Ekspedisi GUNUNG, NANJAK penuh rasa

Journey Notes: Lampu Hijau di Turunan Gunung Bukittunggul (JGB-4.2)

Namanya bukit, tapi ini gunung. Bingung? Sama sih, aku juga. Apapun itu, aku tidak memilih. Mengikuti dan menyukai saja. Suka sama jalur turunannya.
Bikin aku wuuusshh! Karena dibolehin Kang Pepep jalan duluan.
Horeeee ๐Ÿ˜€

The summiters di Puncak Gunung Bukittunggul. (doc pribadi)
The summiters di Puncak Gunung Bukittunggul.
(doc pribadi)

***

Before:

journey-notes-gunung-sahabat-bukittunggul-jgb-4-1/

————————————————————————————————————————-

Desa Sunten Jaya, Lembang

(Masih lupa tanggal euy)

Tandem Hammock

Puncaknya yang berupa dataran sederhana beralaskan tanah kering coklat karena musim kemarau, berupa tingkatan. Begitu naik ke dataran puncak ini, kita akan melihat satu tanah agak menurun yang menceruk ke dalam dengan jalan setapak yang mengelilingi sekitar cerukan itu. Dipinggirnya, terdapat tanaman dan pepohonan. Cukup lumayan bisa mendirikan beberapa tenda jika ingin kemping disana.

Dataran puncak ketika aku baru tiba disana. (doc pribadi)
Dataran puncak ketika aku baru tiba disana.
(doc pribadi)

Tumpukan abu bekas bakaran pun masih terlihat disana, di kanan jalan ketika aku akan beranjak ke arah mereka berdiri.

Bekas bakaran api unggun (doc pribadi)
Bekas bakaran api unggun
(doc pribadi)

Karena kering, kami memilih untuk turun di sisi bawah dari puncak tersebut. Turunan di sebelah kanan yang lebih hijau dan sedikit lembab. Banyak tumbuhan hijau disana. Dan lumayan banyak pohon!

Masih di puncak (doc pribadi)
Masih di puncak
(doc pribadi)

A-ha!

Aku masih memperhatikan keadaan sekitar ketika mataku bertumpu pada pinkย hammock yang dipasang Kang Pepep di bawah sana. Hoo?? Kang Pepep juga bawa hammocknya? Hmm.. hammock Kang Ading mana ya? Kemarin kan kami sudah bercerita mau tandem hammock di puncak Gunung Bukittunggul ini. Aku memotret dari atas tanpa mereka tahu.

Terdapat 2 batang pohon di tengah antara mereka duduk. Kang Pepep memasang hammocknya disana. Pohon lainnya lumayan jauh sih. Paling tandem disana bareng Kang Pepep. Kalau Kang Ading bawa juga, bisa keren nih, bikin mini hammock tower 3 tingkat kan? Hhhehehe….

Panggilan “Ejie” masih terdengar dan hanya kujawab “Iya”.

Mereka ngga lihat aku diatas sini apa ya sedang foto mereka? Ahhahah… sepertinya sih mereka sedang kelaparan. Segala makanan dikeluarkan. Biasanya kami menyeduh teh atau kopi untuk memberikan rasa hangat pada perut khususnya. Karena hanya tektok (naik turun gunung tanpa kemping), tim selalu membawa bekal makan siang berupa nasi bungkus. Kadang tim memasak sendiri, kadang juga beli di warung. Makanan apapun kalau sudah di gunung akan tetap terasa nikmat kan ya? Soalnya lapar! ๐Ÿ˜€

Untuk bisa memotret mereka di bawah sana, aku perlu menzoom kamera poketku juga biar kelihatan. Soalnya sedikit terhalang dengan pohon dan tumbuhan hijau disana. Ngemil sambil bercerita mereka. Aku masih suka berada di atas ketika kudengar sekali lagi panggilan “Ejie” yang membuatku akhirnya menyerah dan sudah saatnya turun, gabung bersama mereka.

Terkadang, ada satu kekuatan yang mewajibkanku untuk menurut apa yang dikatakan tim. Hanya saja, keinginan untuk mencandid gerak-gerik tim ini, aku kewalahan. Kalau Nita mah beda. Dia selalu sadar kamera deh ketika aku mengarahkan kamera padanya. Ahhahahah…

Hap, hap, hap..

Melewati jalan kecil turunan. Banyak sekali daun-daun coklat disana. Agak basah. Kupegang batang pohonnya, lembab. Kenapa bisa beda ya dengan kondisi di puncaknya yang tampak kering dengan sekali melihatnya? Bisa begitu? Dan di bawah sini pun, cukup banyak tanamannya. Bisa bangun tenda juga kalau mau. 3 tenda bisa deh.

Aku menghampiri mereka dan duduk. Ngemil crackers sedikit, makan jeruk dan mulai mencari-cari perlengkapan hammock yang kutitipkan pada Kang Mbok.

“Ejie, makan dulu ini. Mau bikin sereal campur oat lagi?” Kang Mbok sampai hapal makanku kalau bukan itu ya buah deh, plus teh panas tawar.

“Iya, Kang. Sebentar…” ngeyel.

Dan Kang Pepep sih yang akhirnya memasangkan webbing di batang pohon satu lagi karena aku tak sampai. Tinggi bangeeeeettt… kan pasang di atas hammock si akang nohhh……

Taraaaaa…

Sudah terpasang cakep deh 2 hammock, punya Kang Pepep dan aku. Aaahh, sayang deh. Kang Ading ngga bawa hammocknya. Wuaaaaa… Kang Ading piye sih?! Ngga jadi deh bikin mini towernya ๐Ÿ˜ฆ Kalau di posting padahal keren tuh, Kang. HHhhhh..

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

***

Sesi Fotoย Summiters

Setelah ngemil, kami kembali naik ke arah puncak. Kali ini adalah rutinitas Ekspedisi 7 Gunung Bandung yang wajib dikerjakan. Sesi foto!

Semacam bentuk laporan yang harus ada. Ucapan “Uyeah” dalam mini video, ucapan “Sukses” karena telah tiba di puncak yang dicapai, serta kalimat “7 Puncak Gunung Bandung” menjadi hapalan yang akhirnya menjadi akrab di telingaku.

Bentangan spanduk putih panjang bertuliskan 7 Gunung Bandung dan Jelajah Gunung Bandung yang tertera disana dengan warna-warni puncaknya menjadi lahan pemandangan yang akan sering kulihat. Takkan bosan hingga tiba menemani di puncak ke 7 nantinya dari petualangan mereka. Kisah cerita yang mungkin takkan bisa habis bila kuambil pecahan-pecahannya dari tiap perjalanan. Mungkin akan menjadi catatanku sendiri nanti sebagaiย kenangan.

Yuklah, sekarang mah lihat gaya foto mereka saja dulu ya?

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

***

Lupa Rem

Naiknya memang lambat. Jalannya sudah seperti siput, kan ya? Ya ngga apa juga sih. Tapi dari setiap langkah yang kubuat itu, aku memperhitungkan kemungkinan turunan yang bisa kupakai untuk lari nantinya. Iya, harus bayar nih kalau naiknya lama, dan sudah memperhatikan jalur saat berjalan nanjak tadi, ya saatnya membayar keterlambatan tadi. Jadi teringat turunan Gunung Salak 1 dimana aku juga melakukan hal serupa.

Hari mulai sedikit berkabut. Udara juga semakin dingin. Aku yang sempat tertidur usai makan siang tadi diayun-ayun oleh pink hammock Kang Pepep dan tidur hangat menggunakan thermal bivy sahabat sweepers Slamet Bambanganku, Ioh, terjaga oleh panggilan Nita. Kami mulai membereskan perlengkapan.

Membuka hammock, merapikan peralatan makan, memungut sampah yang ada, dan persiapan turun. Ehh, aku masih harus buang air kecil sebelum turun. Biar ngga susah kan nanti di jalur kalau kebelet ๐Ÿ˜€

Yuk, yuk, tim sudah bergegas.

“Ejieeee….” panggilan mulai terdengar.

“Iya..” singkat. Kuikat tali sepatu coklatku dan bergegas menghampiri tim.

Kang Pepep segera berseru, “Ejie jalan duluan, depan yaaa….” kira-kira begitulah perintahnya. Lampu hijau sudah di tangan. Aku berjalan mendahului. Diikuti oleh Nita.

Kang Ading dan Nita, asuhannya. Mereka terbilang kompak. Kang Ading keren! (doc pribadi)
Kang Ading dan Nita, asuhannya. Mereka terbilang kompak. Kang Ading keren!
(doc pribadi)

Turunan ini masih lumayan padat jalurnya. Artinya tanaman masih cukup berdekatan dan aku sudah bisa membaca dengan pasti bagaimana turunan di Bukittunggul ini. Sama seperti ketika nanjak juga sih. Hanya saja aku merasa badanku ringan menjalaninya.

Nah, ini bedanya kalau gunung menerima kehadiran kita. Segala sesuatunya dilancarkan dalam perjalanan. Hati riang, tangan bergerak kesana-kemari menyentuh tanaman yang ada di sekitar. Badan pun terasa enteng.

Ngga terbang juga sih… Tapi, wuuusssshh.. wuuuussshhhh… Aku seakan lupa kalau turunan itu seperti apa. Di ingatanku, turunan itu hampir layaknya bermain seluncuran bebas tanpa batas. Nita masih terlihat di belakangku waktu itu. Dan ketika sentuhan akar mengenai jemariku sekali lagi, aku terus berjalan, atau lari ya? Aku lupa sudah berada dimana.

Seingatku hanya ada Nita dan Kang Ading saja di belakang, pada dataran yang semakin dekat dengan pohon pinus, tempat teman-teman tadi berfoto gaya.

“Kang Ading, tunggu disini atau boleh turun terus?” tanyaku.

“Ejie mau istirahat atau pulang ke basecamp?” etdah, Kang… ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€

“Pulang. Nanggung ini lagi sedap banget turunannya,” kode.

“Ya lanjut sana. Turun,” lampu hijau kedua.

“Horeeeeee…..” wuuushhh!

Aaaakk.. bujug dah. Ini kaki kemana remnya, yak? Heran Ejie dah. Tumben-tumbenan si dengkul baik hati banget ngeladenin hati yang riang ^_^ Diikutin keinginan kepengin sampai basecampnya.

Di ujung jalan dengan penuh tumpukan jerami, aku berhenti. Menaikkan kaki ke atas batang pohon seperti biasa dan menunggu. Satu, lima, lima belas, heiii… itu mereka datang dan ikut duduk. Kami bercerita dalam tawa. Tiba-tiba Teh Miliatri datang, berjalan tanpa henti.

“Mau duluan. Sakit perut!” aahahahahaaa…. ngakak Ejie!

E ikuutt, ikuuutt… antri kamar mandi nanti penuh, Nitaaaaa…

Laah, ini saat-saat seru ketika kami turunan rebutan karena semua berharap ingin ke kamar mandi terlebih dahulu. Hahahhhahahaaaa…. Lucu kalau sudah begini. Tag tempat sesuai urutan turunan. Untungnya jalan hanya muat satu badan dan paling depan adalah Teh Miliatri, otomatis barisan selanjutnya ya sabar menunggu donk ya? Wkwkwkkk..

Jalur aman hingga ke jajaran pohon pinus.

Lalu ~

“Teh Milah, ada tisu kering, ngga?” Kang Mbok itu.

“Ada,” bergegas teteh mengambil tisu di dalamnya.

“Ngga tahan iniiiii….” bhahahahaaaa… Kang Mbok ternyata kebelet buang air kecil euy. Entah doski menghilang ke balik pohon mana karena sepenglihatanku, pohonnya jarang disana.

Horeeee…. urutan pertama kamar mandi deh saya. Asiiiiikkk… Jalan!

Dan, hap!

Suara air yang terdengar dari kucuran gentong air besar di kanan-kiri jalan dekat kebun ibu-ibu dimana Kang Pepep memotretnya pagi tadi, semakin memanggil agar aku segera memacu langkahku ke basecamp Pak RW. Sudah ngga sabar kepengin main air sejuk!

“Teteeeehh… tadi pagi, kita memangnya lewat jalan sini ya? Ada tumpukan sampah di kiri?” Lupa jalan aku mahh… atau ngga perhatiin apa ya, pas berangkat tadi? Ngga ingat!

“Iyaaa… jalan lurus sajaaa..” serunya dari arah belakangku.

Hoplaaaaaaaa…

Itu terasnya dan kuselonjorkan kaki, lega. Tampak anak-anak PAUD dari basecamp bermain disana. Teh Miliatri datang dan mengisyaratkanku agar pindah ke arah pintu belakang rumah. Duduk dan beristirahat sejenak kemudian kulihat tim tiba dan mengarah ke bale-bale samping rumah.

Kang Pepep muncul, dan , “Kemana Kak Ejie? Ihh… lari ya?”

“Yaaaaa.. kan tadi sudah dapat lampu hijau pertama dari atas, kang?” jawabku cukup dalam hati saja ๐Ÿ™‚

***

Jeda Rasa

Kang Pepep, selalu rajin recheck GPS. (doc pribadi)
Kang Pepep, selalu rajin recheck GPS.
(doc pribadi)

Bahwa dalam setiap perjalanan gunung, selalu ada kisah yang mengantarkan keceriaan.
Bahwa dalam setiap langkah yang terjadi, selalu ada rasa yang mengalun.
Bahwa dalam setiap jemari yang menari, selalu ada hembusan daun yang berbisik.
Bahwa dalam setiap lantunan hempasan kaki yang terjadi, selalu ada angan yang bergejolak.

Lalu…

Biarkan alam menuntunmu hingga kemana pun ia bercerita tanpa henti.
Denganmu, dengannya, dengan kalian…….

Sampai bertemu kembali Gunung Bukittunggul yang kusuka..
Aku menyayangimu! (jie)

***

Iklan

10 tanggapan untuk “Journey Notes: Lampu Hijau di Turunan Gunung Bukittunggul (JGB-4.2)”

    1. Bingung yang mana dah, yan?
      Ejie lupa iniiiihh…
      HHahahahah

      Ejie cerdas kan yak?
      Syemua asik dibawah, ejie lagi seneng diatas. Tapi dipanggilin suruh makan. Wkwkkk

      Kamu apakabar yaaann?

      1. Hahahahaa…
        Puziiinngg aing maahh.. lieeeerr

        Ejie maren disana yak, puyeng sama bahasa Sunda euy, yan? Nda ngarti abdi teh. Jadinya banyak mengartikan sendiri aja dari body language atau kira2in percakapan mrk.
        *sok tau

        Ryan msh di ktr yak?

  1. Salam kenal buat kang pepep dari sesama thinkpadder, btw seru juga baca tulisan ejie ttg 7 gunung nih, berasa ikutan capenya hahaha.

    1. haiii dismaaa..

      makasi yak ud blogwalking ๐Ÿ˜‰

      langsung ke kang pepep aja yaaa urusan thinkpadder nya, kurang paham saya.

      makasi juga kalau udah ikutan ngegunung wlw dari baca tulisan ejie ๐Ÿ™‚

      tengkyu somat looohh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s