat, tanpa terlihat coretan tangan-tangan iseng di sekitar. Di kiri jalan, tower listrik menjulang tinggi.

“Tempatnya masih baru ya, pak?” tanyaku sembari memperhatikan pagar-pagar bambu pembatas dengan jurang yang tampak terlihat baru.

“Iya, mbak. Baru Desember 2016 dibuka. Kalau tahun baru, tempat ini ramai, soalnya bisa melihat pemandangan lampu kota Yogyakarta dari atas sini,” jelas Pak Yanto, pengelola Jurang Jero tersebut.

Pak Yanto menerangkan bahwa dari tempat itu, kita bisa melihat Gunung Merapi dengan jelas. “Dulu saat Merapi meletus, banyak warga datang kesini mbak, untuk melihat kejadiannya langsung.”

Posisi kami berdiri, memang menawarkan panorama hijau dan atap-atap disana. di kejauhan pun terlihat Gunung Merapi yang gagah berselimutkan awan. langit memang tengah mendung. Awan memang tidak tampak seputih kapas. Namun aura Merapi disana, tetap saja menggoda untuk tidak mengalihkan pandangan darinya.

Uhh, teringat cerita Kartini  euy.. Juga merindukan Kartono disana. Apa kabar mereka ya? Kangen! 🙂

Tak hanya bisa melihat Gunung Merapi, kita juga dapat melihat suasana Candi Prambanan, Parang Tritis, ataupun Bantul dari ketinggian diatas Bukit Bintang Pathuk. Menurut Pak Yanto, ketinggian dari Jurang Jero ke desa di bawah itu, mencapai 50 meter, kurang lebih.

Selain itu, sunsetnya juga ternyata banyak dinanti oleh para penikmat senja. Jika saja langit saat itu cerah, mungkin akan menahan langkah kami menikmati senja menggoda disana. Heeemm…

Doc by @andymhdn

Tampak tiga gazebo beratap rumbia berdiri disana. Bangku-bangkunya terbuat dari ban mobil yang sudah tidak terpakai, dipadu dengan batuan besar yang bisa dijadikan tempat duduk. Beberapa bebatuan memenuhi Jurang Jero ini. Seperti batuan di Nglanggeran.

Bukit Jurang Jero dikelola oleh warga sekitar yang dibantu oleh Pemuda Pancasila. “Pemerintah belum membantu untuk ini mbak, Jadi untuk membangun pembatas, penerangan, jalan dari warung kesini, pagar dan lain sebagainya, kita hanya mengumpulkan dari pengunjung yang memarkirkan kendaraannya. Lalu uang tersebut kita pakai untuk menambahkan penerangan dari pintu masuk sampai ke bawah sana mbak nantinya.”

Jika kita melihat ke kanan depan, Pak Yanto menjelaskan, nantinya akan membangun jembatan gantung selebar 1,5 meter untuk menambah daya tarik wisatawan berkunjung dari Hargo Dumilah ke Jurang Jero. Jembatan tersebut dimaksudkan hanya untuk pejalan kaki saja. Jadi pengunjung bisa masuk ke wilayah Jurang Jero dari dua sisi dengan memarkirkan kendaraan sesuai kedatangannya.

Hanya saja, kita tidak bisa terlalu melihat pemandangan dari Hargo Dumilah, karena posisinya lebih rendah dari Jurang Jero. Hargo Dumilah, hanyalah akses jalan untuk memudahkan pengunjung dari bawah ke tempat wisata tersebut.

Masih terdapat banyak monyet liar di wilayah tersebut yang bisa menjadi objek wisata pendukung lainnya di Jurang Jero.

“Untuk kesini, apakah ada tiket masuknya, pak?”

“Gratis mbak. Tidak perlu membayar tiket masuk. Cukup bayar parkir kendaraan saja. Hitung-hitung untuk membantu pembangunan wisata bukit pandang ini juga. Mungkin ke depannya ada pengelolaan yang lebih baik lagi guna menunjang lokasi ini,” ujarnya.

Gratis adalah awal wisata. Semoga pengelolaannya berjalan baik dengan tetap mengedepankan pemeliharaan alam sekitar. Dan pengunjung akan selalu bijak untuk menjaga kelestariannya tanpa berusaha mencoreng, merusak, mengotorinya dengan sampah-sampah yang tidak bertanggungjawab. Semangat menjaga lingkungan ya, kawan… (jie)

***

Nomor kontak Pak Yanto: 087739545251

Perjalanan ini kulakukan tanggal 14 Januari 2017. Sesuai catatan pada data pertanyaan memo yang ada di hp, tertulis di pukul 15.31 WIB.

***

Doc by @andymhdn
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s