cerita jiwa

Irisan Senja

Tentang senja berseri. Tentang ruang bersekat putih. Tentang sedih yang tak usah dipertanyakan. Tentang ia dan endapan hati.

Senja Jawa Tengah
Credit to Abbay

Lalu biru mengalir senja. Dua senyum melangkah, merekah berbinar. Mata-mata kecil itu mengarah pada langit. Aman di sisi. Berjalan menuju satu arah untuk berkemas.

Cerita riang terus saja mengalir dari satu bibir kecil yang melompat tiada henti. Sementara lainnya, santai, menekur. Tak berpikir kenapa, paham akan diam yang terungkap. Diam, satu pedih tersimpan.

Sebuah ruang bersekat putih menyaksikan pilu sebuah hati. Semakin erat, ketika lingkar tangan kecil itu berada di genggaman. Lalu hentakannya menghentikan empat langkah di depan saat menuruni anak tangga. Tangis diam meledak tanpa suara. Sungguh, terduduk!

Terkadang, tak perlu dijelaskan jika lirih tertangkap jelas. Bukan sekadar enggan meninggalkan. Raut itu menerangkan segalanya. Bila tanya masih saja terlontar lembut, lakukanlah.

Semakin lunak suara yang keluar, hanya irisan yang terkuak. Beribu tanya hanya dibalas aliran air tak terbendung. Segera saja, ruang bersekat adalah alasan kembali, masuk menyelesaikan tanya.

“Ada apa?”

Sesegukan, anggukan, gelengan dan kembali harus menentramkan rasa. Menekan dalam-dalam sendu yang mulai berdatangan. Menahan kuat-kuat bermilyar dentum yang tiba-tiba menyesakkan. Dunia berputar, oleng.

Senyum dalam sedih, pernahkah? Isakan dalam peluk, pernahkah? Entah, entah, entahlah. Pertanyaan kesekian kali yang terlontar tanpa jawab.

“Ngga mau pulang..”

Kalimat yang mengheningkan, namun harus memberikan alasan kuat. Perih? Rasakan, jangan bertanya.

Keras janganlah diadu. Melunaklah dan segala endapan hati seketika keluar begitu saja dari bibir kecilnya.

Sedih? Jangan bertanya. Pahami saja bahwa pada batas sebuah jiwa, berjuanglah kuat untuk ia yang akan selalu ada di hati. Bahwa menahan setiap argumen, bukan sekadar adu kalimat, tetapi mendengarkan, berusahalah mengerti dan beradalah pada posisinya.

Tentang sebuah jiwa kosong yang entah kapan tak lagi bersua belahannya. Hingga tak lagi tersisa rasa sampai tiba ketukan tanpa sengaja pada hantaran alam. Hingga nanti, hingga tak lagi ada yang sanggup meleraikan benang merah bernama rasa.

Credit to: @m_akhbarardhani
.
.

@nulisbuku .
.

#nulisrandom2017
#nulisbuku
#notabouttraveling
#senja

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s