LANDSCAPE, NANJAK penuh rasa

Kedipan Lampu Kota di Bukit Alesano

Bukan sekadar omongan kosong belaka. Bukit Alesano yang berada di Desa Cijeruk memang memiliki pemandangan lampu kota yang menarik. Tidak malam hari saja, tatkala hari terang dan semesta mendukung, akan memperlihatkan pesona indah bukit dari ketinggian Kota Bogor ini.

Pemandangan dari area kemping Bukit Alesano. (doc pribadi)
Pemandangan dari area kemping Bukit Alesano.
(doc pribadi)

Pejalan Spontan

Saya memang tipe pejalan spontan bila melakukan perjalanan. Susah bagi saya bila berjanji ikut jalan-jalan kesana kemari. Dan kejadiannya, kalau direncanakan, selalu saja ada halangan yang tak bisa ditolak. Maka dari itu, jarang sekali saya membuat janji sama teman-teman. Kalau dirasa pas, ya ikut, kalau tidak ya diam di rumah saja. Lebih aman. Hhehhee

Beberapa minggu belakangan ini, saya seringkali mendengar dan membaca kata β€˜Alesano’ di grup-grup. Saya pikir, Alesano adalah komplek perumahan. Makanya saya hanya melewatkannya saja jika obrolan sudah masuk tentang kata itu.

Tetapi hal berbeda terjadi ketika Sahabat Kopi Nusantara (Sahabat KN) membicarakannya dan karena penasaran, saya bertanya. Tanggap, mereka menjelaskan, memberikan gambar dan saya di japri (jalur pribadi, istilah dalam chating) dengan ajakan ikut gabung kesana, lalu diinvite ke grupnya.

Waah, ya ngga mikir dua kali sih langsung oke ikut. Hhahhaha… mungkin karena hampir beberapa minggu saya hanya diam saja di rumah, jadi ya kepengin jalan-jalan menghirup udara segar.

Dan oiya, ajakan itu H-1 mau jalan ke Bogor, lohSee?? How spontoneous person i am.

***

Gunung Gede Pangrango (doc pribadi)
Gunung Gede Pangrango
(doc pribadi)

Jalan Kaki ke Lokasi Bukit Lampu Kota

Singkat cerita, perjalanan dengan sharing cost ini pun jalan. Saya tiba di Stasiun Bogor setelah Faiz, tiba terlebih dulu disana. Lalu kami menunggu teman-teman lain.

Kami menyewa kendaraan angkot yang sudah dikoordinir oleh Angga. 13 orang tumpuk menjadi satu dalam angkot. Lumayan deh perjalanannya sekitar satu jam.

Berdasarkan informasi, kami harus menuju ke Cipelang, Desa Cijeruk. Wilayah ini hampir mendekati Kota Sukabumi. Tiba di desa tersebut, angkot kami naik terus ke atas. Tetapi jalannya tidak seperti gambar informasi yang kami peroleh. Akhirnya turun balik dan mencari patokan jalan berupa jembatan.

Mobil berhenti di sebuah persimpangan papan penunjuk di kanan jalan bertuliskan Balai Embrio Ternak (BET), Kampung Pasir dan mengambil jalur kiri yang ada jembatan garis berwarna kuning hitam.

Sayangnya, kendaraan yang kami sewa atap mobilnya tinggi, sehingga tidak bisa melewati batas portal yang ada. Apalagi diatas ada masih ada tiga buah portal lagi. Tidak memungkinkan juga mengantar kami hingga ke lokasi. Mau tidak mau ya harus berjalan kaki ke atas sekitar 2 kilometer. Kami kemarin, jalan kaki sekitar 1,5 jam dari portal bawah hingga ke dataran kemping.

Sebagian jalan masih rusak, sebagian lagi (kanan jalan), kondisinya bagus dan sudah di cor. Lumayan euy jalan kaki ke atas dinihari. Seperti biasa, saya selalu berada di barisan paling belakang. Maklum, kakinya lambat kalau sudah berbicara tanjakan.

Setelah jalan rusak, jalan aspal mulai bagus. Sebuah tanjakan aduhai dengan belokan tajam membuat saya tambah mengantuk. Belum lagi daypack saya yang cukup berat. Getoy dan Andrie yang tadi ada di belakang, mereka jalan ngebut dan wuuuussshhh…. hilang dari pandangan!
*ahhh… saya lapar melihat mereka menghilang begitu cepatΒ  -_-

Tak lama, kami tiba di simpangan jalan yang berbatasan dengan Balai Embrio Ternak (BET). Ambillah jalur kiri yang berbatu. Nanti ada persimpangan lagi, ambillah simpangan pertama yang sedikit menurun. Ikuti saja jalan itu. Nanti ketemu jalan aspal bagus sedikit, belok kanan, lalu jalan lagi. Tak jauh, ada simpangan tiga, ambil yang belok kanan dan Anda akan menjumpai warung, sebuah rumah di kiri jalan. Di depan sedikit ada parkiran motor.

Bila ke kiri, ada rumah simaksi disana. Bayar 10 ribu untuk masuknya, 10 ribu untuk parkir. Tertulis di foto sih 5 ribu, kenyataannya ya ngga. Entahlah bagaimana pengaturannya disana. Belum lagi kalau Anda membawa tenda dan memasangnya, dikenakan bayaran berbeda lagi. Banyak banget ya kan?

Ehh, sebenarnya kami lewat jalan yang agak melipir dan bukan jalan singkat tadi. Soalnya kan ngga tahu. Jadi dari persimpangan BET, kami malah ambil jalan yang terus ke atas, bersisian jaan dengan BET.

Tidak semua jalan bersebelahan BET, karena akhirnya kami kembali mengambil jalur turun dan naik. Jalurnya jelas, hanya saja belum tertata. Lalu ada portal rendah selutut, lewati saja dan ikuti arah jalan. Ada persimpangan lagi, ambil jalur kiri yang menanjak. Tak jauh, lampu-lampu kota sudah terlihat!

Lampu kota yang kece dan lampu tenda saya :) (doc Marie Chan)
Lampu kota yang kece dan lampu tenda saya πŸ™‚
(doc Marie Chan)

Letihnya berjalan kaki terbayar? Iya, bagus banget euy pemandangan lampu Kota Bogor. Tas tak langsung kuletakkan. Mengeluarkan lampu tenda dan huaaaaahh… saya menikmati dahulu sembari mendengar adzan shubuh berkumandang. Di depan saya, Gunung Gede Pangrango yang masih gelap menjulang tinggi, bersiap membantu sang surya yang akan muncul dari balik peraduannya.

Ala instragamable kata Damar nih. (doc Damar)
Ala instragamable kata Damar nih.
(doc Damar)

Kami memasak perbekalan sembari menanti mentari pagi. Sayang kalau tidur. Bisa melewatkan sinar mentari pagi yang berwarna kan? Selesai shalat, saya bergabung dengan teman-teman dan ikut membantu (cemilin hasil masakan, ehh… hahhaha).

Gunung Gede Pangrango dilihat dari Bukit Alesano. (doc pribadi)
Gunung Gede Pangrango dilihat dari Bukit Alesano.
(doc pribadi)

Huwaaaaaww.. langit mulai berwarna! Dari gelap, kemudian bergaris merah, pink, orange dan kuning muncul. Heii, gumpalan awannya pun tak kalah menarik. Mereka berbaris rapi merenda Gunung Gede Pangrago. Sebagian juga ikut berarak diatas Kota Bogor yang tampak dari tempat kami berdiri. Cantik sekali.

Langit semakin terang dan memperlihatkan padang hijau kaki Gunung Salak Halimun di kanan atas. Bukit ini, angin berhembus cukup kencang. Jangan lupa merapatkan jaket, ya? Biar selalu sehat dan bisa jalan-jalan lagi donk.

Pemandangan Gunung Halimun Salak (doc pribadi)
Pemandangan Gunung Halimun Salak
(doc pribadi)

***

Tentang Bukit Alesano

Bukit Alesano sebenarnya milik warga yang telah lama tinggal disana. Pak Iya adalah panggilan akrab dari Yana Surana. Bukit ini menjadi terkenal enam bulan belakangan.

Dikelola secara swadaya oleh warga setempat, menurut saya, masih banyak yang harus diperbaiki pengelolaannya. Saya sempat berbicara dengan beliau mengenai pungutan liar yang ada dibawah, sebelum tiba di wilayah kemping. Terjadi dua kali penarikan. Dibawah yang katanya pos keamanan jalan, dan di wilayah kemping.

Pak Iya dan istri (doc pribadi)
Pak Iya dan istri
(doc pribadi)

β€œSebenarnya sudah sering saya mendengar hal ini. Kami sudah mengajak orang-orang tersebut berbicara. Malah kami menawarkan untuk bagi hasil, agar tidak terjadi dua kali penarikan. Memang kami beda desa, mbak. Di bawah itu Desa Cipelang, Bukit Alesano ini, masuk Desa Cijeruk,” jelas Pak Iya.

Ia juga menerangkan bahwa kegiatan kemping di atas itu sudah dengan sepengetahuan pihak keamanan seperti Polres, Polsek, Babinmas, Babinsar dan beberapa pihak lagi untuk melegalkan lingkungan tersebut masuk daerah wisata.

Ya, semoga saja, apa yang dilakukan mereka ini, akan semakin jelas alurnya. Khususnya ya ngga ada pungutan lagi di luar yang tertera.

Oiya, juga fasilitas toilet juga semoga dibuat. Kasihan rumah Pak Iya yang dijadikan tempat buang air bagi para pelancong yang ke bukit tersebut. (jie)

***

Dari arah pos simaksi dan rumah Pak Iya. (doc pribadi)
Dari arah pos simaksi dan rumah Pak Iya.
(doc pribadi)
Iklan

4 tanggapan untuk “Kedipan Lampu Kota di Bukit Alesano”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s