Ekspedisi GUNUNG, NANJAK penuh rasa

Journey Notes: Gunung Sahabat, Bukittunggul (JGB-4.1)

Jalur yang aku suka. Landai dengan tanjakan dan cukup membuatku menjadi yang terakhir mencapai puncaknya. Sementara para summiters melesat kencang menghilang ke puncaknya. Tak masalah, karena pelajaran hidup, justru kuperoleh dalam tiap langkahku di Gunung Bukittunggul ini.
Sabar yaaaaa 🙂

Basecamp Gunung Bulittunggul, rumah Pak RW, Edi Junaedi. (doc pribadi)
Basecamp Gunung Bulittunggul, rumah Pak RW, Edi Junaedi.
(doc pribadi)

***

Desa Sunten Jaya, Lembang
(Lupa tanggal
😀 😀 😀 )

Night Moving

Perjalanan semalam cukup menguras mata. Khususnya bagi aku yang baru bergabung di tim #7puncakgunungbandung sisa #4puncakgunungbandung untuk kebutuhan menulisku. Aku harus memaksa sadar mataku. Untungnya Kang Pepep yang sharing kendaraan membantuku dengan lumayan bercerita. Ahhaahha… sedikit lupa sih cerita tentang apa. Aku masih belum loading ini dengan kehidupan kota Jakarta yang riweuh dan panas (per hari Senin, 26/10/2015). Maklumlah, seminggu berada di Bandung, cukup membuatku kangen dengan udara segarnya.

Sudah tidak adalagi yang namanya pegal kaki, tapi jok aku, panas euy duduk di kendaraan Kang Pepep. Dan aku belum terlalu tahu, itu bersumber darimana. Kupikir karena aku kelamaan duduk saja selama perjalanan. Nanti ya, di edisi selanjutnya, aku cerita 😀

Dari daerah Nagrek setelah turun Gunung Mandalawangi (Selasa, 27/10/2015) kami bertolak ke daerah Kampung Pasir Angling, Desa Sunten Jaya dimana kami akan mendaki Gunung Bukittunggul. Lumayan jauh juga. Ngeri karena jalanan ngga terlalu ramai. Naik-turun tanpa henti.

Di tanjakan jalan, aku turun. Kang Pepep berhenti tepat di city view yang dipenuhi lampu-lampu kota. Hhaha.. kalau boleh berhenti lama, aku bisa duduk menikmati pemandangan kece itu sih. Pas banget bulan terang dan banyak bintang malam itu. Perfect!

Bluuurrr... Makasi yaaaakk *keep my mouth :D (doc pribadi)
Bluuurrr…
Makasi yaaaakk
*keep my mouth 😀
(doc pribadi)

“Tunggu disini. Jangan lebih dari 2 meteŕ,” huhuuu… gitu ya? Awalnya aku berani diam disana menatap langit dan lampu indah di kejauhan. Kenyataannya aku memang berjalan daripada menunggu di tempat gelap, takut kalau tiba-tiba ada yang muncul.

Kang Pepep putar arah menjemput Nita di belokan tajam bawah dan mengantarkannya ke tempat tim menunggu di atas. Sepertinya motor Kang Ading ngga bakalan bisa naik kalau ada boncengan dan membawa 2 keril besar. Tanjakan tajam serta menukik, syusyaaaahhh….

Tiba di rumah Pak RW, Edi Junaedi, tim disambut baik. Lagi, lagi, aku tak paham dengan Bahasa internasional Sunda yang dibicarakan. Kadang suka ngerasa geli sendiri sih. Bayangkan saja, di kala orang tertawa dengan cerita yang mereka obrolin, aku cuma diam-diam saja tanpa paham apa yang tengah dibicarakan. Ya mau ngga mau, kalau ngga tanya sama Nita, Kang Pepeplah yang bantu menjelaskannya.

Kalau sudah begitu, biasanya aku rajin laporan posisi saja sama Kang Unu yang memantau perjalanan kami.

Usai ngobrol, kami dikasih ruangan yang bisa digunakan beristirahat. Baiklah, perjalanan panjang ternyata tak membuat tim kenyang walau sudah makan sebelum sampai di desa ini. Mereka masih makan lagi, saudara-saudara! Wkkkwkkk

Bobok heiiii…. Boboooookkk 😉

***

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Wajib Streching

Pukul 07.45 WIB

Pagi yang cerah, udara segar, suara alam sudah memanggil kami untuk bersiaga. Aku jadi selalu bangun pagi karena dipanggil adzan subuh yang berkumandang dari alarm gadgetku. Bangun sebelum telat bersiap-siap dan rebutan kamar mandi. Yuklahh…

Kang Ading dan Kang Pepep selalu mengingatkan kami agar melakukan stretching sebelum melakukan pendakian. Biar ngga kaku dan keram kaki!

Satu, dua, tiga, sepuluh… DONE!

Ayok, mendaki…….

***

Hutan Gosong

Pukul 08.00 WIB

Jalur pinus keceeeeehhh... pen ngegantung maen hemok. (doc pribadi)
Jalur pinus keceeeeehhh… pen ngegantung maen hemok.
(doc pribadi)

Tim melewati perkebunan di sekitar basecamp Pak RW. Lalu memasuki jajaran pohon pinus atau cemara? Seingatku, pohon pinus ya kurus langsing begitu kan? Ohh.. olahraga mata untukku mencatat, bahwa teman-temanku bisa main hammock disana (catat dalam hati, Jie!).

Diantara pohon pinus ini, terdapat kebun sayur kol tanpa pestisida. Soalnya daunnya bolong-bolong deh. Sayuran sehat kan ya tanpa obat semprot? Melihat dari jauh saja, aku sudah ngiler kepengin ambil.
*lapar sayur! Heh, ngga boleh, Jie…

Jalur lapar! Banyak aja sayurnya.. aahhaha (doc pribadi)
Jalur lapar!
Banyak aja sayurnya.. aahhaha
(doc pribadi)

Lanjut jalan. Jalurnya rapi, masih tanah merah yang kering. Hentakan kaki tim yang bersenandung semangat, mengakibatkan debu-debu halus beterbangan. Kalau di musim kering begini, sebaiknya ya menggunakan masker supaya meminimalisir debu yang terhirup kita. Di kanan-kiri jalan, rumput hijau menemani langkah kami.

5 menit dari kebun kol, tim kembali melewati jajaran pinus. Kali ini tanahnya sedikit gosong seperti habis (sengaja) dibakar kah untuk keperluan menanam? Aku lupa menanyakan pada Pak Edi kenapa begitu. Yang jelas, di bagian bawah pohon, hitam. Demikian juga dengan ranting halus pohon yang serupa jerami itu jatuh menghampar di tanahnya, juga berwarna hitam.

Menurut Kang Pepep, ketika aku menanyakan di grup Jelajah Gunung Bandung (JGB), wilayah Perhutani sempat terjadi kebakaran.

“Luas daerah jajaran pinus yang terbakar itu sekitar 2 ha. Sebelum merambat ke atas, api sudah bisa dipadamkan oleh gabungan masyarakat dan beberapa instansi,” terangnya. Cuma alasan detilnya aku kurang tahu kalau dibicarakan dalam bahasa internasional Sunda. Heuu heeeeuuu 😦

Pinus gosong (doc pribadi)
Pinus gosong
(doc pribadi)

Beruntung ya, kami bisa mendaki salah satu dari #7puncakgunungbandung yang dimaksud dalam tujuan. Padahal info itu diperoleh sehari sebelum kami berangkat kesana. Allah akan selalu memberikan jalan jika kita tetap positif dan bersahabat, kan? Terima kasih, Allah..

Bau bekas abu yang banyak ya ngga enak. Kami sedikit mempercepat langkah. Kang Ali malah sudah melesat jauh di depan. Disusul Kang mbok. Teh Miliatri, Nita, Kang Ading, Kang Pepep dan aku, menyusul di belakang.

25 kg karung pupuk yang diangkutnya. (doc pribadi)
25 kg karung pupuk yang diangkutnya.
(doc pribadi)

12 menit setelahnya, kami bertemu dengan penduduk yang sedang mengangkat pupuk untuk dibawa ke atas. Tahukah, bahwa mereka mengangkat 25 kg pupuk per karung yang ditandu di bahunya itu mengingatkanku akan bahuku yang tak sempurna? Perlu berapa kali bolak-balik ya, supaya bisa selesai cepat dan segera memberi pupuk pada tanamannya? Belum lagi bertemu dengan ibu atau nenek berbaju merah muda dengan celana tuanya di jalur atas?

Mereka, orang-orang gunung itu, sungguh kuat dan sehat-sehat ya? Salut dengan mereka yang bisa bertahan hidup di kaki gunung. Terlihatkah oleh kalian, kaki-kaki telanjang tanpa beralaskan sepasang sandal bagus ala kota? Hampir rata-rata, kaki-kaki kapalan itulah yang menyehatkan langkah mereka. Subhanallah…

Di sebuah persimpangan, Teh Miliatri berhenti.

“Kenapa, Teh?”

Terus atau kiri, Kang Pep? (doc pribadi)
Terus atau kiri, Kang Pep?
(doc pribadi)

“Ada 2 jalan nih. Nunggu dulu deh,” ujarnya sambil sesekali mencari sosok Kang Pepep yang membawa GPS dan sudah pernah naik ke gunung tersebut.

Nita dan Kang Ading muncul. Aku ya kalau sama kang Ading selalu kepengin ketawa deh lihat ekspresi mukanya. Ngga perlu ngomong, bawaannya mau ngakaaaaaakkk…. Lucu! Ahhahahaa

“Ejie pilih saja. Paling juga kalau salah jalur, balik lagi kan?” Kang Ading ngomong sambil senyam-senyum.

“Akkk.. emoooooohh, Ejie. Gendong kalau salah jalurnya. Turunnya enak, naiknya, pedeeeeesss.. “ cempreng? Iyak!

Gantian Kang Ading yang ngakak. Tuh kan ya, kalau sudah jalan, aku selalu tahu bahwa gunung akan bercerita siapa teman perjalananku. Semakin banyak hari, akan semakin banyak aku tahu. Kadang ya ngga semua cerita bisa dibagikan, karena beberapa yang indah adalah jika tak berkata apapun tentang teman perjalanan. Mungkin hal-hal umum saja yang tersampaikan. Cukup aku, gunung, kami dan dia yang tahu ceritanya.
*ssstt… brisik! Nulis sanahhh 😛

~

Ini permintaan teteh Milah. Gambar sederhana dengan keterbatasan kamera ya teehhh.. (doc pribadi)
Ini permintaan teteh Milah. Gambar sederhana dengan keterbatasan kamera ya teehhh..
(doc pribadi)

Pukul 08.41 WIB

Perjalanan mulai menanjak, kami tiba di tempat cerah dengan pepohonan yang mulai hijau. Langit bersahabat dengan birunya. Desiran angin menambah langkah semangat perjalanan pagi itu. Teh Miliatri menunjuk gunung diatas sana.

“Jie, kita nanti naik kesana. Foto, Jie….” Aku nurut. Cekrek! Ini foto gunung buat Teh Miliatri. Oia, tadinya aku menyebut nama teteh dengan panggilan sayangnya, Teh Milah. Tapi kalau buat ditulis, teteh request supaya disebut nama aslinya saja. Boleh donk ikut kemauan summiters? 😉

Kang Pepep datang. Ia mengarahkan agar kami berjalan ke kanan jalan. Teh Miliatri sudah keterusan jalan di depan diikuti Kang Ading dan aku. Ehh, kami potong jalan yang langsung mengarah ke atas dan bertemu mereka kembali. Habisnya lumayan kan kalau ikut ulang belok lagi. Ya ngelewatin tanjakan saja tanpa melipir (yang punya foto ini Kang Pepep saja. Minta sama doskih kalau mau lihat, yaaaa…)

Menikmati udara sejuk. Semiliiiirrr.. (doc pribadi)
Menikmati udara sejuk. Semiliiiirrr..
(doc pribadi)

Di satu sisi dataran rumput hijau, dengan pemandangan kota dibawahnya, para summiters berfoto. Kali ini Nita yang memang berbekal kamera, siap membidik mereka. Aku karena suka menikmati mereka, cukup candid saja. Kadang-kadang, aku merasa sangat memerlukan kamera beratku, tetapi kalau hitungan tektok, bisa kewalahan aku membawanya. Soalnya kamera berat, bisa buat candid asik sihhh dari jauh tanpa merasa takut hasil gambar bakal pecah.

***

Jalur Akar

Pukul 09.19 WIB

Jalur sangat jelas. Jalan setapak yang bisa dilalui dengan berjalan kaki dan jalur sepeda motor. Tetap kering dengan tanah halus coklatnya. Aku sudah berpikir, ini jalur asik buat turunan nanti. Sepertinya, Gunung Bukittunggul ini bersahabat dengan aku deh. Horeeeeee…
*ihhh… ketok nih otak bandel yang mau lari!

Pendakian mulai membasahi peluh di sekujur tubuhku. Hawa panas dari tanjakan demi tanjakan pun mau tak mau memaksaku melepaskan kacamata minusku. Tetesan keringat selalu jatuh di kaca tersebut dan menutupi pandangan mataku dalam berjalan.

Guguran helaian daun di tanah, akar yang bertambah dengan guratannya, terlihat jelas dalam pandangan mataku. Vegetasi mulai tampak meski masih terlihat langit yang cerah. Kaki-kaki para dengkul racing dengan sekejab hilang dibalik batang pohon di atas, maupun tanjakan pada belokan yang ada. Satu persatu para summiters menghilang.

Hiiihh.. ngeri lihat mereka itu. Ngebuuuuttttt... (doc pribadi)
Hiiihh.. ngeri lihat mereka itu. Ngebuuuuttttt…
(doc pribadi)

Semakin ke atas, jalanku menjadi langkah yang berirama. Iya, si kaki lambat yang tak juga bisa jalan ngebut mengejar ketertinggalanku di belakang. Kang Ading dan Kang Pepep masih rajin di belakang langkah lambatku ini. Kadang mereka bergantian sih jagain si kaki lambat ini.

Tingkah para summiter on cam.. waahahaha (doc pribadi)
Tingkah para summiter on cam.. waahahaha
(doc pribadi)

“Hadeeuuuhh… maafkeun saya yak, akang-akang summiters…” aku selalu bergulat dalam hati kalau soal ditemanin jalan lambat seperti itu. Tapi bagaimana ya, aku ya begini. Susah digeber kalau dipaksa jalan. Takut nanti kaki-kakiku ndak bersahabat dan ndak bisa nanjak gunung lagi. Aku kan bisa sediiiihhh 😥 Sabar menemani ya, akang-akang…

Kulit jerukkuuuu.. (doc pribadi)
Kulit jerukkuuuu..
(doc pribadi)

Butuh waktu sekitar 40 menit untukku bisa menemui tim ada di dataran dimana sekantung jeruk yang tersisa menunggu kedatanganku dan Kang Pepep. Okeeeee… aku habis 2 buah jeruk, enak!

Istirahat 10 menit sejak kedatanganku, lalu lanjut jalan. Waaahh.. berarti yang lain sudah istirahat 1 jam ya menunggu aku datang? Cckckckkk…

Ejieeeeee.. kamu kemana saja??? Hhahahhaa…. Maafkeun Ejie lagi ya, summiters..

***.

Makna Alam

Pukul 10.00 WIB

Oia, Gunung Bandung ini, hampir rata-rata, aku menemukan pohon-pohon besar yang tumbang dalam perjalananku. Di tanjakan, kadang kita harus sedikit merunduk dibawah pohon. Berjalan dibwahnya.

Buatku, pohon tumbang dan berjalan melewatinya seperti itu, kadang mengajarkan, bahwa kita jangan selalu melihat ke atas. Coba saja, naik gunung dengan ketinggian berapa mdpl, ehh.. masih harus merunduk juga kan? Artinya ada beberapa bagian gunung yang mengajarkan kita untuk tetap down to earth. Membumi, bersabar, mengingatkan kita akan hidup. Bahwa hidup tak selalu diatas. Upps, sudah pada cerdas mengartikan deh 😉

Gunung ini juga termasuk dalam salah satu sejarah sisa-sisa letusan Gunung Sunda di zaman Prasejarah. Gunung Bukittunggul ini terbilang sebagai pegunungan puncak tertinggi yang dimiliki Pegunungan Lembang atau Pegunungan Bandung Utara.

Walapun vegetasi masih terlihat cerah, di jalur Gunung Bukittunggul ini, sebagian batang pohon juga ditumbuhi oleh lumut-lumut atau mungkin parasit yang tumbuh di sekitarnya. Jamur-jamur kering berupa lempengan dengan cekungan pun terlihat disana.

Suara habitat hewan yang kerap ada juga masih terdengar. Serangga, burung, kupu-kupu juga hewan kecil lainnya. Yang sangat jelas, adalah suara deru knalpot motor di kejauhan.

***

The summiters di Puncak Gunung Bukittunggul. (doc pribadi)
The summiters di Puncak Gunung Bukittunggul.
(doc pribadi)

Puncak Datar

Pukul 11.00 WIB

Ayok, Jie… 10 menit lagi sampai di atas loh. Semangat!” Kang Ading itu yang menemaniku berjalan. Iya, sejak di dataran yang ke berapa ya hingga ke atas, Kang Pepep berjalan mendahului kami. Perlu diketahui, bahwa Gunung Bukittunggul ini tidak ada pos atau shelter yang dipasang menggunakan plang. Ia hanya berupa dataran-dataran yang bisa dijadikan tempat beristirahat saja di beberapa tempat.

Ya ngga apa sih. Capek juga kalau kelamaan nungguin kaki lambatku ini. Biasanya di pendakian lain pun, teman-teman biasanya begitu. Atau terkadang, aku ditunggu di 1 titik tertentu yang ditentukan. Tak jarang, mereka menunggu di belakangku. Lalu dalam hitungan menit, mereka sudah ada dibelakangku. Teman takkan meninggalkan. Teman takkan membiarkan. Teman takkan mungkin mengacuhkan. Hanya saja, cara yang mereka tunjukkan, berbeda dengan rasa dan makna yang sama. Belajar mengandalkan diri.

Ada satu sisi dimana kita tidak bisa bergantung pada orang lain, namun mengandalkan kekuatan sendiri, kita juga harus mampu. Bukankah kita nantinya juga akan berjuang sendiri? Jadi, anggap saja perjalanan tanpa teman mendaki, merupakan sarana pelatihan bagi kita juga di kehidupan selanjutnya.
*gaya

Ehh, ehhh… Puncak, sudah sampai puncak!

“Ejieeeee… siniii…. “ Kang Ading melongokkan wajah lucunya. Aku tertawa.

Alhamdulillah, puncak datar ini akhirnya aku sampai juga. Berupa dataran kering dengan tanah berundak yang mengelilingi tengahnya. Di kanan jalanku, ada bekas abu api unggun. Panggilan-panggilan tim yang beristirahat di bawah, dibalik puncak datar sederhana ini, hanya kujawab, “Iya, sebentar.”

Untukku, pencapaian sebuah gunung adalah ketika bisa memanage segala bentuk ego yang timbul. Kesabaran dan perjuangan yang justru ada di tiap langkah yang kujejaki, mengajarkan agar aku harus selalu bersyukur atas pencapaian yang sudah kuterima.

Aku selalu teringat Ricky Merah dan keluarga gunungku yang sangat hapal dengan rutinitasku jika mendaki. Dan mereka biasanya akan mengingatkanku meski aku adalah orang terakhir yang tiba di puncak. Seperti ketika aku menginjakkan kaki di puncak Gunung Bukittunggul. Aku ingat, tektok Gunung Sindoro 2 tahun lalu kalau ngga salah.

Ingatan jelas ketika aku berjalan tanpa target muncak, ternyata sampai. Lalu Ricky Merah yang berteriak dari puncak (waktu aku duduk di taman cantigi) mengatakan, aku akan muncul di puncak dengan cengiran khasku.

Benar saja! Hal serupa juga terjadi di gunung ini. Entah kenapa aku melakukannya. Dan aku merasa mendengar suara Ky yang mengatakan, “Sana Jie, lakuin rutinitas Ejie. Sujud syukur atas apa yang Ejie peroleh hari ini.”

Dan aku bersimpuh di tanah kering itu…. (jie)

Sahabat, aku menyukai Gunung Bukittunggul ini. Ia menerimaku ketika berjalan dalam langkah lambat meski melalui tanjakan. Seirama lantunan kaki yang mengiringi. Tak apa aku berjalan di belakang. Tak apa aku melangkah dalam diam. Tak apa aku berteman sepi. Terpenting adalah gunung ini menyapaku ramah dalam bahasanya 🙂

Terima kasih, kamu (indah dalam langkah diam).. ~ Ejie, si Kaki Lambat

***

Tulisan ini aku pecah jadi 2 bagian yaaa…
Cerita turunannya ya beda sedikit dan apa yang kami lakukan diatas setelah tiba puncak?
Sabar yaaaaa….

Tulisan ini juga aku persembahkan bagi keluarga Jelajah Gunung Bandung serta tim summiters dan support pada Ekspedisi 7 Puncak Gunung Bandung (Tatar Ukur) yang dilakukan terhitung tanggal 17 Oktober 2015 selama 9 hari kemudian.

Aku mengikutinya sejak Gunung ketiga, yakni -gunung-mandalawangi-jgb-3/.

#7puncakgunungbandung
#sisa3gunungbandung
#gunungbandung
#JelajahGunungBandung
#EkspedisiGunungBandung
#TatarUkur
#Indonesia

Terima kasih sudah menyempatkan blogwalking ya, teman-teman…
Selamat Hari Blogger Nasional, sahabat pecinta blog 🙂
*cupa cuuuuupp

***

Entah apa yang mereka diskusikan. Aku lupa. (doc pribadi)
Entah apa yang mereka diskusikan. Aku lupa.
(doc pribadi)
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s