Hitchhiker Indonesia (HHI), simple CULLINARY

Si Nira dari Taman Hutan Raya

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Perjalanan hitchhiking yang selalu berhadiah bonus hal baru. Entah pemandangan, suasana, tempat yang belum pernah dikunjungi, makanan baru, atau ini… NIRA yang sama sekali tak pernah ku khayalkan untuk mencicipinya. Uummm.. Check it out, yuk!

Jalan-jalan di Taman Hutan Raya (Tahura, Dago Atas, Bandung) itu menyenangkan loohh.. Kenapa? Udaranya sejuk, warna hijau dedaunan dan pepohonan yang begitu rindangnya, merupakan AC alam yang tiada duanya. Harum tanah pun terasa lekat. Segar!

Suasana pagi itu, cukup cerah, meski agak lembab karena Bandung diguyur hujan tadi malam. Langit biru dengan awan putihnya. Cukup banyak orang yang kami temui ketika itu, karena memang sedang ada perlombaan lari yang tengah booming.

Berjalan ditemani Selly (Backpacker Bandung), teman baruku, tetapi ia teman lama Ramdan (partner hithhikingku), si backpacker antik yang menyebut dirinya Traveler 0 Mdpl, kami menyusuri jalan lembab di sekitar Tahura. Tak terlalu banyak kata yang keluar dari mulutku, karena disibukkan oleh warna hijau yang terbentang luas di bawah sana.

Ya, turunan bukit yang tercipta dari Tahura ini dipadati pepohonan. Indah? Pasti. Dan pancaran sinar yang tercipta disela-sela awan yang berarak, menambah cantik warna disekitarnya. Speechless? Yeap!

Kakiku terus melangkah hingga tiba pada dua sosok di ujung jalan yang sedikit lega, tampak olehku seorang bapak dan saudaranyakah?

Nangka yang besar yang bertumpuk, potongan kulitnya yang terhampar di depan saudara si bapak yang berkutat mengupas kulit buah nangka tersebut. Sementara bapak, duduk santai sembari melihat “gendongannya” yang berisi gelas-gelas bening diantara daun hijau dengan dudukan kotak berwana coklat. Disebelahnya tampak sebuah tabung coklat yang lumayan besar dan tampak berat jika diangkat.

Tertarik, kudekati mereka.

Penasaran, mungkin itu kata yang tepat buatku. Perbincangan adalah awal dimana aku akhirnya tahu, bahwa bapak itu (heheeh.. Aku lupa namanya. Kebiasaan nih!), menjual air nira.

Seketika yang teringat di kepalaku, nira biasanya disebut sebagai tuak. Berasal dari jenis pohon palem, seperti pohon lontar maupun pohon kurma. Aku jadi ingat buku cerita silat yang dulu pernah kubaca, biasanya suka ada nira, minuman (yang katanya) memabukkan namun rendah alkohol. Bisa membuat mabuk jika dikonsumsi dalam jumlah banyak.

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Ada pula nira aren yang disadap dari bunga jantan pohon aren. Cairannya mengandung gula antara 10-15%. Nira aren, dapat dijadikan minuman ringan, beralkohol, sirup ataupun gula aren yang berbentuk seperti batok kelapa atau balok.

Berikut tulisan tentang nira arenΒ https://arenindonesia.wordpress.com/produk-aren/nira/

“Jadi nira yang bapak jual ini, aman dari alkohol?” masih penasaran.

“Iya. Ini nira aren yang juga bisa dibuat untuk gula merah,” ujar bapak beranak empat ini. Ia memang kerap berjualan di dalam kawasan Tahura, karena taman tersebut cukup ramai pengunjung di akhir pekan, katanya.

Segelas nira hanya seharga Rp 5.000,-

Aku mencicipinya daaaaannn… Rasanya manis, tapi bukan manis gula. Mmm.. Manisnya menghantam kepalaku. Aku tak terlalu suka manis yang berlebih. Tetapi ini beda. Manis kalem. Bagaimana cara menjabarkannya ya? Hahahhha….. Tapi enak. Ditambah minum nira diantara jalanan setengah lembab, serta harum rumput yang kian bersahabat πŸ˜ƒ .

“Pak, tempat nira ini, seperti tabung bambu, namanya apa?”

“Bumbungan, nak. Ini bambu pilihan untuk tempat nira. Dipilih yang rongganya sedikit luas, dicari yang bagus. Harus dibersihkan dahulu sebelum digunakan untuk tempat air nira,” jelasnya.

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Selesai minum segelas nira aren, bapak mencucinya dengan daun-daun yang ada diantara gelas-gelas tersebut. Oooh.. baru tahu kegunaan daun itu. Ehh, tetap ada air juga lho, yang membantu membersihkan gelas-gelas tersebut πŸ™‚ . Dan gelas hasil cuciannya itu, kinclong (bersih)! Wooohoo… Kreatif ya si bapak.

Jalan-jalan ngga harus mengeluarkan budget yang berlebihan, bukan? Sedeerhana, tetapi bisa mencoba sesuatu yang baru juga asik kok. Apalagi kalau bersama teman seperjalanan. Ya kan? (jie)

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s