arah MATA JIWAKU, LANDSCAPE

Benak Senja di Tanah Lot, Bali

Entah sudah berapa kata senja yang saya ucapkan hari ini. Senja yang terlihat hanya sebatas layar handphone saja. Senja yang tampak dari file hasil jepretan dalam perjalanan beberapa bulan belakang di layar komputer. Senja yang saya baca di laman blog sahabat, atau senja yang berakhir dalam pelukan kerinduan?
Ahh senja…
Senja diantara bebatuan Pura Tanah Lot. Doc pribadi
Senja diantara bebatuan Pura Tanah Lot.
Doc pribadi

Siapa yang tak terpikat oleh pendaran warna yang dihasilkan langit ketika senja? Paduan warnanya bisa membuat lengkung bibirmu tak berucap. Gradasi warnanya bisa membuatmu terdiam sejenak dalam lambat. Lalu memaksamu ikut menikmatinya hingga gelap menghampiri.

Tanah Lot, Bali merupakan salah satu tempat menanti senja indah. Banyak spot untuk bisa melihat senja dari beberapa sudut pandang. Dari sisi atas, dimana banyak kursi di pinggir tebing, kita bisa menantikan sunset tanpa dipenuhi oleh banyaknya manusia.

Untuk ke atas, kita sedikit menanjak, mengambil jalur yang di kanan-kiri berisi rumah dan warung penduduk di Tanah Lot. Jalan setapak yang tidak terlalu lebar. Ada pula kedai handycraft dan kedai luwak di sisi kanan jalan, lengkap dengan hewan si penghasil luwak.

Biasanya kalangan tertentu yang lebih menyukai ketentraman sembari minum kopi atau teh dan camilan sore, berada disana. Jajaran warung dan kafe mengisi kiri jalan, berhadapan dengan tempat bersantai mencari momen senja. Suasananya memang lebih damai disertai angin yang menghembus perlahan mengenai anak rambut. Ada sedikit pohon pula bagi penggemar hammock yang ingin menikmati senja sore itu. Bebas, tetapi tetap saja, meminta izin adalah hal yang sopan.

Senja diantara hammock dan pasangan berbahagia yang tak sengaja tertangkap kamera :) (doc pribadi)
Senja diantara hammock dan pasangan berbahagia yang tak sengaja tertangkap kamera πŸ™‚
(doc pribadi)

Tidak hanya wisatawan lokal saja yang mengambil momen di atas sana, wisatawan mancanegara pun banyak disana.

Jika kita melihat ke arah di belakang tempat santai tersebut, dipisahkan oleh ketinggian tebing dan terlihat pantai dengan deburan ombaknya, sekitar 7 meter ke bawah. Di seberangnya, padang rumput yang lumayan luas pun bisa duduk santai menikmati senja.

Pada ketinggian dimana kami berada, senja indah akan terlihat diantara jejalan orang yang berada di keramaian bawah. Tetapi tak jarang, senja akan mengarah pada Pura Tanah Lot. Berwarna pink, kekuningan, orange dan akhirnya memerah, berpadu dengan langit malam yang menjemput.

Mbok Pipin, guide yang bersama kami menceritakan mengenai Pura Tanah Lot ini ketika di perjalanan.
Menurut sejarah, dijelaskan Mbok Pipin, dahulu ada seorang penyebar agama Hindu dari Pulau Jawa ke Pulau Bali bernama Dang Hyang Niratha atau dikenal dengan Dyang Hyang Dwijendra. Beliau ditentang dengan ajaran agamanya oleh pemimpin penduduk setempat, Bendesa Beraban Sakti, karena menganut aliran agama monotheisme.

Niat Bendesa Beraban yang ingin mengusir Dang Hyang Niratha gagal. Niratha berhasil memindahkan batu tempat bermeditasinya yang berada di daratan ke tengah laut dengan kekuatan spiritualnya. Batu tersebut berbentuk kepala burung beo. Maka Tanah Lot diartikan batu karang di tengah lautan. Oleh peristiwa tersebut, Bendesa Beraban akhirnya menjadi pengikut pemeluk agama Hindu.

Tanah Lot yang berada di Kediri, Tabanan, Bali ini mempunyai pura yang dibangun oleh Dang Hyang Niratha. Jika air tengah pasang, pengunjung tidak bisa memasuki pura tersebut. Antrian panjang akan terjadi di pura tersebut jika musim libur panjang, atau weekend.

Di dalam Pura Tanah Lot, terdapat gua kecil yang di dalamnya ada ular laut yang merupakan jelmaan dari Dang Hyang Niratha. Ular suci tersebut bisa disentuh tanpa khawatir akan diserang. Selain itu terdapat air tawar yang dipercaya bisa menyembuhkan penyakit.

Selain di atas tadi, tempat menikmati sunset secara langsung adalah berdekatan dengan ombak pinggir bebatuan. Ya, tempat ini paling ramai. Disamping bisa memotret warna senja, kita pun bisa sekalian memotret deburan ombak diantara senja. Siap-siap saja sih beradu bunyi dengan kamera-kamera canggih di kanan-kiri Anda. Hahhahha… belum lagi riuh-rendah suara pengunjung yang terkena hempasan ombak. Kadang menikmati senja juga harus berlomba dengan sekian juta orang ya? Bersabarlah..

Dan tempat menikmati senja pun bisa kita lihat dari Pura Karang Bolong yang berada di utara Tanah Lot ini. Sayangnya, beberapa kali saya kesana, selalu saja sulit mendapati senja yang apik. Air lautnya selalu pasang dan momen berjalan di pasir pantainya dan memotret dari sudut jembatan yang bolong, tidak pernah saya dapatkan.

Bukan tentang mengejar senja jika mendatangi sebuah tempat. Bukan pula tentang senja yang memaksa. Tetapi bagaimana kita mengisi waktu, menikmati setiap alur senja yang mulai merapat ke peraduannya.

Senja damai yang membuat saya merindukan. Senja bulat yang pernah saya saksikan kemolekannya di ujung waktu berbeda. Senja indah dimana kami pernah menghentikan laju kendaraan, hanya untuk memandangnya. Senja yang membuat saya tak lepas memandang, meski mengingatnya dalam perjalanan panjang yang pernah saya lalui. Senja dalam langkah ringannya. Terima kasih, senja… (jie)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s