cerita jiwa

Trampolin Rindu 

Ketika ruang rindu terbentang dalam jarak ribuan kilometer. Tak bisa menjangkau, tak bisa dijangkau. Sebuah dinding keterbatasan diantaranya. Sabar adalah jawaban terindah yang bisa dikedepankan.

Jawa Tengah
Credit to Abbay

*out of the pic*
.
.

Dua adalah angka yang kuingat. Berada diantara kurun waktu berbeda dalam tingkatan yang nyaris beda. Tak sama dengan angka tiga yang sama. Berjumpalitan seperti sebuah trampolin yang melemparkan kita ke sudut manapun, tanpa ampun.

Sebuah tanya mengalir, “Sudah berapa lama tak bertemu?” Kalimat serupa yang juga ingin kutanyakan. Bukan tak mau tahu, bukan tak ingin tahu. Sejujurnya, secara ingatan pun, lebih baik menunduk, karena sungguh, tak tahu jawabnya.

Sudah lama, sejak aku merelakannya ketika ia memutuskan. Sudah lama, sejak aku memeluk lutut kecilnya. Sudah lama, sejak aku menyadari pelukan kecilnya. Sudah lama, sejak aku tak lagi mendapatinya menunggu di hari-hari selanjutnya.

Menunggu?

Yeap. Menunggu karena pagi yang sekejap. Menunggu karena sadar, hanya beberapa waktu saja yang kami punya. Menunggu meski tahu, pulang yang tak tentu waktu. Hhhaha pelukan, iya, aku merindukan pelukan kecilnya itu.

Lalu, apakah rela telah menjadi ikhlas? Sulitkah? Iya. Belajarlah walau susah, itu yang kutahu. Sejak itu, diri tak lagi berani menghitung kehilangan. Bukan melupakan. Hanya tak ingin berkepanjangan dalam lirih. Hanya tak ingin sendiri itu ada. Hanya ingin… hhh

Jika saja waktu berjalan seperti yang diinginkan, mungkin semua memori akan tercatat dengan baik. Tak terlewati seperti kini. Bukan juga menyesali, karena tiap persoalan, pasti akan ada solusinya. Berlapanglah menerima. Karena semakin keras benturan di hadapan, semakin kuatlah kita.

Kita? Iya, KITA. Berjarak dalam ribuan kilometer yang tak bisa tergenggam. Tak lagi bertatap sebab alasan yang tak bisa dijangkau. Berpisah kini, bukan berarti tak lagi ada waktu bagi kita bertemu nanti, bukan?

BERSABARLAH pada waktu. Karena aku percaya, akan ada hari dimana senja kembali ada bagi kita untuk melihatnya bersama. Tanpa perlu terpental ke sudut tak diinginkan. Teruslah berdo’a karena harapan kan selalu ada

Padamu yang menyayangi dalam diam, teruslah bersabar di tawa indahmu. Maafkan 🙏🏿🙏🏿🙏🏿

Credit to: @m_akhbarardhani

@nulisbuku
.
.
.
.

#nulisrandom2017
#nulisbuku
#notabouttraveling
#senja
#penikmatsenja
#jawatengah
#indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s