cerita jiwa

Sepenggal Do’a Nasi Kuning

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Tak harus dengan kemewahan. Tak perlu pula keramaian. Tak wajib mengundang orang banyak. Cukuplah do’a demi sebuah kesehatan yang mahal…

***

Tergopoh-gopoh wanita yang sudah lebih dari separuh abad itu naik ke lantai atas, dimana anaknya yang tengah sakit berada. Senyum riang seperti biasanya selalu tersungging di garis wajahnya yang meskipun sudah menua, tetap saja memperlihatkan gigi bagusnya.

Ahh.. Walau ia sedikit menyebalkan beberapa bulan belakangan ini, anaknya yang tengah sakit akibat kecelakaan tabrak mobil di awal bulan Desember itu, tak bisa menyalahkan sepenuhnya. Entahlah, ia merasa tak punya hak atas kebutuhan hidup seseorang.

Tampilan alakadar. Rambut yang digelung ke atas seadanya dengan karet gelang pengikat rambut yang hampir diwarnai putih abu-abu, bercelana panjang kedodoran dan baju kaus hijau berlengan pendek. Di belakangnya, mengekor dua orang gadis bergigi kelinci dengan gingsul di kanan-kirinya, serta seorang gadis berbadan bongsor yang masih duduk di kelas 5 Sekolah Dasar.

“Ditunggu-tunggu turun dari tadi, tapi ngga turun. Lama. Jadi kita naik deh,” ujarnya sambil menyerahkan sebuah piring berisi nasi kuning dengan pelengkap ikan goreng, sayur buncis dan sambal hijau yang sederhana.

Ia mencium kening dan pipi kanan-kiri anaknya yang sakit.

“Semoga sehat selalu dan segera sembuh, yaaaaaa..” tambahnya. Demikian pula kedua gadis yang mengekor di belakangnya. Menyalami dan menciumi orang yang menyibukkan diri di kamar atas dengan sebelah tangan yang terbalut kain biru di lengan kirinya.

“Nasi?” pertanyaan aneh mungkin, karena ia memang tak bisa makan nasi sejak 8 tahun terakhir.

“Oia ya, lupa. Maaf ya, cuma bisa bikin nasi kuning seadanya saja. Lupa deh kalau ngga bisa makan nasi. Setidaknya ada ikan, sayur dan sambalnya yang bisa dimakan. Ya, kan?” ujarnya.

“Iya, terima kasih ya, Ma…”

Kami berbincang sebentar berempat, sebelum akhirnya mereka turun dan membiarkanku dalam kesibukan sendiri.

***

Sepiring nasi kuning yang dicetak berbentuk ala rumah makan pun kupandangi. Memotretnya dalam diam sebelum akhirnya kusuap pelengkap yang berada di sekitarnya.

Meski sederhana, aku tahu, ia membuatnya dengan kasih sayang yang tak bisa diungkapkan. Keluarga kami memang tak terbiasa mengucapkan isi hati atau keinginan dalam rangkaian kalimat. Sepanjang hidup, kami tak diajarkan untuk spontan dalam mengungkapkan sebuah rasa. Semua hanya disimpan, dituliskan mungkin lebih tepat. Beginilah… Dan itu juga mungkin yang dilakukan oleh wanita yang banyak mengalami perubahan hidup dalam garisan tangannya yang kupanggil mama.

Mama yang tak sempurna, yang tidak seperti orangtua kebanyakan yang diidolakan oleh anak-anaknya. Mama yang banyak kekurangan, mama yang aku belum bisa menyambungkan niatku untuk mengajaknya pergi umroh karena rezeki belum sampai kesana, mama yang belum bisa kubahagiakan.

Dibalik kekurangannya, mama selalu memberikan sayangnya lewat masakan-masakan yang dibuatnya. Ya, ia memang mempunyai kekurangan, tetapi kelebihannya dalam memasak, patut diacungi jempol. Siapa yang tak puas dengan masakan mama yang sudah aku cicipi sedari kecil? Dari yang enak hingga gosong? Aku! Kami! Seisi rumah? Iya!

Manusia tak ada yang sempurna kan? Pun dengan mama dan aku. Dalam kesederhanaan sepiring nasi kuning, aku bisa merasakan ia memasaknya untuk kesembuhanku. Dalam kesederhanaan sepiring nasi kuning, terseliplah do’a kesembuhan untukku. Dan dalam ketidaksempurnaan seorang anak, aku mengucap syukur bahwa mereka, kedua orangtuaku masih dalam kondisi sehat wal-afiat meski mereka bukanlah orangtua yang sempurna.

Terima kasih mama, papa.. Maafin aku yang juga tak sempurna dan belom bisa membahagiakan kalian. Semoga akan ada masanya, suatu saat nanti untuk kalian, orangtuaku….. ❤ 👪 (jie)

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s