Hitchhiker Indonesia (HHI), Rp 0,-

Hitchhike Sabar Tak ber-Desah

Rasanya, dalam beberapa minggu ke belakang, hampir selalu melakukan hitchhiking. Entah karena ingin menjalaninya sendiri atau karena ajakan teman. Tak jarang juga menemani teman yang ingin mencoba berhitchhiking ke suatu tempat. Dan kali ini, sama teman Bandung Freedive (BFD).

Awal hitchhike, arah pintu tol Cikampek. (Doc pribadi)
Awal hitchhike, arah pintu tol Cikampek.
(Doc pribadi)

***

Pukul 10.00 PM

Aku sampai di halte Pinang Ranti. Berjalan ke arah loket, ternyata tutup! O my goshkadung (sudah, red) janji pada Desah, teman Bandung Freedive (BFD) untuk melakukan hitchhiking ke Bandung, setelah ia selesai jam kerjanya (23.00 WIB).

Berjalan kaki ke arah Tamini Square, mampir ke salah satu mini market dan mencoba mengontak Desah via sosial media. Ia masih di kantor. Aku menenangkan diri dan menyiapkan media sign yang akan digunakan dalam berhitchhiking Jakarta-Bandung. Aku lupa mempersiapkan tulisan Bandung rupanya di rumah tadi.

Sembari menulis, aku memikirkan rute hitchhike dari UKI. Bingung! Aku sudah bertanya pada teman Hitchhiker Indonesia yang mengerti pintu tol. Hahhaaah… maklumlah, aku memang sangat buta peta. Katin dan Kaper, teman hitchhiking, menjelaskan tentang pintu tol Cikampek yang mengarah ke Bandung jika aku berniat memulai hitchhike dari UKI.

Samar-samar, aku ingat lokasi itu ketika hitchhiking-to-pulau-biawak-indramayu/. Tapi ya karena samar, banyakan lupanya sih… ^_^ Okee, tulisan Bandung selesai, sudah ngemil roti dan minum kacang hijau, siap jalan ke meeting point UKI.

Aku bertanya kemungkinan jam malam Transjakarta (TJ) akan beroperasi karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 lewat. Informasi dari petugas TJ, bisa naik yang 24 jam itu dari PGC di Cililitan, alhasil, aku melanjutkan perjalanan kembali sembari mencari-cari kendaraan. Entah kenapa, hampir tak ada kendaraan alias sepi euy… Belum rezeki deh.

***

Tak Sengaja Hitchhike

Tahukah kamu? Di setiap memulai perjalanan, sempatkanlah untuk selalu berdo’a dan berprasangka baiklah. Mungkin karena sudah niat hitchhike, aku berjalan sembari menjulurkan jempolku, tiba-tiba saja sebuah kendaraan berbayar (angkot) berhenti disisi kiri jalan dan mengarahkanku untuk naik. Mulanya aku bingung, tapi karena berpikir hampir tidak ada kendaraan, aku naik saja.

Angkot ini mengarah ke PGC, tujuanku. Bapak yang tak sempat kutanyakan namanya ini, menurunkanku di pintu masuk halte busway. Dan ketika kusodorkan uang untuk membayar kendaraan yang kunaiki, si bapak hanya tersenyum dan menyuruhku menyimpan uang (ongkos) tersebut. Haaa?? Dua kali cengok hanya dalam beberapa menit saja dan si bapak hanya berpesan, “Hati-hati, neng… sudah malam ini. Cepat ketemu sama temannya, ya?” kendaraannya berlalu dan aku masih bingung.

***

Sebelum Rencana Hitchhike

Aku memantau percakapan di grup yang tanpa sengaja kuikuti karena event GANTUNG nya yang berlangsung di Bumi Perkemahan Cikole, Lembang, Bandung. Ternyata ada beberapa teman yang ku kenal juga mengikuti acara yang sama, Gathering Hammockers Indonesia, Sabtu-Minggu (6-7/06/2015). Acara ini ditujukan bagi komunitas pecinta hammock (istilah baru dalam bermain ayunan) yang tersebar di Indonesia.
*nanti sesi lain cerita hammockers nya, yaaaaa..

Untuk mengikuti gathering tersebut, kita harus patungan sebesar Rp 25.000,- yang dihitung sebagai tiket masuk, souvenir dan snack. Kesulitan terjadi ketika aku mencoba mentransfer nominal yang disebutkan, tetapi mungkin karena kurang dari Rp 50.000,- maka mesin menolak.
*untung bukan ditolak lamaran, sambit hammock 😀

Bukan aku saja merasa kesulitan mentransfer, beberapa peserta pun demikian, termasuk Desah, teman BFD ku. Akhirnya kami chatting dan disepakati pembayaran diwakilkan Desah untuk beberapa orang. DONE, bisa ikut gathering.

Kesulitan kedua muncul ketika dihadapkan pada patungan kendaraan pulang dan pergi dengan kendaraan tronton TNI. Desah yang bekerja hingga malam, tidak bisa bergabung. Aku pun, tidak berminat pergi ke Bandung kalau masih sore. Karena belum terpikirkan sih kalau terlalu cepat sampai, mau ngapain disana, dan kebetulan ada kerjaan juga yang harus diselesaikan.

Entahlah karena apa, dan berangkat dari keperluan masing-masing, Desah dan aku menyepakati kami akan hitchhiking Jakarta-Bandung.

***

Petualangan Dimulai

Kami berjalan ke arah pintu tol Cikampek, mencari tempat terang agar tidak terlihat sebagai orang yang berniat jahat. Seperti biasa, aku mengenakan pakaian berwarna guna mempermudah pengendara melihat keberadaan kami. Untungnya lagi, Desah yang masih berpakaian rapi ala kantor namun santai pun, pakaiannya berwarna. Pssst… Tanpa disadarinya, name tag doski masih menggantung keren di sisi daypack birunya, xixiiii 😉

Sambil menunggu kendaraan, iseng aku bertanya padanya.

“Sah, mau kendaraan yang bagaimana?”

“Dingin, Jie…”

Berprasangka baiklah, maka kebaikan akan ada di setiap langkahmu ~ jie

Hitung mundur, 5 menit dari ucapan Desah, mataku menyipit dan langsung menakar bahwa kendaraan putih di depan adalah rezeki Desah sesuai ucapannya.

Sebuah taxi yang bisa kukatakan adalah langganan rezeki bila berhitchhiking, berjalan menepi dan memelankan laju kendaraannya.

“Sah, pengin yang dingin kan? Ini kendaraan sesuai ucapan Desah,” kami nyengir dan jendela mobil perlahan terbuka. Kami menghampirinya.

“Mau kemana, neng?” tanya bapak bertopi dengan kemeja putih itu.

Kami menjelaskan tujuan check point pertama. Hhahaha tepatnya, Desahlah yang menjelaskannya karena ia biasa pulang ke Bandung. Sementara yang terbayang di otakku adalah tol bayangan, Jatibening. Terbukti kan kalau aku buta peta? Padahal masih bilangan Jakarta yang notabene adalah wilayah dimana aku berada. Tapi yang menjelaskan jalan ya teman Bandung ku.

Mengikuti feeling, mengatakan bahwa bapak tersebut tulus menolong serta menegaskan bahwa kami bermaksud menumpang, menurutku merupakan hal mutlak. Kenapa? Karena belum tentu orang yang mengajak kita naik kendaraannya itu mengerti maksud dari media sign kita meskipun tertulis menumpang. Tak jarang, ada pula yg dimintai bayaran ketika sudah di tengah jalan, atau apesnya ya diturunkan di tempat yang susah cari kendaraan selanjutnya. Double tokh sialnya? 😅

Bukannya tak mau membayar juga, tetapi niat dari awal kan memang mau menumpang, jadi ya ngga ada salahnya donk meluruskan niat? *keukeuh dilempar ember

Kendaraan pertama, pak Ichwan (60). (Doc pribadi)
Kendaraan pertama, pak Ichwan (60).
(Doc pribadi)

Well, pak Ichwan (60) ternyata memang akan jalan pulang ke Bekasi. Jam kerjanya yakni sehari kerja, sehari libur. Jadi begitu ia melihat tulisan numpang kami, ditepikannya taxi yang dikemudikannya.

“Saya pulangnya dekat pintu Tol Bekasi Timur, mas.. Jadi ya ndak apa kalau sekalian mengajak kalian. Kan searah,” ujarnya.

Ia menanyakan kenapa harus menumpang, sementara  banyak kendaraan menuju ke Bandung.  Kami menjelaskan alasan menumpang dan si bapak menjawab, “Yaa.. menolong orang mah wajar. Kalau kita bisa menolong, kenapa ngga?” Kemudian kami bercerita banyak hal tentang menumpang dan juga pekerjaannya.

Tak lama, kami tiba di pintu tol Bekasi Timur. Aku meminta izin pada si bapak untuk berfoto bersama di depan plat kendaraannya sebagai laporan. Kebiasaan yang wajib dilakukan jika aku melakukan hitchhiking.

Terkadang banyak yang bertanya, apa gunanya foto di depan dan di dalam kendaraan yang menjadi tumpangan ketika hitchike?

Alasannya yaitu:

  1. Plat nomor bisa menunjukkan kendaraan yang kita naiki saat hitchhike.
  2. Ketika berada dalam kendaraan, berbincanglah tentang apapun. Sedikitnya kita akan bisa memperoleh informasi nama, pekerjaan, dll mengenai orang yang ditumpangi. Penting, karena bisa dijadikan laporan pada teman yang memantau perjalanan kita.
  3. Lebih baik lagi jika kita diperbolehkan menyimpan nomor orang yang ditumpangi. Hal ini bisa mengurangi jika kita tertinggal sesuatu dan bisa menghubungi orang tersebut kembali. Terkadang malah pengendara yang bertanya tentang nomor telpon kita. Bagusnya sih, tukaran nomor, biar adil 😀
  4. Jangan kebablasan saat bercerita. Perhatikan jalan, posisi keberadaan kita.
  5. Rajinlah mengupdate perjalanan di media sosial yang ada.

Jangan lupa mengucapkan terima kasih yaaa.. pada orang yang sudah bersedia memberi tumpangan pada kita.

***

Jeda 45 Menit dan Kesabaran Desah

Akan merasa beruntung jika melakukan hitchhiking dalam team. Karena kita tidak uring-uringan menunggu, bingung mau ngobrol pada siapa dan yang jelas kalau perempuan, ngga mungkin selalu mengeluarkan gadget atau handphonenya sesering mungkin. BAHAYA!

Aku berbagi cerita dengan Desah saat dimana sekali waktu dalam berhitchhiking tidak selalu mulus. Ada saat kita bisa menunggu lama untuk sebuah kendaraan. Kalau tidak karena sabar,  maka kebosanan akan menggerogoti rasa kita. Disini kadang, pelajaran hidup akan kita dapati. Pekerjaan maupun perlakuan kita terhadap sesuatu hal, akan mencapai hasil jika dibarengi dengan niat dan kesabaran menjalani.  Nah, menunggu itu kan bisa merupakan bagian dari pekerjaan kita juga pada kehidupan nyata, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya saja.

Oia, selama masa penungguan kami, bukan berarti tidak ada satu kendaraan pun yang berhenti menawarkan kendaraan pada kami lho?!

Tercatat:

  1. 3 kendaraan pribadi. 1 kendaraan taxi gelap yang berniat memberikan tumpangan pada kami jika ia sudah mendapatkan 4-5 penumpang, 1 kendaraan yang mengira kami adalah orang yang akan menuju ke Bogor dan 1 lagi kendaraan keluarga, dimana sang suami berniat mengajak kami, tetapi sang istri ragu pada kami karena ada anak perempuannya yang duduk di bangku tengah sendirian.
  2. Ojek pangkalan yang menawarkan mengantarkan tetapi kami jelaskan tujuan ke Bandung.
  3. 1 kendaraan yang ngetrail banget, tapi aku ragu mendekatinya karena tidak ada kode yg ditunjukkan agar kami bisa menumpang.

“Sah, kalau hitungan sejam kita ngga juga dapat kendaraan, pindah yuk,” ajakku. Aku menceritakan padanya rekor-terlama-hitching-3/ menunggu kendaraan saat hitchhiking sendiri ke Jawa Tengah.

Desah segera mengecek maps di gadgetnya.

“Jauh, Jie kalau mau pindah…” terangnya sambil memperlihatkan jarak di maps.

“Kalau gitu, kita harus sabar menunggu ya, Sah. Gimana?” tawarku.

“Tenang Ejie, Desah mah sabar,” ujarnya sambil tersenyum.

45 menit menjelang dan kesabaran Desah membuahkan hasil. Sebuah kendaraan Suzuki hitam penentu, sesuai niat awal Desah yang menginginkan kendaraan nyaman yang dingin pun berhenti di depan kami. Ya, seorang pengendara muda yang bekerja di Kementerian Perhubungan pun memberikan tumpangannya pada kami tanpa ragu. Andre (Sah, urang lupa euy namina, hhahhah) memang bermaksud jalan-jalan memanfaatkan waktu libur mingguannya.

Kendaraan kedua (Doc Desah)
Kendaraan kedua
(Doc Desah)

Kami tiba di Bandung dengan selamat dan tepat di depan pagar lompat yang aku susah naiknya. Wahaahhaha…. di remind Desah soal patroli, baru deh aku bisa lompat. Hihiihi.. makasi yak pengendara muda dan penumpang Desah yang sabar dan sudah menjadikan hitchhike ini mempunyai cerita yang berbeda dalam kisah perjalananku kali ini. Thumbs up bagi para pemberi tumpangan juga Desah yang baik.

***

Tarik garis kesabarannya dan kesabaranku. Jika berjalan dalam hal ini hitchhiking dan bersama teman baru, takaran kesabaran kita harus jauh melampaui teman baru. Bukan sombong, tetapi lebih kepada menyemangati teman atau partner perjalanan.

Harus mempunyai optimistis yang tinggi agar tidak sekedar keinginan saja menjalani hicthhiking. Apalagi jika teman kita pun sudah berniat ingin mencoba melakoninya. Jika semangat dan kesabaran itu putus, keberhasilan pun takkan mudah tercapai. Karena sesungguhnya disitulah kita menjalani latihan kehidupan.

Bahwa perjalanan bukan sekadar petualangan biasa, nàmun pelajaran kehidupan tanpa sadar telah kita lakukan. Bila kita mampu melalui satu tahap latihan hidup, akan jauh lebih siap menghadapi rintangan dan tantangan selanjutnya. Karena persiapan kita akan semakin matang dari pelajaran sebelumnya. Eits, tanpa angkuh loh yaaaa 😉

Jadi inti apa yang bisa di dapat dari berhitchhiking? Silahkan mengambil kesimpulan masing-masing ya teman… Semangat JEMPOL! (jie)

***

Iklan

10 tanggapan untuk “Hitchhike Sabar Tak ber-Desah”

    1. hai Rifan…
      Tx yah udah blogwalking.

      Kamu juga pasti punya pengalaman seru yang pasti menarik juga untuk dibaca. Kasih link pengalaman serunya doooonnkk.. 🙂

      salam JEMPOL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s