#GetStranded #Celebes, wisata kota

#GetStranded #Celebes: Dongeng Dalam Gua Mimpi

Plang Gua Mimpi. Coba baca dengan seksama. Masih di tangga bawah nih :) (doc pribadi)
Plang Gua Mimpi. Coba baca dengan seksama. Masih di tangga bawah nih 🙂
(doc pribadi)

Kemudian aku terlarut dalam kisah dongeng yang melenakan. Wajah, pribadi, hewan dan fenomena alam yang membungkam kata, pun kehidupan serta interaksi sosial yang terjadi di masyarakat. Mimpi yang berawal dari kehidupan nyata, tersaring pada gambaran ornamen dalam sebuah gua.
Yuk, baca selengkapnya 😉

***

Bantimurung, Maros
16 Juni 2014

Pintu masuknya diapit patung alami. (doc pribadi)
Pintu masuknya diapit patung alami.
(doc pribadi)

Masih di kawasan yang sama, Taman Nasional Bantimurung, Bulusaraung, Makassar dimana waktu sudah menunjukkan pukul 15.15 WITA ketika aku keluar dari mulut Gua Istana. Istirahat 2 menit cukup bagiku untuk melanjutkan perjalanan menyusuri gua selanjutnya. Mendatangi dan menyelesaikan mimpi ke depanku di Gua Mimpi.

Berbeda dengan Gua Istana. Didalam Gua Mimpi ini, jalannya sudah membentuk anak tangga. Di beberapa sudutnya terlihat sebuah pengerjaan berupa potongan kayu, sejumlah alat dan bahan kerja untuk membuat jalan.

“Pak, disini sedang ada pengerjaan apa?”

“Sedang dirapikan untuk dibuatkan jalan bagi para wisatawan. Nanti juga ada lampu sebagai penerang agar tidak terlalu gelap saat masuk kesini,” jelasnya. Hmmm… aku mengerti kenapa begitu banyak alat disana.

Menyusuri Gua Mimpi, mempunyai tantangan tersendiri. Lahannya lebih basah dibanding Gua Istana. Hal ini terjadi karena tetesan air yang banyak dari atas kepalaku. Sejumlah jembatan yang ada pun tidak cukup kokoh karena sedang dalam pengerjaan. Kadang kami melewati jembatan yang kayunya tidak kokoh dan harus berpegangan pada sisi jembatan yang ada atau aku ditolong Pak Ale agar tidak tergelincir di tempat becek. Sesekali berjalan di tanah liatnya. Sedikit sekali tanah kering seperti di Gua Istana tadi.

Kami menyusuri gua itu dan aku mulai merasakan berjalan dalam sebuah kisah dongeng dalam mimpi. Kenapa bisa begitu?

Ornamen gordyn (doc pribadi)
Ornamen gordyn
(doc pribadi)

Disini, Pak Ale banyak bercerita. Dikatakannya, Gua Istana dan Gua Mimpi ini, dulunya juga merupakan lautan. Tidak heran ketika di jalan meunju kedua gua, Pak Ale berkata, jika musim hujan, akses ke gua akan ditutup hingga air surut.

Setiap langkah yang kubuat, selalu ada cerita yang keluar dari mulut Pak Ale. 15 menit dari mulut Gua Mimpi, petualangan gua dimulai. Kisah negeri dongeng mulai mengajakku berimajinasi dari cerita-cerita yang dilontarkan Pak Ale. Kesemuanya mengenai bentukan ornamen dari stalagtit dan stalagmit yang ada. Keindahan ornamen yang tergantung pada langit-langit gua juga merupakan keindahan tersendiri yang tidak bisa diucapkan.

Bayangkan, di dalam sana, ada ornamen yang menyerupai wajah bayi. Aku perlu menyorotnya dengan jelas menggunakan senter untuk melihat dengan jelas wajah itu. Untuk memastikan apa yang terlihat, kita cukup menyorotkan senter ke patung dan lihatlah bayangan yang terjadi pada dinding akan membentuk seperti apa.

Kemudian ada ornamen ayam, jari tangan kanan, gajah, patung pengantin, kendi air, bentukan seperti orang yang -maaf- buang air kecil. Selain itu ada pula patung kucing, replika Candi Borobudur, burung garuda, patung ibu yang menggendong anaknya, bentuk orang yang sedang sujud, bentukan seperti bunda maria, air terjun, batu yang menyerupai es krim, tanaman kaktus, keris,  dan sebagainya.

Semua gambar yang bisa dilihat itu, berasal dari bayangan senter yang diarahkan pada tiap-tiap bentukan tanah liat/merah maupun stalagtit dan stalagmit yang terjadi dengan sendirinya. Tidak ada yang dengan sengaja dibuat dengan tangan manusia. Semuanya adalah hasil bentukan alam di dalam gua tersebut.

DSC_0213

Di tengah perjalanan, Pak Ale mengatakan, “Gua ini dinamakan Gua Mimpi karena ditemukan lewat mimpi oleh bupati Maros ketika itu. Ia bermimpi melihat gua ini, dan menugaskan salah seorang warga Maros mencari lokasi dan masuk ke dalamnya. Ternyata memang betul ada gua ini, maka dibuatkanlah jembatan di dalam gua.”

Aku melewati sebuah ornamen yang menyerupai alat kelamin laki-laki dan perempuan. Sebelum menunjukkannya, Pak Ale meminta maaf padaku, karena tidak bermaksud menunjukkan hal yang tidak sopan. Aku jadi teringat salah satu pelajaran seni yang pernah diberikan dosen Seni Rupa, alm. Bapak Amri Yahya yang menerangkan mengenai yoni dan lingga di zaman dahulu. Letaknya berdampingan, kanan lelaki dan kiri perempuan. Sudah garisan ya, bahwa lelaki itu seharusnya menjaga perempuan?
#tuiinngg

Aku rasa, semua ornamen yang ada di dalam Gua Mimpi itu menceritakan kehidupan bermasyarakat zaman dahulu. Bahwa agama pun sudah ada di zaman itu jika melihat dari ornamen stalagtit dan stalagmit yang terbentuk.

Kehidupan sosial bermasyarakat pun tampak dari patung pengantin, ibu, anak, pasangan lelaki dan perempuan yang berdampingan serta lainnya. Kemudian bermacam-macam hewan yang juga ada di zaman itu. Benar, gua ini membawa kita mengkilas balik apa yang sebelumnya terjadi di masa lalu. Kehidupan beradaptasi dengan lingkungan pasar juga ada. Misalnya ornamen patung penjual jamu gendong. Di dalam gua, aku juga menemukan mutiara yang tertanam dalam ornamen kapasitas lumayan besar. Cantik! Lagi-lagi, kata itu yang teringat di otakku.

Waah, sudah berapa lama aku berada di dalam gua? Layaknya tidur dan bermimpi, petualangan menyusuri Gua Mimpi tiada habisnya dan tak terasa. Selama setengah jam, aku menyusuri mimpi-mimpi dalam dongeng kisah zaman dahulu.

Setelah patung burung yang mengepakkan sayapnya, aku merasa tidak mampu lagi menjepretkan kameraku. Aku merasa tenagaku terkuras oleh jalan yang kadang menurun dan menaiki tangga, serta tetap harus waspada dengan kondisi jalanan yang becek. Menyempurnakan perjalanan selanjutnya hanyalah menikmati apa yang disajikan alam padaku untuk mencapai mulut gua di bibir lainnya. Dan secercah cahaya di kejauhan pun tampak sebagai pintu keluar.

Iya, aku mulai merasa membutuhkan udara terbuka untuk menambah oksigen di paru-paruku. Haus dan kebelet, maaf -buang air kecil- yang tak bisa kutahan, menambah daftar perjalanan panjangku dalam gua.

Pak Ale menuntunku hingga mencapai pintu keluar gua. Lebih licin dari pintu masuk tadi, lebih liat serta perlu sedikit membungkukkan badan untuk keluar. Pasalnya, pintu keluar ini lebih mirip lubang kecil saja jika kita memotretnya dari atas. Sebagai akhir dari petualangan dalam gua, sebuah papan pijakan yang hanya muat 1 orang saja pun dipasang guna menghubungkan dengan alam terbuka dan hap! Sampailah aku dibawah rindangnya pepohonan di atas gua. Aku disambut sekumpulan tanaman bambu di kanan atas, hijau, coklat kemerahan, langit yang selalu saja membiru indah dengan awan putihnya serta rentetan suara jaringan internet yang rupanya banyak berbunyi sekeluarnya aku dari mulut Gua Mimpi.

Aku belum berniat membaca sekian pesan yang masuk dalam ponselku. Beristirahat sejenak, melepaskan dahaga dan bernego dengan kakiku agar meneruskan perjalanan karena kutahu mate pasti sudah khawatir dengan keadaanku yang terlalu lama berada di dalam gua.

Aku menuruni bukit. Perjalanan juga membuat mulutku berkali-kali membentuk huruf “O” karena trekkingnya melengkapi kesenangan hatiku. Haishhhh…. kangen gunung sudah, mi…

10 menit perjalanan, ketika selesai merekam di turunan yang wow, ponselku berdering. Aku bisa memastikan bahwa mate lah yang menghubungiku.

“Ejieeeee… dimana? Lama sekali kamu? Kalau ngga keluar juga, aku sudah pesan sama bapak-bapak disini minta cariin kamu,” was-was.

“Sudah keluar dari gua, Kaper. Ini sedang jalan turun,” jawabku sambil tersenyum. Senangnya ditungguin. heheheee

“Ketemu dimana?”

“Dekat pintu masuk yang ada loket ya, Kaper. Ketemu disana.”

“Okeeeyy… jangan lama-lama. Kasihan aku, kasihan yang ngojek, kasihan keril, kasihan si bapak yang bakal aku suruh jemputin kamu juga,” tegasnya.

“Iya, Kaper. Aku turun,” nyengir.

Sedari keluar dari gua, ponsel langsung saja berdering. Belum lagi dengan suara SMS yang juga berturut-turut masuk setelah ada sinyal. Dan mate adalah orang yang paling banyak bunyi deringannya. Heheheeee…

Kami keluar di perkampungan warga setempat. Suguhan sapi yang sedang menyantap makanannya, anak-anak yang berlarian bermain bola, dan menghampiri warga yang duduk di sebuah pos ronda kampung. Mereka menanyakan asalku dan aku menjawabnya. Sedikit bercerita tujuan datang dan bergegas berjalan karena Pak Ale mengingatkanku agar segera melanjutkan perjalanan menemui temanku yang sudah menunggu di pintu loket.

Aku mengucapkan terima kasih pada Pak Ale yang sudah bersedia menemaniku menyusuri gua. Meskipun bukan weekend yang biasanya ramai, ia tidak mematok harga dan tidak meminta lebih untuk memanduku. Dan perjalanan cerah hari itu bergulir dengan penuh kisah yang menambah guratan senyum di hatiku. Terima kasih pada langit, alam dan Allah yang menuntunku hingga selamat di petualangan hari #GetStranded #Celebes pertama penuh dengan susur gua. (jie)

CP Pak Ale (Gua Istana & Gua Mimpi) : 0821-9352-5189

***

Gambar dalam gua yang dipantulkan oleh bayangan senter. (doc pribadi)
Gambar dalam gua yang dipantulkan oleh bayangan senter.
(doc pribadi)
Iklan

4 tanggapan untuk “#GetStranded #Celebes: Dongeng Dalam Gua Mimpi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s