NANJAK penuh rasa

Journey Notes: Tanjakan Penuh Gunung Mandalawangi (JGB-3)

Derap langkah kaki tim terdengar jelas, berlomba dengan hamparan daun kecoklatan yang berguguran di sepanjang pendakian. Jalur treking yang penuh tanjakan pun memenuhi ruang di setiap jiwa semangat tim 7 Puncak Gunung Bandung. Asiikk… cerita bahagia dan sedikit mewek kali ini yaaa dari kaki lambat yang menelusuri Gunung Mandalawangi.
Hayuuuukk….. baca ๐Ÿ˜‰

Belum ada plang, jadi nulis sedniri dulu di hp Nita. (doc pribadi)
Belum ada plang, jadi nulis sedniri dulu di hp Nita.
(doc pribadi)

***

Foto-foto lainnya menyusul yaaakk..
Gede banget pikselnya belum di resize, euy.
Ngantuk juga sihh ๐Ÿ™‚

***

Desa Bojong
20 Oktober 2015

Jalur Ilalang dan Sungai Kecil

Tim bersiap-siap menuju ke daerah yang sehari sebelumnya telah dicek oleh Kang Pepep melalui GPS yang ada. Setelah mengantar tim, Kang Pepep dan aku putar arah membeli makanan bagi tim. Mungkin masih pagi ya, jadi belum semua warung maupun rumah makan yang buka. Beruntung ada ibu penjual nasi kuning di sekitar jalan utama lorong rumah ibu Kang Ferly. Segera membungkusnya dan langsung menyusul ke atas kembali.

Jam menunjukkan pukul 08.00 wib. Kami memulai pendakian. Jalur pertama adalah banyaknya tumbuhan ilalang di kanan kiri jalan setapak dengan sedikit pohon. Kemudian menanjak. Cukup lumayan ya naiknya.

Kami berjalan hampir 15 menit ke atas ketika tiba-tiba Kang Pepep memerintahkan agar kami turun balik ke arah batu besar yang kami lewati tadi. Wuiihh.. untung saja turun, ya ndak masalah deh.

Batu besar itu berada diantara (seharusnya) aliran sungai yang mengalir. Karena musim kemarau, sungai atau kali dengan batu-batu besar itu kering, tak ada air sama sekali. Sayang ya? Kalau ada bunyi aliran kalinya pasti lebih banyak suara alamnya kan? Dan hijau pasti menghiasi.

Kami melintasinya, melewati jalan di sebelahnya. Masih lumayan landai, tapi ya gitu deh. Aku selalu saja perlu penyesuaian kalau awal pendakian. Heheheee…
*elusin kaki terus ๐Ÿ˜€

Di jalur seberang ini, ada pipa aliran air yang terbentang entah dari ketinggian mana. Airnya kecil, aku sempat memotretnya. Oia, mungkin karena ini jalur air juga ya, jadi habitat hewan kecilnya cukup banyak. Masih ada serangga hitam. Ukurannya besar dengan kepala dan bagian belakang yang cukup jelas kalau di makro (belum sempat di upload foto dari kamera yaaa… ). Selain itu, ada suara jangkrik juga. Ehh, kupu-kupu disini banyak deh. Warnanya cerah dan bagus, secerah langit pagi yang kami jalani hari ini.

Beberapa dari tim, ada yang belum sarapan pagi, jadi kami beristirahat sejenak selama 20 menit kira-kira.

Perjalanan berlanjut. Kami melewati jalur dimana banyak rimbunan pepohonan yang terlihat seperti lorong waktu. Batang, rantingnya membentuk garis-garis artistik yang cantik. Aaak.. ndak bisa upload fotoo.. heuheuuu…..

***

Tanjakan Nonstop

Pukul 09.17 wib

Sesungguhnya menurut si kaki lambat, ini adalah pendakian sebenarnya dari pendakian awal tadi. Lihat saja, suguhan pemandangan menanjak yang sepertinya takkan ada habisnya di depan mata saat ini.

Aku nyengir! Senyum kuda deh dalam hati. Yang terbayang itu, turunan bakal seru nih. Bisa perosotan! Hhahahh suka sayaaaaa…. Kan kalau sedang naik gunung, ngga boleh pikiran negatif, harus semangat terus walau menghadapi rintangan di perjalanan. Aku sih memang lambat, tapi soal menyenangi apa yang kuperoleh dalam perjalanan, itu yang berharga. Pengalaman dan cerita, yeaap!

Jalur tanah coklat disepanjang pendakian ini bisa dinetralisir kok kalau merasa licin menjejakinya. Demikian pun kami yang terkadang mengambil jalur dedaunan yang masih rapat tertutup tumbuhan. Naik gunung memang melelahkan, apalagi kalau bertemu dengan tanjakan-tanjakan pedas, licin dan bagi beberapa orang mungkin juga ngga mau mengulanginya lagi. Tetapi justru disitulah kadang menguji diri dalam menjalani sesuatu hal. Tinggal bagaimana kita memutuskan saja, mau terus berjalan, menunggu hingga yang lain turun atau kembali ke awal pendakian dan menanti hasil? Semua kan berpulang pada diri pribadi kan?

Jika dalam pendakian ada titik yang sedikit menjemukan, jangan bingung. Ada saja yang akan menghibur, teman sependakian yang pasti akan bisa membuatmu tersenyum simpul atau bahkan terbahak-bahak karena tingkah lucunya.

Nah, aku sudah sedikit bisa membaca karakter teman-teman pendakian Jelajah Gunung Bandung ini (sedikit kebiasaan yang tak bisa kutampik). Bahwa gunung akan mengajarkan banyak hal pada kita yang menerimanya, melakoninya dengan kesabaran. Bahwa gunung akan bercerita padaku tentang mereka yang bersama dalam pendakian manapun. Bahwa gunung akan bersahabat padaku dengan caranya.
*apa sih? ngantuk Ejieeeeee… bangun! ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€

Kali ini, yang membuatku tertawa adalah tingkah Teh Mila yang kocak. Lelah? Bisa jadi aku letih bukan karena menjalani, lebih kepada mendongak melihat tanjakan-tanjakan itu, hhehehh…

Senร ng deh kalau lihat Teh Mila ya, sukanya lari tuh di jalur begitu. Ancang-ancang sigap dengan hitungan 1, 2, 3 sebelum lari pasti siap. Kemudian wushhh… doski lari dengan ucapan hu ha hu haaa! Nanti Teh Mila juga melipir ke semak-semak seperti kita kok kalau capek lari. Sementara kita mah mainnya ya antara pohon, tumbuhan dan daun-daun aman saja pas naik. Save energi? Iyes!

***

Jalur Webbing

Pukul 09. 38 wib

Semua jalur-jalur yang kutulis ini berdasarkan apa yang kami alami di pendakian yaaa.. Soalnya resmi tentang jalur, aku belum tahu sih. Mungkin sebelumnya sudah pernah ada yang kesana.

Kang Unu yang mengunjungi kami di hari kami sudah tiba di pendakian berikutnya, Bukittunggul (21/10/15) menerangkan bahwa pendakian ke Gunung Mandalawagi belum pernah dilakukan oleh Jelajah Gunung Bandung.

“Jadi ya wajar saja kalau pendakian lewat jalur yang melipir atau meleawati tanaman yang masih rapi, belum terjamah,” itu pengartianku dari obrolan sekejab yang hanya beberapa menit di pagi hari rumah Pak RW Desa Sunten Jaya.

Kembali ke cerita jalur.

Melihat jalur wow ini, cerita webbing sudah diwacanakan. Kang Ali ya otomatis mengeluarkan webbing dari daypacknya. Cukup 5 meter saja untuk menarik kami agar sampai di tempat aman menjejakkanย kaki. Hooho… jalurnya tambah ajib we lahh. Asooooyy… asooooyy ๐Ÿ˜€

Sepertinya ya aku lah yang pertama webbingan. Jalur nanjak yang licin bukan karena habis hujan, tetapi karena tanjakannya lumayan tinggi dan tidak ada akar atau pohon yang bisa kuraih sebagai pegangan. Pijakan batu yang biasanya ada juga susah. Ngga ada deh. Paling aman ya pake webbing yang diikatkan Kang Ading pada sebatang pohon diatas.

Lainnya sudah melipir diantara tumbuhan kanan-kiri jalan. Beberapa menjaga kami yang belakang atau kesulitan lewat jalur licin. Sementara yang expert ya lewat jalur tanah perosotan itu, Kang Ading, Kang Pepep dan Teh Mila misalnya.

Vegetasi yang rapat dan rimbunan pohon mungkin yang membuat habitat hewan bagus disini. Masih kutemukan ulat apa tu ya warna hitam. Kelabang kah? Soalnya bentuknya mirip.

Aku bilang sama Kang Ading di tengah jalur lumayan licin, “Bentar kang, mau foto ulat nih, bagus.”

Cekrek dan, “Jangan diinjak ya,kang…Kasihan,”pesanku pada siakang yang senyum-senyum wae.

Disini tumbuhannya juga beraneka. Ada pakis-pakisan, salak dan daun lengkuas ya? Kata Kang Ferly, kalau di Sunda nyebutnya, daun onje.ย Hampir di beberapa Gunung Bandung yang pernah kusambangi, tumbuhan berduri nampaknya selalu ada. Ada yang serupa daun pandan, pohon kelapa sawit dan tak jarang, tumbuhan merambatnya pun berduri. Selain itu juga ada tumbuhan di pinggir jalan setapak yang kita lalui, tumbuhan beraroma minyak kayu putih dengan bunga cantiknya itu yang sempat menarik benang baselayerku. Hiiiikkss ๐Ÿ˜ฆ
*Mardaaaayy….. pesen hiji deui atuuuhh

Akar gantung yang ada di gunung ini pun bisa dimanfaatin sebagai pegangan. Melihat akar gantung itu, mengingatkanku pada Gunung Parang, Purwakarta yang selalu kunaiki dan berayun-ayun diatasnya. Beberapa kali ketika melewati jalur treking, kami juga melihat pohon-pohon besar, sangaaaatt besar. Kang Ading sama Teh Mila suka banget difoto di pohon-pohon itu.
*laaahh…. aku sendiri indak ada poto euy, huasyem yak?!?? ๐Ÿ˜€

Gunung Mandalawangi ini kalau sedang ngga musim kemarau mungkin sekelilingnya akan lembab ya? Dari tanahnya bisa dipastikan akan sangat licin dan lumayan akan main perosotan melihat tanjakan-tanjakan curamnya itu. Harus siap lumpur akan betah di sekujur tubuh mah.

Runtuhan pohon cukup lumayan ditemui dengan batang-batang lumayan besar di pendakian ini. Disamping itu, batang lapuk dari pohon tumbang pun ada.

***

Catatan Istirahat

Pukul 10.09 wib

Beberapakali dalam pendakian ini,kami beristirahat. Jalur-jalurnya terhitung lumayan berat. Gunung Bandung kan begitu. Jangan pernah melihat dari tinggi atau rendahnya sebuah gunung. Justru tersulit adalah ketika kita menghadapi dan menjejaknya. ya sudahlah, part ini nanti dibahas selanjutnya saja ya?

Kami tiba di dataran, area camping ground. Perjalanan masih panjang, menurutku yang selalu menjadi bagian terbelakang jika nanjak. Istirahat sejenak, kemudian melanjutkan perjalanan.

Susahnya kalau jalan karena kepengin nulis itu ya begini. Ketemu hal menarik, difoto. Ketemu yang lucu, difoto, ketemu yang belum pernah dilihat, difoto. Semua mau difoto. Hhhahaa…maafkan Ejie ya, teman-teman. Susah deh mau komentar atau debat soal begini.

Pukul 10.45 wib

Ini adalah istirahat kesekian yang aku lupa. Kalau bukan karena menungguku, ya pasti karena lapar atau memang butuh istirahat. Tapi Kang Pepep yang tugasnya memetakan jalur berdiskusi dengan Kang Ading dan Teh Mila dalam bahasa internasional Sunda deh. Aku ndak ngerti. Intinya bicara soal jalur. Itu aja.

***

Hore Pucuk

Pukul 11.30 wib

Alhamdulillah….. tim tiba di puncak Gunung Mandalawangi. Tepatnya ya mereka tiba terlebih dahulu sebelum aku. Hitungan naik gunung antara aku, jangan disamain dengan mereka yang dengkul racing yaaaaa… Jelas sih, kalau urusan naik gunung, aku bisa dipastikan akan menjadi yang terbelakang. Sweeper-sweeper sahabatku, biasanya sangat hapal dengan kakiku. Hhhehhe… heeeiii kangen kalian, sweeper sahabat!

Di puncak ini ada sebuah makam dengan dipagari pohon di 4 penjuru pohon. Masing-masing bendera berwarna biru, putih, kuning dan merah. Entah ada kisah apa dibalik bendera-bendera tersebut. Aku belum tanya Kang Unu, Kang Ading atau Kang Pepep sih tentang itu. Yakali setelah tulisan selesai, dibaca, para jagoan ini mau cerita buat tambahan tulisan Ejie, kan?
*kode

Kami istirahat, makan, leyeh-leyeh,main hammock dan foto di puncaknya. Ada bale bambu cukup luas juga yang kami gunakan untuk melepas lelah. Ada semacam tempat duduk santai yang dibuat dengan sengaja agak tinggi. Kang Pepep sibuk diatas sana, mempersiapkan kamera untuk foto, merekam, dll keperluan Jelajah Gunung Bandung. Sementara lainnya memasak, beberapa juga operasi bersih di sekitar puncak. Hhhehe.. aku ya main ayunan hammock, donk…

Puas di puncak, kami segera packing dan turun ketika waktu telah menunjukkan pukul 13.00 wib sesuai arahan Kang Pepep.

Oia, kata Kang Pepep, kalau tanpa operasi bersih, bisa turun sekitar 1,5 jam.

Sedikit disayangkan, kami menemukan banyak sampah di gunung ini.Padahal kan lokasi Gunung Mandalawangi belum terlalu banyak terekspos ya? Sembari jalan turun gunung, tim juga melakukan operasi bersih hingga akhir. Akhirnya sembari turun, tim melakukan operasi bersih sepanjang trek. Terkumpul 9 kantong plastik sampah dari atas hingga bawah. (jie)

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

***

Sedikit Epilog

Ngga apa kan ya ngga ada prolog? Sekadar kepengin numpahin sedikit otak ngantuk sih. Tulisan yang tidak sempurna ini, Ejie tulis dalam keadaan ngantuk. Jika ada kekurangan, kesalahan penulisan maupun bahasa, akan Ejie perbaiki setelah selesai turun gunung dan punya waktu santai revisi.

Maaf ya teman-teman…

*tulisan ini Ejie lampirkan sebagai laporan perjalanan dan pendakian 7 Puncak Gunung Bandung bersama Jelajah Gunung Bandung

 

~ Salam si Kaki Lambat ~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s