#GetStranded #Celebes

#GetStranded #Celebes: Bangunan Gagah Dusun Parinding Utara

Pertama kali menginjakkan kaki di Tana Toraja. Pertama kali berkendara motor yang tak sesempurna milik sendiri, sehingga terasa ketidakseimbangan motornya. Pertama kali menghirup udara segar Tana Toraja, tepatnya diarah pegunungan yang penuh pemandangan hijau. Pertama kali melihat hewan bernama babi hitam yang bulat besar dengan kaki terikat depan dan belakang, melintas di motor saya, di tengah kota dalam perjalanan menuju ke Dusun Parinding Utara. Kaget? Hhahaaha… Sampai tidak merasa aneh lagi saking banyaknya pemandangan tersebut. Lalu ke Parinding ngapain saja ya?
Check it out 😉

***

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Toraja
18 Juni 2014

Pukul 09.46 WITA

Suasana pegunungan, sawah hijau menghampar, langit biru, benar-benar berkah terbaik yang selalu saja kami dapatkan. Kali ini kami ditemani Yusran, anak Ibu Caya yang kami sewa motor berikut orangnya sebagai penunjuk jalan dan waktu agar kami tidak berlama-lama di satu tempat. Hamparan sawah menghijau dipinggir jalan yang kelihatannya hanya ada jalan beraspal itu, membuat perjalanan tampak berbeda. Seharusnya ya tidak berbeda jika sering melakukan perjalanan, tetapi tidak kali ini. Mungkin karena ini adalah pertama kalinya aku ke Tana Toraja sehingga membuat suasana ini lain. Dan udaranya, benar-benar segar!

Benar kata ibu Caya, udara ke arah desa tenun tradisional akan semakin terasa sejuk. Padahal di tempat ibu Caya yang terbilang sudah berada di kota saja dingin buat ukuran badanku, apalagi di daerah sejuk seperti ini? Kurapatkan jaket ungu yang membalut tubuh terkena hempasan angin dingin dari laju kendaraan yang kukendarai.

Suasana yang adem didukung oleh pemandangan asri, tentu membuat siapapun betah berada disana. Tenang dan tidak berisik. Benar-benar kental suasana dusunnya.

(doc pribadi)
(doc pribadi)
(doc pribadi)
(doc pribadi)

Dalam perjalanan mencari desa tenun tradisional yang disarankan Ronal, si pemilik motor sewaan, kami singgah sejenak di Dusun Parinding Utara. Ada deretan rumah adat yang apik disana. Aku tertarik karena belum pernah melihat rumah adat Toraja sama sekali. Ini adalah kali pertama aku ke Toraja dan melihat rumah seperti itu.

Seketika motor kuhentikan disisi kiri jalan yang juga menyajikan pemandangan bangunan serupa rumah dengan atao berornamen yang tinggi. Sepintas memang terlihat seperti rumah di Sumatera Utara yang aku juga belum pernah menginjakkan kaki di propinsi tersebut.

Setengah berteriak, kupanggil mate yang berada beberapa meter di depanku. Tak kedengaran, ku klakson mate yang dibonceng Yusran agar menepikan kendaraannya. Ingin mengambil gambar sebentar. Sayangnya, di jalanan itu sepi. Tidak ada orang berjalan kaki. Bahkan rumah-rumah yang sedari tadi dilewati pun seperti tak ada penghuninya. Sunyi. Entah mengapa.

Hampir di sepanjang jalan, tak begitu banyak orang berlalu lalang atau sekadar duduk-duduk di teras rumah. Mungkinkah di daerah dengan berlatarbelakang pegunungan seperti itu dan sawah menghampar, orang-orang sedang bekerja di ladang, bercocok-tanam, ataupun melakukan kegiatan khas pedesaan yang tenang? Soalnya, dari tadi juga aku melihat ladang hijau dengan beberapa penduduk yang menanam padi.

Menepikan motor dan kami mulai memotret bentuk-bentuk rumah beratap tinggi itu. Tertulis di papan, “Rumah Kepala Dusun Parinding Utara.”

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Makna dari bangunan-bangunan yang ada tersebut belum kupahami. Terdapat 6 bangunan dengan atap layaknya tanduk sapi disana. Berhadapan dengan rumah utama, ada bangunan lain yang serupa, namun bagian bawahnya lebih terbuka. Dibawah bangunan tersebut berupa pondasi dengan 6 kaki dan ada ruang kosong di lantai bawah, terbuka begitu saja memperlihatkan pondasinya yang terbuat dari kayu. Perbedaannya, gambar yang terpampang adalah 2 ekor ayam yang saling berhadapan dengan ornamen Tana Toraja serta warna-warna merah mentereng, hitam dan putih yang mendominasi bangunannya.

Berhadapan dengan keenam bangunan, berdiri 2 buah bangunan yang kurang lebih sama, namun lantai bawah tertutup. Rata-rata, di tiap depan rumah itu, selalu terpampang kepala kerbau dengan tanduknya. Ada sebuah rumah kecil di depannya, mirip teras rumah. Sebagai pondasi dari atap tanduk tersebut, terpajanglah tanduk-tanduk kerbau atau sapi yang berurutan ke bawah. Menurutku merupakan rumah utama, karena berbeda dari rumah atau bangunan lainnya. Mungkin rumah itulah yang dimaksud oleh plang sebagai rumah kepala dusun. Gagah menjulang, tak kalah dengan 6 bangunan di depannya. (jie)

***

(doc pribadi)
(doc pribadi)
(doc pribadi)
(doc pribadi)
(doc pribadi)
(doc pribadi)
Iklan

2 tanggapan untuk “#GetStranded #Celebes: Bangunan Gagah Dusun Parinding Utara”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s